Selasa, 26 Februari 2019

Mek Mencoba Menolak Memijit


Cerpen ini pernah dipublikasikan di Koran Kompas pada edisi 10 Februari 2019

Karena sudah tiga hari berturut-turut mendapatkan mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat sang suami sudah duduk di kursi reot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menyeruput kopi.
“Bagaimana, Pak?” Mek mengejar.
“Apanya yang bagaimana?”
“Mimpiku itu lho.”
“Ya sudah. Namanya juga mimpi.”
“Tapi sudah tiga kali, Pak.”
Suami Mek kembali menyeruput kopi.
“Pak?”
Suami Mek menghela napas panjang.
“Pak?!”
“Apa sih, Bu? Itu kan mimpi. Kenyataannya aku sudah tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.”
Mek diam. Menatap lantai rumah.
***
Hingga tiga bulan lalu, suami Mek masih bisa menggarap lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang setinggi orang dewasa. Setelah Mek dan suaminya datang sebagai keluarga jauh yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya untuk memanfaatkan lahan itu untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.
Dari lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas itu, Mek dan suami mengerahkan semua kemampuan. Mereka berhasil menanam beberapa tanaman. Hasilnya, sebagian dimakan sendiri, dan sebagian lain bisa dibawa ke pasar untuk dijual. Tentu saja tidak banyak, tapi cukup.  Cukup untuk makan mereka dan anak-anak yang kemudian lahir tiga kali beruntun. Pendek kata, cukup untuk hidup tidak mewah.
Tentu saja, selama kurang lebih dua belas tahun di sela-sela hidup hemat mereka, Mek dan suami masih menyisihkan uang untuk menabung. Hanya saja sering kali tabungan itu harus terpakai untuk kehidupan sehari-hari dan keperluan lain. Bahkan, tak jarang, mereka justru harus berutang ke Pak Minto atau yang lain untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak, seperti biaya melahirkan. Namun, sekuat apapun mereka menabung, tabungan itu tak cukup untuk mempersiapkan jika suatu waktu lahan itu tak bisa lagi digarap. Dan itulah yang terjadi.
Saat mereka sedang senang-senangnya karena tampaknya panen akan cukup berlimpah tahun ini, Pak Minto datang mengetuk pintu rumah kontrakan mereka yang berada sekitar tiga kilometer dari lahan garapan. Mek dan suami sama sekali tak menyangka bahwa setelah senyum, salam, dan ramah-tamah yang menyenangkan, Pak Minto menyampaikan, “Lahan itu sudah dijual. Ada orang yang mau membangun mini market waralaba di sana. Kabarnya satu atau dua bulan lagi pembangunan akan dimulai.”
Kalimatnya tidak persis seperti itu karena disampaikan dengan berbelit-belit dan sangat hati-hati agar tidak melukai siapapun. Hanya saja, sehalus apapun penyampaiannya, memang kenyataan itu pahit dan tidak ada manis-manisnya.
Panen yang sudah dibayangkan oleh Mek dan suami seketika harus menguap. Sebelum pulang, Pak Minto memberikan sebuah amplop yang berisi uang. Pak Minto sudah menyampaikan soal tanaman yang akan segera panen, dan pemilik tanah yang baru setuju untuk membayar ganti rugi. Setelah dihitung, Mek dan suami memang benar-benar rugi.
Setelah Pak Minto pulang, ada tiga puluh menit yang habis di dalam keheningan yang pekat. Baik Mek maupun suami tak bersuara. Meskipun begitu, ada kericuhan dan kegaduhan dalam benak masing-masing. Kericuhan yang begitu rumit dan sangat sulit untuk disalurkan sampai tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.
“Bagaimana, Pak?” ucap Mek setelah tiga puluh menit dalam kerapuhan yang memutusasakan.
“Ya mau bagaimana lagi. Kita cari penghasilan lain, Bu.”
Tapi rupanya mencari sumber penghasilan lain bagi kedua orang itu tidaklah mudah. Tangan mereka telah terbiasa mencangkul, memupuk, dan menyiangi. Sementara lahan semakin sempit dan kebun orang lain sudah punya penggarapnya sendiri.
Sebenarnya Mek dan suami takjub juga dengan perkembangan minimarket waralaba. Bisa-bisanya ia menjangkau titik di kampung yang letaknya ratusan kilometer dari kota provinsi. Apalagi, sebulan dari sana, dijual pula tanah di samping lahan garapan mereka yang selama ini aktif ditanami padi untuk kepentingan pembangunan minimarket waralaba pesaing.
Mek tahu persis bahwa petak kecil sawah itu digarap oleh tetangganya. Karena merasa senasib, didatanginyalah tetangga itu dan menanyakan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambung hidup setelah tanah itu dijual. Jawaban mereka adalah, “Merantau ke kota. Cari kerja di sana. Di sini sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.”
Langkah itu akhirnya dilakukan juga oleh Mek, suami, dan anak-anak mereka. Berbekal uang ganti rugi dari pemilik baru lahan garapan ditambahi dengan sedikit tabungan mereka, kelima anak-beranak itu nekat pergi ke kota provinsi. Mencari kerja apa saja.
***

Di kota mereka mengontrak petak kecil di sudut gang kumuh. Tak perlu deskripsi mendetail soal kondisi rumah kontrakan baru mereka. Anda tentu pernah membaca di berbagai cerpen dan novel mengenai jenis-jenis rumah di tempat seperti itu. Atau, paling tidak, pernah melihatnya di sinetron dan acara televisi yang mengeksploitasi kemiskinan. Kurang lebih, seperti itulah kondisi kontrakan mereka yang terbaru.
Kelanjutannya, seperti yang sudah diketahui, suami Mek ditolak bekerja di tiga tempat yang berbeda. Mek sendiri mengalami mimpi yang sama tiga kali berturut-turut.  Di hari-hari berikutnya, Mek juga memimpikan hal yang sama.
Ia selalu menolak. Tidak mau menjadi tukang urut. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci harian ketimbang menjadi tukang urut. Sekarang, selagi menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, ia sudah menjadi buruh cuci di tiga rumah berbeda. Baginya itu lebih berwibawa. Namun, semakin ia menolak, ia justru merasa bahu kanannya – bagian yang disentuh oleh lelaki dalam mimpi – terasa semakin sakit.
Berita baik muncul seminggu kemudian. Suaminya diterima untuk jadi buruh bangunan dalam sebuah proyek pembangunan jembatan layang. Dua sejoli itu bisa tersenyum sedikit lega. Menjadi buruh bangunan dan buruh cuci di kota tentu lebih baik ketimbang tidak mengerjakan apapun di desa.
Kecuali mimpi yang terus sama setiap hari dan bahu kanan yang semakin hari semakin sakit, tidak ada problem berarti di rumah tangga mereka. Sampai akhirnya, seorang wanita muda dengan riasan yang sederhana namun memancarkan pesona sesungguhnya, datang mengetuk pintu kontrakan mereka.
“Aku datang ke sini karena mimpi yang berkali-kali,” ujarnya. Mek dan suami terpana. Belum selesai keterkejutan keduanya, wanita itu melanjutkan, “Bahuku sakit sekali. Aku perlu tukang pijit.”
“Tidak ada yang bisa memijit di rumah ini. Anda mungkin salah alamat,” tukas suami Mek.
Perempuan itu menggeleng. Keras dan penuh keyakinan. “Mek namamu, bukan? Marsini nama asli? Kau yang disebut oleh lelaki di mimpiku sebagai satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan sakit di bahuku. Tolonglah aku.”
Demi mendengar nama aslinya disebut, Mek terperanjat. Mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan nama asli yang tak pernah diucapkan itu. Sementara itu sang suami teringat dengan mimpi yang pernah diceritakan istrinya.
“Tolonglah. Aku akan bayar lebih mahal ketimbang rumah spa langgananku. Sembuhkanlah bahuku, Mek,” wanita itu bertutur lancar.
“Masalahnya, aku tak bisa memijit dan benar-benar tidak pernah.”
“Cobalah dulu, Mek. Kumohon.”
Mek diam. Menoleh pada suaminya yang kemudian mengangkat kedua bahu dan berjalan keluar rumah. Di dalam, wanita muda itu mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Memberikannya pada Mek. “Ambil uang ini, Mek. Sebagai uang muka. Kalau benar bahuku sehat setelah kau pijit, akan kutambahi lagi. Kalau tidak, ambil saja uang ini sebagai rasa terima kasihku karena setidaknya kau telah mencoba. Aku sungguh tak tahan. Sungguh. Bahu ini sudah sakit lebih dari sebulan.”
Mek menarik napas panjang. Dipersilakannya sang wanita untuk rebah di satu-satunya kasur tipis yang ada di rumah. Wanita itu mengerti dan membuka baju kemeja yang ia kenakan dengan kesulitan karena bahu kanannya tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tangan Mek menyentuh bahu itu dan dengan cara yang sulit dijelaskan, ia bisa merasa bahwa ada satu urat kecil yang tidak berada pada tempatnya. Urat itulah yang membuat wanita di depannya merasa sakit. Saat Mek mencoba ‘meluruskan’ urat itu, ia merasa sakit di bahunya sendiri juga ikut terobati. Mek benar-benar terpana dengan perasaan yang baru ia alami ini.
Rupanya, wanita muda yang dipijit Mek juga merasakan keajaiban itu. Ia berjanji akan mempromosikan kemampuan Mek pada semua orang yang dikenalnya. Juga meyakinkan Mek bahwa Mek akan bisa hidup jauh lebih layak dengan kemampuannya memijit. Mek tersenyum.
Dan mungkin karena memang sifatnya yang supel, ia mulai menceritakan detail mimpinya pada Mek. Dua wanita berbeda usia itu sepakat bahwa mereka telah didatangi oleh orang yang sama. Sama-sama tak jelas siapa. Obrolan mereka jadi cair setelah menceritakan mimpi aneh tersebut.
Mek sudah merasa bahwa tak lama lagi urat yang tadi salah tempat akan segera ada di posisinya semula, saat sang wanita muda bercerita dengan lancar bahwa ia adalah istri seorang pebisnis muda yang sukses. Suaminya baru saja membangun sebuah minimarket waralaba di salah satu pelosok kampung di provinsi itu, sebuah ekspansi. “Suamiku mengalami negosiasi yang cukup panjang dengan Pak Minto, pemilik tanah, karena ia memikirkan nasib penggarap lahannya. Tapi berkat harga yang pas, Pak Minto pun rela melepas tanahnya. Tanah yang benar-benar strategis.”
Tinggal satu usapan jempol lagi, Mek yakin, dan urat yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun, demi mendengar ucapan terkahir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak untuk memijit.