Kamis, 22 Maret 2018

Durian Ayah


Cerpen ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 18 Maret 2018

 
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang diharapkan. Karena itulah, perihal durian yang tak kunjung berbuah ini menjadi sesuatu yang cukup mengganjal hati ayah.
“Pohon ini bisa kau anggap adikmu,” ujar ayah sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih SMA waktu itu. Ayah memang suka begitu, mengatakan pohon-pohon tertentu sebagai kakak atau adik dari kami, anak-anaknya. Tolok ukur yang digunakannya jelas adalah usia. Rambutan di sudut kanan halaman depan rumah dibilang sebagai kakakku karena dia ditanam dua tahun lebih dulu daripada kelahiranku. Begitu juga dengan kelengkeng yang ada sekitar tujuh meter dari rambutan, dia juga kakakku yang lebih tua empat tahun.
“Dia lebih muda darimu empat tahun,” ayah melanjutkan.
Aku menelengkan kepala ke arah pohon durian yang ditunjuk ayah, “Tapi anak ayah yang satu ini belum pernah berbuah sekalipun. ‘Kakak-kakak’ku yang lain tak perlu menunggu sampai sepuluh tahun, sudah berbuah. Cuma ini yang belum.”
Ayah hanya tersenyum, “Sabarlah. Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
***

Lima tahun kemudian, sepertinya ayah yang mulai diuji kesabarannya. Mungkin karena merasa ia sudah melakukan hampir semua yang bisa dilakukan untuk durian itu, tapi si durian tetap tak mau menunjukkan tanda-tanda akan berbuah.
“Sudah kusiram, kupupuk, kubersihkan dari gulma-gulma, masih saja tak mau berbuah. Apa kusuntik saja pohon durian ini?”
Tentu aku tak menjawab. Sebab ayah memang tidak sedang berbicara padaku. Ia lebih cenderung berbicara pada dirinya sendiri. Dan benar, seminggu kemudian ayah menyuntik pohon durian itu dengan obat yang mampu merangsangnya agar cepat berbuah.
“Paling lama enam bulan lagi durian ini akan berbunga, begitu kata penjual obat suntik ini tadi.”
Sekali lagi aku tidak menjawab omongan ayah. Hanya mengangguk-angguk saja. Tentu saja dalam hati aku meng-amin-kan. Toh kalau durian itu berbuah, aku juga akan menikmatinya. Tapi ternyata sampai satu tahun, durian itu tak kunjung berbunga, apalagi berbuah. Hanya daunnya saja yang jadi semakin lebat. Enam bulan kemudian, ayah kulihat sedang menyayat-nyayat batang durian itu.
“Ada yang mengajariku, pohon buah harus sedikit disakiti agar dia merasa terancam dan kemudian berbuah,” jelas ayah tanpa kuminta.
Sampai setahun setengah kemudian durian tetap berdiri angkuh dengan daunnya yang lebat dan batang yang semakin menjulang, tanpa buah.
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu. Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
“Yang tempo hari mungkin ia tidak terlalu merasa terancam,” desis ayah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku hanya berdiri di antara ayah dan pohon itu. Pohon durian di depannya tetap kukuh. Kulitnya memang terkelupas di sana-sini. Satu dua tetes getah merembes dari celah-celah kulit pohon itu. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, pohon itu tetap kukuh. Malah sepertinya angkuh. Seolah ia sedang mengejek tenaga ayahku yang sudah jadi pensiunan.
Sampai setahun lagi berlalu, durian itu tetap tak mau berbunga. Ayah merutuk.
Dasar mungkin mulutku memang lancang, aku justru berkata, “Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
Mata ayah membeliak mendengar kata-kata itu.
***

“Aku menyerah,” ujar ayah suatu waktu seusai makan malam.
Dahiku mengernyit tanda tak mengerti.
“Dua puluh tiga tahun, dan durian itu tak kunjung berbunga. Seusai lebaran nanti akan kupanggil dua atau tiga orang tukang untuk menebangnya.”
“Ayah serius?”
Ia mengangguk. “Mungkin akan kuganti saja dengan pohon mangga. Aku tak pernah gagal menanam mangga. Buahnya selalu lebat dan manis jika aku yang menanam. Mungkin memang durian bukan jenis buah yang sesuai dengan tanganku.”
Sehabis lebaran, berarti sekitar empat bulan lagi. Aku bisa mengerti kenapa ayah harus menunggu selama itu untuk menebang pohon besar di pekarangan kami. Sederhana, ia beranggapan waktu terbaik untuk menanam pohon adalah setelah lebaran. “Seperti manusia yang puasanya berhasil, tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa dosa.”
Kadang ayah memang aneh.
***

Selama empat bulan itu, aku melihat ayah lebih telaten merawat durian yang akan ditebangnya. “Sebagai ucapan perpisahan,” kata ayah. Ia ingin memberi kenang-kenangan yang indah. Memohon maaf jika ada salah. Jangan sampai ada dendam antara dia dan pohon itu. Begitu paparnya panjang lebar.
Orang lain mungkin akan mengira ayah sudah tak sehat akal, tapi aku tahu memang begitulah ayah dari dulu. Setiap ada pohon yang akan ditebang, ia akan merawat pohon itu dengan lebih baik dan menyiapkan pengganti yang juga baik.
Sampai akhirnya lebaran telah tujuh hari berlalu. Ayah pun memanggil dua tukang untuk menebang.
“Apa benar Bapak mau menebang pohon ini?” tanya salah satu tukang tebang itu.
Ayahku mengangguk. Mantap.
“Sayang sekali. Kenapa tak ditunggu sampai berbuah dulu, Pak?”
“Sudah lebih dari cukup aku menunggunya. Jangankan berbuah, berbunga saja tidak.”
“Lah. Itu apa kalau bukan bunga durian?” tukang tebang itu berkata lagi sambil menunjuk ke atas.
Ayah dan aku menengadah. Kami baru sadar putik-putik kecil itu tumbuh di ujung ranting. Bergerumbul. Sedikit tertutupi oleh daun-daun yang lebat.
***

Penebangan pohon dibatalkan. Ayah semringah bukan main. Dua puluh tiga tahun, dia selalu menyebut angka itu sebagai sebuah tanda penantian yang begitu panjang. Kerentaan ayah seolah memudar. Ia jadi lebih telaten lagi mengurusi pohon yang sedang berbunga itu.
Tapi, kadang nasib tak ubahnya hati perawan yang sedang gundah, mudah berbalik arah. Musim hujan datang. Air dan angin datang silih berganti. Bunga-bunga yang sedang mekar itu runtuh satu per satu. Begitu juga semangat ayah.
Hampir setiap pagi, ia terpaksa menyapu reruntuhan bunga durian dengan wajah yang begitu murung. Hanya tinggal beberapa lagi yang masih bertahan di atas. Bisa dihitung dengan jari tangan. Dan mungkin karena berharap bisa jadi sangat menyakitkan, ia membunuh semua harapan yang tersisa. Merawat tanaman itu seadanya. Tak lagi sebagai sebuah tanaman istimewa yang bunganya telah ditunggu sekian lama.
Entah ajaib atau kebetulan, tujuh bunga yang tersisa itu terus bertahan meskipun hujan tak memberi belas kasihan. Akhirnya, waktu juga yang memperlihatkan bahwa harapan tak boleh dibunuh sebab kehidupan dimulai dari sana. Sebagaimana kehidupan tujuh bunga durian ayah. Tujuh-tujuhnya tampak semakin besar seiring waktu. Bahkan satu, yang paling besar, tampak sudah matang beberapa bulan kemudian.
Senyum ayah kembali tersungging tanpa cela. Menanti durian matang jatuh dari pohonnya. Hingga akhirnya di sebuah senja yang cerah, kemarau baru saja hendak bertamu, bunyi yang ditunggu tiba juga.
Bunyi berdebug menghantam tanah cukup keras terdengar dari arah pohon durian. Aku segera berlari, mencari. Benar saja. Durian ayah yang telah matang, jatuh. Aromanya menguar menggiurkan. Kutolehkan kepala, ayah belum keluar rumah. Mungkin tidak mendengar duriannya jatuh.
Dengan penuh semangat, kubawa durian itu ke rumah. Berteriak aku memanggil ayah. Tapi yang dipanggil tak kunjung menjawab. Aku jadi tak sabaran, ingin memberi kabar gembira ini. Namun kemudian, setelah mencari di sepenjuru rumah, kutemukan ayah di kamar. Telentang dan matanya terutup. Tersenyum. Tak pernah menjawab lagi. Dari seluruh tubuhnya, menguar aroma durian matang.
***

ART.
Indralaya, 5 September 2017

Kamis, 08 Februari 2018

Pendiam di Dua Waktu


Cerpen ini pernah dimuat di Magelang Ekspress edisi Februari 2018

 
Hanya ada dua waktu yang bisa membuat wanita itu diam: waktu makan dan waktu tidur. Selain dua waktu itu, ia akan terus mengoceh. Tentang apa saja, dan sebagian besarnya berupa keluhan. Seperti pantat milik orang yang masuk angin, tak berhenti mengeluarkan aroma negatif.
Meskipun begitu, jangan pernah berpikir untuk membuatnya berhenti bicara dengan memberikan makanan. Memang, wajahnya akan terlihat seperti orang terkejut saking senangnya. Memang juga, ia akan berhenti mengoceh. Tetapi, saat ia makan, mulutnya tidak ditutup sehingga bunyi makanan yang dikunyah akan berkecipak. Bunyi itu begitu nyaring, cepat, dan becek, seperti disengaja. Benar-benar mengganggu.
Pun jangan berpikir kau akan terbebas dari gangguan jika dia tertidur. Sebab selama tidur, ia akan memproduksi suara ngorok yang berasal dari tenggorokan. Seperti bunyi orang yang hendak membuang dahak, padahal mendengkur. Seolah-olah sebongkah dahak hijau kental bisa melompat keluar dari mulutnya kapan saja ketika ia mendengkur itu. Bayangkan bunyi seperti itu terus-terusan terdengar seirama napasnya saat tidur. Bah.
Hanya karena usianya yang beranjak sepuh, maka tak ada yang berani berterus terang menentangnya. Namun, diam-diam semua orang di kantor mencoba untuk membuat dia berhenti mengoceh tanpa menimbulkan bunyi-bunyi lain yang juga mengganggu.
***

Hanya ada dua pilihan bagi orang yang berhadapan dengannya: sengsara dalam diam atau merana dalam perlawanan. Sejauh ini, aku dan hampir semua (kalau tak bisa dibilang semua) orang di kantor memilih yang pertama. Ada saja alasan kami: menghormati yang tua, tidak mau mencari musuh, diam adalah emas, dan sebagainya.
Hingga di sebuah sore yang secerah pipi gadis belia yang sedang kasmaran, bos kami mengumumkan bahwa esok kami akan kedatangan seorang personel baru. Tenaga muda yang masih segar dan bisa jadi calon kuat untuk regenerasi yang tua-tua. Demi mendengar itu, sang wanita tua berkata, “Jadi menurut Bos yang tua sudah tidak berguna lagi? Bos jangan lupa dong bahwa kondisi kantor sekarang bisa begini ya karena jasa yang tua-tua. Yang baru bisa ada karena ada yang lama. Jangan seolah-olah begitu dong, Bos.”
Bos diam saja mendengar ucapan seperti itu. Tidak menjawab. Karena jika menjawab sepatah kata saja, maka sang wanita akan membalas dengan satu wacana, bukan satu paragraf, apalagi satu kalimat. Kadang-kadang, karena terdiamnya bos seperti ini cukup kerap terjadi, kami yang ada di kantor jadi bingung sebenarnya siapa yang bos di sini.
Esoknya, tidak ada lagi bekas-bekas kecerahan pipi gadis belia yang kasmaran, sebab yang muncul justru adalah kemurungan gadis patah hati. Di dalam kantor, terasa mendung. Petir seolah bersiap menyambar kapan saja di antara gumpalan awan-awan hitam. Penyebabnya tak lain adalah si anak baru.
Wanita tua yang tak bisa diam itu terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Mungkin karena merasa keberadaannya terancam dengan kedatangan tenaga muda. Maka setiap kalimat yang ia keluarkan selalu membawa-bawa unsur ‘peran yang tua dan tidak tahu dirinya generasi muda’.
Tentu saja kalimat-kalimatnya menghantamkan beban hitam yang tak mudah lepas dari pikulan. Semua juga tahu bahwa yang ditujunya adalah si anak baru, tapi kalimat-kalimatnya menyerbu semua orang. Dibiarkannya suaranya terdengar ke setiap sudut ruang di hati agar mengelam, hitam, dan ranggas.
Setelah hampir seharian bekerja di bawah guyuran kata-kata penuh sindiran dari sang wanita, si anak baru menghela napas panjang, menatap lurus wajah sang wanita, lalu berkata, “Tahukah betapa menyebalkannya setiap suara yang keluar dari mulutmu? Aku bertaruh kau tak pernah mendengarkan suaramu sendiri.”
Kami, termasuk bos yang kebetulan sedang lewat, terperangah mendengar ucapan yang begitu lugu dari anak muda itu. Dengan komposisi seperdelapan perasaan terwakili, seperdelapan perasaan geli, dan tiga per empat perasaan cemas, kami menoleh pada sang wanita yang tidak bisa diam. Untuk satu detik yang terasa begitu panjang, wanita itu terdiam. Di detik berikutnya, petir menggelegar, pecah dari awan hitam yang sejak tadi menggantung di langit-langit kantor. Badai besar menghantam.
***

Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi pada orang-orang yang telah melewati badai: semakin tangguh untuk menaklukkan badai berikutnya atau trauma dibayang-bayangi perihnya sakit yang dibawa seumur hidup. Sejujurnya aku sempat berharap bahwa anak muda itu akan mengalami yang pertama, terus-menerus mengkonfrontasi si wanita yang tak bisa diam. Kupikir teman-temanku yang lain juga seperti itu. Pasalnya, bagaimanapun juga, kami butuh suara yang mewakili keresahan kami sendiri. Tapi harapan itu lenyap sehari setelah badai besar di hari kedatangan si anak baru.
Di hari kedua, juga hari-hari berikutnya, anak muda tersebut melunak. Bahkan, maaf, membenyek. Tanpa ada yang menduga, ia membawa sekotak kue yang semenggoda surga ke kantor, menyerahkannya ke wanita yang tak bisa diam itu, dan menawarkannya sebagai harga perdamaian. Serah terima terjadi begitu cepat. Sang wanita dengan ekspresi khasnya yang seolah-olah terkejut saking senang menerima kue itu, menjabat tangan si anak baru, lalu mulai mengunyah. Bunyi kecipak yang basah dan becek pun menyerbu. Berikutnya, bermacam-macam kue silih berganti dibawakan oleh anak baru, khusus untuk sang wanita.
Hubungan keduanya pun semakin hari semakin membaik. Bahkan terlalu baik untuk waktu yang terlalu singkat. Beberapa kali aku sempat melihat telepon seluler milik si anak baru tertinggal di ruangan sang wanita. Sebuah telepon seluler yang biasanya menjadi sebuah privasi dan menyimpan rahasia, bisa begitu saja ditinggalkan di ruangan seorang wanita yang tak bisa mengunci mulutnya. Aku dan orang-orang di kantor mulai mempertanyakan kedekatan apa yang sebenarnya terjadi.
Selain itu, sang wanita juga jadi lebih sering tertidur di kantor. Mungkin karena tenaganya banyak terkuras untuk mengunyah makanan-makanan yang dibawa si anak baru. Dengkurnya makin parah. Aku menduga kualitas dengkur sang wanita berbanding lurus dengan tingkat kenikmatan makanan yang ia cerna. Bunyi dengkur khas yang seperti orang hendak membuang dahak yang kental pun tak bisa dihindari semakin sering terdengar.
Anak baru itu tentu tahu bisikan-bisikan yang dibawa oleh angin, ditangkap oleh dinding kantor, dan disampaikan padanya. Di antara bisikan-bisikan itu mengatakan bahwa dia adalah seorang penjilat berlidah lentur. Beberapa yang lain mengatakan bahwa si anak baru hanyalah prajurit pengecut yang mencari aman sendiri di tengah desingan peluru. Si anak baru seakan tak peduli. Ia tetap memandang kami dengan sebuah pandangan yang tak berubah. Seolah memang bisikan-bisikan semacam itulah yang ia harapkan.
***

Hanya ada dua hal yang mampu menguak rahasia: waktu dan pemaksaan. Bos kami telah melakukan yang kedua. Meminta penjelasan pada si anak baru tentang perilakunya yang seperti telah terencana. Namun si anak baru bergeming dan berkeras bahwa jawabannya akan dibawa oleh yang pertama. Bersabarlah, karena momennya akan tiba dalam waktu yang tak lagi lama.
Dua hari berselang, ia mengecek semua pengeras suara di tiap-tiap ruangan. Setelah yakin semuanya bekerja dengan baik, ia pergi ke ruang pengendali. Berdehem-dehem sedikit lewat microphone. Lalu berkata, “Untuk Anda yang belum pernah menyimak suara sendiri, selamat mendengarkan.”
Orang-orang menghentikan aktivitas karena pengumuman yang tak biasa tersebut. Wanita yang hanya berhenti bicara di dua waktu itu, membulatkan mata. Ia seperti pernah mendengar kalimat itu: tentang orang yang tidak pernah mendengar suaranya sendiri. Ia yakin pernah mendengar kalimat itu, tapi tidak ingat kapan dan di mana. Juga tidak ingat siapa yang mengatakannya.
Di saat sang wanita berusaha mengingat-ingat, dari pengeras suara terdengar bunyi berkecipak yang basah dan becek. Seperti bunyi orang yang sedang mengunyah. Wajah sang wanita tampak jengkel, ia berteriak, “Bunyi apa itu? Menjijikkan sekali?”
Aku dan teman-teman yang mendengar ucapan sang wanita kesulitan menahan tawa. Namun rupanya sang wanita sangat serius dalam bertanya. Ia tampak sebal karena kami tidak menjawab. Tapi itu belum apa-apa, sebab beberapa detik kemudian bunyi kecipak itu berganti. Menjadi suara tenggorokan yang seperti hendak mengeluarkan dahak hijau kental. Sekali lagi sang wanita mengumpat kesal, “Hentikan suara itu! Aku bisa muntah mendengar suara seperti ini! Siapapun! Hentikan suara itu!”
Kali ini aku dan teman-teman pecah dalam tawa. Meskipun ternyata tawa kami tak bertahan lama. Satu menit berselang, suara yang diputar di pengeras suara sudah berubah. Kali ini menjadi suara badai. Kata-kata yang ada dalam badai itu seperti pantat milik orang yang masuk angin, tak berhenti mengeluarkan aroma negatif.
Wanita itu diam. Ia mengerti. Teringat pada sosok yang dulu pernah mengucapkan frasa ‘mendengarkan suara sendiri’. Ia juga sepertinya teringat dengan telepon genggam milik seseorang yang sering tergeletak begitu saja di mejanya, termasuk di saat dia makan dan tidur. Dan ia juga ingat bahwa ada teknologi bernama rekaman di dalam benda kecil itu. Ada api yang membakar di dadanya.
***
Hanya ada dua waktu yang bisa membuatnya diam: waktu makan dan waktu tidur. Tetapi itu dulu. Kini ia sudah sangat jarang bersuara. Hanya matanya yang nyalang menatap semua. Menyambarkan bara yang tak kunjung padam di dada. Setelah semua yang terjadi, aku tak tahu lagi mana yang lebih baik untuk si wanita tua: bicara atau diam? Sialan.
***

ART.
Indralaya, 24 Februari 2017

Selasa, 23 Januari 2018

Kenangan Pohon Rambutan



*Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos edisi 21 Januari 2018

Ia tak pernah mengerti kenapa orang-orang selalu menikmati siksaan kenangan. Dan ayahnya adalah salah satu dari golongan tersebut. Sebenarnya ia tak punya masalah dengan ayahnya, kecuali ketika lelaki paruh baya itu mulai mengagung-agungkan pohon rambutan di depan rumah. Lebih masalah lagi karena ayah tak pernah mau menceritakan ada kenangan apa dengan pohon rambutan itu. Ayahnya hanya akan menjawab, “Pohon di depan sana adalah simbol. Simbol kehidupan. Simbol manfaat. Juga simbol kenangan.”
Mungkin karena tak pernah bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, mungkin juga karena hampir setiap hari pohon rambutan itu menggugurkan daun-daun tuanya yang harus disapu, ia jadi membenci pohon rimbun itu. Baginya, pohon rambutan itu tidak membawa apa-apa selain masalah.
Masalah hariannya, terkait dengan daun gugur si rambutan, adalah ia yang harus menyapunya. Setiap hari. Setiap pagi. Menjadi rutinitas yang membosankan. Apalagi setiap kali ia baru selesai menyapu, sudah ada saja daun lain yang melayang mengotori halaman. Belum lagi masalah musiman. Setiap kali pohon itu berbunga, memunculkan putik, dan berbuah, masalah akan jadi berlipat. Bukan hanya soal daun yang harus disapu, tapi juga perihal para tetangga yang tak tahu diri akan mulai berdatangan.
Mereka, para tetangga itu, mulai dari yang umur enam tahun sampai yang enam puluh tahun, akan berubah menjadi begitu ramah pada ia dan ayahnya. Semua akan mencari-cari alasan untuk lewat di muka rumah. Mencari waktu untuk berbasa-basi dan bertanya kabar, gosip terhangat, atau berita politik terbaru. Lalu diakhiri dengan kalimat pamungkas, “Tampaknya rambutan kalian sudah mulai matang.”
Cih. Ia betul-betul muak dengan semua kepalsuan para tetangga. Herannya, sang ayah akan selalu meladeni dan menjawab kalimat pamungkas mereka dengan, “Oh. Iya. Iya. Tunggulah sebentar. Akan kuambilkan sedikit untukmu.”
Jika ayahnya sedang tidak terlalu kepayahan setelah bekerja seharian, lelaki itu sendiri yang akan mengambilkan rambutan untuk si tetangga. Tapi jika ayahnya sudah merasa tak sanggup lagi, maka ia yang akan dipanggil dan disuruh memanenkan rambutan untuk para penyerbu itu. Di saat seperti itulah ia akan semakin sebal. Ia akan teringat bahwa setiap hari sebelum pergi sekolah, dialah yang menyapui rontokan daun rambutan. Ia juga akan teringat bahwa setiap hari ayahnya yang menyirami dan merawat pohon itu dengan telaten. Tak ada satu pun tetangga yang membantu. Namun begitu pohon berbuah, mengapa semua seperti merasa berhak untuk menikmati hasilnya?
Tentu saja ia pernah menyampaikan protes tersebut pada sang ayah. Namun, seperti biasa, ia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ayah hanya akan berkata, “Rambutan kita bukan satu-satunya rambutan di sekitar sini. Tapi para tetangga selalu lebih banyak meminta pada kita, bukan? Kau tahu kenapa?”
“Ya tentu karena rambutan kita jauh lebih manis.”
Ayahnya akan tersenyum dan menjawab, “Siapa tahu rambutan kita lebih manis disebabkan para tetangga yang selalu mendoakannya, bukan? Karena kita tak pernah menolak mereka yang meminta, maka mereka pun selalu mendoakan pohon kita.”
“Kalau begitu jual saja pada pengepul buah rambutan. Siapa tahu doa mereka lebih makbul. Rambutan jadi lebih manis, kita juga dapat uang,” jawabnya ketus.
“Tentu kau tahu ayah tak akan menjual kenangan. Menukarnya dengan uang. Lebih baik ayah menukarnya dengan doa,” ayahnya tetap tersenyum, “Ingatlah bahwa pohon itu simbol.”
Ia semakin benci dengan pohon rambutan.
***

Di sebuah petang yang gerimis, keduanya duduk di beranda. Menatap ke halaman rumah. Ke arah rambutan yang buahnya mulai memerah. Besok ia akan berangkat ke kota untuk kuliah. Mungkin tak akan pulang untuk waktu yang cukup lama.
“Boleh aku meminta?” ujarnya.
Ayah menoleh dan memberikan isyarat yang mungkin berarti, “Tanya saja. Selama ini ayah tak pernah menghalangimu untuk meminta, bukan?”
“Tebang saja pohon rambutan itu.”
Ayah tersenyum. Wajahnya berkata bahwa ia menganggap permintaan anaknya sebagai lelucon yang tak lucu, tapi sebagai ayah ia harus tetap menghargainya dan membalas dengan senyuman.
“Aku serius. Tebang saja pohon itu.”
Senyum ayah memudar. Lelaki itu baru akan mengeluarkan sebuah kalimat saat seorang tetangga tiba-tiba saja sudah muncul di depan pagar. Tetangga itu memanggil ayahnya dengan ramah, bertanya kabar, gosip terhangat, dan mengakhiri obrolan dengan kalimat pamungkas yang intinya adalah meminta rambutan.
Demi segala sopan santun dan adab bertetangga, ia mencoba untuk tidak cemberut saat ayah menyuruh dirinya untuk memanenkan sedikit rambutan untuk tetangga yang datang. Seperti biasa, ia memanjat pohon dengan cekatan. Berpindah dari dahan ke dahan. Namun ia lupa bahwa gerimis sudah dari tadi menghiasi petang. Membuat licin di beberapa bagian batang. Saat ia hendak memetik rambutan merah yang ada di penghujung dahan, tangannya terlepas dari tempat berpegang. Secara refleks, kakinya bergerak untuk menahan keseimbangan, namun justru kehilangan pijakan.
Dari ketinggian hampir tiga meter, ia meluncur. Kakinya yang mendarat lebih dulu tak kuasa menahan berat tubuh. Bunyi ‘krak’ terdengar dari kaki yang patah. Lolong sakit tak bisa ia tahan. Dan saat ayahnya menghampiri dengan wajah cemas, ia membalas dengan tatapan marah. Tatapan yang langsung ia hunjamkan ke mata ayahnya. Lekat. Pekat. Tanpa sekat.
Ia benci pohon rambutan.
***

Empat tahun rupanya menjadi waktu yang cukup untuk menyadarkan siapapun dari kesalahan. Setidaknya itulah yang ia rasakan. Mungkin karena sudah bertahun-tahun menjadi kebiasaan. Lama-lama, di tanah rantau, ia rindu juga menyapu daun-daun rambutan yang beterbangan. Saat musim datang dan banyak buah rambutan dijajakan di pinggir jalan, saat itulah hatinya menjadi rawan.
Tak ada satu pun dari buah itu yang mampu menyaingi manisnya buah rambutan di depan rumah. Mungkin karena para pengepul buah tak pernah mendoakan pohon yang dipanennya sebagaimana para tetangga. Ia menyesal.
Apalagi jika mengingat tatapan ayahnya ketika ia terjatuh dari pohon itu. Tatapan yang tak akan pernah ia lupakan. Tatapan menderita karena melihat orang yang dicinta sedang terluka. Dan tak ada yang lebih tulus ketimbang cinta orang tua pada anaknya. Ia baru mengerti ketika ia terjatuh dari ketinggian. Tapi ia telanjur menghunjamkan tatapan penuh benci pada sang ayah.
Ia merasa telah durhaka. Seperti Malin yang tak mengakui ibunya. Namun apa lacur, tatapan sudah keburu ia luncurkan. Dan sebagaimana kata-kata, tatapan tak bisa ditarik kembali. Sekali salah dilepaskan, ia hanya membawamu pada penyesalan. Empat tahun ia berpikir caranya memperbaiki kesalahan.
Saat pulang nanti, ia akan mencoba memperbaiki keadaan. Akan ia sapui daun rambutan dengan riang. Akan ia petikkan buah untuk tetangga dengan senang. Akan ia ambil alih tugas ayahnya menyirami pohon dengan hati lapang. Akan ia tunjukkan semua. Agar ia tak jadi anak durhaka. Agar ia bisa menatap ayahnya sebagai ayah telah menatapnya dengan cinta, meski mungkin tak bisa.
Namun semua rencana tinggal khayal di kepala. Sebab saat ia pulang, pohon rambutan telah tak ada di tempatnya. Ditebang, dan menyisakan tunggulnya.
***

Sore itu basah oleh gerimis. Keduanya duduk di teras rumah. Menatap pada halaman yang tampak terlalu lapang. Mereka telah sama-sama paham. Bahwa tatapan mereka dulu telah menyampaikan sebuah pesan. Dan ada kata yang masih tersekat di tenggorokan.
“Gerimis, Yah.”
“Mirip empat tahun lalu.”
Ia mengangguk. Tersenyum. “Aku minta maaf.”
Ayah menggeleng dan balik tersenyum. Seolah berkata, “Justru ayah yang minta maaf.”
Hening. Tak ada lagi tetangga yang memanggil ramah dan berbasa-basi. Hanya titik kecil gerimis yang meningkahi sunyi.
“Ayah terlalu naif. Tak pernah memberimu jawaban yang memuaskan tentang kenangan apa yang ada dalam pohon rambutan itu. Hingga rasa penasaranmu berbuah kesal.”
Ia menggeleng. Teringat ucapan tetangganya ketika ia dirawat di rumah sakit empat tahun lalu, saat kakinya yang patah mendapatkan perawatan. Bahwa pohon rambutan itu ditanam di hari kelahirannya. Yang bertepatan dengan hari kematian ibunya.
Ingatan itu semakin membuat teras rumah hening. Ia baru akan mengucapkan kata-kata saat gerimis berganti hujan. Dan rintiknya menelan segala suara.
***

ART.
Banyuasin, 1 Desember 2017