Kamis, 08 Februari 2018

Pendiam di Dua Waktu


Cerpen ini pernah dimuat di Magelang Ekspress edisi Februari 2018

 
Hanya ada dua waktu yang bisa membuat wanita itu diam: waktu makan dan waktu tidur. Selain dua waktu itu, ia akan terus mengoceh. Tentang apa saja, dan sebagian besarnya berupa keluhan. Seperti pantat milik orang yang masuk angin, tak berhenti mengeluarkan aroma negatif.
Meskipun begitu, jangan pernah berpikir untuk membuatnya berhenti bicara dengan memberikan makanan. Memang, wajahnya akan terlihat seperti orang terkejut saking senangnya. Memang juga, ia akan berhenti mengoceh. Tetapi, saat ia makan, mulutnya tidak ditutup sehingga bunyi makanan yang dikunyah akan berkecipak. Bunyi itu begitu nyaring, cepat, dan becek, seperti disengaja. Benar-benar mengganggu.
Pun jangan berpikir kau akan terbebas dari gangguan jika dia tertidur. Sebab selama tidur, ia akan memproduksi suara ngorok yang berasal dari tenggorokan. Seperti bunyi orang yang hendak membuang dahak, padahal mendengkur. Seolah-olah sebongkah dahak hijau kental bisa melompat keluar dari mulutnya kapan saja ketika ia mendengkur itu. Bayangkan bunyi seperti itu terus-terusan terdengar seirama napasnya saat tidur. Bah.
Hanya karena usianya yang beranjak sepuh, maka tak ada yang berani berterus terang menentangnya. Namun, diam-diam semua orang di kantor mencoba untuk membuat dia berhenti mengoceh tanpa menimbulkan bunyi-bunyi lain yang juga mengganggu.
***

Hanya ada dua pilihan bagi orang yang berhadapan dengannya: sengsara dalam diam atau merana dalam perlawanan. Sejauh ini, aku dan hampir semua (kalau tak bisa dibilang semua) orang di kantor memilih yang pertama. Ada saja alasan kami: menghormati yang tua, tidak mau mencari musuh, diam adalah emas, dan sebagainya.
Hingga di sebuah sore yang secerah pipi gadis belia yang sedang kasmaran, bos kami mengumumkan bahwa esok kami akan kedatangan seorang personel baru. Tenaga muda yang masih segar dan bisa jadi calon kuat untuk regenerasi yang tua-tua. Demi mendengar itu, sang wanita tua berkata, “Jadi menurut Bos yang tua sudah tidak berguna lagi? Bos jangan lupa dong bahwa kondisi kantor sekarang bisa begini ya karena jasa yang tua-tua. Yang baru bisa ada karena ada yang lama. Jangan seolah-olah begitu dong, Bos.”
Bos diam saja mendengar ucapan seperti itu. Tidak menjawab. Karena jika menjawab sepatah kata saja, maka sang wanita akan membalas dengan satu wacana, bukan satu paragraf, apalagi satu kalimat. Kadang-kadang, karena terdiamnya bos seperti ini cukup kerap terjadi, kami yang ada di kantor jadi bingung sebenarnya siapa yang bos di sini.
Esoknya, tidak ada lagi bekas-bekas kecerahan pipi gadis belia yang kasmaran, sebab yang muncul justru adalah kemurungan gadis patah hati. Di dalam kantor, terasa mendung. Petir seolah bersiap menyambar kapan saja di antara gumpalan awan-awan hitam. Penyebabnya tak lain adalah si anak baru.
Wanita tua yang tak bisa diam itu terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Mungkin karena merasa keberadaannya terancam dengan kedatangan tenaga muda. Maka setiap kalimat yang ia keluarkan selalu membawa-bawa unsur ‘peran yang tua dan tidak tahu dirinya generasi muda’.
Tentu saja kalimat-kalimatnya menghantamkan beban hitam yang tak mudah lepas dari pikulan. Semua juga tahu bahwa yang ditujunya adalah si anak baru, tapi kalimat-kalimatnya menyerbu semua orang. Dibiarkannya suaranya terdengar ke setiap sudut ruang di hati agar mengelam, hitam, dan ranggas.
Setelah hampir seharian bekerja di bawah guyuran kata-kata penuh sindiran dari sang wanita, si anak baru menghela napas panjang, menatap lurus wajah sang wanita, lalu berkata, “Tahukah betapa menyebalkannya setiap suara yang keluar dari mulutmu? Aku bertaruh kau tak pernah mendengarkan suaramu sendiri.”
Kami, termasuk bos yang kebetulan sedang lewat, terperangah mendengar ucapan yang begitu lugu dari anak muda itu. Dengan komposisi seperdelapan perasaan terwakili, seperdelapan perasaan geli, dan tiga per empat perasaan cemas, kami menoleh pada sang wanita yang tidak bisa diam. Untuk satu detik yang terasa begitu panjang, wanita itu terdiam. Di detik berikutnya, petir menggelegar, pecah dari awan hitam yang sejak tadi menggantung di langit-langit kantor. Badai besar menghantam.
***

Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi pada orang-orang yang telah melewati badai: semakin tangguh untuk menaklukkan badai berikutnya atau trauma dibayang-bayangi perihnya sakit yang dibawa seumur hidup. Sejujurnya aku sempat berharap bahwa anak muda itu akan mengalami yang pertama, terus-menerus mengkonfrontasi si wanita yang tak bisa diam. Kupikir teman-temanku yang lain juga seperti itu. Pasalnya, bagaimanapun juga, kami butuh suara yang mewakili keresahan kami sendiri. Tapi harapan itu lenyap sehari setelah badai besar di hari kedatangan si anak baru.
Di hari kedua, juga hari-hari berikutnya, anak muda tersebut melunak. Bahkan, maaf, membenyek. Tanpa ada yang menduga, ia membawa sekotak kue yang semenggoda surga ke kantor, menyerahkannya ke wanita yang tak bisa diam itu, dan menawarkannya sebagai harga perdamaian. Serah terima terjadi begitu cepat. Sang wanita dengan ekspresi khasnya yang seolah-olah terkejut saking senang menerima kue itu, menjabat tangan si anak baru, lalu mulai mengunyah. Bunyi kecipak yang basah dan becek pun menyerbu. Berikutnya, bermacam-macam kue silih berganti dibawakan oleh anak baru, khusus untuk sang wanita.
Hubungan keduanya pun semakin hari semakin membaik. Bahkan terlalu baik untuk waktu yang terlalu singkat. Beberapa kali aku sempat melihat telepon seluler milik si anak baru tertinggal di ruangan sang wanita. Sebuah telepon seluler yang biasanya menjadi sebuah privasi dan menyimpan rahasia, bisa begitu saja ditinggalkan di ruangan seorang wanita yang tak bisa mengunci mulutnya. Aku dan orang-orang di kantor mulai mempertanyakan kedekatan apa yang sebenarnya terjadi.
Selain itu, sang wanita juga jadi lebih sering tertidur di kantor. Mungkin karena tenaganya banyak terkuras untuk mengunyah makanan-makanan yang dibawa si anak baru. Dengkurnya makin parah. Aku menduga kualitas dengkur sang wanita berbanding lurus dengan tingkat kenikmatan makanan yang ia cerna. Bunyi dengkur khas yang seperti orang hendak membuang dahak yang kental pun tak bisa dihindari semakin sering terdengar.
Anak baru itu tentu tahu bisikan-bisikan yang dibawa oleh angin, ditangkap oleh dinding kantor, dan disampaikan padanya. Di antara bisikan-bisikan itu mengatakan bahwa dia adalah seorang penjilat berlidah lentur. Beberapa yang lain mengatakan bahwa si anak baru hanyalah prajurit pengecut yang mencari aman sendiri di tengah desingan peluru. Si anak baru seakan tak peduli. Ia tetap memandang kami dengan sebuah pandangan yang tak berubah. Seolah memang bisikan-bisikan semacam itulah yang ia harapkan.
***

Hanya ada dua hal yang mampu menguak rahasia: waktu dan pemaksaan. Bos kami telah melakukan yang kedua. Meminta penjelasan pada si anak baru tentang perilakunya yang seperti telah terencana. Namun si anak baru bergeming dan berkeras bahwa jawabannya akan dibawa oleh yang pertama. Bersabarlah, karena momennya akan tiba dalam waktu yang tak lagi lama.
Dua hari berselang, ia mengecek semua pengeras suara di tiap-tiap ruangan. Setelah yakin semuanya bekerja dengan baik, ia pergi ke ruang pengendali. Berdehem-dehem sedikit lewat microphone. Lalu berkata, “Untuk Anda yang belum pernah menyimak suara sendiri, selamat mendengarkan.”
Orang-orang menghentikan aktivitas karena pengumuman yang tak biasa tersebut. Wanita yang hanya berhenti bicara di dua waktu itu, membulatkan mata. Ia seperti pernah mendengar kalimat itu: tentang orang yang tidak pernah mendengar suaranya sendiri. Ia yakin pernah mendengar kalimat itu, tapi tidak ingat kapan dan di mana. Juga tidak ingat siapa yang mengatakannya.
Di saat sang wanita berusaha mengingat-ingat, dari pengeras suara terdengar bunyi berkecipak yang basah dan becek. Seperti bunyi orang yang sedang mengunyah. Wajah sang wanita tampak jengkel, ia berteriak, “Bunyi apa itu? Menjijikkan sekali?”
Aku dan teman-teman yang mendengar ucapan sang wanita kesulitan menahan tawa. Namun rupanya sang wanita sangat serius dalam bertanya. Ia tampak sebal karena kami tidak menjawab. Tapi itu belum apa-apa, sebab beberapa detik kemudian bunyi kecipak itu berganti. Menjadi suara tenggorokan yang seperti hendak mengeluarkan dahak hijau kental. Sekali lagi sang wanita mengumpat kesal, “Hentikan suara itu! Aku bisa muntah mendengar suara seperti ini! Siapapun! Hentikan suara itu!”
Kali ini aku dan teman-teman pecah dalam tawa. Meskipun ternyata tawa kami tak bertahan lama. Satu menit berselang, suara yang diputar di pengeras suara sudah berubah. Kali ini menjadi suara badai. Kata-kata yang ada dalam badai itu seperti pantat milik orang yang masuk angin, tak berhenti mengeluarkan aroma negatif.
Wanita itu diam. Ia mengerti. Teringat pada sosok yang dulu pernah mengucapkan frasa ‘mendengarkan suara sendiri’. Ia juga sepertinya teringat dengan telepon genggam milik seseorang yang sering tergeletak begitu saja di mejanya, termasuk di saat dia makan dan tidur. Dan ia juga ingat bahwa ada teknologi bernama rekaman di dalam benda kecil itu. Ada api yang membakar di dadanya.
***
Hanya ada dua waktu yang bisa membuatnya diam: waktu makan dan waktu tidur. Tetapi itu dulu. Kini ia sudah sangat jarang bersuara. Hanya matanya yang nyalang menatap semua. Menyambarkan bara yang tak kunjung padam di dada. Setelah semua yang terjadi, aku tak tahu lagi mana yang lebih baik untuk si wanita tua: bicara atau diam? Sialan.
***

ART.
Indralaya, 24 Februari 2017

Selasa, 23 Januari 2018

Kenangan Pohon Rambutan



*Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos edisi 21 Januari 2018

Ia tak pernah mengerti kenapa orang-orang selalu menikmati siksaan kenangan. Dan ayahnya adalah salah satu dari golongan tersebut. Sebenarnya ia tak punya masalah dengan ayahnya, kecuali ketika lelaki paruh baya itu mulai mengagung-agungkan pohon rambutan di depan rumah. Lebih masalah lagi karena ayah tak pernah mau menceritakan ada kenangan apa dengan pohon rambutan itu. Ayahnya hanya akan menjawab, “Pohon di depan sana adalah simbol. Simbol kehidupan. Simbol manfaat. Juga simbol kenangan.”
Mungkin karena tak pernah bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, mungkin juga karena hampir setiap hari pohon rambutan itu menggugurkan daun-daun tuanya yang harus disapu, ia jadi membenci pohon rimbun itu. Baginya, pohon rambutan itu tidak membawa apa-apa selain masalah.
Masalah hariannya, terkait dengan daun gugur si rambutan, adalah ia yang harus menyapunya. Setiap hari. Setiap pagi. Menjadi rutinitas yang membosankan. Apalagi setiap kali ia baru selesai menyapu, sudah ada saja daun lain yang melayang mengotori halaman. Belum lagi masalah musiman. Setiap kali pohon itu berbunga, memunculkan putik, dan berbuah, masalah akan jadi berlipat. Bukan hanya soal daun yang harus disapu, tapi juga perihal para tetangga yang tak tahu diri akan mulai berdatangan.
Mereka, para tetangga itu, mulai dari yang umur enam tahun sampai yang enam puluh tahun, akan berubah menjadi begitu ramah pada ia dan ayahnya. Semua akan mencari-cari alasan untuk lewat di muka rumah. Mencari waktu untuk berbasa-basi dan bertanya kabar, gosip terhangat, atau berita politik terbaru. Lalu diakhiri dengan kalimat pamungkas, “Tampaknya rambutan kalian sudah mulai matang.”
Cih. Ia betul-betul muak dengan semua kepalsuan para tetangga. Herannya, sang ayah akan selalu meladeni dan menjawab kalimat pamungkas mereka dengan, “Oh. Iya. Iya. Tunggulah sebentar. Akan kuambilkan sedikit untukmu.”
Jika ayahnya sedang tidak terlalu kepayahan setelah bekerja seharian, lelaki itu sendiri yang akan mengambilkan rambutan untuk si tetangga. Tapi jika ayahnya sudah merasa tak sanggup lagi, maka ia yang akan dipanggil dan disuruh memanenkan rambutan untuk para penyerbu itu. Di saat seperti itulah ia akan semakin sebal. Ia akan teringat bahwa setiap hari sebelum pergi sekolah, dialah yang menyapui rontokan daun rambutan. Ia juga akan teringat bahwa setiap hari ayahnya yang menyirami dan merawat pohon itu dengan telaten. Tak ada satu pun tetangga yang membantu. Namun begitu pohon berbuah, mengapa semua seperti merasa berhak untuk menikmati hasilnya?
Tentu saja ia pernah menyampaikan protes tersebut pada sang ayah. Namun, seperti biasa, ia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ayah hanya akan berkata, “Rambutan kita bukan satu-satunya rambutan di sekitar sini. Tapi para tetangga selalu lebih banyak meminta pada kita, bukan? Kau tahu kenapa?”
“Ya tentu karena rambutan kita jauh lebih manis.”
Ayahnya akan tersenyum dan menjawab, “Siapa tahu rambutan kita lebih manis disebabkan para tetangga yang selalu mendoakannya, bukan? Karena kita tak pernah menolak mereka yang meminta, maka mereka pun selalu mendoakan pohon kita.”
“Kalau begitu jual saja pada pengepul buah rambutan. Siapa tahu doa mereka lebih makbul. Rambutan jadi lebih manis, kita juga dapat uang,” jawabnya ketus.
“Tentu kau tahu ayah tak akan menjual kenangan. Menukarnya dengan uang. Lebih baik ayah menukarnya dengan doa,” ayahnya tetap tersenyum, “Ingatlah bahwa pohon itu simbol.”
Ia semakin benci dengan pohon rambutan.
***

Di sebuah petang yang gerimis, keduanya duduk di beranda. Menatap ke halaman rumah. Ke arah rambutan yang buahnya mulai memerah. Besok ia akan berangkat ke kota untuk kuliah. Mungkin tak akan pulang untuk waktu yang cukup lama.
“Boleh aku meminta?” ujarnya.
Ayah menoleh dan memberikan isyarat yang mungkin berarti, “Tanya saja. Selama ini ayah tak pernah menghalangimu untuk meminta, bukan?”
“Tebang saja pohon rambutan itu.”
Ayah tersenyum. Wajahnya berkata bahwa ia menganggap permintaan anaknya sebagai lelucon yang tak lucu, tapi sebagai ayah ia harus tetap menghargainya dan membalas dengan senyuman.
“Aku serius. Tebang saja pohon itu.”
Senyum ayah memudar. Lelaki itu baru akan mengeluarkan sebuah kalimat saat seorang tetangga tiba-tiba saja sudah muncul di depan pagar. Tetangga itu memanggil ayahnya dengan ramah, bertanya kabar, gosip terhangat, dan mengakhiri obrolan dengan kalimat pamungkas yang intinya adalah meminta rambutan.
Demi segala sopan santun dan adab bertetangga, ia mencoba untuk tidak cemberut saat ayah menyuruh dirinya untuk memanenkan sedikit rambutan untuk tetangga yang datang. Seperti biasa, ia memanjat pohon dengan cekatan. Berpindah dari dahan ke dahan. Namun ia lupa bahwa gerimis sudah dari tadi menghiasi petang. Membuat licin di beberapa bagian batang. Saat ia hendak memetik rambutan merah yang ada di penghujung dahan, tangannya terlepas dari tempat berpegang. Secara refleks, kakinya bergerak untuk menahan keseimbangan, namun justru kehilangan pijakan.
Dari ketinggian hampir tiga meter, ia meluncur. Kakinya yang mendarat lebih dulu tak kuasa menahan berat tubuh. Bunyi ‘krak’ terdengar dari kaki yang patah. Lolong sakit tak bisa ia tahan. Dan saat ayahnya menghampiri dengan wajah cemas, ia membalas dengan tatapan marah. Tatapan yang langsung ia hunjamkan ke mata ayahnya. Lekat. Pekat. Tanpa sekat.
Ia benci pohon rambutan.
***

Empat tahun rupanya menjadi waktu yang cukup untuk menyadarkan siapapun dari kesalahan. Setidaknya itulah yang ia rasakan. Mungkin karena sudah bertahun-tahun menjadi kebiasaan. Lama-lama, di tanah rantau, ia rindu juga menyapu daun-daun rambutan yang beterbangan. Saat musim datang dan banyak buah rambutan dijajakan di pinggir jalan, saat itulah hatinya menjadi rawan.
Tak ada satu pun dari buah itu yang mampu menyaingi manisnya buah rambutan di depan rumah. Mungkin karena para pengepul buah tak pernah mendoakan pohon yang dipanennya sebagaimana para tetangga. Ia menyesal.
Apalagi jika mengingat tatapan ayahnya ketika ia terjatuh dari pohon itu. Tatapan yang tak akan pernah ia lupakan. Tatapan menderita karena melihat orang yang dicinta sedang terluka. Dan tak ada yang lebih tulus ketimbang cinta orang tua pada anaknya. Ia baru mengerti ketika ia terjatuh dari ketinggian. Tapi ia telanjur menghunjamkan tatapan penuh benci pada sang ayah.
Ia merasa telah durhaka. Seperti Malin yang tak mengakui ibunya. Namun apa lacur, tatapan sudah keburu ia luncurkan. Dan sebagaimana kata-kata, tatapan tak bisa ditarik kembali. Sekali salah dilepaskan, ia hanya membawamu pada penyesalan. Empat tahun ia berpikir caranya memperbaiki kesalahan.
Saat pulang nanti, ia akan mencoba memperbaiki keadaan. Akan ia sapui daun rambutan dengan riang. Akan ia petikkan buah untuk tetangga dengan senang. Akan ia ambil alih tugas ayahnya menyirami pohon dengan hati lapang. Akan ia tunjukkan semua. Agar ia tak jadi anak durhaka. Agar ia bisa menatap ayahnya sebagai ayah telah menatapnya dengan cinta, meski mungkin tak bisa.
Namun semua rencana tinggal khayal di kepala. Sebab saat ia pulang, pohon rambutan telah tak ada di tempatnya. Ditebang, dan menyisakan tunggulnya.
***

Sore itu basah oleh gerimis. Keduanya duduk di teras rumah. Menatap pada halaman yang tampak terlalu lapang. Mereka telah sama-sama paham. Bahwa tatapan mereka dulu telah menyampaikan sebuah pesan. Dan ada kata yang masih tersekat di tenggorokan.
“Gerimis, Yah.”
“Mirip empat tahun lalu.”
Ia mengangguk. Tersenyum. “Aku minta maaf.”
Ayah menggeleng dan balik tersenyum. Seolah berkata, “Justru ayah yang minta maaf.”
Hening. Tak ada lagi tetangga yang memanggil ramah dan berbasa-basi. Hanya titik kecil gerimis yang meningkahi sunyi.
“Ayah terlalu naif. Tak pernah memberimu jawaban yang memuaskan tentang kenangan apa yang ada dalam pohon rambutan itu. Hingga rasa penasaranmu berbuah kesal.”
Ia menggeleng. Teringat ucapan tetangganya ketika ia dirawat di rumah sakit empat tahun lalu, saat kakinya yang patah mendapatkan perawatan. Bahwa pohon rambutan itu ditanam di hari kelahirannya. Yang bertepatan dengan hari kematian ibunya.
Ingatan itu semakin membuat teras rumah hening. Ia baru akan mengucapkan kata-kata saat gerimis berganti hujan. Dan rintiknya menelan segala suara.
***

ART.
Banyuasin, 1 Desember 2017

Selasa, 16 Januari 2018

Antara Mimpi, Ambisi, dan Mitologi




(Ulasan terhadap Buku Equilibrium Karya Bramantio)

Judul                  : Equilibrium
Penulis               : Bramantio
Cetakan             : 1, Februari 2016
Penerbit             : Arruz Media
Tebal                  : 162 halaman
ISBN                 : 978-602-313-059-7

Mimpi bisa jadi sesuatu yang berbahaya. Terlebih lagi jika mimpi itu terus menghantui bahkan ketika sang pemimpi telah terjaga. Membuat orang tersebut jadi penuh ambisi untuk mewujudkan mimpi yang tak berhenti datang membayangi.
Secara garis besar, mimpi yang berbahaya itulah yang menjadi dasar cerita-cerita dalam buku karya Bramantio ini. Sebagaimana mimpi, cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini tidak mudah untuk dipahami. Sejak dari judul, pembaca akan menemukan sesuatu yang asing sekaligus akrab. Sesuatu yang membuat berujar,  “Sepertinya pernah dengar, tapi entah di mana.” Begitu pula kalimat-kalimat yang ada dalam cerpen, panjang, njlimet. Kalimat-kalimat semacam itu, tersebar seolah tak beraturan, membuat pembaca sering kali harus kehabisan napas ketika membaca, apalagi untuk memahaminya. Namun, bukankah seperti itulah mimpi?
Mimpi-mimpi yang diangkat oleh Bramantio dikombinasikan dengan kehadiran ambisi-ambisi tokoh dan dicampur dengan kehadiran makhluk-makhluk mitologi. Jika digabungkan, mimpi, ambisi, dan makhluk mitologi akan menjadi setumpuk benda abstrak yang sulit dipahami. Bagian-bagian tersebut adalah ruang yang sengaja dikosongkan oleh penulis. Membebaskan para pembaca untuk menerjemahkan dan menafsirkannya. Ia bisa jadi simbol dari tindakan tertentu, sifat tertentu, atau orang tertentu. Inilah yang unik. Dengan kata lain, kita, sebagai pembaca, disuguhkan hal-hal abstrak dan ‘disuruh’ oleh penulisnya untuk mengkonkretkan hal abstrak tersebut.
Bagaimanapun, buku ini menyajikan sejumlah cerpen dan karena itu harus mempunyai alur logika yang jelas. Sebagaimana sering diucapkan oleh Putu Fajar Arcana, “Bacalah puisi untuk menjaga imajinasi dan bacalah prosa untuk menjaga logika.” Artinya, meskipun cerita itu menyampaikan tentang mimpi, ia tetap harus jadi sebuah mimpi yang meyakinkan para pembaca. Dan hal itu sudah diberikan oleh Bramantio dalam buku kumpulan ceritanya ini. Pembaca akan menerima cerita-ceritanya sebagai sebuah karya dan tidak menanyakan kenapa cerita itu tidak masuk akal. Itu tidak terlepas dari kemampuan Bramantio membangun cerita.
Lebih jauh lagi, Bramantio tidak menyalahkan siapapun dalam setiap kemalangan ataupun depresi yang dialami tokoh-tokoh dalam ceritanya. Ia tidak menghakimi. Tidak juga menggurui. Apabila tokohnya menjalani hidup yang berat dan penuh aral, itu memang karena begitulah hidupnya. Kalau pun terpaksa ada yang harus disalahkan, maka yang salah adalah tokoh itu sendiri. Bukan yang lain.
Selain itu, cerpen-cerpen dalam Equilibrium juga memberikan kesegeran. Ketika sebagian cerpen Indonesia sekarang berlomba-lomba dan mengikuti kriteria cerpen koran, cerpen-cerpen dalam buku ini menentang itu semua. Mulai dari panjang cerpen, gaya penceritaan, hingga konflik yang diangkat pun merupakan hal-hal yang tidak lumrah ditemukan dalam sebagian besar cerpen Indonesia saat ini. Dan jika memang buku ini dimaksudkan sebagai sebuah alternatif bacaan, maka ini menjadi alternatif yang menyenangkan.
Permasalahannya, sebagaimana hampir semua seni yang bersifat alternatif, maka peminatnya mungkin tidak terlalu banyak. Sebagian besar orang tentu lebih memilih untuk membaca bacaan yang sederhana, mudah dipahami, dan menyentuh hati ketimbang bacaan yang rumit, membingungkan, dan membuat dahi berkerut serta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui di kepala.