Jumat, 16 Juni 2017

Hari Saat Ia Memutuskan untuk Bolos


Cerpen ini pernah dimuat di Pos Belitung pada 11 Juni 2017

Kuliah pertama itu sangat membosankan. Terutama karena pak dosen berkepala botak yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu menyampaikan materi dengan nada yang datar. Monoton sepanjang perkuliahan. Sama sekali tak ada naik turun intonasi. Hal itu diperparah dengan wajahnya yang sudah menampilkan keriput sama sekali tak menyunggingkan senyum. Malah sepertinya ia menggerutu, bukan menjelaskan materi. Mulutnya terbuka sedikit sekali, antara terbuka dan tidak, tapi kata-katanya keluar terus tak putus-putus.
Ketika memasuki menit ketiga puluh, beberapa orang mahasiswa sudah beranjak ke alam mimpi. Dengan dibuai oleh semilir angin dari pendingin ruangan, mimpi mereka semakin indah. Meninggalkan kenyataan soal kuliah yang sedang mereka jalani. Bahkan sampai ada yang meneteskan air liur ke meja. Beberapa yang lain sibuk main candy crush atau fruit ninja di tablet. Sisanya merenung dan menatap kosong pada layar yang menampilkan poin-poin materi yang digumamkan secara agak tak jelas oleh sang dosen.
Dua SKS itu terasa begitu lama bagi semua mahasiswa di ruangan. Bahkan ada yang sudah menjalani lima mimpi dalam tidurnya dan ketika terbangun ternyata kenyataan masih membawanya ke ruang kuliah itu juga. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk merajut mimpi yang keenam. Saat kuliah berakhir semua pun bernapas lega. Termasuk orang yang tadi bermimpi pun tidak protes saat dibangunkan karena ternyata mimpinya yang keenam adalah mimpi sedang kuliah di ruang kuliah tempat ia sedang bermimpi.
Orang-orang bubar dari ruangan kuliah itu. Menghirup udara kebebasan dari tekanan batin. Namun mereka lupa bahwa kuliah bukan hanya berlangsung selama satu pertemuan, tapi satu semester. Alias setengah tahun. Maka para mahasiswa pun harus menghadapi kenyataan tersebut.
***
Hari-hari terlewati begitu cepat saat mata kuliah lain, namun begitu lambat ketika mata kuliah yang diasuh pak dosen setengah baya berkepala botak itu. Tiap pertemuan jumlah mahasiswa yang hadir semakin berkurang. Semakin banyak yang sekadar titip absen dengan teman yang lain. Beberapa minggu berlalu, yang dititipi absen akhirnya juga ikut nitip dengan yang lainnya. Lalu yang dititipi itu juga ikut nitip, dan begitu seterusnya.
Peserta mata kuliah itu semakin sedikit saja, tapi sang dosen seakan tak peduli. Ia tetap berceramah dengan mulut yang antara terbuka dan tidak namun terus saja menggumamkan ide-ide Karl Marx, Gramsci, Derrida, Stuart Hall, dan lain-lain. Suaranya tetap datar tanpa fluktuasi intonasi. Sementara yang hadir dan jumlahnya sedikit itu tetap terbuai embusan pendingin ruangan dan bermimpi, atau bermain candy crush dan fruit ninja. Begitu terus sampai dua SKS itu terlewati.
Sang dosen terus saja memberikan kuliahnya. Sampai akhirnya pada suatu pertemuan, yang hadir di ruangan itu hanya satu mahasiswa saja. Melihat itu sang dosen diam, menatap sang mahasiswa yang tertegun tegang dan tidak jadi mengeluarkan tabletnya untuk bermain candy crush yang sudah sampai level 2.514.
“Mana yang lain,” tanya sang dosen.
Sang mahasiswa kebingungan. Tak tahu harus menjawab apa.
“Ini di daftar hadir ada tiga puluh tanda tangan. Kok cuma kamu yang ada?”
Sang mahasiswa meneguk ludah.
“Bolos?”
Mahasiswa itu mengangguk.
Sang dosen mengangguk-angguk. Tanpa ekspresi. Sama sekali tak ada tanda-tanda ia marah atau sejenisnya. Hanya mengangguk-angguk saja. Lalu kembali dengan mulut yang antara terbuka dan tidak, ia berkata, “Minggu depan kita ujian tengah semester.”
Yang terjadi seminggu kemudian adalah ruang kelas itu penuh lagi. Tanpa ada muka kantuk. Tanpa ada yang bermain game. Semuanya fokus mengerjakan soal yang diberikan oleh sang dosen. Entah mereka mendapatkan hidayah dari mana. Padahal selama ini mereka tidak pernah mendengarkan satu pun kata dari sang dosen, tapi mereka sepertinya lancar-lancar saja mengutip-ngutip Marx, Gramsci, Stuart Hall, Derrida, dan lain-lainnya.
Pak dosen takjub dengan yang terjadi. Sampai ke rumah, dia memeriksa jawaban mahasiswa-mahasiswanya. Semuanya rata-rata layak mendapatkan nilai A+. Sang dosen tercenung. Ia lebih tercenung lagi ketika di pertemuan berikutnya kelas kembali kosong. Tak ada yang masuk sama sekali. Kelas kosong. Semua mahasiswa bolos, tapi anehnya daftar hadir selalu penuh oleh tanda tangan. Bahkan para mahasiswa sudah membubuhkan tanda tangan untuk lima pertemuan ke depan. Luar biasa.
Pertemuan-pertemuan berikutnya hanya ada satu mahasiswa yang hadir. Sang dosen tidak lagi menjelaskan materi perkuliahan. Ia hanya menatap mahasiswanya itu lamat-lamat. Dalam. Penuh tanda tanya.
“Kenapa kau datang ke sini? Tidak seperti teman-temanmu yang lain.”
“Saya bosan di kamar kosan, Pak.”
“Kau tidak bosan di sini?”
“Ya bosan juga, sih. Tapi paling nggak kan kalo ke sini jadi seolah-olah ada kegiatan.”
Sang dosen mengangguk-angguk. Kepala botaknya semakin mengilap. Ia elus-elus kepalanya itu. Tapi sekali lagi tak ada ekspresi sama sekali dari wajah dosen itu. Tak ada gurat marah ataupun kecewa ataupun sedih. Datar saja.
“Ya sudah. Kalau begitu, minggu depan kita ujian akhir semester.”
Maka seminggu kemudian para mahasiswa kembali memenuhi ruangan itu. Mereka bahkan datang setengah jam sebelum ujian dimulai. Alat-alat tulis sudah sedia di meja masing-masing. Tampang mereka penuh percaya diri. Namun hingga setengah jam kemudian sang dosen yang biasanya tepat waktu tak kunjung tiba. Mereka menunggu sampai lima belas menit, masih belum datang juga. Lalu setengah jam lagi. Lalu setengah jam lagi. Lalu setengah jam lagi.
Para mahasiswa pun gusar. Awalnya mereka bertanya-tanya. Lama kelamaan tanya itu berubah menjadi protes. Protes kemudian berubah menjadi umpatan. Kemudian mereka beramai-ramai melakukan aksi unjuk rasa ke gedung dekanat. Mereka hendak menemui pihak-piahk berwenang di dekanat.
“Dosen tidak profesional,” seru salah satu mahasiswa.
“Ya. Tidak bertanggung jawab,” seru yang lain.
 “Ya. Makan gaji buta.”
“Mengingkari sumpah jabatan.”
“Tidak sesuai dengan norma pendidikan.”
Suara mereka riuh rendah meneriakkan protes. Pak dekan yang tadinya sedang duduk tenang di kantor terpaksa turun dan menemui para mahasiswa yang protes itu. Melihat Pak dekan yang sudi menemui mereka, suara pun perlahan mengecil. Lalu hening sama sekali.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Pak dekan.
“Kami butuh kejelasan.”
“Tentang apa?”
“Dosen kami. Di mana dia? Kami dijanjikan akan menjalani ujian akhir hari ini, tapi dia tidak datang.”
Pak Dekan berusaha tenang menghadapi massa. Ia mengusap-usap janggutnya yang putih dan panjang. Beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang lalu berkata, “Ya. Berarti dosen kalian bolos.”
“Bolos?”
“Ya. Bolos. B.O.L.O.S.”
“Wah. Tidak bisa begitu dong, Pak. Dosen kok bolos di saat ujian akhir.”
“Lho? Ada apa? Apa yang salah dengan bolos? Toh kalian juga sering bolos, kan?”
“Iya, Pak. Tapi kami tidak bolos di saat-saat genting seperti ini. Lagi pula ini kan menentukan hajat hidup orang banyak. Jangan semena-mena begini dong.”
Pak dekan mengangguk-angguk. “Ya sudah. Nanti akan saya sampaikan protes kalian ke dosen itu.”
“Jangan nanti. Sekarang dong, Pak.”
“Lah. Bagaimana caranya? Wong dosen kalian sekarang saja saya tidak tahu di mana.”
“Bapak harus tahu.”
“Lho. Kok harus?”
“Kan Bapak atasannya. Bapak harusnya punya fungsi kontrol. Bapak harusnya bisa mengendalikan bawahan Bapak. Kalau tidak, berarti Bapak telah gagal melakukan manajemen terhadap fakultas ini.”
“Lho. Kok begitu? Apa salah saya?”
“Ya Bapak pasti salah. Bapak pasti telah berkomplot dengan dosen kami itu dan membiarkan pembolosannya. Ini tidak bisa dibiarkan, Kawan-kawan,” suara mahasiswa itu menggelegar. Suara teman-temannya pun ikut bergelora. Meneriakkan kata-kata kasar dan cacian pada sang dekan.
Mahasiswa-mahasiswa lain yang lewat bertanya-tanya tentang kejadian apa yang sebenarnya sedang terjadi. Melalui bisik-bisik tetangga mereka mendapatkan kabar bahwa mereka berdemo karena sang dekan melindungi dosen yang bolos. Maka mahasiswa yang cuma lewat pun akhirnya mendukung gerakan demo itu. Semakin lama, semakin banyak mahasiswa lewat yang juga ikut bergabung berdemo. Gerakan demo itu dengan segera menjadi semakin besar. Sang dekan terdesak. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Omongannya semuanya jadi salah di depan mata para mahasiswa yang semakin lama semakin sangar.
***

Seorang lelaki paruh baya berkepala botak sedang menghirup teh hangat yang disajikan istrinya. Aroma teh itu mampu menenangkan pikirannya sejenak. Apalagi kemudian istrinya muncul dari dapur dengan pisang goreng kesukaannya. Ah. Sekali-kali bolos ternyata enak juga.
“Apa benar nggak masalah kalau Bapak bolos hari ini?” tanya istrinya. Seolah tahu saja apa yang melintas di pikiran suaminya itu.
“Ya nggak apa-apa toh, Bu. Toh baru sekali ini.”
Istri lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya lalu mengambil remote tivi. Layar itu menampilkan berita tentang terbunuhnya seorang dekan akibat diamuk mahasiswa yang sedang berdemo tadi siang.
“Ganti channel toh, Bu. Aku nggak tega lihat yang anarkis begini.”
Sang istri hanya mengangguk lalu memindah saluran ke sinetron kesukaannya. Sang suami tersenyum lalu mengambil pisang goreng berikutnya untuk dimasukkan ke mulut. Ia sempat berhenti mengunyah karena merasa mengenal salah satu mahasiswa yang tadi sempat tersorot, tapi cuma sebentar. Ah. Sudahlah. Mungkin hanya salah ingat.
***

ART.
Yogyakarta, 9 Juli 2014.
Jam 1.48 dini hari.

Senin, 29 Mei 2017

Janji dalam Cerita Rakyat



*Tulisan ini dimuat di Palembang Ekspres pada 29 Mei 2017
Delapan tahun lalu ada seorang mahasiswa asing yang berasal dari Cina bergabung di kelas kami. Ketika sedang membahas cerita rakyat Timun Mas, ada sebuah kejadian menarik.
Seusai cerita dibacakan, dia mengangkat tangan dan bertanya. “Kenapa raksasa dianggap jahat? Dia hanya menagih janji. Bukankah Ibu Timun Mas sendiri sudah menyanggupi akan menyerahkan anaknya ketika sudah gadis?”
Dosen memberi jawaban bahwa Raksasa itu jahat karena suka memakan manusia. Mahasiswa asing itu menjawab, “Di negara kami, janji adalah nomor satu. Apapun risikonya, janji harus ditepati.”
Dosen menjawab lagi dan diskusi terus berjalan sampai jam perkuliahan selesai. Mungkin sebagian besar orang telah melupakan kejadian itu, tapi saya tidak. Saya mencari dan menemukan setidaknya dua cerita rakyat lain yang begitu populer tapi menyajikan pengingkaran janji sebagai sesuatu yang seolah-olah benar.
Cerita yang saya maksud adalah Legenda Tangkuban Perahu (Dayang Sumbi), dan Legenda Candi Sewu (Roro Jonggrang). Dalam kedua cerita itu tokoh utama wanita meminta bantuan orang banyak agar suasana tampak seperti pagi meskipun sebenarnya masih malam. Ini adalah ironi karena pembaca tahu bahwa dua tokoh wanita tersebut sendiri yang menjanjikan batas waktu pengerjaan ‘proyek’ adalah dini hari. Keduanya telah mengingkari janji mereka sendiri. Penting pula untuk disoroti bahwa tokoh-tokoh dalam cerita- yang telah dipaparkan mengingkari janji demi keselamatan diri sendiri. Tak ada yang memilih mati terhormat.
Pengaruh pada Anak
Apa jadinya jika cerita-cerita tersebut disampaikan pada anak-anak? Terlebih lagi, para pengingkar janji itu justru dielu-elukan dan disanjung sebagai pahlawan. Sangat mungkin alam bawah sadar anak merekam bahwa ingkar janji tidak masalah asalkan tetap dianggap pahlawan dan didukung orang banyak.
Maka, jangan heran jika dari dulu hingga sekarang ada banyak orang tak merasa bersalah ketika ingkar janji (saat kampanye misalnya). Jangan-jangan mereka hanya mengaplikasikan nilai-nilai sesungguhnya dari cerita-cerita rakyat yang dikonsumsi sejak kecil.
ART
Indralaya, 26 Mei 2017

Rabu, 26 April 2017

Somat Memutuskan Untuk Mati



Cerpen ini pernah dimuat di Koran Pantura pada September 2016
Orang-orang yang tidak tahu persis kejadiannya, akan menganggap bahwa alasan Somat hendak bunuh diri adalah sesuatu yang konyol. Terlalu dibuat-buat. Juga pasti banyak yang menganggap Somat terlalu cengeng. Namun Somat sebagai orang yang paling mencintai rumah dan semua kedamaian di dalamnya, mempunyai alasan yang benar-benar kuat bagi keinginannya tersebut. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat pelepas penat setelah seharian bekerja. Rumah, yang semestinya menjadi surga sebagaimana kata pepatah. Rumah, yang selama ini ia nikmati betul suasananya, telah berubah seratus delapan puluh derajat sejak dua tahun lalu. Ya. Benar. Semua ini karena pertengkaran tak berkesudahan yang terjadi di rumah.
Jangan kalian berpikir bahwa ada perselingkuhan atau cerita-cerita libidinal sejenis yang terjadi sehingga Somat tak betah lagi tinggal di rumah. Bukan itu sebabnya. Tiada hari terlewati tanpa perang dingin antara ibu dan istrinya. Gara-gara pemilu celaka dua tahun lalu, rumahnya bagaikan terbuat dari es. Dingin dan beku, namun membuat tangan terasa panas ketika menggenggamnya. Ya. Ini karena pertempuran perebutan suara antara mantan jenderal dan mantan tukang kayu.
Ibunya mendukung mantan jenderal sementara istrinya loyalis mantan tukang kayu. Tak ada yang tahu alasannya. Sejak masa kampanye, dua tahun lalu, perang dingin antara kedua orang yang disayanginya telah dimulai. Dulu, sebelum perang dingin di rumah, Somat tak pernah bisa menonton berita yang dicari di televisi. Itu karena ibu dan istrinya telah menguasai remote televisi dan mereka bersepakat untuk menonton sinetron yang entah kapan selesainya. Tapi sejak masa kampanye dimulai, tanpa diminta mereka berdua memilih saluran berita di televisi. Mulanya Somat senang-senang saja. Namun ketika sadar bahwa berita itu pun bagian dari perang dingin, dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ibunya pilih channel televisi nomor satu, channel yang mendukung sang jenderal habis-habisan. Istrinya pilih channel kota besar, bagian dari alat kampanye sang mantan tukang kayu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ibu dan istri Somat berebut remote televisi. Memilih berita mana yang akan ditonton. Juga untuk pertama kalinya sepanjang hidup, Somat kehilangan selera menonton berita.
Awalnya, Somat mengira ini hanya bagian dari fluktuasi politik yang menjalar sampai ke rumahnya. Tak akan bertahan lama, sebagaimana pemungutan-pemungutan suara sebelumnya. Toh yang terpilih akan tetap lupa dengan janji, dan yang tak terpilih akan terlupakan dengan sendirinya. Maka tak heran Somat senang bukan main ketika akhirnya hari pemilihan tiba. “Perang dingin akan segera usai,” pikirnya. Ternyata perang belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Quick count di channel nomor satu menyatakan bahwa mantan jenderal yang menang, tapi di channel kota besar, mantan tukang kayulah yang juara. Sambil menunggu hasil real count, ibu dan istri Somat tak saling bertegur sapa.
Somat sebenarnya tak ingin ambil pusing. Masalahnya adalah perang dingin ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan rumah tangganya. Seperti biasa, ibu dan istrinya berganti-gantian membuat makanan untuk disantap bersama. Namun selama menunggu pengumuman resmi, keduanya tak ada yang memasak dengan sepenuh hati. Rasa masakan jadi aneh. Somat terpaksa membeli makan di warung.
Saat hari pengumuman tiba. Hari itu giliran ibunya yang memasak. Sang mantan jenderal dinyatakan kalah. Ikan goreng masakan ibunya berwarna hitam, gosong. Somat tertegun melihatnya.
“Begitulah nasib negara kita di tangan orang yang salah. Gelap,” ujar ibunya.
Somat diam. Ia terpaksa mencari-cari bagian dari ikan goreng itu yang masih bisa diselamatkan untuk meluncur ke dalam perut. Ia sudah tak punya uang lagi untuk makan di luar. Kejadian beberapa jam kemudian tak kalah membuatnya bingung. Istrinya mengganti seluruh lampu di rumah. Memang rumah Somat selama ini tampak buram karena lampu rumahnya sudah pada redup. Akibat perubahan ini, Somat merasa silau. Matanya butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Ketika ditanya perihal pergantian yang tiba-tiba ini, istri Somat berkata dengan suara sengaja dikeraskan agar mertuanya mendengar, “Perubahan itu jangan tanggung-tanggung. Rombak semua. Rumah itu tak beda dengan negara, butuh cahaya yang terang biar kita bisa membedakan satu benda dengan yang lain dengan lebih mudah.”
Maka jadilah hari itu Somat tak bisa tidur. Perutnya keruyuk-keruyuk karena isinya kurang. Matanya lelah dan sudah meminta untuk dikatupkan, tapi lampu baru itu terlalu terang. Dia ingin menjerit dan menyuruh kedua wanita itu berhenti melakukan hal-hal konyol. Hanya saja, Somat sadar bahwa di rumah ini justru kedua wanita itulah penguasa yang sebenarnya.
Sebulan setelah pemilihan, Somat masih berharap perang dingin segera berakhir. Kenyataannya justru perang semakin seru. Satu kebijakan dari sang terpilih akan menimbulkan satu respons negatif dari ibunya. Dan satu respons negatif akan segera mendapatkan pleidoi dari istrinya. Hal itu terjadi terus-menerus. Sampai kadang mereka tidak lagi fokus untuk mendukung tokoh idola mereka.
“Harga BBM jadi mahal. Bukan cuma mahal, tapi juga tidak menentu. Naik turun seperti pantat orang yang ingin kentut, tapi tak jadi. Sudah diangkat, diturunkan lagi. Ingin kentut lagi, diangkat lagi. Tidak jadi lagi, diturunkan lagi. Tindakan yang seperti ini yang bikin rakyat sakit perut.”
“Kupikir lebih baik begitu. Harga yang murah itu karena disubsidi. Yang menikmati subsidi itu justru lebih banyak orang kaya. Yang miskin sedikit sekali menikmatinya. Tahukah Ibu tentang subsidi itu?”
“Apa katamu? Kau pikir aku tak tahu bagaimana subsidi itu? Kau pikir aku bodoh? Kurang ajar sekali kau pada mertuamu sendiri. Orang-orang begini inilah yang memilih presiden yang tak becus.”
“Aduh, Ibu. Janganlah menuduhku seperti itu. Lagi pula, kalau ternyata aku kurang ajar, bukankah aku ini hasil didikan generasi Ibu? Generasi yang memilih orang-orang yang tak suka dikritik.”
Kemudian suasana hening untuk beberapa saat. Somat merasa tertekan. Tak mampu melerai. Tak mampu juga mencegah peristiwa sejenis terulang. Ia hanya bisa menyaksikan itu tanpa berbuat apa-apa. Hari berganti menjadi minggu, lalu menjadi bulan, kemudian menjadi tahun. Sampai dua tahun lamanya, ia terus dihantui dengan perang dingin antara dua orang yang dikasihi. Rumah benar-benar jadi tempat terakhir yang ingin ia singgahi. Somat jadi sengaja memperlama waktu di kantor. Memperlambat jalannya ketika menuju rumah. Sebab ia tahu kesengitanlah yang akan menyambutnya dengan dingin begitu tiba nanti.
Sampai pada akhirnya, tiga hari yang lalu, tanpa diduganya sebuah pertanyaan meluncur dari kedua orang yang berselisih itu.
“Jadi, dua tahun lalu saat di bilik suara, siapa yang telah kau pilih?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Pertanyaan yang sungguh tak beradab. Di mana asas luber dan jurdil jika ia ditanya seperti itu. Lagi pula itu sudah terjadi dua tahun lalu. Kenapa masih harus diungkit-ungkit lagi? Dijawab pun tak akan mengubah yang sudah terjadi.
Akhirnya Somat tersadar bahwa pertanyaan itu tak sesederhana yang ia pikirkan. Ini adalah puncak dari pertikaian antara ibu dan istrinya. Mereka sesungguhnya tak peduli lagi dengan siapa pilihan Somat di acara yang disebut pesta demokrasi itu. Yang mereka pedulikan adalah keberpihakan Somat. Ia dituntut untuk memilih berada di pihak mana: ibu atau istri.
Somad tertegun dan terdiam mendapatkan pertanyaan yang demikian. Ia selamanya tak akan mampu memilih untuk berpihak ke mana. Ia ingin keduanya akur tanpa perselisihan. Ia ingin suasana rumahnya kembali seperti dulu. Kalau perlu tak ada presiden pun tak masalah, yang penting istri dan ibunya kembali rukun, saling menopang, dan bercengkrama hangat.
Ia terus mencoba berkelit dan menghindar. Tak mau ia menjawab pertanyaan ibu dan istrinya itu. Namun sekuat apapun ia menghindar, pertanyaan itu terus ditodongkan padanya. Selayak sebuah pistol yang tak henti memuntahkan peluru sebelum tepat mengenai sasaran. Tiga hari berturut-turut ditanya seperti itu membuat Somat terpuruk.
Hanya dalam tiga hari, berat badan Somad turun lima kilogram. Nafsu makannya hilang. Selera tidur menguap. Tenaga raib. Badannya lemas. Sialnya ibu dan istrinya secara tak tahu diri terus melempari pertanyaan celaka itu. Sama sekali kondisi dan perasaan Somat tak dihiraukan oleh mereka.
Dalam ketidakberesan kerja otaknya akibat tekanan bertubi-tubi, Somat memutuskan untuk mengakhiri hidup. Disiapkannya tali dan diikat ke langit-langit rumah. Kakinya sudah menjinjit dan lehernya telah dikalungkan ke tali laknat tersebut saat tiba-tiba istri dan ibunya mendobrak pintu kamar.
Sontak saja kedua orang itu terkejut bukan main. Tanpa diberi aba-aba, keduanya pun berlari menuju arah Somat. Mencoba membujuk Somat untuk membatalkan niatnya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, keduanya begitu kompak. Somat terharu. Matanya merah. Pun mata kedua orang di hadapannya. Secercah harapan muncul di hati Somat. Tak disangkanya niatnya untuk bunuh diri ternyata justru mendamaikan kedua belah pihak.
Baru saja ia berpikir seperti itu, ibunya menggerutu, “Semua ini pasti gara-gara si tukang kayu. Angka orang bunuh diri semakin meningkat sejak dia jadi presiden.”
“Enak saja Ibu bicara. Memangnya kalo si jenderal dipecat yang jadi presiden, dia bisa mencegah niat Somat?”
Somat menitikkan air mata sebelum akhirnya ia meloncat dan menendang kursi tempat ia berpijak. Membuat lehernya terbebat oleh tali tambang. Sementara dua orang itu kembali sibuk bertengkar. Nyawa Somat melayang. Saat menyadari kebodohan mereka karena tidak bisa menyelamatkan Somat, keduanya terududuk lemas. Menangis tanpa suara. Kehilangan baru benar-benar mereka rasakan sekarang. Perdebatan berhenti.
“Ini gara-gara presiden yang kau pilih.”
“Dia presiden ibu juga.”
Demikian dialog yang terjadi lima belas menit kemudian.
***
ART.
Palembang, 31 Desember 2015.