Kamis, 03 November 2016

Profesor Bermulut Runcing

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Pantura pada 26 Agustus 2016, lalu dimuat ulang di Kompas pada 27 November 2016



Setiap hari ia memoles bibir, bukan dengan lipstik, tapi dengan darah yang mengucur dari jantung orang-orang di sekitarnya. Bibirnya yang runcing itu mampu merobek jantung dengan sangat lincah. Tak hanya runcing, bibir itu juga tajam selayaknya gunting yang dipakai dokter ketika akan menyunat sekelumit kulit hingga terlepas dari tempatnya. Membuat darah menetes dan ia tadahi untuk kemudian disapukan ke bibir.
Malam hari, sepulang dari mengajar di universitas, ia selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Memeriksa kondisi bibir. Jika bayangan memantulkan warna bibir yang lebih merah ketimbang sebelum ia berangkat, senyum profesor kita akan mekar. Ia melihat senyum di cermin itu menyerupai mawar yang merekah di pagi hari cerah dengan sedikit embun tersisa dan berlatarkan kuning emas matahari yang belum silau, sempurna. Namun, jika bibirnya malam itu sama merah dengan sebelum ia berangkat mengajar, ia akan merasa menjadi orang yang merugi. Lebih parah lagi jika kadar merah di bibir itu berkurang, sesungguhnya ia adalah orang yang celaka. Tak jarang mimpi buruk mengetuk tidurnya dan bertandang ketika bibir itu tak semerah hari kemarin.
“Seorang profesor sepertiku harus selalu tampak cantik, dan wanita cantik adalah wanita yang bibirnya selalu merah,” begitulah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh profesor kita. Maka jangan heran jika ia selalu membawa batu asah, itu untuk mengasah bibirnya agar semakin runcing dan tajam hingga mempermudahnya mendapatkan darah segar untuk dioleskan ke bibirnya.
***

Jauh hari sebelum profesor kita menjadi profesor dan baru saja lulus sebagai doktor, tujuh tahun lalu tepatnya, ia mendapati bahwa suaminya berselingkuh. Suaminya ingin berkelit, tapi ketika melihat doktor itu memegang telepon genggam yang isinya adalah percakapan mesrum (mesra dan mesum) dengan orang lain, sang suami membatalkan niat tersebut. Dengan geraham yang bergemelutuk, napas tersengal, dan air yang mengambang di pelupuk mata, doktor yang belum jadi profesor itu berkata, “Aku ingin bertemu dengan selingkuhanmu.”
Sang suami berusaha mencegah dan mengalihkan pembicaraan, tapi ia sadar bahwa istrinya adalah seorang yang cerdas. Apalagi telepon genggam tersebut sudah di tangan sang istri, hanya menunggu waktu kedua wanita yang ia nikmati tubuhnya tersebut akan bertatap muka.
Karena tak ada pilihan lain, sang suami pun mencari tempat yang aman untuk pertemuan keduanya. Ia juga telah menyingkirkan semua barang pecah belah atau benda-benda lain yang mungkin akan digunakan untuk saling melukai jika perkelahian terjadi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan sang suami.
Sama sekali tak terjadi perkelahian antarwanita. Tak ada saling jambak ataupun saling cakar. Mereka hanya saling tatap dalam waktu yang entah berapa lama. Sang suami tak sempat menghitung menit yang berlalu karena di tengkuknya ada sebuah beban yang membuatnya hanya bisa tertunduk.
Sang doktor, selama saling bertatapan dengan selingkuhan suaminya, sedikit kecewa karena tak ada yang istimewa dengan fisik saingannya itu. Hanya satu yang mencolok dari wanita yang ia laknat sepanjang sisa umurnya tersebut. Bibir. Belum pernah ia melihat bibir yang begitu merah mengilap dan mencolok.
Ia baru akan membuka mulut untuk bertanya kenapa bibir sang wanita selingkuhan bisa begitu merah saat si selingkuhan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah sudut yang teramat tajam. Dengan sedikit gerakan, bibir itu mengarah ke jantung sang doktor. Sedikit beruntung karena sang doktor sempat mengelak. Jantungnya selamat, tapi ketajaman bibir itu dirasakan oleh hatinya. Mengerti bahwa sang wanita selingkuhan bukanlah musuh yang bisa ia hadapi, sang doktor memutuskan untuk pergi dengan hati berdarah.
Ketika hendak melangkah pergi itulah ia sempat menoleh dan mendapatkan sang wanita selingkuhan sedang mengoles bibir dengan darah yang tercecer dari hatinya. Hari itu merupakan hari yang tak terlupakan oleh sang doktor. Ia menyimpulkan selingkuhan itu memiliki sesuatu yang tak ia miliki, bibir yang begitu merah, tajam, dan runcing. Mungkin itulah yang memikat suaminya, kecantikan yang tak ia mengerti. Sejak hari itu juga, doktor kita memutuskan akan menunjukkan bahwa dirinya tidak takluk.
“Aku akan memiliki bibir yang lebih merah dari pada wanita laknat itu. Saat itu suamiku akan mengemis untuk kembali, dan aku akan mencampakkannya dengan senang hati,” begitu tekadnya.
***

Dari waktu ke waktu, sang doktor terus mengasah bibir dan mulutnya agar runcing dan tajam. Namun kemudian ia sadar bahwa itu saja tak cukup. Ia butuh jadi orang yang punya pengaruh dan bisa tampil di depan umum agar ketajaman bibir itu bisa berguna. Jika kariernya hanya berhenti pada level doktor, ia tak akan bisa memperluas ‘wilayah kekuasaan’. Ia harus menjadi lebih dari sekadar doktor. Di dunia akademik, hanya level profesor yang sering diundang memberi kuliah di berbagai tempat. Tak hanya di pulau tempatnya berada saja, tapi juga ke seluruh penjuru nusantara. Maka ia pun mematok target baru: menjadi profesor.
Setelah berjuang mati-matian, jilat sana-sini, meludah, terus menjilat lagi, ditambah dengan sedikit penelitian yang ia lakukan di universitas, sedikit publikasi, jilat lagi, ludah lagi, jilat lagi, akhirnya profesor kita mendapatkan gelar profesor.
Ia senang bukan buatan. Dengan jadi profesor, ia bisa mendatangi berbagai tempat. Memberikan kuliah di sana-sini. Mendapatkan sambutan hangat di mana-mana – sebab ada banyak orang yang mau menjilati ia sampai ke getah-getah terakhir. Dan yang lebih penting adalah ia bisa bertemu orang banyak dan mempergunakan keruncingan mulutnya dengan objek yang berganti-ganti.
Banyak jantung dikoyak dan berdarah. Bibirnya semakin runcing dan merah. Ia bahagia.
***

Satu hal yang tidak disadari oleh sang profesor adalah seiring dengan semakin tajamnya mulutnya, mulut itu juga tumbuh semakin panjang, sedikit melengkung ke bawah. Tepatnya ke arah jantungnya sendiri. Ia tak sadar karena ia hanya fokus pada warna merah yang bertengger di sana. Merahnya sudah hampir sempurna. Mungkin tinggal mendapatkan satu korban dengan kadar merah pada darah yang tepat, ia sudah akan mencapai tingkat kesempurnaan pemilik bibir merah.
Dalam sebuah seminar tingkat nasional, ia sumringah karena ada salah satu dosennya dulu menjadi peserta. Darah seorang dosen senior yang telah punya banyak mahasiswa, tentu akan lebih dari cukup. Dia akan jadi pelengkap dan penyempurna bagi ketajaman mulutku. Setelah mendapatkan darahnya, aku akan mendatangi suamiku. Begitulah yang dipikirkan sang profesor.
Sambil mendongakkan kepala dan menunjuk orang yang pernah jadi dosennya itu, sang profesor berkata, “Beliau ini dulu dosen saya, tapi sekarang saya jadi promotornya di S-3. Dulu dia yang selalu jadi narasumber bagi saya, sekarang saya yang jadi pemateri dan dia hanya peserta.”
Kemudian ia mengerahkan teknik terbaik yang ia tahu untuk mengoyak jantung orang dengan menggunakan mulut. Sial bagi sang profesor, sebab dosennya itu dilindungi oleh sebuah kaca tak kasat mata. Kaca yang begitu keras dan tak bisa ditembus oleh mulutnya. Tak sedikit pun dosen itu terluka.
Kenyataan itu membuat sang profesor justru penasaran. Di sisa seminar, ia terus menggerakkan bibirnya. Menyerang dosennya dari berbagai penjuru. Bunyi ‘ting-ting-ting’ terdengar nyaring ketika mulutnya itu bertabrakan dengan kaca pelindung dosen. Ia mulai lelah, tapi marah.
Dengan sekuat tenaga ia melancarkan serangan penghabisan. Berharap kaca itu akan pecah dan mulutnya mampu mengoyak jantung sang dosen. Namun apa daya. Kaca itu bergeming. Justru mulut sang profesor yang runcing dan bengkok itu jadi semakin bengkok. Karena kekeraskepalaannya, mulut itu menikam jantungnya sendiri.
JLEB.
Sang profesor terkapar dengan darah mengucur dari jantungnya. Peserta seminar panik. Beberapa pengikut setianya menuding-nuding dosen yang terlindungi oleh kaca tak kasat mata, mengatkan bahwa dosen itu pasti telah merencanakan pembunuhan. Beberapa yang lain menyatakan bahwa sang profesor telah melakukan bunuh diri terencana. Sisanya, dan jumlahnya paling banyak, hanya diam dan tak mengerti apa yang terjadi.
Sementara itu, sang profesor megap-megap kehabisan pasokan oksigen dari jantung yang telah bolong. Mulutnya masih menancap di jantung sehingga ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya bola matanya yang selama ini kering, perlahan dihiasi embun pagi. Di detik-detik terakhir, bayangan mantan suami dan selingkuhannya melintas. Profesor itu lalu mengembus napas terakhir, lewat hidung.
Dosennya yang sejak tadi tak bereaksi, menitikkan air mata saat melihat anak didiknya mati. Kaca tak kasat mata itu menghilang. Ia mendekati mayat. Orang-orang seperti tersihir dan memberikan jalan. Perlahan dicabutnya mulut mantan mahasiswanya yang masih menancap di jantung. Lalu terpampanglah sebuah bibir yang begitu merah. Sempurna. Merah yang tak ada cacatnya.
Tapi bibir itu juga begitu tajam. Tangan sang dosen terluka. Tangisnya pecah. Orang-orang terperangah.
***

Palembang, 29 April 2016
ART.

Jumat, 30 September 2016

Sepatu Pemanggil Hujan

Cerpen ini dimuat di hari Koran Pantura pada 22 September 2016



Mimpinya tak muluk-muluk, ia hanya ingin sepatu baru. Namun, butuh waktu yang cukup lama bagi Ayah untuk membuat mimpi itu jadi nyata. Ia teringat petuah yang disampaikan kepala sekolah tentang buah kesabaran dalam penantian saat suatu hari Ayah pulang dengan sebuah kotak persegi panjang berisi sepasang sepatu baru. Bukan sembarang sepatu. Ini adalah sepatu paling bagus, sekaligus paling mahal, yang pernah dibelikan Ayah.
Senyumnya tak bisa ditahan melihat isi kotak tersebut. Ayah pun tak kalah senang melihat anak semata wayangnya tersenyum mengembang.
“Kalau bisa, jangan sampai sepatu ini kena hujan. Nanti cepat rusak,” ujar Ayah.
Ucapan yang langsung ia sambut dengan anggukan pasti. Tanpa perlu diperingatkan pun ia tahu. Dan ia tak mau sepatu barunya cepat rusak.
Sialnya, esok hari, di hari pertama ia mengenakan sepatu itu, hujan turun seperti tamu yang tak tahu diri. Datang di saat yang tak tepat, tanpa diundang, dan tak kunjung pergi meski telah diusir. Banjir sebatas mata kaki di beberapa tempat sepanjang jalan pulang dari sekolah sukses membuat sepatunya basah, bahkan terasa bonyok.
Hasilnya sepatu itu tak bisa dipakai selama tiga hari karena harus dijemur. Selama tiga hari itu pula ia terpaksa kembali memakai sepatu lama yang telah menganga di beberapa bagian.
Ayah, seperti biasa, tetap tersenyum. Karena Ayah memang tak pernah marah, tapi ia tahu sedikit banyak Ayahnya kecewa, atau khawatir, karena baru sekali pakai sepatu itu sudah basah kuyup.
Tiga hari berlalu dan sepatu baru telah kering. Pagi-pagi ia sudah memegang sikat dan menyemir sepatu hingga mengilap. Siap untuk kembali dipakai.
“Nak, dengan sepatu itu kau terlihat gagah,” ujar Ayah. Ucapan sederhana yang melambungkan rasa percaya diri di dada anak berusia tujuh tahun itu. Hari itu langkahnya benar-benar gagah saat berangkat ke sekolah. Tetapi semua kegagahan tersebut luntur saat pulang. Sebab kembali hujan mengguyur seisi kota.
***

Dua tahun yang lalu mereka harus memulai hidup tanpa kehadiran Ibu. Ia menangis kencang sekali waktu tahu Ibu tak akan ada lagi di antara mereka. Sempat ia bertanya dalam hati kenapa Ayah tidak menangis. Apa Ayah tidak sedih? Tapi kemudian ia tahu bahwa Ayah sebenarnya sangat sedih. Hanya saja Ayah berusaha menutupi kesedihannya. Ia tahu saat suatu malam terbangun karena ingin ke toilet. Di jalan dari kamar menuju toilet itulah ia tanpa sengaja melihat Ayah sedang menangis tanpa suara. Sambil menggenggam foto Ibu. Ia masuk ke kamar lagi dan tak jadi ke toilet. Pagi harinya Ayah membangunkan dia, dengan senyum yang seperti biasa. Tanpa ada bekas sama sekali bahwa semalam air mata telah runtuh dari kedua bola bening itu.
Sejak itu, ia yang masih berusia tujuh tahun ingin mencontoh ketangguhan Ayah. Sebisa mungkin ia tak pernah menangis. Tak pernah juga meminta sesuatu kecuali benar-benar terdesak. Sebab ia tahu Ayah tak hanya kesepian, tapi juga tak seberapa dalam hal penghasilan.
Soal sepatu pun sebenarnya ia tak pernah meminta secara langsung. Meskipun di sekolah ia selalu merasa malu. Ia tak pernah diejek oleh teman-teman, tapi ia malu karena sepatunya sudah sangat jelek. Seperti kebanyakan anak kecil lain, saat ia menutupi sesuatu maka hal itu terbawa ke alam mimpi. Ia mengigau soal sepatu dan Ayah mendengarnya.
Membuat Ayah bekerja lebih awal dari biasanya. Menyisihkan uang untuk hal yang datang ke mimpinya. Hingga akhirnya Ayah bisa membelikan sepatu baru dan bagus untuknya. Ia senang bukan buatan ketika menerima sepatu baru itu, tapi kini sudah dua kali ia membuat sepatu dari Ayah menjadi basah kuyup.
***

Tiga hari yang lain telah berlalu. Sepatu telah kering. Juga telah selesai ia sikat hingga mengilap. Namun sepatu itu tak ia pakai. Hanya dipandang-pandangi sebelum akhirnya ia memakai sepatu lama dan berangkat sekolah. Begitu terus sampai empat hari. Di hari kelima, Ayah menghampiri.
“Tak masalah sepatu rusak. Daripada bagus tapi tidak terpakai. Malah mubazir,” begitu kata Ayah.
Namun ia keras hati kali ini. Benar-benar tak rela sepatu baru itu rusak. Tapi di sisi lain, Ayah justru terlihat agak kecewa dengan sikapnya ini. Sampai pada suatu hari, saat salah seorang guru tidak masuk, kepala sekolah yang menggantikan. Entah kenapa, seolah telah ditulis sedemikian rupa di Lauh Mahfuz, kepala sekolah menceritakan tentang pentingnya menghargai pemberian orang lain.
Maka keesokan harinya, ia kembali memakai sepatu baru itu. Sepatu terbaik yang pernah ia miliki. Tak hanya itu, kali ini ia telah menyiapkan diri jika hujan turun dan ternyata hari itu hujan benar-benar turun. Dari rumah telah dibawanya sebuah kantung plastik. Dikeluarkannya kantung itu ketika hujan tiba. Dimasukkannya sepatu itu ke kantung plastik. Lalu ia berjalan dengan kaki telanjang sambil tangan menenteng sepatu yang terlindung.
Hatinya senang. Langkahnya serasa ringan. Rasanya ia begitu cerdas, tapi matanya jadi tak awas. Sebuah paku berkarat menancap dengan indah, menembusi kulit kakinya yang tipis tanpa perlindungan. Dua centimeter daging telapak kakinya dikoyak paku. Membuat ia melolong kesakitan lalu terduduk. Antara sadar dan tidak, antara berani dan bodoh, antara refleks dan bukan, ia mencabut paku itu dari telapak kakinya. Sekali lagi ia melolong sekuat tenaga. Genangan air hujan mendapatkan secercah warna merah.
***

Ayah harus mengeluarkan uang lebih banyak karena membayar dokter dan suntik tetanus. Ia semakin merasa bimbang. Tak tahu bagaimana harus bersikap dengan sepatu baru yang ia sukai ini.
Tentu saja Ayah tahu kebimbangan yang melandanya. Ayah tersenyum, seperti biasa, sambil berkata, “Jangan sampai rasa cinta membuatmu ragu untuk menempatkan sesuatu sesuai kodratnya. Nak, sepatu itu untuk kaki. Ia pelindung kaki. Jangan karena cinta buta lalu kau buat ia berada di tangan dan meninggalkan kakimu tanpa perlindungan.”
Ucapan Ayah tak sepenuhnya ia mengerti, tapi ia merasa terhibur. Ia kemudian tersenyum. Bukan hanya karena ucapan Ayah yang menenangkan, tapi juga karena ia tahu apa yang harus ia lakukan berikutnya.
Ia tidak lagi membawa satu kantung plastik, tapi dua sekaligus. Saat hujan turun, ia bungkus sepatunya yang masih dipakai dengan plastik. Kakinya aman, sepatunya aman. Hanya ada satu hal yang membuat ia dan Ayah sedikit heran. Hampir setiap kali ia memakai sepatu baru itu, hujan turun. Kadang deras, kadang tidak terlalu deras, kadang hanya berupa gerimis kecil. Sampai pada suatu hari entah siapa yang mencetuskan, ia dan Ayah sepakat menyebut sepatu itu sebagai sepatu pemanggil hujan.
***

Sepatu pemanggil hujan. Nama yang unik, tapi cukup menggambarkan kenyataan yang ada. Sejauh yang ia ingat, hanya beberapa kali hujan tak turun saat ia memakai sepatu ajaib tersebut. Hanya saja, ada satu kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
Suatu hari, kepala sekolah memasuki kelasnya. Ia disuruh pulang lebih dulu. Bahkan kepala sekolah sendiri yang mengantarnya. Sesampai di rumah, tahulah ia bahwa Ayah telah tewas. Kecelakaan, begitu ujar kepala sekolah berdasar informasi yang didapat.
Sebuah bus yang ugal-ugalan dari arah berlawanan memaksa untuk mendahului sebuah angkot. Bus tersebut sedikit kehilangan kendali dan mengambil jalur yang sedang dipakai Ayah. Motor Ayah tersenggol dan oleng. Baik Ayah maupun penumpang yang sedang dibonceng Ayah terjatuh. Naas, mobil dari arah belakang tak sempat mengerem. Ayah dan penumpang tergilas oleh mobil itu. Penumpang itu setengah tewas, sementara Ayah sepenuhnya tewas.
Ia tidak menangis mendengar penjelasan kepala sekolah. Sebab dilihatnya Ayah tersenyum, seperti biasa. Ia ingin seperti Ayah yang tak menunjukkan kesedihannya di depan orang lain. Air matanya sama sekali tidak keluar walaupun hatinya terasa ngilu. Ada sesuatu yang tiba-tiba kosong di sana. Seolah sesuatu telah diambil dengan paksa, meninggalkan lubang yang menganga.
Sementara itu tetangga-tetangga mulai berdatangan. Ia memandang orang-orang yang datang itu dengan tatapan hampa. Dari pelajaran agama ia tahu bahwa selanjutnya orang-orang ini akan memandikan, menyolatkan, lalu menguburkan Ayah. Ia tak mau itu. Ia tak mau Ayah dibawa pergi.
Otaknya yang masih berpikir dengan sederhana mencari cara agar orang-orang itu tak jadi membawa Ayah pergi. Sungguh ia tak mau itu terjadi. Dan yang melintas di otaknya adalah hujan. Jika hujan, orang-orang akan bubar. Jika hujan, orang-orang tidak akan jadi menguburkan Ayah. Jika hujan, Ayah akan tetap ada di rumah.
Maka ia berlari ke belakang rumah, tempat sepatu itu dijemur. Sepatu terbaik yang pernah ia miliki. Kemarin, kantung plastik yang biasa ia gunakan untuk membungkus sepatu saat hujan telah sobek. Sehingga air tetap merembet masuk dengan lancang dan membasahi sepatunya.
Sepatu itu masih basah tentu saja, tapi tetap dipakainya juga. Sambil melihat ke langit, ia berharap hujan akan segera turun dan orang-orang di rumahnya akan segera bubar. Tapi sepatu yang masih basah itu ternyata tidak ampuh. Hari itu hujan tak pernah turun. Orang-orang tetap memandikan, menyolatkan, lalu membawa ayahnya ke kuburan. Orang-orang menanam Ayah di dalam tanah.
Sampai saat nisan bertulis nama Ayah dipancangkan, langit tetap cerah. Ia tengadah. Bertanya dalam hati kenapa hujan hari itu enggah singgah.
“Nak, dengan sepatu itu kau terlihat gagah. Dan kau memang harus gagah,” begitu kata kepala sekolah.
Ia diam. Menunduk. Menghadapkan wajah ke arah sepatunya yang basah. Ya, sepatu terbaik miliknya sedang basah. Begitupun matanya.
***

ART.
Banyuasin, 2 September 2016

Senin, 08 Agustus 2016

Warung Bubur di Dekat Jembatan Layang



Cerpen ini dimuat di Koran Pantura edisi 8 Agustus 2016. 
 
Saat masih duduk di bangku SMA, hanya ada satu warung yang menurutku menjajakan bubur yang paling enak di Palembang. Warung kaki lima yang hanya buka selama tiga jam dalam sehari: sejak sore sekitar jam lima dan tutup jam delapan malam. Berdasarkan informasi di spanduk hijau kecil yang sudah kusam dan ditempel di depan warung, aku tahu kalau itu bubur khas Madura. Warung itu tak punya nama, tapi selalu ramai.
Jika kau datang ke sana, penjualnya akan bertanya, “Kacang ijo, ketan hitam, atau campur?” sebab memang hanya tiga itu pilihan yang ada. Biasanya yang disebut terakhir yang kupesan. Walau tak bisa disebut pelanggan tetap, tapi aku suka makan di warung itu.
Letaknya di simpang empat Polda, begitu orang-orang Palembang menyebut perempatan tersebut. Tepatnya di seberang sebuah tempat kursus Bahasa Inggris yang cukup terkenal di kota pempek itu.
Sebenarnya tidak ada masalah serius dengan warung itu. Orang-orang tidak akan peduli dengan atapnya yang hanya berupa terpal, atau tempat duduk yang tak begitu nyaman, atau hal-hal kecil lain yang mungkin dalam kondisi normal akan mengganggu. Sungguh orang tak akan terlalu peduli gangguan-gangguan tersebut karena rasa buburnya yang entah bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas enak. Titik.
Hanya saja, ketika Pemkot Palembang memutuskan untuk membangun sebuah jembatan layang di perempatan itu, masalah datang.
***

Proses pembangunan jembatan layang itu memakan waktu dua tahun. Selama dua tahun itu masyarakat Palembang disiksa dengan kemacetan luar biasa karena ruas jalan yang bisa digunakan hanya tinggal setengah dari biasanya. Sebuah ironi, solusi atas sebuah masalah adalah dengan membuat sumber masalah baru.
Selama dua tahun itu, banyak hal berubah. Kios-kios kaki lima yang biasanya menghiasi pinggir-pinggir perempatan Polda direlokasi. Relokasi. Aih. Kata itu terlalu berpendidikan. Seolah bermaksud menunjukkan derajat hidup yang lebih tinggi, meskipun digunakan untuk membunuh sumber penghidupan orang lain dan membenamkannya ke derajat terendah.
Selama dua tahun itu pula aku mencari tempat warung itu mengungsi. Tidak benar-benar mencari. Hanya saja, kalau sedang lewat di sekitaran sana, aku pasti mencari spanduk hijau kecil yang sudah kusam khas warung itu. Tidak ketemu.
Baru dua tahun setelah jembatan layang itu selesai, saat aku sedang mengemudikan motor secara santai dan planga-plongo, secara tak sengaja aku melihat sekelebat spanduk hijau kecil kusam yang tak asing. Hanya sekelebat, tapi cukup untuk membuatku menghentikan laju motor. Dan benar saja, saat kuhampiri, itulah warung bubur paling enak di Palembang yang pernah kutahu.
Begitu selesai memarkirkan motor, ada sedikit perasaan yang menggumpal di dada. Mungkin campuran antara rindu dan sedih. Rindu dengan makanan enak yang sudah tak kukonsumsi selama empat tahun lebih. Sedih melihat kondisi warung itu sekarang. Semakin lapuk dan menua. Yang paling parah, sebagaimana makhluk-makhluk tua lain di dunia ini, ia mulai ditinggalkan dalam kesendirian. Ya. Hari itu, juga mungkin di hari-hari lain yang telah lewat sejak empat tahun belakangan, warung itu sepi. Hanya aku yang jadi pembeli.
Apakah empat tahun bisa mengubah begitu banyak hal? Aku sempat tercenung sesaat. Bercermin pada diri sendiri. Rasanya, empat tahun yang melaju pada diriku tak membawa perubahan yang terlalu berarti. Hanya mengubah statusku dari anak SMA menjadi mahasiswa: isinya sama, sama-sama menjadi budak kurikulum. Pemikiran seperti itu membuatku jadi ragu, apakah benar tempat ini adalah warung bubur yang kumaksud. Kenapa bisa berubah drastis jadi sesepi ini? Sampai akhirnya sang penjual mendatangiku dan bertanya, “Kacang ijo, ketan hitam, atau campur?”
***

Warung itu sebenarnya bergeser tak terlalu jauh dari tempatnya semula. Mungkin sekitar tiga ratus meter. Namun, tempatnya yang sekarang bukan lagi di pinggir jalan yang mudah dilihat oleh siapapun. Ia tersempil, seperti upil di lorong hidung jalanan kota. Wajar saja empat tahun belakangan aku tak berhasil menemukannya.
Sejak itu aku baru tahu tiga ratus meter ditambah empat tahun benar-benar bisa mengubah nasib sebuah warung. Tapi jarak tersebut tidak terlalu mengubah wajah perempatan Polda. Memang sekarang ada jembatan layang yang melintang dari arah Palimo ke arah Taman Makam Pahlawan, namun kemacetan masih sering terjadi di perempatan itu.
Media tidak pernah mengangkat kegagalan proyek jembatan layang tersebut mengatasi kemacetan, tapi seluruh warga tahu sebabnya: jembatan layang itu terlalu pendek sehingga beberapa titik yang sebenarnya jadi sumber kemacetan tidak mendapat solusi. Jika persoalan besar seperti itu saja tidak disinggung media, apalagi soal sepele seperti warung bubur kaki lima. Namun, bagi mahasiswa sepertiku justru hal sepele itu adalah hal penting.
Maka sejak hari itu, aku kembali menjadi orang yang tak bisa disebut pelanggan tetap tapi suka makan di sana. Bedanya, setiap kali aku ke sana, warung itu tak pernah ramai. Paling banyak hanya empat orang termasuk aku sendiri. Hanya ada suatu kali saat aku tengah makan, tiba-tiba warung itu menjadi ramai. Sayangnya bukan karena pelanggan, melainkan karena ada orang yang berkelahi di dekat situ.
Awalnya aku tak begitu acuh dengan perkelahian semacam itu. Selama hidup di Palembang, macam-macam perkelahian sudah kusaksikan. Dari yang satu lawan satu sampai yang satu lawan entah berapa. Dari yang karena persoalan pinjam korek api, sampai orang mencolek istri. Semua yang pernah kusaksikan itu menyebabkan pihak yang berkelahi mengucurkan darah entah dari mana saja. Jadi, ketika melihat dua orang yang hanya saling tunjuk sambil teriak-teriak dan dikerubungi orang, itu belum masuk kategori berkelahi.
Sampai akhirnya salah satu dari pihak yang berseteru itu mengambil sebilah kayu dan dengan cepat mengayunkannya ke kepala musuhnya. Bunyi benturan kayu dan kepala itu cukup besar. Darah segar mengucur dari kepala itu. Orang yang dipukul sempoyongan sebentar, tapi kemudian melancarkan tinju ke wajah pemukulnya. Kemudian bunyi “buk” terdengar berkali-kali. Kerumunan tadi perlahan bubar. Tak ingin kena getah.
Aku pun terpaksa menghentikan makan bubur, membayar, lalu berjalan ke tempat motorku terparkir. Sepertinya pemilik warung bubur pun bergegas merapikan dagangannya. Ketika akhirnya aku tancap gas, sempat terlihat olehku bahwa orang-orang tidak ada lagi yang berkerumun. Sementara dua orang yang berkelahi sudah tersuruk-suruk di dalam got yang kering, masih adu jotos. warung itu beranjak tutup.
***

Sejak menyaksikan perkelahian itu, aku jadi agak jarang datang ke warung bubur. Bukan hanya karena takut akan ada perkelahian-perkelahian berikutnya, tapi juga karena kesibukanku sebagai kuda pacu kurikulum. Memasuki semester akhir, aku dipecut untuk mengejar wisuda, lalu mengikuti pacuan berikutnya: kuliah lanjutan.
Dua tahun aku harus mengembara ke Yogyakarta. Selama itu tak terpikir sedikit pun tentang warung bubur kenangan. Sebab aku harus fokus melatih diri agar tak kalah cepat dengan kuda pacu yang lain. Kabarnya dunia kerja butuh kuda-kuda yang cepat, yang lambat bakal kena sikat.
Setelah menyelesaikan kuliah lanjutan dan pulang ke tanah asal, aku mendapati banyak perubahan di kota kelahiran. Mall bertambah. Jalan dilebarkan. Jembatan layang sudah bertambah. Bahkan ada under pass. Anehnya, macet tetap terjadi di mana-mana. Ketika hujan, banjir merajalela. Yang paling penting bagiku, warung bubur itu menghilang.
Aku baru menyadari hal itu ketika mendatangi tempat yang dulunya lokasi berjualan warung itu. Namun aku harus pulang dengan kecewa karena tempat itu sudah jadi lahan kosong. Tak ada tanda-tanda orang berjualan. Beberapa minggu kemudian aku datang untuk kedua kali, tempat itu tetap kosong. Butuh sampai lima kali sebelum akhirnya kau yakin tak ada lagi yang berjualan di tempat itu.
Memang, tidak ada yang terganggu dengan hilangnya warung bubur yang menurutku paling enak di Palembang itu. Bahkan aku sendiri pun masih bisa makan enak tiga kali dalam sehari. Tapi rasanya ada yang kurang dari kota ini setelah warung itu lenyap.
Sekarang setiap kali lewat jembatang layang di perempatan Polda, aku menyempatkan diri untuk melirik sebentar ke tempat yang dulu ada warung buburnya itu. Selalu kosong. Sementara perempatan itu semakin ramai. Semakin macet. Jembatan layang itu sendiri tidak begitu jelas nasibnya setelah proyek pembangunan LRT berjalan. Proyek baru lagi dari pemerintah yang katanya akan menuntaskan kemacetan. Masalahnya proyek kereta ringan itu juga akan melewati simpang Polda. Kuharap proyek itu tidak membuat jembatan layang dirusak. Karena aku butuh monumen yang mengingatkanku dulu pernah ada sebuah warung bubur paling enak di Palembang, dulu, sebelum jembatan ini ada.
***
ART.
Palembang, 17 Juni 2016