Selasa, 24 November 2020

Bunga Ini Akan Layu

 Cerpen ini pernah dimuat di Harian Kabar Sumatra, 21 November 2020

Tiga hari yang lalu, aku dipaksa bangun dari tidur yang sedang nyenyak-nyenyaknya. Melihat wajah yang linglung karena belum seutuhnya terjaga, istriku justru menyambut keterjagaanku dengan tangis. Tangis yang begitu jujur. Bahunya sampai terguncang-guncang. Ia memelukku erat sekali. Perasaan ingin marah karena dibangunkan paksa menghilang begitu saja melihatnya menangis begitu rupa.

Tak urung, akhirnya kutanyakan juga, “Ada apa?”

Kulihat jam, malam baru saja melewati puncaknya. Istriku hanya terus menangis sampai sepuluh menit kemudian. Saat tangisnya reda, di antara air mata yang terkadang masih terus menitik, ia menceritakan penyebab ia menangis.

“Kamu mengingatkanku pada ayah di akhir hidupnya.”

Kedua alisku terangkat. Ia lalu menjelaskan: barusan – saat aku sedang nyenyak-nyenyaknya tidur – tidak seperti biasa, mulutku sedikit menganga dan mengeluarkan bunyi mendengkur. Tidak hanya itu, mataku setengah terbuka.

Pembaca yang budiman, tanpa perlu Anda komentari, aku tahu bahwa itu adalah sebuah pemandangan yang sama sekali tidak menyenangkan untuk dilihat. Aku pun tak sudi membayangkan diriku ada dalam posisi seperti itu. Tapi memang itulah yang terjadi. Dan itulah yang membuat istriku menangis tersedu: sebab, katanya, tampilan itu mengingatkannya pada saat ayahnya sedang sakaratul maut, dua bulan lalu.

Mungkin karena ia tak siap kehilangan dua orang sekaligus dalam waktu berdekatan, jadilah ia membangunkanku sambil menangis malam itu.

Seharusnya, menurutku, kejadian itu akan menjadi sebuah kisah angin lalu. Tidak lagi memberikan dampak apa-apa terhadap kehidupan kami berdua. Tapi kenyataan berkata lain. Istriku sepertinya sungguh terbebani dengan bayangan yang menghampirinya. Wajahnya tertetuk sedih. Kubiarkan sehari berlalu dan tak ada perubahan. Juga keesokan harinya.

Aku bukan orang yang romantis, tapi melihat istri sendiri bersedih selama tiga hari berturut-turut membuatku gusar juga. Dalam hal seperti ini, kegelisahanku jadi lebih besar. Penyebabnya jelas. Aku tak tahu salahku – dan aku memang tidak salah, bukan? Padahal, di kejadian yang aku tahu di mana kesalahanku saja, belum tentu bisa tahu cara meminta maaf. Apalagi di kejadian yang seperti ini.

Senyum istriku menghilang dan aku harus mencari cara untuk mengembalikan senyumnya tersebut. Hilangnya senyum istri, rupanya memengaruhi mood­-ku sendiri. Di kantor, aku jadi tak terlalu fokus. Memikirkan entah apa. Mataku menatap layar laptop, tetapi pandanganku menerawang entah ke mana. Di saat-saat menjengkelkan seperti itu, seperti biasa, aku menghubungi teman ngopi. Kuhubungi mereka dan mengajak untuk berkumpul di warung kopi langganan kami seusai jam kerja.

Tiga orang teman langsung menyahut di grup chat dan mengiyakan ajakanku. Mereka memang bisa diandalkan. Setidaknya, ketika berkumpul dengan mereka aku bisa sedikit melepas penat. Siapa tahu di antara obrolan kami nanti, ada salah satu dari mereka yang bisa memberi saran untukku. Kalau tidak pun, tak masalah. Setidaknya aku punya teman bercerita.

***

 

Seusai jam makan siang, tanpa disengaja aku melihat seorang teman – seorang wanita yang sudah punya dua orang anak – bersemu merah mukanya. Seperti malu-malu. Tatapannya lurus ke arah layar laptop di dalam kubikel. Tak hirau pada hal-hal lain, termasuk padaku yang sudah berada di dekatnya.

Pada hari-hari biasa, aku tak akan terlalu hirau pada kejadian seperti ini. Tapi, hari itu, mungkin didorong oleh mood yang sedang tak menentu, aku jadi penasaran. Mengintip dan mencari tahu apa yang sedang ditonton oleh teman kantorku tersebut. Rupanya ia sedang menonton sebuah drama dari negara Asia Timur. Adegan seorang lelaki membawa setangkai mawar merah untuk wanita yang merupakan pujaan hatinya.

Demi apapun, aku tak mampu menahan rasa muak. Ia pasti membayangkan dirinya sedang menjadi pemeran wanita dalam drama yang ada di layar. Temanku itu – sekali lagi kutegaskan, wanita dengan dua anak – bersemu merah karena adegan picisan seperti ini? Tanpa bisa kutahan, aku mengeluarkan umpatan, “Bah!”

Wanita itu menoleh. Baru sadar bahwa aku ada di dekatnya. Ia menangkap wajahku yang masih tak bisa menyembunyikan rasa muak. Awalnya kupikir ia akan meledak dalam marah, namun reaksinya justru tenang sekali. Ia tersenyum, nyaris merendahkan, “Lelaki sepertimu pasti menganggap drama ini murahan. Tapi aku berani bertaruh kau tak pernah membelikan istrimu bunga apapun. Yang palsu sekali pun.”

Aku tak siap dengan ucapannya sehingga tak sanggup menjawab apa-apa.

“Aku bahkan tak yakin kau tahu bunga apa yang disukai oleh istrimu.”

Mulutku masih menganga tak mampu bersuara saat ia kembali melanjutkan, “Jangan heran. Aku bahkan bisa tahu teman-teman akrabmu yang lain juga tak akan jauh beda denganmu. Berpikir bahwa uang yang kalian beri setiap bulan adalah segalanya. Tak perlu lagi memberi keromantisan apapun sebab kalian pikir hal itu norak.”

Wanita itu tersenyum pelan lalu memalingkan wajah sembari memberi pamungkas, “Kau bahkan mungkin tak tahu bahwa diam-diam di rumah istrimu sedang menonton film yang sama dengan yang sedang kutonton saat ini.” Wanita itu kembali menatap laptop dan tak menunjukkan tanda-tanda ingin melanjutkan perbincangan. Tidak ada pilihan lain, aku pun kembali ke balik kubikelku. Menanti jam menunjukkan pukul empat sore, saat jam kerja usai.

***

 

Tidak bisa kumungkiri bahwa ucapan temanku di kantor cukup mengganggu. Di dalam kepala ini berganti-ganti antara wajah istriku yang sedang bersedih dan ucapan temanku itu seperti diputar dalam film dengan tempo yang sangat cepat. Membuatku pusing. Aku butuh kopi dan teman bercerita, namun jam empat terasa lama sekali datang.

Saat akhirnya jarum jam menunjuk angka empat, aku tak bisa memacu kendaraan dengan cepat seperti yang kubayangkan. Kepalaku masih agak pusing. Agak sulit fokus. Untuk mengalihkan pusing yang datang, aku mencoba melihat-lihat ke kanan-kiri jalanan. Saat itulah tanpa sengaja terlihat sebuah toko bunga.

Kuhentikan kendaraan dan parkir tepat di depan toko bunga itu. Di papan namanya terlihat jelas tulisan, “Menyediakan Bunga Segar”. Aku ragu sejenak. Warung kopi tempat teman-teman menunggu tak jauh lagi. Setiap kali akan ngopi, aku selalu lewat jalan ini, tapi tak pernah memerhatikan bahwa ada toko bunga di sekitar sini.

Kupaksakan – meskipun tak tahu dipaksa oleh apa dan untuk apa – diri untuk turun, membuka pintu toko kecil tersebut.

“Mau cari bunga apa?” sambut pegawai yang ada di sana.

Karena sebenarnya aku memang tak punya rencana membeli bunga, juga karena aku tak tahu apa-apa soal bunga, akhirnya yang keluar dari mulutku hanya, “Mawar. Merah. Setangkai.”

Pegawai itu dengan cekatan menyiapkan pesananku. Menambahkan sebuah bunga lain yang berukuran kecil sebagai pemanis. “Bonus,” ujarnya. Tak hanya itu, ia juga memberikan sebuah kertas kosong dan menempelkannya di dekat tangkai mawar. “Mau membuat ucapan apa?”

Aku menggelengkan kepala. Ia tersenyum. Lalu menyerahkan bunga. Aku menerimanya dengan canggung. Menyerahkan uang dan pergi, juga dengan canggung.

Sesampai di tempat ngopi, bunga itu langsung menarik perhatian kawan-kawanku. Mereka bertanya untuk siapa? Kujawab, untuk istriku. Mereka tertawa.

“Kalian tidak pernah memberikan istri kalian bunga?”

Sekali lagi mereka tertawa. Untuk apa, kata salah satu dari mereka.

“Kalian tahu bunga apa yang disukai oleh istri kalian?”

Tentu, bunga bank. Dan mereka tertawa lagi.

Aku mengangkat kedua bahuku sembari sekali lagi teringat pada ucapan teman di kantor. Melihat masih ada kertas ucapan yang belum terisi. Kuambil kertas itu dan kutuliskan:

               Bunga ini akan layu, Sayang.

               Tidak cintaku.

               Sebab ia asli.

               Juga cintaku.

Tawa teman-teman semakin kencang. Norak, kata mereka. Tapi entah kenapa aku tak terganggu. Justru tiba-tiba muncul keinginan untuk segera memberikan bunga itu pada istriku di rumah. Maka kutinggalkan mereka.

Sepanjang jalan pulang, ada sedikit rasa berdebar dalam dadaku. Aneh. Mungkin karena sebelumnya aku tak pernah membelikan bunga untuk wanita yang selama ini menemani hidupku. Mungkin juga karena aku takut istriku malah akan ikut menertawakan, sebagaimana teman-teman di warung kopi.

Debar itu masih ada saat aku akhirnya tiba di rumah. Mengetuk pintu.

Istriku menyambut, seperti biasa. Kusodorkan bunga mawar merah dengan kertas ucapan yang telah kusiapkan.

Ia terdiam. Perlahan kulihat wajahnya bersemu. Merah. Seperti malu. Sambil tetap memegang bunga itu, ia lalu memelukku. Erat sekali.

Adegan itu, aku tahu, sama persis dengan adegan di drama negara Asia Timur. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak merasa muak.

Senyum istriku telah kembali. Pusingku telah menghilang.

***

 

PS: Untuk Septia Utari

               Bunga itu telah layu, tidak senyummu.

 

ART

Palembang, 10 Desember 2019

Senin, 24 Februari 2020

Asap-Asap Itu Telah Menghilang

Cerpen ini pernah dimuat di Kompas, 23 Februari 2020


Lebih dari dua puluh tahun lalu, di tengah sesak napas karena gas air mata, Basau jeri melihat kepala temannya bocor dihantam pentungan oleh petugas. Sang teman sempat bingung karena ada sesuatu yang menetes. Lalu mengerang dalam takut sekaligus sakit setelah sadar bahwa yang menetes berwarna merah dan berasal dari kepalanya sendiri. Wajah kesakitan serta teriak meminta ampun itu masih terekam dengan jelas di kepala Basau. Tersemai dengan sendirinya bersama setiap tetesan darah yang jatuh.
Saat itu semua keberanian yang dipupuk sejak berminggu-minggu sebelumnya perlahan melemah. Lalu runtuh seutuhnya saat sang teman terus digebuk dan ditendang meskipun ia tak melawan sama sekali. Atau justru karena ia tak melawan?
Massa mulai berpencar. Tercerai berai tak karuan arah. Sebagian merangksek maju. Melemparkan segala batu dan benda-benda lain ke arah petugas. Sebagian sisanya berlari mencari tempat sembunyi. Sempat ada rasa bingung di hati Basau: menolong teman yang digebuki atau ikut yang lain untuk berlari. Basau tak tahu. Satu hal yang ia tahu ketika itu: bahaya mengancam. Petugas-petugas yang lain menunjuk-nunjuk ke arahnya.
Sebisa mungkin Basau berlari. Sekencang-kencangnya. Beberapa kali ia terpeleset dan terjerembab. Beruntung para aparat tertahan oleh banyaknya orang yang lintang pukang. Pelipis kiri Basau berdarah, kakinya luka, dan rusuknya mungkin patah karena bertabrakan dan terinjak-injak, tapi nasibnya lebih baik. Ia bisa selamat dan menjauh dari pusat kerusuhan.
Sebulan setelah kejadian tersebut, Basau mendapat kabar bahwa temannya di barisan depan menghilang, mungkin diculik. Sementara, petugas masih mencari teman-teman terdekatnya serta orang lain yang dicurigai. Tahu bahwa dirinya masuk dalam radar, Basau meninggalkan ibu kota. Pindah ke pulau seberang.
Bertahun-tahun setelahnya, Basau masih tinggal di tempat persembunyian. Di sebuah desa yang benar-benar jauh dari mana-mana. Berbaur dan menjadi bagian warga transmigran. Dalam masa-masa sulit, sering kali Basau menyesali diri. Menganggap bahwa kata-kata ayahnya dulu benar belaka. Tapi darah muda mengguyurnya dengan amarah. Membalas dengan berkata bahwa ayah terlalu naif serta pengecut dan tak mau peduli pada nasib bangsa.
Memang pada akhirnya Basau mulai kerasan. Di tempatnya sembunyi ada banyak pohon. Udara sejuk. Waktu bisa dinikmati dengan hanya bernapas. Betul. Ia tidak berlebihan. Karena bernapas di sana, terutama saat matahari baru akan terbit, memberikan rasa lega yang luar biasa. Tak pernah bisa ia dapatkan saat dulu masih tinggal di ibu kota. Bukan hanya itu, ia kemudian menikahi seorang gadis dan mendapatkan seorang anak. Sebuah penghiburan yang tak terbayangkan menyenangkan.
Hanya saja, di momen-momen tertentu, misalnya ketika ia menganggap kunang-kunang di tepi hutan sawah serupa dengan lampu-lampu di jalan raya yang dulu akrab dengannya, Basau tak bisa tidak ingat dengan kehidupan lama. Tentu, selama bertahun-tahun itu, ada keinginan Basau untuk kembali ke kota asalnya, tapi semua harus ditekan. Ia tak yakin teman-temannya masih di tempat yang sama. Jika pun ia bertemu dengan satu saja teman semasa masih muda dulu, ia tak bisa membayangkan dirinya harus mengaku sebagai seorang yang begitu saja meninggalkan sesuatu yang pernah mereka sebut sebagai perjuangan para pemuda. Tidak. Ia tak akan sanggup menceritakan kekalahannya.
***

Kekalahannya di masa lalu membuat Basau menutup rapat-rapat segala cerita yang terkait, bahkan dengan anak dan istri sendiri. Istrinya bisa mengerti. Tak banyak menuntut dan bertanya. Sebab mungkin ada luka yang masih menganga. Tapi tidak dengan sang anak. Ia tak pernah puas dengan hanya mendapatkan jawaban berupa sebuah nama kota tempat ayahnya berasal. Ia ingin tahu lebih dari itu. Keingintahuan yang tumbuh bersama dirinya. Dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun. Hingga akhirnya menerbitkan sesuatu yang mendekati obsesi.
Basau sendiri menandai tumbuhnya obsesi sang anak muncul di saat yang sama dengan terbangunnya sebuah pabrik yang berjarak delapan kilometer dari rumahnya. Ia juga mendapati ada beberapa persamaan antara anaknya dengan pabrik itu. Misalnya dalam hal keras kepala. Warga desa pernah melakukan protes ke berbagai pihak terkait, tapi rupanya bangunan itu tetap berdiri juga. Anak Basau sendiri rupanya tak mau kalah. Selama proses pembangunan pabrik, ia berdiri di depan pagar proyek. Tak hendak beranjak. Sesuatu yang kemudian diikuti oleh warga lain dan mendapatkan sorotan. Pembangunan pabrik sempat terhenti, tapi hanya sebentar sebab mereka telah mengantongi izin resmi.
Sejak kejadian itu, anak Basau menemukan bahwa ada hal yang tidak disukai dari ayahnya. Sebabnya jelas, Basau tak pernah mau ikut melakukan unjuk rasa dan hal yang sejenis. Bagi anak Basau, itu memalukan, naif, dan pengecut.  
Saat sang anak beranjak remaja, Basau menemukan bahwa pemuda itu mulai gemar mengebulkan asap dari mulutnya: kesamaan kedua dengan pabrik tersebut. Bahkan, saat pihak pabrik kemudian melakukan pembakaran lahan untuk memperluas daerah perkebunan yang ada di bawah nama mereka – asap pembakaran begitu pekat – anak Basau tetap merasa perlu membeli batangan tembakau untuk menambah variasi aroma asap.
Basau sendiri tidak melarang anaknya mengisap asap. Sebab ia dulu juga begitu. Ia berhenti sebab aroma tembakau mengingatkannya pada seorang teman yang menghilang diculik aparat. Dulu, temannya itulah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi Basau dalam hal mengisap dan mengebulkan asap. Hanya saja, asap yang dikebulkan oleh pabrik serta pembakaran lahan itu sudah berlebihan.
“Tak perlu kau tambahi lagi. Asap dari pabrik sudah cukup,” ucap Basau pada anaknya di suatu pagi.
“Kita selalu merasa cukup, Pak. Tapi pabrik itu tidak pernah. Aku cuma membiasakan diri dengan asap. Lagi pula, asapku ini adalah asap perlawanan terhadap asap mereka.
Basau tersenyum. Anaknya kurang ajar. Sama seperti dia di masa muda.
Di hari anaknya pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Basau mendapati kenyataan baru. Ia kehilangan udara pagi yang begitu menyejukkan dan menyenangkan sejak kedatangan pabrik. Ia juga kehilangan anaknya yang pergi ke kota tempat ia dulu berasal. Anak itu, mungkin sama seperti pabrik, begitu obsesif. Anaknya obsesif membuka masa lalu sang ayah. Pabrik di desa obsesif membuka lahan baru.
Saat musim pembakaran lahan dan napas semakin sesak, Basau mendapatkan telepon dari anaknya di kota.
“Aku sudah tahu ayah dulu tukang demo.” Kalimat itu dilontarkan sebagai pembuka yang kemudian dilanjutkan dengan, “Tenang, Yah. Nama ayah tidak busuk sebagai seorang pelarian seperti yang ayah khawatirkan.”
Basau hanya menjawabnya dengan terbatuk. Batuknya lebih keras saat sang anak melanjutkan, “Teman ayah, ia juga lari sebagai buronan dan tidak diculik oleh aparat seperti kabar yang beredar. Anaknya sekarang jadi temanku. Kami sama-sama sering maju aksi. Seperti kalian di masa muda.”
Di saat itu, ketimbang penasaran dengan nasib temannya, Basau lebih ingin menceramahi anaknya. Mengatakan bahwa ia harus menghindari kesalahan-kesalahannya di masa muda. Tapi ia tahu, hal itu hanya akan disangkal oleh si anak. Seperti ia dulu menyangkal ayahnya.
“Besok kami akan aksi lagi. Menuntut adanya aturan tentang pembakaran lahan oleh pabrik. Aku tahu asap di sana sudah semakin parah. Batuk ayah juga makin payah.”
Anak Basau mematikan sambungan telepon.
***

Telepon berdering, tapi tak kunjung diangkat. Anak Basau terlalu sibuk. Matanya perih karena gas air mata. Tak hanya itu, ia merasa takut sekaligus sakit ketika sadar bahwa ada sesuatu yang menetes dari kepalanya.
Sementara itu, di tempat lain, air menetes dari langit. Jatuh menghantam bumi. Satu per satu dalam ritme yang begitu cepat. Basau memegang telepon genggam. Nada tunggu tak kunjung sampai pada ujung penantian.
Basau begitu ingin memberikan kabar pada anaknya. Bahwa hujan telah turun dengan begitu lebat. Setidaknya dalam dua jam terakhir. Meluruhkan asap-asap yang beberapa minggu terakhir tampak begitu berkuasa, menjadi seperti tanpa daya. Membuat udara sore jauh lebih bersahabat.
Di antara nada tunggu yang semakin membuat jemu, Basau tahu telah terjadi sesuatu. Televisi di rumah mengabarkan kerusuhan yang terjadi saat mahasiswa berunjuk rasa di ibu kota.
Asap telah semakin tipis. Bahkan nyaris menghilang, tapi dadanya justru terasa bertambah sesak. Matanya perih. Perih sekali. Ingatannya melayang pada kejadian dua puluh tahun lalu.
***
ART
Palembang, 3 Oktober 2019

Kamis, 19 Desember 2019

Sampah Kota Smece

Cerpen ini dimuat di portal litera.co.id pada 17 November 2019

Cerita bisa dibaca dengan membuka tautan berikut: http://www.litera.co.id/2019/11/17/sampah-kota-smece/

Senin, 18 November 2019

Taman di Depan Rumah

Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos pada November 2019


Taman itu tidak lagi terlihat rapi. Rumput-rumput tumbuh seenaknya. Mawar-mawar mengering. Pohon-pohon bonsai terlihat seperti orang penuh dosa yang sakratul mautnya begitu sulit. Kupu-kupu yang dulu sering hilir mudik di sana tak pernah muncul lagi. Semuanya berubah begitu rupa sejak lima bulan lalu.
Dulu, setiap hari, sejak jam sembilan sampai jam sepuluh pagi ada sepasang orang tua merawat taman di depan rumahnya itu dengan telaten. Setiap daun mengembang hijau seolah dilap dan dibersihkan satu demi satu. Atau mungkin memang begitu.
Setelah ‘berkebun’, keduanya duduk di beranda. Memandangi taman mereka yang sebenarnya tidak begitu luas, namun memang hijau dan menyejukkan. Ditemani oleh biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Saat itu, mereka akan berbincang tentang anak tunggal yang di rantau, atau hal-hal remeh lainnya. Tiga atau empat kupu-kupu akan hinggap di tanaman lidah mertua yang ada di pot kecil di tengah meja. Seperti ingin nimbrung dalam perbincangan keduanya.
Semua itu jadi pemandangan sehari-hari sampai akhirnya di suatu pagi sang suami tak lagi merepons usapan tangan istrinya untuk membangunkannya sebagaimana biasa. Anak tunggalnya yang merantau terpaksa pulang lebih cepat dari jadwal. Rumah beserta tamannya dipenuhi oleh orang yang menunjukkan rasa berbela sungkawa.
***

Seminggu setelahnya, taman kecil itu tetap tak tersentuh. Sang anak yang tahu bagaimana rutinitas kedua orang tuanya, tidak berkomentar. Lagi pula tak mungkin membiarkan orang tua bertaman di masa berkabung. Namun, ternyata hingga peringatan lewat seratus hari, sang ibu tetap tak menghiraukan tamannya.
Rumpun hijau di depan rumah sudah seperti semak belukar. Sang anak, yang sejak kematian ayahnya lebih sering berkunjung, terpaksa merapikan taman. Namun tangannya tak setelaten sang orang tua. Ia tak suka bertaman. Semua dilakukannya hanya agar taman itu tak terlalu buruk dilihat tetangga. Ibunya, yang lebih banyak diam, tak bersuara melihat anaknya seperti itu. Tidak melarang, tidak membantu. Tatapannya lurus saja, menembus semua benda.
Mungkin karena tak mampu menemukan cara lain, sang anak justru mempergiat aktivitas berkebunnya. Ia bahkan rela mengajukan pindah tugas agar bisa tinggal di kota yang sama dengan sang ibu. Frekuensi kunjungan ke rumah orang tuanya ditambah. Harapannya hanya satu, agar sang ibu kembali bersemangat. Dengan melihatnya yang sering berkebun, ibunya akan kembali punya daya hidup, pikirnya. Ia tahu harapan itu bukanlah harapan kosong saat tiga bulan kemudian, ibunya tidak lagi menatap kosong menembus semua benda. Meski demikian, ibunya masih belum bergerak. Hanya memandang dari beranda.
Hanya pandangan, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan harapan. Sang anak menambah lagi jadwal berkunjung dan berkebun di rumah orang tuanya. Dari seminggu dua kali, jadi seminggu tiga kali, lalu seminggu empat kali, hingga akhirnya ia benar-benar berkebun di sana setiap hari. Sepulang kerja, ketika senja sedang ranum-ranumnya, ia akan ada di taman itu, lengkap dengan mata ibunya yang kembali bercahaya. Meskipun belum ada lagi kupu-kupu yang hinggap di bunga manapun.
Pada senja yang keseratus tujuh puluh tiga, saat ia hendak pamit pada ibunya setelah usai berkebun, tanpa ia duga sang ibu tersenyum. Senyum pertama yang dikembangkan oleh wanita itu sejak kematian suaminya. Anak tunggalnya bergetar. Terlebih lagi, sang ibu memeluknya. Sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan lagi.
***

Sejak itu, sang anak semakin serius merawat kebun. Dibelinya beberapa peralatan berkekebun. Gerakannya masih kaku, tentu saja. Tapi itu tak masalah. Beberapa petak kebun terlihat kembali hidup dan berseri. Dan yang paling penting, ia disambut dan dilepas oleh ibunya dengan senyuman. Sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apapun. Ia yakin, waktunya semakin dekat. Ibunya akan kembali bertaman dan ‘hidup’ lagi.
Kerja kerasnya terbayar saat empat minggu kemudian, sang ibu tidak hanya menyambutnya dengan senyum, tapi juga dengan peralatan taman di tangan. “Ibu akan membantumu bertaman hari ini,” suara ibunya gemetar. Ia tersenyum. Menahan air yang hampir tumpah dari mata. Beberapa menit berikutnya, kedua anak-beranak itu sudah sibuk dengan alat di tangannya.
Saat itulah sang anak mencuri-curi pandang ke arah ibunya. Ayunan tangan sang ibu  tetap lincah seperti dulu. Si anak sempat tersenyum senang melihat ibunya kembali bersemangat. Namun senyum itu berubah kalut ketika sang ibu menitikkan air mata. Sang anak tahu pasti, ibunya terkenang saat-saat bertaman dengan sang ayah.
Setengah jam kemudian, keduanya rehat. Duduk di beranda. Menikmati biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Berbincang tentang hal-hal remeh. Sambil memandangi taman yang kembali hijau permai, meskipun kupu-kupu tetap belum ada yang hadir. Di tengah perbincangan, air mata ibu kembali meleleh.
Kenangan, deritanya memang tiada akhir.
***

Sendirian ia duduk di beranda rumah. Menatap ke arah taman. Orang-orang baru saja pulang dari mengungkapkan bela sungkawa. Setelah sore yang begitu indah, ibunya harus menyusul sang ayah. Ia masih terpukau dengan nasib yang bisa begitu mudah menunjukkan kuasa.
Matanya menatap nanar. Terlalu menderita untuk melihat taman itu jika tak terurus kembali, namun kembali merawat tumbuhan-tumbuhan di sana sama saja dengan menimbun dirinya dalam penderitaan. Ia tak pernah menyangka bisa begitu terikat dengan taman. Dua tahun yang lalu, ia sendiri tak akan mau berkotor-kotor dengan tanah demi sebuah taman. Tapi setelah semua ini, ia sendiri bingung menentukan perasaannya terhadap taman itu. Hanya saja, di tengah kebingungan itu, ia telah memutuskan untuk menjual rumah. Ia harus hidup di jalannya sendiri, membentuk nasibnya sendiri yang mungkin masih panjang.
Apabila hari itu, pukul sembilan pagi, ia duduk di teras sambil menikmati semua yang biasa dinikmati kedua orang tuanya, maka itulah yang dianggapnya sebagai ‘pesta perpisahan’. Ditariknya napas dalam-dalam dan dikatupkannya kedua mata. Ketika ia membuka mata lagi, pandangannya tertumbuk pada lidah mertua di dalam pot di atas meja. Ia baru sadar bahwa ia telah abai pada tumbuhan kecil itu. Dicobanya untuk mengingat-ingat dan barulah ia mahfum, dulu sebelum ia memutuskan untuk bertaman, tumbuhan itulah yang tetap terlihat terawat sementara yang lain sekarat. Satu-satunya tumbuhan yang dalam keterpurukan taman, setiap daunnya tetap mengembang hijau seolah-olah setiap helai telah dilap sedemikian rupa.
Ia mencoba menggali ingatan yang berkaitan dengan tumbuhan itu. Samar-samar, ia teringat suatu hari, kedua orang tua itu memberikan kado ulang tahun dan doa yang tak ia harapkan: sebuah tanaman dalam pot kecil dan doa agar ia kelak mampu melihat sisi indah setiap tanaman selayaknya kedua orang tuanya.
Sang anak seketika merasa dadanya penuh sesak. Mencoba menahan laju buliran air di sudut matanya. Namun, ia tak mampu. Dan entah datang dari mana, sepasang kupu-kupu hinggap di ujung daun tanaman di hadapannya.
***

ART.
Palembang, 24 November 2017