Selasa, 05 Desember 2017

Anosmia



Pernah tersiar di Harian Palembang Ekspres edisi November 2017

Hidungnya adalah hidung yang istimewa. Bukan karena bentuknya yang unik, lebar dengan cuping yang kembang kempis tiap kali bernapas. Bukan juga karena bulu hidungnya yang icikiwir berkibar-kibar ke sana ke mari bagaikan janur kuning ditiup angin. Hidungnya menjadi begitu spesial justru karena cacat kemampuan: tak bisa mencium bau.
Kecacatan hidungnya itu juga terlambat disadari. Sebab memang tidak semua bau tak bisa diendus oleh hidung tokoh kita itu. Ia masih bisa mencium bau kentut, bau pesing, bau cepirit, dan sejenisnya. Ia juga masih bisa membaui aroma kue, aroma kopi, aroma teh, aroma nasi hangat yang mengepul, juga aroma-aroma lain yang berkonotasi positif. Singkatnya, ia hanya tidak bisa mengenali satu bau tertentu dan soal itulah yang akan diceritakan.
Tokoh kita adalah seorang lelaki, pegawai rendahan di sebuah perusahaan swasta. Tak ada yang istimewa dari kariernya. Sejak ia muda sampai cucunya sudah dua dan sekarang hampir pensiun, ia tetap jadi pegawai rendahan. Sampai akhirnya mandor di tempatnya bekerja mengundurkan diri. Atasan mandor sempat bingung untuk mencari pengganti. Saat ia kebingungan itulah, ia melihat tokoh kita yang sedang berjalan.
Wajah keriput, kuyu, dan seolah memelas membuat atasan mandor jatuh kasihan. Ia pun menunjuk tokoh kita sebagai pengganti mandor. “Hitung-hitung memberi dia sedikit penghormatan di ujung karier,” kata atasan mandor dalam hati. Kata-kata yang tak disadarinya akan membawa efek begitu besar.
***

Setelah diangkat jadi mandor, tokoh kita mendapat ruangan sendiri. Ruangan khusus untuknya. Memang tidak besar, ukurannya hanya tiga kali empat meter. Namun, baginya itu sudah lebih dari cukup. Ruangan itu sering didatangi oleh orang lain, bawahannya, para pegawai rendahan yang membutuhkannya. Ia merasa harga dirinya melambung.
Satu hal yang kemudian disadarinya adalah orang-orang yang masuk ke ruangannya itu selalu bernapas dengan cara yang tak biasa. Terlihat seperti sedikit ditahan. Karena bingung, ia pun bertanya pada salah satu dari mereka.
“Kenapa kau terlihat seperti menahan napas?”
“Tidak. Aku tidak menahan napas. Aku menikmati aroma ruangan ini,” jawab bawahannya.
“Aroma? Aroma apa?”
Si pegawai rendahan justru terlihat bingung. Ia perlu berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tidakkah Bapak mencium aroma ruangan ini?”
Tokoh kita menggelengkan kepala. Ia tidak merasa ada aroma tertentu di ruangannya.
“Ruangan ini begitu harum.”
Tokoh kita mengendus-endus. Tak ada aroma apapun. Apalagi sesuatu yang harum. Ia juga tidak suka pakai pengharum ruangan.
“Benarkah ada aroma harum?” tanya tokoh kita lagi.
Pegawai yang ada di hadapannya itu mengangguk pasti.
“Kalau memang ada aroma harum, lalu kenapa kau malah menahan napas?”
“Untuk menikmati aroma itu lebih lama, Pak.”
***

Awalnya ia mengira bahwa ucapan bawahannya itu hanyalah sekadar kembang di mulut, yang berbunga, tapi tak bisa dipetik. Sekadar basa-basi tanpa guna dari bawahan yang membutuhkan atasan. Akan tetapi, semakin hari semakin banyak bawahannya yang mengatakan hal tersebut. Maka tokoh kita pun mulai curiga. “Jangan-jangan hidungku memang tak bisa mencium wangi yang dimaksud,” ujarnya dalam hati.
Persoalan aroma yang tak bisa ia ketahui itu memang cukup mengusiknya, namun ia tak bisa berlama-lama larut dalam persoalan tersebut. Menjadi seorang mandor ternyata cukup menyita waktu. Ada banyak hal yang perlu ia kerjakan, sebab tokoh kita tak pernah tahu sebelumnya bahwa menjadi mandor itu enak. Ia yang membagi tugas, memperhatikan, lalu menegur jika ada pegawai yang tidak bekerja sesuai standar. Sementara itu, dia sendiri tidak perlu terlalu susah payah. Ia hanya melakukan quality control. Akan tetapi itu hanya salah satu keuntungan menjadi mandor. Keuntungan kedua, dan ini yang paling penting baginya, ia bisa punya lebih banyak uang.
Awalnya ia tidak tahu bahwa jabatan seorang mandor kecil sepertinya bisa mendatangkan uang. Ia dapat tunjangan lebih sebagai mandor. Uang makan yang lebih besar, juga uang lembur yang belum pernah dibayangkannya sebelum menjadi seorang mandor. Itulah yang kemudian menjadikannya sibuk. Ia sibuk mencari celah-celah untuk semakin leluasa mendapatkan uang dari berbagai sumber.
Seiring waktu, ia merasa bahwa nasib buruh harian berada di genggamannya. Ia bertindak semaunya pada para buruh harian. Pada yang ia suka, akan ia pertahankan. Pada yang tidak ia suka, akan dicaci-makinya buruh harian itu. Bahkan, sering kali ia mengancam tidak akan mempekerjakan buruh itu lagi, dengan kata lain, akan dipecatnya.
“Ada banyak orang yang mau kerja di sini. Bukan cuma kamu. Kamu harusnya bersyukur diterima di sini. Jangan kerja sembarangan seperti ini.”
“Kalau tahu kerjamu seperti ini, lebih baik aku terima orang lain saja. Si A itu kemarin juga melamar untuk kerja di sini lho. Tapi saya pilih kamu.”
“Kamu itu harus tahu. Saya ini pimpinan. Kamu harus ikuti kata pimpinan. Pimpinan warna kuning, ya kamu juga harus kuning. Kalau nggak, kamu nggak akan dapat bagian.”
Kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat-kalimat favorit tokoh kita. Ia tahu persis bahwa dengan kalimat yang seperti itu, ia bisa mengintimidasi para buruh harian sedemikian rupa. Buruh-buruh harian yang tak punya pilihan pekerjaan lain selain di perusahaan tersebut, tentu ketar-ketir mendapat omongan seperti itu. Dengan demikian, para buruh harian berusaha sebisa mungkin untuk menyenangkan hati sang mandor baru. Setiap hari, mereka mengumpulkan uang dan membeli makanan yang enak untuk diberikan pada mandor mereka. Dan semakin melambunglah hati tokoh kita itu. Ia merasa benar-benar menjadi orang penting.
Semakin hari, semakin menjadi-jadi saja tingkah mandor baru itu. Setelah satu bulan selalu dibelikan makanan yang enak, ia merasa bosan. Ia pun memutar otak untuk mendapatkan keuntungan lain. Maka ia memanggil satu per satu buruh untuk masuk ke ruangannya. Dikatakannya bahwa setiap buruh harian harus menyetor sepersepuluh dari gaji mereka untuk diberikan pada mandor.
Tentu buruh-buruh itu terperangah. Hanya bisa terdiam. Beberapa ada yang hendak bicara, tapi sebelum sempat, sang mandor telah lebih dulu berkata, “Ya tidak masalah kalau kamu keberatan. Saya bisa panggil buruh harian lain. Ingat, bukan cuma kamu yang mau bekerja di perusahaan ini. Zaman sekarang ini, cari uang ya harus pakai uang.”
Tentu saja itu semua dilakukan dengan diam-diam. Diusahakannya agar tidak ketahuan oleh para atasan. Lalu ia pun semakin sibuk di dalam ruangannya. Ruangan yang kata orang-orang semakin hari semakin wangi saja, tapi ia tetap tak bisa mencium aroma ruangan itu.
***

Orang-orang yang masuk ke ruangan mandor itu semakin hari semakin banyak. Dan semuanya mengatakan bahwa ruangan itu semakin harum saja. Beberapa orang bahkan harus menggunakan masker atau menutup hidung saat masuk ruangan. “Aroma yang terlalu harum ini membuat shock, Pak. Seperti parfum yang tumpah terlalu banyak di pakaian. Wanginya keterlaluan. Hidung saya tak kuat,” begitu kata orang-orang yang memakai masker itu. Tapi tokoh tetap tak bisa mencium wangi apapun.  Yang penting baginya para buruh harian tetap menyetor sepuluh persen dari penghasilan mereka. Mungkin mulai minggu depan akan ia jadikan dua puluh persen.
Sialnya, atau mungkin untungnya, niat untuk menaikkan upeti menjadi dua puluh persen itu tak pernah terlaksana. Sore itu, saat sang mandor memotong sepuluh persen gaji buruh harian, atasan mandor masuk ruangan.
“Oh. Ternyata dari ruangan ini asalnya. Aroma apa ini? Kenapa menyengat sekali?” ujar atasan mandor. Rupanya aroma dari ruangan itu sudah menyebar ke mana-mana. Dan atasan mandor merasa terganggu lalu mencari sumber aroma.
Mandor kita, yang sedang memotong penghasilan buruh harian tergeragap. Ia mencoba menyembunyikan uang upeti, tapi karena gugup tangannya malah tergilincir. Lembaran-lembaran uang itu pun berserakan.
Atasan mandor dengan segera menjadi curiga. Ia mendekat. Dilihatnya buku catatan yang ditulis oleh sang mandor. Isinya tentang sumber-sumber uang sang mandor.
Demi melihat itu, atasan mandor menjadi merah mukanya. Gerahamnya bergemulutuk. Tangannya terkepal.
“Sebentar, Pak. Sebentar. Saya bisa jelaskan,” ujar sang mandor.
Tapi rupanya atasan mandor tak ingin mendengar penjelasan apapun. Baginya apa yang ia lihat tak butuh dijelaskan lagi. Maka tangan yang terkepal tadi dengan segera melayang. Menghantam wajah tokoh kita yang berpangkat mandor. Hantaman itu mengenai hidung dengan begitu kuat. Bunyi ‘krak’ terdengar.
Mandor terjatuh dalam posisi telentang. Hidungnya patah. Mengeluarkan darah. Saat itulah kemampuan menciumnya pulih. Ia bisa mencium aroma yang ada di sepenjuru ruangan ini. Aroma yang begitu menyengat, tapi sama sekali tidak wangi. Busuk sekali bau yang menghantam hidungnya. Sang mandor sampai tersedak karena bau yang dihisapnya begitu pekat. Bau aneh yang tak pernah ia ketahui. Bau yang tak bisa ia jelaskan. Kemudian ia pingsan.
***

Sang mandor sudah berada di sebuah ruang rawat intensif di rumah sakit saat ia tersadar. Hidungnya masih sakit dan terus mengeluarkan darah. Kepalanya pusing. Antara sadar dan tidak, hidungnya mengisap aroma yang begitu pekat. Bau aneh yang tak bisa ia jelaskan. Ia kemudian membatin, “Ini kan di rumah sakit. Bukan di ruanganku.”
Tokoh kita yang sedang terbaring itu lalu menyadari bahwa aroma itu berasal dari tubuhnya sendiri. “Sialan. Aku terlalu lama berada di ruangan itu. Sampai-sampai bau ruangan itu menempel di badan,” ia mengutuk.
Tak lama, para perawat masuk dan hendak membawanya ke ruang operasi. Tokoh kita itu melihat para perawat menggunakan masker. Ia pun teringat dengan para buruh harian ketika masuk ke ruangannya. Ia tersadar, bahwa selama ini ia telah dibohongi oleh para bawahan. Mereka menahan napas dan memakai masker bukan karena ada aroma wangi, melainkan bau busuk.
Ia lalu berpikir, “Bau itu berasal dari ruangan dan menempel di badanku? Atau berasal dariku dan menempel di ruangan?”
Para perawat tetap menjalankan tugasnya. Bau busuk aneh itu semakin pekat.
***

*Cerpen ini didedikasikan untuk Putu Wijaya, idola saya dalam menulis.

ART.
Banyuasin, 16 Oktober 2016

Rizqi Turama, pegiat di Komunitas Kota Kata Palembang.

Kamis, 20 Juli 2017

Tragedi Kentut

Cerpen ini pernah dimuat di Pos Belitung edisi 16 Juli 2017




Sesuatu yang terjadi telah menghebohkan seisi kampung itu. seorang lelaki mendadak tak bisa mengendalikan perutnya untuk mengeluarkan kentut. Ia mencoba untuk menahannya, tapi selalu gagal.
            Brooottttt... Broooottttt... Brrroooottttt...
            Bunyinya yang panjang dan aromanya yang busuk segera menyebar dengan liar. Mata semua orang yang ada di sekitarnya membeliak. Lalu dengan cepat orang-orang menjauh dari lelaki itu.
            “Tunggu.. Jangan pergi! Aku tidak apa-apa. Aku hanya....”
            Brooottttt... Brrrooottt.. Brooootttt...
            Begitulah. Hanya dalam beberapa jam, tak ada lagi yang mau dan bisa mendekati lelaki itu. Kentut lelaki itu jauh di atas batas normal, baik intensitas, bunyi, maupun baunya. Tak ada yang bisa bertahan untuk berada di dekatnya lebih dari sepuluh detik.
            Pak RW yang mendengar berita itu langsung memanggil dokter dari puskesmas terdekat. Dokter datang dan bersiap-siap memeriksa lelaki itu. Namun apalah artinya sebuah masker tipis yang digunakan oleh dokter itu jika berhadapan dengan kualitas kentut yang dihadapinya. Baru saja dokter membuka mulut untuk menanyakan keluhannya, lelaki itu sudah menjawab dengan kentut. Meski sempat memaksakan diri dan beberapa kali mencoba, dokter itu pun menyerah dan tak bisa mendiagnosa apa sebab lelaki itu tak berhenti kentut. Tak hanya itu, dokter itu pun kemudian pingsan akibat terlalu banyak menghirup kentut.
            Tak berhenti di situ, seorang dukun pun didatangkan. Berdasarkan kesaksian, dukun itu adalah dukun yang paling sakti seantero jagad kampung itu. Teluhnya bisa menyeberangi lautan. Santetnya tak pernah gagal dalam membunuh orang. Dukun yang datang itu segera menyiapkan peralatan-peralatannya. Ia menaburkan bunga tujuh rupa dan warna kepada lelaki itu. Asap dupa mengepul-ngepul di sekitar. Di tangan kirinya sudah siap segelas air yang akan dijampi-jampi. Ketika mulut dukun itu membuka hendak membaca mantra...
            Broootttt... Brooootttt.... Brrroooottttt....
            Dukun itu tersedak oleh udara kentut yang menyebar. Membuat mantra yang dibacanya jadi salah. Jin-jin yang dipanggilnya pun marah dan menambahi ‘kesaktian’ yang ada dalam kentut yang dikeluarkan lelaki itu. Si dukun yang saat itu posisinya paling dekat dengan lelaki tukang kentut itu mendadak kejang-kejang akibat tak tahan menerima serangan kentut.
            Masyarakat histeris menyaksikan semua itu. Walaupun sebenarnya mereka hanya melihat dari jauh karena tak ada yang berani mendekat. Bisik-bisik terjadi. Bisikan itu berubah menjadi gosip yang beradar. Gosip-gosip pun menyebar dengan cepat. Semuanya menyalahkan lelaki itu. menuduh lelaki itu akan membawa bencana ke dalam kampung mereka. Pandangan benci pun tak bisa ditutupi dari mata mereka.
            Lelaki yang selalu kentut itu pun merasakan tatapan benci yang ditimpakan padanya. Ingin ia berteriak mengatakan bahwa ini bukanlah kehendaknya. Ia adalah korban dalam kondisi ini. Namun apa daya, masyarakat tak ada yang mau ataupun bisa mendengarkan omongan lelaki itu. Sebab yang terdengar hanyalah kentut lelaki itu saja.
            Si tukang kentut menatap ke segala arah. Mencari seseorang yang mau mengerti kondisinya. Tapi tak satu pun yang ia temukan. Semuanya telah menghakiminya sebagai si tukang pembuat rusuh. Maka lelaki itu pun bersedih. Ia menangis. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Kepalanya mendongak ke langit. Sementara ia menangis, kentutnya tak kunjung reda dan bahkan semakin menjadi. Orang-orang merasa jijik padanya. Mulai melempari ia dengan segala apapun yang bisa diraih.
            Demi harga dirinya, berlarilah laki-laki itu ke ujung desa. Di sana ia masuk ke sebuah gudang tua yang tak terpakai lagi. Lalu ia mengurung diri di sebuah ruang penyimpanan yang tertutup rapat. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan mati hari ini. Ya. Dia akan bunuh diri. Dengan cara menghisap sendiri kentutnya sampai habis.
            Hanya dalam hitungan menit ruangan itu sudah penuh sesak oleh angin yang ia keluarkan. Ia hisap dalam-dalam setiap kentut yang ia keluarkan. Perutnya pun seolah tahu keinginannya untuk mati, lalu mengeluarkan kentut yang panjang-panjang dan besar-besar bunyinya. Seolah-olah tiada hari esok untuk kentut.
Broooootttt.. brrroooottt.. .brrrooottt..
Lelaki itu pun tercekat tenggorokannya. Napasnya sesak. Pandangannya berkunang-kunang. Gelap.
***
            Matanya terbuka perlahan-lahan. Ia kerjap-kerjapkan. Sudah matikah ia? Ia bertanya-tanya dalam hati. Di surga atau di nerakah dia? Ah. Mana ada surga yang menampung orang yang mati bunuh diri. Apalagi dengan cara menghisap kentut sendiri sampai habis. Cara bunuh diri paling hina yang pernah terpikirkan umat manusia. Tapi juga ia tak merasakan panas yang menyiksa, dan itu berarti ia bukan di neraka. Laki-laki itu kembali mengerjapkan matanya. Pandangannya lebih jelas kali ini. Dia masih ada di ruangan tertutup yang ada di dalam gudang tak terpakai itu.
            Ia masih hidup. Sesuatu yang sangat berat tiba-tiba terasa memenuhi dan menyesakkan dadanya. Air matanya kembali menetes tanpa bisa ia bendung. Bahkan untuk mati pun ia tak diperbolehkan oleh alam. Apakah ia harus menanggung derita kentut ini sepanjang sisa hidupnya? Kentut oh kentut.
            Lelaki itu merenung. Ia tahu ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Sadarlah ia bahwa sekarang ia harus menerima takdirnya ini. Takdir sebagai lelaki yang selalu kentut. Saat ia berpikir seperti itu, barulah ia menyadari sesuatu. Sejak ia bangun tadi, ia tidak kentut-kentut lagi. Lelaki itu menunggu beberapa saat. Menunggu kentutnya. Benar saja, kentut-kentutnya sudah berhenti. Tidak ada lagi bunyi dan bau kentut itu keluar dari perutnya.
            Maka segeralah lelaki itu meloncat bangkit. Keluar dari ruangan sempit itu. Berlari meninggalkan gudang yang tak terpakai di belakangnya. Dengan wajah berseri-seri sedemikian rupa, ia melangkahkan kakinya ke pasar. Tempat yang paling ramai di tengah kampung tempatnya tinggal.
            Orang-orang di pasar terkejut melihat orang itu datang. Mereka bersiap-siap untuk menutup hidung. Para pedagang segera menutupi barang dagangannya karena takut terkontaminasi oleh kentutnya. Satpam pasar sudah siap menghalangi gerakan lelaki itu. Namun laju lelaki itu tak bisa dihentikan. Ia terus saja berlari hingga akhirnya sampai ke tengah-tengah pasar.
            Semua mata menuju padanya, meskipun tetap dengan menutupi hidung masing-masing. Mereka tahu sepertinya ada yang hendak disampaikan lelaki itu, maka mereka pun menunggu. Pasar jadi hening. Menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Namun lelaki itu diam. Tersenyum. Begitu terus sampai berapa lama, barulah ada yang menyadari.
            “Hei. Dia tidak kentut-kentut lagi,” ujar seseorang. Setelah mendengarkan itu, orang-orang seperti terbangun dari tidurnya. Mereka sadar bahwa yang dikatakan itu benar. Lelaki itu tidak kentut-kentut secara liar lagi.
            Masyarakat pun bertepuk tangan. Menyambut kembalinya si tukang kentut yang tak lagi kentut. Mereka menyalaminya satu per satu. Bahkan ada yang memeluknya begitu erat seperti seorang sahabat lama yang terpisah berpuluh-puluh tahun. Setelah itu ia diarak-arak, dielu-elukan untuk kembali ke tempatnya tinggal.
            Berita itu dengan sangat cepat menyebar. Pak RW tempat ia tinggal pun langsung mengerahkan warga untuk menyambut kedatangannya. Saat ia tiba, sebuah panggung telah tersedia. Pak RW memberikan sedikit pidato penyambutan. Setelah itu tibalah gilirannya untuk berpidato.
            Ia sebenarnya tak siap untuk sebuah pidato, namun semua orang menatapnya penuh antusias. Di atas panggung itu, sebelum ia berpidato, matanya menitikkan air mata haru melihat sambutan yang begitu meriah seperti ini. Orang-orang pun banyak yang ikut menangis. Namun ia segera mengendalikan diri. Meraih microphone dan mendehem sedikit. Saat ia membuka mulutnya untuk bicara...
            Brooootttttttttttttt.....
            Mata lelaki itu membelalak. Yang keluar dari mulutnya adalah kentut yang bunyinya besar dan panjang sekali, baunya pun jauh lebih menyengat dari pada kentut-kentutnya yang dahulu. Ia hampir pingsan kalau tidak melihat reaksi para penonton. Masyarakat yang menyaksikan itu terkejut, tapi tidak dengan benci melainkan dengan takjub. Rasa takjub yang ternyata begitu besar hingga begitu ia selesai mengeluarkan kentut lewat mulut, mereka bertepuk tangan dengan dahsyat.
            Lelaki itu buka mulut lagi ingin bicara.
            Broooottttttt..... Broooottttt.... Brrrroooottttt....
            Yang keluar dari mulutnya hanyalah kentut. Udara di kampung itu segera mengental karena aroma kentut yang ia keluarkan dari mulut. Namun tepuk tangan dan suka cita dari masyarakat semakin membahana. Lelaki itu pun bingung.

Yogyakarta, 20 Maret 2014.

Jumat, 16 Juni 2017

Hari Saat Ia Memutuskan untuk Bolos


Cerpen ini pernah dimuat di Pos Belitung pada 11 Juni 2017

Kuliah pertama itu sangat membosankan. Terutama karena pak dosen berkepala botak yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu menyampaikan materi dengan nada yang datar. Monoton sepanjang perkuliahan. Sama sekali tak ada naik turun intonasi. Hal itu diperparah dengan wajahnya yang sudah menampilkan keriput sama sekali tak menyunggingkan senyum. Malah sepertinya ia menggerutu, bukan menjelaskan materi. Mulutnya terbuka sedikit sekali, antara terbuka dan tidak, tapi kata-katanya keluar terus tak putus-putus.
Ketika memasuki menit ketiga puluh, beberapa orang mahasiswa sudah beranjak ke alam mimpi. Dengan dibuai oleh semilir angin dari pendingin ruangan, mimpi mereka semakin indah. Meninggalkan kenyataan soal kuliah yang sedang mereka jalani. Bahkan sampai ada yang meneteskan air liur ke meja. Beberapa yang lain sibuk main candy crush atau fruit ninja di tablet. Sisanya merenung dan menatap kosong pada layar yang menampilkan poin-poin materi yang digumamkan secara agak tak jelas oleh sang dosen.
Dua SKS itu terasa begitu lama bagi semua mahasiswa di ruangan. Bahkan ada yang sudah menjalani lima mimpi dalam tidurnya dan ketika terbangun ternyata kenyataan masih membawanya ke ruang kuliah itu juga. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk merajut mimpi yang keenam. Saat kuliah berakhir semua pun bernapas lega. Termasuk orang yang tadi bermimpi pun tidak protes saat dibangunkan karena ternyata mimpinya yang keenam adalah mimpi sedang kuliah di ruang kuliah tempat ia sedang bermimpi.
Orang-orang bubar dari ruangan kuliah itu. Menghirup udara kebebasan dari tekanan batin. Namun mereka lupa bahwa kuliah bukan hanya berlangsung selama satu pertemuan, tapi satu semester. Alias setengah tahun. Maka para mahasiswa pun harus menghadapi kenyataan tersebut.
***
Hari-hari terlewati begitu cepat saat mata kuliah lain, namun begitu lambat ketika mata kuliah yang diasuh pak dosen setengah baya berkepala botak itu. Tiap pertemuan jumlah mahasiswa yang hadir semakin berkurang. Semakin banyak yang sekadar titip absen dengan teman yang lain. Beberapa minggu berlalu, yang dititipi absen akhirnya juga ikut nitip dengan yang lainnya. Lalu yang dititipi itu juga ikut nitip, dan begitu seterusnya.
Peserta mata kuliah itu semakin sedikit saja, tapi sang dosen seakan tak peduli. Ia tetap berceramah dengan mulut yang antara terbuka dan tidak namun terus saja menggumamkan ide-ide Karl Marx, Gramsci, Derrida, Stuart Hall, dan lain-lain. Suaranya tetap datar tanpa fluktuasi intonasi. Sementara yang hadir dan jumlahnya sedikit itu tetap terbuai embusan pendingin ruangan dan bermimpi, atau bermain candy crush dan fruit ninja. Begitu terus sampai dua SKS itu terlewati.
Sang dosen terus saja memberikan kuliahnya. Sampai akhirnya pada suatu pertemuan, yang hadir di ruangan itu hanya satu mahasiswa saja. Melihat itu sang dosen diam, menatap sang mahasiswa yang tertegun tegang dan tidak jadi mengeluarkan tabletnya untuk bermain candy crush yang sudah sampai level 2.514.
“Mana yang lain,” tanya sang dosen.
Sang mahasiswa kebingungan. Tak tahu harus menjawab apa.
“Ini di daftar hadir ada tiga puluh tanda tangan. Kok cuma kamu yang ada?”
Sang mahasiswa meneguk ludah.
“Bolos?”
Mahasiswa itu mengangguk.
Sang dosen mengangguk-angguk. Tanpa ekspresi. Sama sekali tak ada tanda-tanda ia marah atau sejenisnya. Hanya mengangguk-angguk saja. Lalu kembali dengan mulut yang antara terbuka dan tidak, ia berkata, “Minggu depan kita ujian tengah semester.”
Yang terjadi seminggu kemudian adalah ruang kelas itu penuh lagi. Tanpa ada muka kantuk. Tanpa ada yang bermain game. Semuanya fokus mengerjakan soal yang diberikan oleh sang dosen. Entah mereka mendapatkan hidayah dari mana. Padahal selama ini mereka tidak pernah mendengarkan satu pun kata dari sang dosen, tapi mereka sepertinya lancar-lancar saja mengutip-ngutip Marx, Gramsci, Stuart Hall, Derrida, dan lain-lainnya.
Pak dosen takjub dengan yang terjadi. Sampai ke rumah, dia memeriksa jawaban mahasiswa-mahasiswanya. Semuanya rata-rata layak mendapatkan nilai A+. Sang dosen tercenung. Ia lebih tercenung lagi ketika di pertemuan berikutnya kelas kembali kosong. Tak ada yang masuk sama sekali. Kelas kosong. Semua mahasiswa bolos, tapi anehnya daftar hadir selalu penuh oleh tanda tangan. Bahkan para mahasiswa sudah membubuhkan tanda tangan untuk lima pertemuan ke depan. Luar biasa.
Pertemuan-pertemuan berikutnya hanya ada satu mahasiswa yang hadir. Sang dosen tidak lagi menjelaskan materi perkuliahan. Ia hanya menatap mahasiswanya itu lamat-lamat. Dalam. Penuh tanda tanya.
“Kenapa kau datang ke sini? Tidak seperti teman-temanmu yang lain.”
“Saya bosan di kamar kosan, Pak.”
“Kau tidak bosan di sini?”
“Ya bosan juga, sih. Tapi paling nggak kan kalo ke sini jadi seolah-olah ada kegiatan.”
Sang dosen mengangguk-angguk. Kepala botaknya semakin mengilap. Ia elus-elus kepalanya itu. Tapi sekali lagi tak ada ekspresi sama sekali dari wajah dosen itu. Tak ada gurat marah ataupun kecewa ataupun sedih. Datar saja.
“Ya sudah. Kalau begitu, minggu depan kita ujian akhir semester.”
Maka seminggu kemudian para mahasiswa kembali memenuhi ruangan itu. Mereka bahkan datang setengah jam sebelum ujian dimulai. Alat-alat tulis sudah sedia di meja masing-masing. Tampang mereka penuh percaya diri. Namun hingga setengah jam kemudian sang dosen yang biasanya tepat waktu tak kunjung tiba. Mereka menunggu sampai lima belas menit, masih belum datang juga. Lalu setengah jam lagi. Lalu setengah jam lagi. Lalu setengah jam lagi.
Para mahasiswa pun gusar. Awalnya mereka bertanya-tanya. Lama kelamaan tanya itu berubah menjadi protes. Protes kemudian berubah menjadi umpatan. Kemudian mereka beramai-ramai melakukan aksi unjuk rasa ke gedung dekanat. Mereka hendak menemui pihak-piahk berwenang di dekanat.
“Dosen tidak profesional,” seru salah satu mahasiswa.
“Ya. Tidak bertanggung jawab,” seru yang lain.
 “Ya. Makan gaji buta.”
“Mengingkari sumpah jabatan.”
“Tidak sesuai dengan norma pendidikan.”
Suara mereka riuh rendah meneriakkan protes. Pak dekan yang tadinya sedang duduk tenang di kantor terpaksa turun dan menemui para mahasiswa yang protes itu. Melihat Pak dekan yang sudi menemui mereka, suara pun perlahan mengecil. Lalu hening sama sekali.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Pak dekan.
“Kami butuh kejelasan.”
“Tentang apa?”
“Dosen kami. Di mana dia? Kami dijanjikan akan menjalani ujian akhir hari ini, tapi dia tidak datang.”
Pak Dekan berusaha tenang menghadapi massa. Ia mengusap-usap janggutnya yang putih dan panjang. Beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang lalu berkata, “Ya. Berarti dosen kalian bolos.”
“Bolos?”
“Ya. Bolos. B.O.L.O.S.”
“Wah. Tidak bisa begitu dong, Pak. Dosen kok bolos di saat ujian akhir.”
“Lho? Ada apa? Apa yang salah dengan bolos? Toh kalian juga sering bolos, kan?”
“Iya, Pak. Tapi kami tidak bolos di saat-saat genting seperti ini. Lagi pula ini kan menentukan hajat hidup orang banyak. Jangan semena-mena begini dong.”
Pak dekan mengangguk-angguk. “Ya sudah. Nanti akan saya sampaikan protes kalian ke dosen itu.”
“Jangan nanti. Sekarang dong, Pak.”
“Lah. Bagaimana caranya? Wong dosen kalian sekarang saja saya tidak tahu di mana.”
“Bapak harus tahu.”
“Lho. Kok harus?”
“Kan Bapak atasannya. Bapak harusnya punya fungsi kontrol. Bapak harusnya bisa mengendalikan bawahan Bapak. Kalau tidak, berarti Bapak telah gagal melakukan manajemen terhadap fakultas ini.”
“Lho. Kok begitu? Apa salah saya?”
“Ya Bapak pasti salah. Bapak pasti telah berkomplot dengan dosen kami itu dan membiarkan pembolosannya. Ini tidak bisa dibiarkan, Kawan-kawan,” suara mahasiswa itu menggelegar. Suara teman-temannya pun ikut bergelora. Meneriakkan kata-kata kasar dan cacian pada sang dekan.
Mahasiswa-mahasiswa lain yang lewat bertanya-tanya tentang kejadian apa yang sebenarnya sedang terjadi. Melalui bisik-bisik tetangga mereka mendapatkan kabar bahwa mereka berdemo karena sang dekan melindungi dosen yang bolos. Maka mahasiswa yang cuma lewat pun akhirnya mendukung gerakan demo itu. Semakin lama, semakin banyak mahasiswa lewat yang juga ikut bergabung berdemo. Gerakan demo itu dengan segera menjadi semakin besar. Sang dekan terdesak. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Omongannya semuanya jadi salah di depan mata para mahasiswa yang semakin lama semakin sangar.
***

Seorang lelaki paruh baya berkepala botak sedang menghirup teh hangat yang disajikan istrinya. Aroma teh itu mampu menenangkan pikirannya sejenak. Apalagi kemudian istrinya muncul dari dapur dengan pisang goreng kesukaannya. Ah. Sekali-kali bolos ternyata enak juga.
“Apa benar nggak masalah kalau Bapak bolos hari ini?” tanya istrinya. Seolah tahu saja apa yang melintas di pikiran suaminya itu.
“Ya nggak apa-apa toh, Bu. Toh baru sekali ini.”
Istri lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya lalu mengambil remote tivi. Layar itu menampilkan berita tentang terbunuhnya seorang dekan akibat diamuk mahasiswa yang sedang berdemo tadi siang.
“Ganti channel toh, Bu. Aku nggak tega lihat yang anarkis begini.”
Sang istri hanya mengangguk lalu memindah saluran ke sinetron kesukaannya. Sang suami tersenyum lalu mengambil pisang goreng berikutnya untuk dimasukkan ke mulut. Ia sempat berhenti mengunyah karena merasa mengenal salah satu mahasiswa yang tadi sempat tersorot, tapi cuma sebentar. Ah. Sudahlah. Mungkin hanya salah ingat.
***

ART.
Yogyakarta, 9 Juli 2014.
Jam 1.48 dini hari.