Kamis, 22 Maret 2018

Durian Ayah


Cerpen ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 18 Maret 2018

 
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang diharapkan. Karena itulah, perihal durian yang tak kunjung berbuah ini menjadi sesuatu yang cukup mengganjal hati ayah.
“Pohon ini bisa kau anggap adikmu,” ujar ayah sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih SMA waktu itu. Ayah memang suka begitu, mengatakan pohon-pohon tertentu sebagai kakak atau adik dari kami, anak-anaknya. Tolok ukur yang digunakannya jelas adalah usia. Rambutan di sudut kanan halaman depan rumah dibilang sebagai kakakku karena dia ditanam dua tahun lebih dulu daripada kelahiranku. Begitu juga dengan kelengkeng yang ada sekitar tujuh meter dari rambutan, dia juga kakakku yang lebih tua empat tahun.
“Dia lebih muda darimu empat tahun,” ayah melanjutkan.
Aku menelengkan kepala ke arah pohon durian yang ditunjuk ayah, “Tapi anak ayah yang satu ini belum pernah berbuah sekalipun. ‘Kakak-kakak’ku yang lain tak perlu menunggu sampai sepuluh tahun, sudah berbuah. Cuma ini yang belum.”
Ayah hanya tersenyum, “Sabarlah. Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
***

Lima tahun kemudian, sepertinya ayah yang mulai diuji kesabarannya. Mungkin karena merasa ia sudah melakukan hampir semua yang bisa dilakukan untuk durian itu, tapi si durian tetap tak mau menunjukkan tanda-tanda akan berbuah.
“Sudah kusiram, kupupuk, kubersihkan dari gulma-gulma, masih saja tak mau berbuah. Apa kusuntik saja pohon durian ini?”
Tentu aku tak menjawab. Sebab ayah memang tidak sedang berbicara padaku. Ia lebih cenderung berbicara pada dirinya sendiri. Dan benar, seminggu kemudian ayah menyuntik pohon durian itu dengan obat yang mampu merangsangnya agar cepat berbuah.
“Paling lama enam bulan lagi durian ini akan berbunga, begitu kata penjual obat suntik ini tadi.”
Sekali lagi aku tidak menjawab omongan ayah. Hanya mengangguk-angguk saja. Tentu saja dalam hati aku meng-amin-kan. Toh kalau durian itu berbuah, aku juga akan menikmatinya. Tapi ternyata sampai satu tahun, durian itu tak kunjung berbunga, apalagi berbuah. Hanya daunnya saja yang jadi semakin lebat. Enam bulan kemudian, ayah kulihat sedang menyayat-nyayat batang durian itu.
“Ada yang mengajariku, pohon buah harus sedikit disakiti agar dia merasa terancam dan kemudian berbuah,” jelas ayah tanpa kuminta.
Sampai setahun setengah kemudian durian tetap berdiri angkuh dengan daunnya yang lebat dan batang yang semakin menjulang, tanpa buah.
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu. Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
“Yang tempo hari mungkin ia tidak terlalu merasa terancam,” desis ayah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku hanya berdiri di antara ayah dan pohon itu. Pohon durian di depannya tetap kukuh. Kulitnya memang terkelupas di sana-sini. Satu dua tetes getah merembes dari celah-celah kulit pohon itu. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, pohon itu tetap kukuh. Malah sepertinya angkuh. Seolah ia sedang mengejek tenaga ayahku yang sudah jadi pensiunan.
Sampai setahun lagi berlalu, durian itu tetap tak mau berbunga. Ayah merutuk.
Dasar mungkin mulutku memang lancang, aku justru berkata, “Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
Mata ayah membeliak mendengar kata-kata itu.
***

“Aku menyerah,” ujar ayah suatu waktu seusai makan malam.
Dahiku mengernyit tanda tak mengerti.
“Dua puluh tiga tahun, dan durian itu tak kunjung berbunga. Seusai lebaran nanti akan kupanggil dua atau tiga orang tukang untuk menebangnya.”
“Ayah serius?”
Ia mengangguk. “Mungkin akan kuganti saja dengan pohon mangga. Aku tak pernah gagal menanam mangga. Buahnya selalu lebat dan manis jika aku yang menanam. Mungkin memang durian bukan jenis buah yang sesuai dengan tanganku.”
Sehabis lebaran, berarti sekitar empat bulan lagi. Aku bisa mengerti kenapa ayah harus menunggu selama itu untuk menebang pohon besar di pekarangan kami. Sederhana, ia beranggapan waktu terbaik untuk menanam pohon adalah setelah lebaran. “Seperti manusia yang puasanya berhasil, tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa dosa.”
Kadang ayah memang aneh.
***

Selama empat bulan itu, aku melihat ayah lebih telaten merawat durian yang akan ditebangnya. “Sebagai ucapan perpisahan,” kata ayah. Ia ingin memberi kenang-kenangan yang indah. Memohon maaf jika ada salah. Jangan sampai ada dendam antara dia dan pohon itu. Begitu paparnya panjang lebar.
Orang lain mungkin akan mengira ayah sudah tak sehat akal, tapi aku tahu memang begitulah ayah dari dulu. Setiap ada pohon yang akan ditebang, ia akan merawat pohon itu dengan lebih baik dan menyiapkan pengganti yang juga baik.
Sampai akhirnya lebaran telah tujuh hari berlalu. Ayah pun memanggil dua tukang untuk menebang.
“Apa benar Bapak mau menebang pohon ini?” tanya salah satu tukang tebang itu.
Ayahku mengangguk. Mantap.
“Sayang sekali. Kenapa tak ditunggu sampai berbuah dulu, Pak?”
“Sudah lebih dari cukup aku menunggunya. Jangankan berbuah, berbunga saja tidak.”
“Lah. Itu apa kalau bukan bunga durian?” tukang tebang itu berkata lagi sambil menunjuk ke atas.
Ayah dan aku menengadah. Kami baru sadar putik-putik kecil itu tumbuh di ujung ranting. Bergerumbul. Sedikit tertutupi oleh daun-daun yang lebat.
***

Penebangan pohon dibatalkan. Ayah semringah bukan main. Dua puluh tiga tahun, dia selalu menyebut angka itu sebagai sebuah tanda penantian yang begitu panjang. Kerentaan ayah seolah memudar. Ia jadi lebih telaten lagi mengurusi pohon yang sedang berbunga itu.
Tapi, kadang nasib tak ubahnya hati perawan yang sedang gundah, mudah berbalik arah. Musim hujan datang. Air dan angin datang silih berganti. Bunga-bunga yang sedang mekar itu runtuh satu per satu. Begitu juga semangat ayah.
Hampir setiap pagi, ia terpaksa menyapu reruntuhan bunga durian dengan wajah yang begitu murung. Hanya tinggal beberapa lagi yang masih bertahan di atas. Bisa dihitung dengan jari tangan. Dan mungkin karena berharap bisa jadi sangat menyakitkan, ia membunuh semua harapan yang tersisa. Merawat tanaman itu seadanya. Tak lagi sebagai sebuah tanaman istimewa yang bunganya telah ditunggu sekian lama.
Entah ajaib atau kebetulan, tujuh bunga yang tersisa itu terus bertahan meskipun hujan tak memberi belas kasihan. Akhirnya, waktu juga yang memperlihatkan bahwa harapan tak boleh dibunuh sebab kehidupan dimulai dari sana. Sebagaimana kehidupan tujuh bunga durian ayah. Tujuh-tujuhnya tampak semakin besar seiring waktu. Bahkan satu, yang paling besar, tampak sudah matang beberapa bulan kemudian.
Senyum ayah kembali tersungging tanpa cela. Menanti durian matang jatuh dari pohonnya. Hingga akhirnya di sebuah senja yang cerah, kemarau baru saja hendak bertamu, bunyi yang ditunggu tiba juga.
Bunyi berdebug menghantam tanah cukup keras terdengar dari arah pohon durian. Aku segera berlari, mencari. Benar saja. Durian ayah yang telah matang, jatuh. Aromanya menguar menggiurkan. Kutolehkan kepala, ayah belum keluar rumah. Mungkin tidak mendengar duriannya jatuh.
Dengan penuh semangat, kubawa durian itu ke rumah. Berteriak aku memanggil ayah. Tapi yang dipanggil tak kunjung menjawab. Aku jadi tak sabaran, ingin memberi kabar gembira ini. Namun kemudian, setelah mencari di sepenjuru rumah, kutemukan ayah di kamar. Telentang dan matanya terutup. Tersenyum. Tak pernah menjawab lagi. Dari seluruh tubuhnya, menguar aroma durian matang.
***

ART.
Indralaya, 5 September 2017