Senin, 18 November 2019

Taman di Depan Rumah

Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos pada November 2019


Taman itu tidak lagi terlihat rapi. Rumput-rumput tumbuh seenaknya. Mawar-mawar mengering. Pohon-pohon bonsai terlihat seperti orang penuh dosa yang sakratul mautnya begitu sulit. Kupu-kupu yang dulu sering hilir mudik di sana tak pernah muncul lagi. Semuanya berubah begitu rupa sejak lima bulan lalu.
Dulu, setiap hari, sejak jam sembilan sampai jam sepuluh pagi ada sepasang orang tua merawat taman di depan rumahnya itu dengan telaten. Setiap daun mengembang hijau seolah dilap dan dibersihkan satu demi satu. Atau mungkin memang begitu.
Setelah ‘berkebun’, keduanya duduk di beranda. Memandangi taman mereka yang sebenarnya tidak begitu luas, namun memang hijau dan menyejukkan. Ditemani oleh biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Saat itu, mereka akan berbincang tentang anak tunggal yang di rantau, atau hal-hal remeh lainnya. Tiga atau empat kupu-kupu akan hinggap di tanaman lidah mertua yang ada di pot kecil di tengah meja. Seperti ingin nimbrung dalam perbincangan keduanya.
Semua itu jadi pemandangan sehari-hari sampai akhirnya di suatu pagi sang suami tak lagi merepons usapan tangan istrinya untuk membangunkannya sebagaimana biasa. Anak tunggalnya yang merantau terpaksa pulang lebih cepat dari jadwal. Rumah beserta tamannya dipenuhi oleh orang yang menunjukkan rasa berbela sungkawa.
***

Seminggu setelahnya, taman kecil itu tetap tak tersentuh. Sang anak yang tahu bagaimana rutinitas kedua orang tuanya, tidak berkomentar. Lagi pula tak mungkin membiarkan orang tua bertaman di masa berkabung. Namun, ternyata hingga peringatan lewat seratus hari, sang ibu tetap tak menghiraukan tamannya.
Rumpun hijau di depan rumah sudah seperti semak belukar. Sang anak, yang sejak kematian ayahnya lebih sering berkunjung, terpaksa merapikan taman. Namun tangannya tak setelaten sang orang tua. Ia tak suka bertaman. Semua dilakukannya hanya agar taman itu tak terlalu buruk dilihat tetangga. Ibunya, yang lebih banyak diam, tak bersuara melihat anaknya seperti itu. Tidak melarang, tidak membantu. Tatapannya lurus saja, menembus semua benda.
Mungkin karena tak mampu menemukan cara lain, sang anak justru mempergiat aktivitas berkebunnya. Ia bahkan rela mengajukan pindah tugas agar bisa tinggal di kota yang sama dengan sang ibu. Frekuensi kunjungan ke rumah orang tuanya ditambah. Harapannya hanya satu, agar sang ibu kembali bersemangat. Dengan melihatnya yang sering berkebun, ibunya akan kembali punya daya hidup, pikirnya. Ia tahu harapan itu bukanlah harapan kosong saat tiga bulan kemudian, ibunya tidak lagi menatap kosong menembus semua benda. Meski demikian, ibunya masih belum bergerak. Hanya memandang dari beranda.
Hanya pandangan, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan harapan. Sang anak menambah lagi jadwal berkunjung dan berkebun di rumah orang tuanya. Dari seminggu dua kali, jadi seminggu tiga kali, lalu seminggu empat kali, hingga akhirnya ia benar-benar berkebun di sana setiap hari. Sepulang kerja, ketika senja sedang ranum-ranumnya, ia akan ada di taman itu, lengkap dengan mata ibunya yang kembali bercahaya. Meskipun belum ada lagi kupu-kupu yang hinggap di bunga manapun.
Pada senja yang keseratus tujuh puluh tiga, saat ia hendak pamit pada ibunya setelah usai berkebun, tanpa ia duga sang ibu tersenyum. Senyum pertama yang dikembangkan oleh wanita itu sejak kematian suaminya. Anak tunggalnya bergetar. Terlebih lagi, sang ibu memeluknya. Sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan lagi.
***

Sejak itu, sang anak semakin serius merawat kebun. Dibelinya beberapa peralatan berkekebun. Gerakannya masih kaku, tentu saja. Tapi itu tak masalah. Beberapa petak kebun terlihat kembali hidup dan berseri. Dan yang paling penting, ia disambut dan dilepas oleh ibunya dengan senyuman. Sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apapun. Ia yakin, waktunya semakin dekat. Ibunya akan kembali bertaman dan ‘hidup’ lagi.
Kerja kerasnya terbayar saat empat minggu kemudian, sang ibu tidak hanya menyambutnya dengan senyum, tapi juga dengan peralatan taman di tangan. “Ibu akan membantumu bertaman hari ini,” suara ibunya gemetar. Ia tersenyum. Menahan air yang hampir tumpah dari mata. Beberapa menit berikutnya, kedua anak-beranak itu sudah sibuk dengan alat di tangannya.
Saat itulah sang anak mencuri-curi pandang ke arah ibunya. Ayunan tangan sang ibu  tetap lincah seperti dulu. Si anak sempat tersenyum senang melihat ibunya kembali bersemangat. Namun senyum itu berubah kalut ketika sang ibu menitikkan air mata. Sang anak tahu pasti, ibunya terkenang saat-saat bertaman dengan sang ayah.
Setengah jam kemudian, keduanya rehat. Duduk di beranda. Menikmati biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Berbincang tentang hal-hal remeh. Sambil memandangi taman yang kembali hijau permai, meskipun kupu-kupu tetap belum ada yang hadir. Di tengah perbincangan, air mata ibu kembali meleleh.
Kenangan, deritanya memang tiada akhir.
***

Sendirian ia duduk di beranda rumah. Menatap ke arah taman. Orang-orang baru saja pulang dari mengungkapkan bela sungkawa. Setelah sore yang begitu indah, ibunya harus menyusul sang ayah. Ia masih terpukau dengan nasib yang bisa begitu mudah menunjukkan kuasa.
Matanya menatap nanar. Terlalu menderita untuk melihat taman itu jika tak terurus kembali, namun kembali merawat tumbuhan-tumbuhan di sana sama saja dengan menimbun dirinya dalam penderitaan. Ia tak pernah menyangka bisa begitu terikat dengan taman. Dua tahun yang lalu, ia sendiri tak akan mau berkotor-kotor dengan tanah demi sebuah taman. Tapi setelah semua ini, ia sendiri bingung menentukan perasaannya terhadap taman itu. Hanya saja, di tengah kebingungan itu, ia telah memutuskan untuk menjual rumah. Ia harus hidup di jalannya sendiri, membentuk nasibnya sendiri yang mungkin masih panjang.
Apabila hari itu, pukul sembilan pagi, ia duduk di teras sambil menikmati semua yang biasa dinikmati kedua orang tuanya, maka itulah yang dianggapnya sebagai ‘pesta perpisahan’. Ditariknya napas dalam-dalam dan dikatupkannya kedua mata. Ketika ia membuka mata lagi, pandangannya tertumbuk pada lidah mertua di dalam pot di atas meja. Ia baru sadar bahwa ia telah abai pada tumbuhan kecil itu. Dicobanya untuk mengingat-ingat dan barulah ia mahfum, dulu sebelum ia memutuskan untuk bertaman, tumbuhan itulah yang tetap terlihat terawat sementara yang lain sekarat. Satu-satunya tumbuhan yang dalam keterpurukan taman, setiap daunnya tetap mengembang hijau seolah-olah setiap helai telah dilap sedemikian rupa.
Ia mencoba menggali ingatan yang berkaitan dengan tumbuhan itu. Samar-samar, ia teringat suatu hari, kedua orang tua itu memberikan kado ulang tahun dan doa yang tak ia harapkan: sebuah tanaman dalam pot kecil dan doa agar ia kelak mampu melihat sisi indah setiap tanaman selayaknya kedua orang tuanya.
Sang anak seketika merasa dadanya penuh sesak. Mencoba menahan laju buliran air di sudut matanya. Namun, ia tak mampu. Dan entah datang dari mana, sepasang kupu-kupu hinggap di ujung daun tanaman di hadapannya.
***

ART.
Palembang, 24 November 2017