Rabu, 26 April 2017

Somat Memutuskan Untuk Mati



Cerpen ini pernah dimuat di Koran Pantura pada September 2016
Orang-orang yang tidak tahu persis kejadiannya, akan menganggap bahwa alasan Somat hendak bunuh diri adalah sesuatu yang konyol. Terlalu dibuat-buat. Juga pasti banyak yang menganggap Somat terlalu cengeng. Namun Somat sebagai orang yang paling mencintai rumah dan semua kedamaian di dalamnya, mempunyai alasan yang benar-benar kuat bagi keinginannya tersebut. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat pelepas penat setelah seharian bekerja. Rumah, yang semestinya menjadi surga sebagaimana kata pepatah. Rumah, yang selama ini ia nikmati betul suasananya, telah berubah seratus delapan puluh derajat sejak dua tahun lalu. Ya. Benar. Semua ini karena pertengkaran tak berkesudahan yang terjadi di rumah.
Jangan kalian berpikir bahwa ada perselingkuhan atau cerita-cerita libidinal sejenis yang terjadi sehingga Somat tak betah lagi tinggal di rumah. Bukan itu sebabnya. Tiada hari terlewati tanpa perang dingin antara ibu dan istrinya. Gara-gara pemilu celaka dua tahun lalu, rumahnya bagaikan terbuat dari es. Dingin dan beku, namun membuat tangan terasa panas ketika menggenggamnya. Ya. Ini karena pertempuran perebutan suara antara mantan jenderal dan mantan tukang kayu.
Ibunya mendukung mantan jenderal sementara istrinya loyalis mantan tukang kayu. Tak ada yang tahu alasannya. Sejak masa kampanye, dua tahun lalu, perang dingin antara kedua orang yang disayanginya telah dimulai. Dulu, sebelum perang dingin di rumah, Somat tak pernah bisa menonton berita yang dicari di televisi. Itu karena ibu dan istrinya telah menguasai remote televisi dan mereka bersepakat untuk menonton sinetron yang entah kapan selesainya. Tapi sejak masa kampanye dimulai, tanpa diminta mereka berdua memilih saluran berita di televisi. Mulanya Somat senang-senang saja. Namun ketika sadar bahwa berita itu pun bagian dari perang dingin, dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ibunya pilih channel televisi nomor satu, channel yang mendukung sang jenderal habis-habisan. Istrinya pilih channel kota besar, bagian dari alat kampanye sang mantan tukang kayu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ibu dan istri Somat berebut remote televisi. Memilih berita mana yang akan ditonton. Juga untuk pertama kalinya sepanjang hidup, Somat kehilangan selera menonton berita.
Awalnya, Somat mengira ini hanya bagian dari fluktuasi politik yang menjalar sampai ke rumahnya. Tak akan bertahan lama, sebagaimana pemungutan-pemungutan suara sebelumnya. Toh yang terpilih akan tetap lupa dengan janji, dan yang tak terpilih akan terlupakan dengan sendirinya. Maka tak heran Somat senang bukan main ketika akhirnya hari pemilihan tiba. “Perang dingin akan segera usai,” pikirnya. Ternyata perang belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Quick count di channel nomor satu menyatakan bahwa mantan jenderal yang menang, tapi di channel kota besar, mantan tukang kayulah yang juara. Sambil menunggu hasil real count, ibu dan istri Somat tak saling bertegur sapa.
Somat sebenarnya tak ingin ambil pusing. Masalahnya adalah perang dingin ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan rumah tangganya. Seperti biasa, ibu dan istrinya berganti-gantian membuat makanan untuk disantap bersama. Namun selama menunggu pengumuman resmi, keduanya tak ada yang memasak dengan sepenuh hati. Rasa masakan jadi aneh. Somat terpaksa membeli makan di warung.
Saat hari pengumuman tiba. Hari itu giliran ibunya yang memasak. Sang mantan jenderal dinyatakan kalah. Ikan goreng masakan ibunya berwarna hitam, gosong. Somat tertegun melihatnya.
“Begitulah nasib negara kita di tangan orang yang salah. Gelap,” ujar ibunya.
Somat diam. Ia terpaksa mencari-cari bagian dari ikan goreng itu yang masih bisa diselamatkan untuk meluncur ke dalam perut. Ia sudah tak punya uang lagi untuk makan di luar. Kejadian beberapa jam kemudian tak kalah membuatnya bingung. Istrinya mengganti seluruh lampu di rumah. Memang rumah Somat selama ini tampak buram karena lampu rumahnya sudah pada redup. Akibat perubahan ini, Somat merasa silau. Matanya butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Ketika ditanya perihal pergantian yang tiba-tiba ini, istri Somat berkata dengan suara sengaja dikeraskan agar mertuanya mendengar, “Perubahan itu jangan tanggung-tanggung. Rombak semua. Rumah itu tak beda dengan negara, butuh cahaya yang terang biar kita bisa membedakan satu benda dengan yang lain dengan lebih mudah.”
Maka jadilah hari itu Somat tak bisa tidur. Perutnya keruyuk-keruyuk karena isinya kurang. Matanya lelah dan sudah meminta untuk dikatupkan, tapi lampu baru itu terlalu terang. Dia ingin menjerit dan menyuruh kedua wanita itu berhenti melakukan hal-hal konyol. Hanya saja, Somat sadar bahwa di rumah ini justru kedua wanita itulah penguasa yang sebenarnya.
Sebulan setelah pemilihan, Somat masih berharap perang dingin segera berakhir. Kenyataannya justru perang semakin seru. Satu kebijakan dari sang terpilih akan menimbulkan satu respons negatif dari ibunya. Dan satu respons negatif akan segera mendapatkan pleidoi dari istrinya. Hal itu terjadi terus-menerus. Sampai kadang mereka tidak lagi fokus untuk mendukung tokoh idola mereka.
“Harga BBM jadi mahal. Bukan cuma mahal, tapi juga tidak menentu. Naik turun seperti pantat orang yang ingin kentut, tapi tak jadi. Sudah diangkat, diturunkan lagi. Ingin kentut lagi, diangkat lagi. Tidak jadi lagi, diturunkan lagi. Tindakan yang seperti ini yang bikin rakyat sakit perut.”
“Kupikir lebih baik begitu. Harga yang murah itu karena disubsidi. Yang menikmati subsidi itu justru lebih banyak orang kaya. Yang miskin sedikit sekali menikmatinya. Tahukah Ibu tentang subsidi itu?”
“Apa katamu? Kau pikir aku tak tahu bagaimana subsidi itu? Kau pikir aku bodoh? Kurang ajar sekali kau pada mertuamu sendiri. Orang-orang begini inilah yang memilih presiden yang tak becus.”
“Aduh, Ibu. Janganlah menuduhku seperti itu. Lagi pula, kalau ternyata aku kurang ajar, bukankah aku ini hasil didikan generasi Ibu? Generasi yang memilih orang-orang yang tak suka dikritik.”
Kemudian suasana hening untuk beberapa saat. Somat merasa tertekan. Tak mampu melerai. Tak mampu juga mencegah peristiwa sejenis terulang. Ia hanya bisa menyaksikan itu tanpa berbuat apa-apa. Hari berganti menjadi minggu, lalu menjadi bulan, kemudian menjadi tahun. Sampai dua tahun lamanya, ia terus dihantui dengan perang dingin antara dua orang yang dikasihi. Rumah benar-benar jadi tempat terakhir yang ingin ia singgahi. Somat jadi sengaja memperlama waktu di kantor. Memperlambat jalannya ketika menuju rumah. Sebab ia tahu kesengitanlah yang akan menyambutnya dengan dingin begitu tiba nanti.
Sampai pada akhirnya, tiga hari yang lalu, tanpa diduganya sebuah pertanyaan meluncur dari kedua orang yang berselisih itu.
“Jadi, dua tahun lalu saat di bilik suara, siapa yang telah kau pilih?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Pertanyaan yang sungguh tak beradab. Di mana asas luber dan jurdil jika ia ditanya seperti itu. Lagi pula itu sudah terjadi dua tahun lalu. Kenapa masih harus diungkit-ungkit lagi? Dijawab pun tak akan mengubah yang sudah terjadi.
Akhirnya Somat tersadar bahwa pertanyaan itu tak sesederhana yang ia pikirkan. Ini adalah puncak dari pertikaian antara ibu dan istrinya. Mereka sesungguhnya tak peduli lagi dengan siapa pilihan Somat di acara yang disebut pesta demokrasi itu. Yang mereka pedulikan adalah keberpihakan Somat. Ia dituntut untuk memilih berada di pihak mana: ibu atau istri.
Somad tertegun dan terdiam mendapatkan pertanyaan yang demikian. Ia selamanya tak akan mampu memilih untuk berpihak ke mana. Ia ingin keduanya akur tanpa perselisihan. Ia ingin suasana rumahnya kembali seperti dulu. Kalau perlu tak ada presiden pun tak masalah, yang penting istri dan ibunya kembali rukun, saling menopang, dan bercengkrama hangat.
Ia terus mencoba berkelit dan menghindar. Tak mau ia menjawab pertanyaan ibu dan istrinya itu. Namun sekuat apapun ia menghindar, pertanyaan itu terus ditodongkan padanya. Selayak sebuah pistol yang tak henti memuntahkan peluru sebelum tepat mengenai sasaran. Tiga hari berturut-turut ditanya seperti itu membuat Somat terpuruk.
Hanya dalam tiga hari, berat badan Somad turun lima kilogram. Nafsu makannya hilang. Selera tidur menguap. Tenaga raib. Badannya lemas. Sialnya ibu dan istrinya secara tak tahu diri terus melempari pertanyaan celaka itu. Sama sekali kondisi dan perasaan Somat tak dihiraukan oleh mereka.
Dalam ketidakberesan kerja otaknya akibat tekanan bertubi-tubi, Somat memutuskan untuk mengakhiri hidup. Disiapkannya tali dan diikat ke langit-langit rumah. Kakinya sudah menjinjit dan lehernya telah dikalungkan ke tali laknat tersebut saat tiba-tiba istri dan ibunya mendobrak pintu kamar.
Sontak saja kedua orang itu terkejut bukan main. Tanpa diberi aba-aba, keduanya pun berlari menuju arah Somat. Mencoba membujuk Somat untuk membatalkan niatnya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, keduanya begitu kompak. Somat terharu. Matanya merah. Pun mata kedua orang di hadapannya. Secercah harapan muncul di hati Somat. Tak disangkanya niatnya untuk bunuh diri ternyata justru mendamaikan kedua belah pihak.
Baru saja ia berpikir seperti itu, ibunya menggerutu, “Semua ini pasti gara-gara si tukang kayu. Angka orang bunuh diri semakin meningkat sejak dia jadi presiden.”
“Enak saja Ibu bicara. Memangnya kalo si jenderal dipecat yang jadi presiden, dia bisa mencegah niat Somat?”
Somat menitikkan air mata sebelum akhirnya ia meloncat dan menendang kursi tempat ia berpijak. Membuat lehernya terbebat oleh tali tambang. Sementara dua orang itu kembali sibuk bertengkar. Nyawa Somat melayang. Saat menyadari kebodohan mereka karena tidak bisa menyelamatkan Somat, keduanya terududuk lemas. Menangis tanpa suara. Kehilangan baru benar-benar mereka rasakan sekarang. Perdebatan berhenti.
“Ini gara-gara presiden yang kau pilih.”
“Dia presiden ibu juga.”
Demikian dialog yang terjadi lima belas menit kemudian.
***
ART.
Palembang, 31 Desember 2015.

Senin, 27 Maret 2017

Sedikit Obrolan Ketika Menunggu



*Cerpen ini pernah dimuat di Koran Pantura pada Oktober 2016
Sejak pindah ke kota, Marfu’ah mengganti namanya menjadi Helena. Ia memotong rambutnya dengan gaya terkini. Memilih baju-baju tertrendi. Mengoleskan bedak setebal lima senti. Memberikan sedikit warna merah agar ada rona di pipi. Mematut diri agar tampak lebih seksi. Apalagi hari ini. Karena sekarang ada yang sedang ia nanti.
“Sudah setengah jam,” desisnya. Orang-orang yang memenuhi kafe itu tak ada yang mempedulikan dia. Kecuali satu orang yang dari tadi mengamat-amati dari kejauhan, dari salah satu meja yang ada di ujung ruangan. Namun Helena sendiri pun tak menyadari bahwa ia sedang diamati. Karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara yang ia nantikan belum terlihat tanda-tanda akan kedatangannya. Orang yang di kala bosan biasanya pergi memancing, jalan-jalan, belanja di mall, mendaki gunung, dan sebagainya. Tapi nanti dia pasti akan datang.
***

Strawberry milkshake di gelas itu tinggal setengah. Helena alias Marfu’ah masih menunggu. Yang ditunggu masih belum tampak akan memunculkan diri. Ia mulai gelisah. Terlebih lagi ia hanya sendirian. Tanpa seseorang yang bisa diajak bicara. Semua orang yang ada di kafe ini sibuk dengan kegiatan masing-masing: menghadapi handphone dan tablet. Helena menghela napas.
“Siapa yang kau tunggu?”
Helena mengangkat pandangan. Melihat ke arah pelontar kalimat tanya barusan. Dan ia tak bisa menutupi rasa terkejut saat menyadari siapa yang kini ada di hadapannya. Ia benar-benar tak sadar bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sudah sejak tadi memperhatikan dia dari salah satu sudut ruangan kafe.
“Jubaidah? Kau Jubaidah, kan?” Helena agak histeris.
“Ssssstttt,” Jubaidah meletakkan telunjuk di depan bibir, “panggil aku Ida. IDA. I-D-A. Oke, Marfu’ah?”
“Sssstttt,” gantian Marfu’ah yang meletakkan telunjuk di depan bibir, “panggil aku Helena. HELENA. H-E-L-E-N-A.”
Saat mereka menyadari apa yang terjadi, gelak tawa kedua orang itu pun pecah. Lalu mereka berpelukan. Erat dan lama sekali.
“Berapa tahun, Helena?” tanya Ida kemudian.
“Sepuluh tahun,” jawab Helena mantap.
Mereka pun seolah terlempar kembali ke masa sepuluh tahun silam. Saat terakhir bertemu di desa. Sewaktu Helena masih bernama Marfu’ah dan Ida masih senang dipanggil Jubaidah. Senyum mengembang di bibir kedua wanita cantik itu.
“Jadi siapa yang kau tunggu?”
“Seseorang.”
“Siapa?”
“Seseorang yang kalau bosan biasanya pergi memancing, jalan-jalan, belanja di mall, mendaki gunung, dan sebagainya. Tapi nanti dia pasti akan datang.”
Ida mengernyit sebentar mendapatkan jawaban aneh begitu. Tapi kemudian ia melanjutkan, “Boleh aku menemanimu sambil mengobrol sedikit selagi kau menunggu seseorang itu?”
Lalu mereka pun memulai obrolan mereka. Diawali dengan membicarakan nasib seorang bandot tua di desa yang dulu hendak dijodohkan dengan Marfu’ah. Nasib orang itu buruk, seburuk perangainya. Butuh beberapa jam sampai akhirnya mereka selesai membicarakan topik itu.
Seorang pelayan kafe menghampiri mereka. Mengantarkan makanan ringan untuk keduanya. Obrolan pun terhenti sebentar ketika mereka melahap makanan. Rasa makanan yang disajikan oleh kafe itu memang tak terbantahkan enaknya. Maka tak heran kalau setiap pelanggan ingin meresapi setiap gigitan.
“Luar biasa,” ujar Helena.
Ida mengangguk. Makanan di sini memang luar biasa, pikirnya.
“Bukan makanannya yang kumaksud, Ida. Kau pasti berpikir bahwa aku mengomentari makanan, bukan? Yang kumaksud luar biasa itu adalah ceritamu tadi. Aku sungguh tak menyangka nasib bandot tua itu akan jadi sedemikian rupa,” Helena tersenyum.
Ida ikut tersenyum. Di sela-sela kesibukannya menyantap hidangan, “Ah. Itu biasa saja. Aku yakin ceritamu pasti akan lebih luar biasa lagi. Ayolah. Gantian sekarang kau yang bercerita.”
“Tentang apa?”
“Tentang dirimu. Bagaimana perjuanganmu sampai akhirnya kau sekarang seperti ini? Lihatlah. Kau cantik sekali. Jauh lebih cantik dibandingkan dulu. Juga semua barang-barang mewahmu itu.”
“Ah. Kau terlalu berlebih-lebihan.”
“Tidak. Sungguh. Kau memang luar biasa.”
Helena awalnya tampak merendahkan diri dengan mengatakan bahwa hidupnya biasa-biasa saja dan hanya diberikan sedikit keberuntungan. Namun tetap saja ujungnya ia menceritakan semua kekayaannya dengan bangga.
“Eh. Sebentar. Orang yang kau tunggu belum datang?” Ida menyela.
“Belum.”
Maka mereka pun melanjutkan obrolan.
Beberapa jam lagi terlewati. Mereka berdua masih mengobrol di kafe. Beberapa hidangan sudah mereka santap. Untuk menenangkan pihak kafe, Helena menggesekkan kartu kredit platinum miliknya guna membayar semua makanan dan minuman yang telah dibeli. Lalu obrolan pun berlanjut.
Hingga tengah malam. Kafe mulai sepi. Meja-meja yang lain sudah dibereskan. Namun karena memang kafe tersebut buka dua puluh empat jam, maka kedua wanita cantik itu pun dibiarkan saja oleh para pelayan. Yang penting semua makanan dan minuman sudah dibayar.
Obrolan mereka sudah melanglang buana. Tampak seru sekali mereka berdua bertukar cerita. Terkadang mereka tertawa terbahak-bahak hingga pelanggan lain menoleh ke mereka. Kadang-kadang juga salah satu menangis. Kemudian yang lain mencoba menenenangkan. Walaupun sering kali yang mencoba menenangkan itu malah jadi ikutan menangis sedih.
Terus begitu hingga berjam-jam kemudian. Sampai malam pun lewat. Berganti menjadi pagi. Mereka masih bercerita dengan seru. Pada jam sarapan, mereka pun memesan menu terlezat di sana dan menyantapnya. Kali ini giliran Ida yang membayar dengan kartu kreditnya.
Setelah sarapan, obrolan masih berlangsung dengan seru.
“Jadi sebenarnya siapa yang sedang kau tunggu?” tanya Ida.
“Seseorang.”
“Ah. Kekasihmu?”
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
“Cuma tukang bual.”
Ida mengernyitkan kening. Ia kebingungan namun tak terlalu ambil pusing. Mereka kembali melanjutkan bercerita. Terus. Sampai malam kembali datang. Lalu berganti pagi. Kemudian malam lagi. Pagi lagi. Malam lagi. Hingga beberapa minggu. Saat sepertinya obrolan mereka akan segera berakhir, ternyata mereka menemukan topik baru lagi untuk dibicarakan. Maka obrolan pun berlanjut. Sampai sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Setahun. Dua tahun. Mereka masih mengobrol juga.
Ah. Sudahlah! Aku bosan menceritakan dua orang yang terus saja mengobrol ini. Aku juga butuh refreshing. Bercerita dan ngobrol saja kok bisa bertahun-tahun. Gila! Aku juga ada kerjaan lain. Bukan cuma menceritakan dua orang ini saja. Kamu pikir enak jadi narator?
***

Maaf untuk para pembaca. Perkenalkan, saya narator baru. Narator lama, yang menceritakan kisah ini pada Anda semua, merasa bosan. “Ceritanya begitu-begitu saja,” katanya. Jadi ia memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan cerita tentang Helena dan Ida. Ia mau pergi memancing, jalan-jalan, belanja di mall, mendaki gunung, dan sebagainya. Mungkin dia nanti akan kembali lagi untuk melanjutkan ceritanya pada Anda. Namun selama masa menunggu itu, sayalah bertanggung jawab untuk mengisi kekosongan. Mohon maaf kalau nanti ternyata cara saya bercerita tidak sebaik dia. Baiklah. Kita lanjutkan saja ya.
Jadi sejak hari itu, Helena dan Ida, yang dulu bernama Marfu’ah dan Jubaidah itu belum juga beranjak dari kafe. Sudah berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dan bertahun-tahun mereka masih saja mengobrol di kafe. Dengan topik yang selalu baru. Wah. Gila. Pantas saja narator yang lama bosan. Ternyata cerita ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Eh. Maaf. Ternyata suara hati narator juga tertulis di sini ya? Maaf sekali lagi pada para pembaca. Kita lanjut lagi saja ceritanya ya.
“Jadi siapa yang kau tunggu?” tanya Ida.
“Seseorang. Tukang bual.”
“Ke mana dia? Kenapa lama sekali kau menunggunya?”
“Dia bosan dan mau pergi memancing, jalan-jalan, belanja di mall, mendaki gunung, dan sebagainya. Tapi nanti dia pasti akan datang.”
“Kau percaya pada tukang bual?”
***
Yogyakarta, 12 Desember 2014

Sabtu, 14 Januari 2017

Satu Tahun Komunitas Kota Kata



Sebuah Restrospeksi Satu Tahun Komunitas Kota
Oleh Rizqi Turama

“Ada rencana busuk apa ini?”
Itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut saya pada kisaran Desember 2015. Pasalnya sepulang saya dari merantau, ada dua orang junior saya yang menghubungi minta bertemu. Dua-duanya saya tahu sebagai orang yang gila, gila sastra. Sebenarnya tanpa ditanyakan pun, saya tahu maksud mereka mengajak bertemu itu.
Ada kegelisahan tentang iklim sastra di sini. Mungkin karena mereka pikir saya punya sedikit hal yang bisa dibagikan setelah merantau ke kota yang kehidupan sastranya begitu semarak, mereka pun menanyakan pendapat saya. Di pertemuan itu, saya tangkap bahwa sebenarnya mereka (juga saya) butuh wadah untuk berbagi, bercerita, bertukar pikiran, dan sebagainya di bidang sastra. Maka saya pun menceritakan salah satu bentuk kegiatan yang rutin dilaksanakan di PKKH UGM. Dan kami bersepakat untuk meniru dan mengadaptasi bentuk diskusi itu.
Tanggal 9 Januari 2016, yang kemudian disepakati sebagai hari ulang tahun Kota Kata, diskusi pertama komunitas ini terselenggara. Diskusi pertama yang cukup meriah untuk kategori diskusi sastra di kota ini. Bahkan diskusi tersebut diliput oleh Kompas TV Palembang, juga didatangi oleh wartawan Sriwijaya Pos. Keberadaan Kota Kata pun tersiar di kedua media itu. Setelah itu, saya dan teman-teman beberapa kali diundang wawancara ke sejumlah media seperti Kompas TV Palembang pada bulan April, ke Sriwijaya TV pada bulan Oktober, dan ke radio Trijaya FM pada bulan Desember. Sebagai sebuah komunitas yang masih mencari bentuk, publikasi dari berbagai media seperti itu memberikan semangat tersendiri. Semangat untuk, dalam bahasa kekinian, eksis.
Namun, kami juga sadar bahwa sekadar eksis tidaklah cukup. Eksis juga harus diimbangi dengan isi yang berbobot. Maka di awal-awal terbentuknya, para pendiri Kota Kata bersepakat untuk membuat sebuah diskusi yang terstruktur, membedah cerpen berdasarkan unsur-unsurnya: tokoh, karakter, plot, setting, kalimat pertama, dan seterusnya. Di masa-masa itu, hanya ada satu cerpen karya penulis terkenal yang dibahas dalam pertemuan Kota Kata yang diadakan per dua pekan. Jika tema pertemuan adalah plot, maka cerpen itu kami kulik habis plotnya. Jika tema pertemuan adalah setting, jadilah setting yang kami kulik-kulik. Begitu seterusnya.
Sampai semua unsur pembentuk cerpen selesai, langkah berikutnya adalah membuat cerpen. Kami pun mulai membahas cerpen buatan anak Kota Kata sendiri. Berarti, sejak itu ada dua cerpen yang dibahas di diskusi Kota Kata: satu karya penulis terkenal, dan satu karya anak Kota Kata. Beberapa kali diskusi diselingi dengan menulis bersama-sama. Intinya, Kota Kata mengajak semua anggotanya untuk berkarya dan tak takut karyanya ‘dikuliti’ agar tulisan tersebut jadi lebih baik.
Hingga kini di usianya yang mencapai satu tahun, Kota Kata masihlah sebuah komunitas yang mencari bentuk. Sebagaimana semua selebrasi dan peringatan penambahan usia, ada banyak kata ‘semoga’ yang berhamburan. Di antaranya adalah semoga Kota Kata semakin solid, semakin menunjukkan wujud dan bentuknya. Semoga dalam bentuknya di masa-masa yang akan datang, akan ada semakin banyak orang yang merasa memiliki Kota Kata. Sehingga jika dipanggil lagi untuk eksis di berbagai media, sudah bukan lima pendirinya lagi yang terus-terusan tampil, tapi juga para suksesor. Semoga dari Kota Kata lahir penulis-penulis dan tulisan-tulisan berkualitas.
Semoga apa lagi? Mari kita lanjutkan, tidak dalam tulisan ini, tapi lewat tindakan. Tindakan-tindakan yang membuat ‘virus’ sastra semakin tersebar di kota kita. Tindakan yang mungkin akan memunculkan pertanyaan, “Ada rencana busuk apa lagi ini?”


ART.
Banyuasin, 9 Januari 2017.