Senin, 08 Agustus 2016

Warung Bubur di Dekat Jembatan Layang



Cerpen ini dimuat di Koran Pantura edisi 8 Agustus 2016. 
 
Saat masih duduk di bangku SMA, hanya ada satu warung yang menurutku menjajakan bubur yang paling enak di Palembang. Warung kaki lima yang hanya buka selama tiga jam dalam sehari: sejak sore sekitar jam lima dan tutup jam delapan malam. Berdasarkan informasi di spanduk hijau kecil yang sudah kusam dan ditempel di depan warung, aku tahu kalau itu bubur khas Madura. Warung itu tak punya nama, tapi selalu ramai.
Jika kau datang ke sana, penjualnya akan bertanya, “Kacang ijo, ketan hitam, atau campur?” sebab memang hanya tiga itu pilihan yang ada. Biasanya yang disebut terakhir yang kupesan. Walau tak bisa disebut pelanggan tetap, tapi aku suka makan di warung itu.
Letaknya di simpang empat Polda, begitu orang-orang Palembang menyebut perempatan tersebut. Tepatnya di seberang sebuah tempat kursus Bahasa Inggris yang cukup terkenal di kota pempek itu.
Sebenarnya tidak ada masalah serius dengan warung itu. Orang-orang tidak akan peduli dengan atapnya yang hanya berupa terpal, atau tempat duduk yang tak begitu nyaman, atau hal-hal kecil lain yang mungkin dalam kondisi normal akan mengganggu. Sungguh orang tak akan terlalu peduli gangguan-gangguan tersebut karena rasa buburnya yang entah bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas enak. Titik.
Hanya saja, ketika Pemkot Palembang memutuskan untuk membangun sebuah jembatan layang di perempatan itu, masalah datang.
***

Proses pembangunan jembatan layang itu memakan waktu dua tahun. Selama dua tahun itu masyarakat Palembang disiksa dengan kemacetan luar biasa karena ruas jalan yang bisa digunakan hanya tinggal setengah dari biasanya. Sebuah ironi, solusi atas sebuah masalah adalah dengan membuat sumber masalah baru.
Selama dua tahun itu, banyak hal berubah. Kios-kios kaki lima yang biasanya menghiasi pinggir-pinggir perempatan Polda direlokasi. Relokasi. Aih. Kata itu terlalu berpendidikan. Seolah bermaksud menunjukkan derajat hidup yang lebih tinggi, meskipun digunakan untuk membunuh sumber penghidupan orang lain dan membenamkannya ke derajat terendah.
Selama dua tahun itu pula aku mencari tempat warung itu mengungsi. Tidak benar-benar mencari. Hanya saja, kalau sedang lewat di sekitaran sana, aku pasti mencari spanduk hijau kecil yang sudah kusam khas warung itu. Tidak ketemu.
Baru dua tahun setelah jembatan layang itu selesai, saat aku sedang mengemudikan motor secara santai dan planga-plongo, secara tak sengaja aku melihat sekelebat spanduk hijau kecil kusam yang tak asing. Hanya sekelebat, tapi cukup untuk membuatku menghentikan laju motor. Dan benar saja, saat kuhampiri, itulah warung bubur paling enak di Palembang yang pernah kutahu.
Begitu selesai memarkirkan motor, ada sedikit perasaan yang menggumpal di dada. Mungkin campuran antara rindu dan sedih. Rindu dengan makanan enak yang sudah tak kukonsumsi selama empat tahun lebih. Sedih melihat kondisi warung itu sekarang. Semakin lapuk dan menua. Yang paling parah, sebagaimana makhluk-makhluk tua lain di dunia ini, ia mulai ditinggalkan dalam kesendirian. Ya. Hari itu, juga mungkin di hari-hari lain yang telah lewat sejak empat tahun belakangan, warung itu sepi. Hanya aku yang jadi pembeli.
Apakah empat tahun bisa mengubah begitu banyak hal? Aku sempat tercenung sesaat. Bercermin pada diri sendiri. Rasanya, empat tahun yang melaju pada diriku tak membawa perubahan yang terlalu berarti. Hanya mengubah statusku dari anak SMA menjadi mahasiswa: isinya sama, sama-sama menjadi budak kurikulum. Pemikiran seperti itu membuatku jadi ragu, apakah benar tempat ini adalah warung bubur yang kumaksud. Kenapa bisa berubah drastis jadi sesepi ini? Sampai akhirnya sang penjual mendatangiku dan bertanya, “Kacang ijo, ketan hitam, atau campur?”
***

Warung itu sebenarnya bergeser tak terlalu jauh dari tempatnya semula. Mungkin sekitar tiga ratus meter. Namun, tempatnya yang sekarang bukan lagi di pinggir jalan yang mudah dilihat oleh siapapun. Ia tersempil, seperti upil di lorong hidung jalanan kota. Wajar saja empat tahun belakangan aku tak berhasil menemukannya.
Sejak itu aku baru tahu tiga ratus meter ditambah empat tahun benar-benar bisa mengubah nasib sebuah warung. Tapi jarak tersebut tidak terlalu mengubah wajah perempatan Polda. Memang sekarang ada jembatan layang yang melintang dari arah Palimo ke arah Taman Makam Pahlawan, namun kemacetan masih sering terjadi di perempatan itu.
Media tidak pernah mengangkat kegagalan proyek jembatan layang tersebut mengatasi kemacetan, tapi seluruh warga tahu sebabnya: jembatan layang itu terlalu pendek sehingga beberapa titik yang sebenarnya jadi sumber kemacetan tidak mendapat solusi. Jika persoalan besar seperti itu saja tidak disinggung media, apalagi soal sepele seperti warung bubur kaki lima. Namun, bagi mahasiswa sepertiku justru hal sepele itu adalah hal penting.
Maka sejak hari itu, aku kembali menjadi orang yang tak bisa disebut pelanggan tetap tapi suka makan di sana. Bedanya, setiap kali aku ke sana, warung itu tak pernah ramai. Paling banyak hanya empat orang termasuk aku sendiri. Hanya ada suatu kali saat aku tengah makan, tiba-tiba warung itu menjadi ramai. Sayangnya bukan karena pelanggan, melainkan karena ada orang yang berkelahi di dekat situ.
Awalnya aku tak begitu acuh dengan perkelahian semacam itu. Selama hidup di Palembang, macam-macam perkelahian sudah kusaksikan. Dari yang satu lawan satu sampai yang satu lawan entah berapa. Dari yang karena persoalan pinjam korek api, sampai orang mencolek istri. Semua yang pernah kusaksikan itu menyebabkan pihak yang berkelahi mengucurkan darah entah dari mana saja. Jadi, ketika melihat dua orang yang hanya saling tunjuk sambil teriak-teriak dan dikerubungi orang, itu belum masuk kategori berkelahi.
Sampai akhirnya salah satu dari pihak yang berseteru itu mengambil sebilah kayu dan dengan cepat mengayunkannya ke kepala musuhnya. Bunyi benturan kayu dan kepala itu cukup besar. Darah segar mengucur dari kepala itu. Orang yang dipukul sempoyongan sebentar, tapi kemudian melancarkan tinju ke wajah pemukulnya. Kemudian bunyi “buk” terdengar berkali-kali. Kerumunan tadi perlahan bubar. Tak ingin kena getah.
Aku pun terpaksa menghentikan makan bubur, membayar, lalu berjalan ke tempat motorku terparkir. Sepertinya pemilik warung bubur pun bergegas merapikan dagangannya. Ketika akhirnya aku tancap gas, sempat terlihat olehku bahwa orang-orang tidak ada lagi yang berkerumun. Sementara dua orang yang berkelahi sudah tersuruk-suruk di dalam got yang kering, masih adu jotos. warung itu beranjak tutup.
***

Sejak menyaksikan perkelahian itu, aku jadi agak jarang datang ke warung bubur. Bukan hanya karena takut akan ada perkelahian-perkelahian berikutnya, tapi juga karena kesibukanku sebagai kuda pacu kurikulum. Memasuki semester akhir, aku dipecut untuk mengejar wisuda, lalu mengikuti pacuan berikutnya: kuliah lanjutan.
Dua tahun aku harus mengembara ke Yogyakarta. Selama itu tak terpikir sedikit pun tentang warung bubur kenangan. Sebab aku harus fokus melatih diri agar tak kalah cepat dengan kuda pacu yang lain. Kabarnya dunia kerja butuh kuda-kuda yang cepat, yang lambat bakal kena sikat.
Setelah menyelesaikan kuliah lanjutan dan pulang ke tanah asal, aku mendapati banyak perubahan di kota kelahiran. Mall bertambah. Jalan dilebarkan. Jembatan layang sudah bertambah. Bahkan ada under pass. Anehnya, macet tetap terjadi di mana-mana. Ketika hujan, banjir merajalela. Yang paling penting bagiku, warung bubur itu menghilang.
Aku baru menyadari hal itu ketika mendatangi tempat yang dulunya lokasi berjualan warung itu. Namun aku harus pulang dengan kecewa karena tempat itu sudah jadi lahan kosong. Tak ada tanda-tanda orang berjualan. Beberapa minggu kemudian aku datang untuk kedua kali, tempat itu tetap kosong. Butuh sampai lima kali sebelum akhirnya kau yakin tak ada lagi yang berjualan di tempat itu.
Memang, tidak ada yang terganggu dengan hilangnya warung bubur yang menurutku paling enak di Palembang itu. Bahkan aku sendiri pun masih bisa makan enak tiga kali dalam sehari. Tapi rasanya ada yang kurang dari kota ini setelah warung itu lenyap.
Sekarang setiap kali lewat jembatang layang di perempatan Polda, aku menyempatkan diri untuk melirik sebentar ke tempat yang dulu ada warung buburnya itu. Selalu kosong. Sementara perempatan itu semakin ramai. Semakin macet. Jembatan layang itu sendiri tidak begitu jelas nasibnya setelah proyek pembangunan LRT berjalan. Proyek baru lagi dari pemerintah yang katanya akan menuntaskan kemacetan. Masalahnya proyek kereta ringan itu juga akan melewati simpang Polda. Kuharap proyek itu tidak membuat jembatan layang dirusak. Karena aku butuh monumen yang mengingatkanku dulu pernah ada sebuah warung bubur paling enak di Palembang, dulu, sebelum jembatan ini ada.
***
ART.
Palembang, 17 Juni 2016

Selasa, 28 Juni 2016

Sebuah Bisikan Langsung


*cerpen ini sempat dimuat di Joglo Semar pada 26 Juni 2016. Versi cetaknya mengalami beberapa perubahan. Yang saya unggah di sini adalah versi aslinya. Terima kasih. 

Beberapa hari sebelum keberangkatanku, tiga tahun lalu, aku tahu setiap malam kau habiskan sepertiga malammu untuk bersujud meminta keselamatanku agar kelak di tanah seberang aku selalu selamat tanpa kurang suatu apapun meskipun tidak ada kau di dekatku yang selalu bisa memastikan makanan yang akan memenuhi lambungku atau yang menjagaku ketika tubuhku yang ringkih ini lagi-lagi terserang penyakit yang entah apa sebab bagimu seberapapun bertambah umurku, aku tetaplah anak kecil yang terus-menerus perlu kauperhatikan siang dan malam, karena nyatanya memang hanya kau yang paling mengerti apapun kondisiku.
Aku tahu itu karena setiap pagi ketika aku mengerjapkan mata untuk menyambut awal percikan cahaya mentari, selalu ada sisa aliran air yang tak sempat kau seka dari sudut matamu, hal yang kembali kulihat ketika akhirnya hari keberangkatanku tiba, tepatnya ketika aku mencium tanganmu untuk meminta restu, memang kau tak meraung-raung bahkan hanya berbalik sebentar sebelum diam dan mencetakkan senyum di bibir, tapi di sudut matamu ada titik-titik air yang menggembung tertahan serta sisa alirannya yang mengakrabi mataku.
Bus malam yang membawa tubuh menjauh dari engkau justru semakin mendekatkan bayangmu pada mata dan dengan seenaknya membangkitkan kenangan-kenangan akan semua kesalahan yang pernah kuperbuat sehingga mungkin tak jarang membuat kau menangis sedih tanpa aku ketahui tapi nyatanya tak sedikit pun pernah berkurang rasa sayangmu juga banggamu yang kau tunjukkan, menimbulkan penyesalan tersendiri kenapa tidak kusadari dari dulu dan baru sekarang terpikirkan setelah aku di perjalanan untuk menjauh yang entah kapan baru akan kembali, atau bahkan mungkin saja tak bisa kembali lagi sama sekali, sekaligus juga perasaan ini seolah menegaskan bahwa memang perjalanan untuk berpisah bukan hanya melelahkan raga tapi juga membuat hati menjadi rawan sebab banyak yang tak pulang setelah berjalan dan lebih banyak lagi yang tak benar-benar pulang setelah melalui perjalanan yang panjang dan pulang kemudian menjadi sesuatu yang membingungkan untuk dijelaskan perasaannya.
Sedikit beruntung peralatan masa kini sudah sedemikian maju sehingga penyampaian kabar bisa terjadi dengan begitu lancar dan cepat sebagaimana aku bisa menghubungimu atau engkau yang menghubungi aku dengan cukup sering dan berkelanjutan sehingga kerinduan yang muncul akibat jarak yang entah berapa puluh atau mungkin ratus ribu kilometer bisa sedikit terobati lewat kabar-kabar sederhana misalnya tentang kondisi atap yang bocor, kemacetan di jalan muka rumah, asap yang menyesaki napas,  rambutan di halaman yang mulai berbuah, atau keponakan-keponakanku yang semakin hari semakin banyak saja tingkah dan akalnya selalu kau sampaikan dengan renyah dan bersemangat lalu lewat cerita-cerita itu aku mendapatkan kabar tersurat bahwa kau di usia yang sudah sedemikian rawan masih tetap sehat dan juga memiliki kesenangan tersendiri dan itu lebih dari sekadar melegakan karena aku di sini juga bergaul dengan orang-orang baru yang juga baik dan menerimaku di lingkungan mereka menjadikan kota asing ini seperti rumah berikutnya untukku.
Sesekali ada juga hal yang membuat rinduku akan rumah tidak tertahan misalnya adalah ketika hari raya tiba di kota ini, bukan saat semua orang bersujud serentak di lapangan, pun bukan karena ceramah dari khotib yang selalu terdengar menawan, tapi setelah itu, setelah lapangan kembali kosong serta tak ada saf-saf yang menghadap ke barat, di kota yang mayoritas penduduknya adalah perantau ini, tempat makanlah yang membuat hatiku teriris di hari raya sebab di tempat makan yang biasanya penuh oleh anak-anak rantau kini justru dipenuhi oleh keluarga mudik yang berkumpul lengkap dengan derai tawa dan canda dan semua itu sungguh lebih dari cukup untuk menerbitkan kecemburuanku sebab aku hanya akan makan sendiri di pojokan, secara aneh aku justru membenci telepon yang datang dari rumah di saat seperti ini karena aku akan mendengar bahwa semua anggota keluarga datang dan berkumpul mencium tanganmu dan memohon maaf secara langsung darimu sementara aku setelah melihat semua sumber cemburu di rumah makan itu kembali pada kesendirianku di kamar kontrakan menunggu untuk digerogoti sepi.
Selain itu, selain di hari raya, aku menikmati telepon yang datang darimu yang setelah beberapa tahun bisa kuhafal urutan pecakapan yang akan terjadi di antara kita, yang anehnya ketika biasanya rutinitas menjadi sesuatu yang begitu menjemukan bagiku, untuk yang satu ini tidak berlaku, mungkin karena ada janji pada diri sendiri yang kutanamkan begitu kuat setiap kali mendengar suaramu di seberang sana agar aku segera menyelesaikan tugas-tugas di sini sambil menabung rindu dan mengingat bahwa kelak tak lama lagi jika tugasku selesai suaramu akan kudengar secara langsung tanpa perantara elektronik yang acap kali menyebalkan karena menimbulkan suara berisik atau terputus-putus sebab sinyal memang jadi musuh tersendiri bagi orang-orang yang tinggal di pinggiran kota seperti tempatmu berada sekarang.
Bisa jadi, sebagaimana teman-temanku di sini katakan, aku tidak terlalu peka sebab butuh sampai satu minggu bagiku untuk menyadari bahwa belakangan suaramu di telepon menjadi terlalu jernih dan jelas tanpa bunyi kresek-kresek seperti biasanya dan juga suasananya jadi terlalu hening tanpa suara keponakan-keponakanku, pasukan power ranger katamu, yang hampir pasti sesekali menyela ketika kita bertukar kabar, aku dengan bodohnya menikmati saja semua kelancaran yang tidak biasa itu sampai akhirnya aku menyadari suaramu terdengar agak serak yang tentu kususul dengan menanyakan kondisimu, jawabanmu tentu kau baik saja, sebuah jawaban yang kali ini tak aku percaya begitu saja.
Aku harus menghubungi seorang teman dekat di kampung halaman yang aku percaya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kondisimu, perlu kudesak dia berulang-ulang dan mengatasnamakan pertemanan kami yang sudah sepuluh tahun lebih agar ia akhirnya buka mulut dan menyatakan bahwa dugaanku benar, bahwa kau sekarang sedang dirawat di rumah sakit di kota, itulah kenapa suaramu di telepon tak lagi terganggu oleh keponakan-keponakanku juga sinyal yang tiba-tiba menjadi begitu bagus dan tak lagi menimbulkan bunyi kresek-kresek, lalu temanku itu juga menambahkan bahwa sudah sepuluh hari lebih kau terbaring di sana dengan diagnosis yang disederhanakan menjadi ‘penyakit orang tua’ ditambah sebuah pesan darimu pada temanku itu agar menyembunyikan apa yang sesungguhnya terjadi agar aku di sini tak terganggu dalam konsentrasi menyelesaikan tugas-tugasku.
Seketika itu juga kuraih telepon, dengan suara bergetar kutanyakan lagi kabarmu yang sekali lagi kau jawab dengan ‘baik tanpa kurang suatu apapun’ dan dilanjutkan dengan ‘kenapa suaramu bergetar? Kau sehat kan? Sekarang musim pancaroba jaga kondisimu agar tidak sakit,’ ingin rasanya aku mencerocos dan bilang bahwa aku sehat dan aku tahu bahwa justru kaulah yang sakit serta tak perlu menutupi sakitmu itu dengan berpura-pura kuat, aku bukan lagi anak kecil yang harus dibohongi agar tidak terluka perasaannya, tapi kemudian aku tersadar bahwa kau telah berjuang begitu keras agar aku tak cemas karena itu sudah baiknya aku menghargai usahamu dan ikuti permainanmu dengan menjawab “iya” sebelum mematikan telepon.
Hari-hari berikutnya suaramu di telepon semakin serak meskipun berdasar informasi dari temanku itu kau sudah keluar dari rumah sakit dan hanya menjalani rawat jalan yang aku terjemahkan sebagai doa agar kau kembali sehat sekaligus juga menjadi cambuk agar tugas ini cepat selesai sebab aku sungguh ingin bertemu dan bila pulang nanti kau masih juga sakit izinkan aku yang merawatmu walaupun tak akan setelaten kau merawatku ketika aku sakit tak sesabar kau juga tak bisa memberikan pandangan meneduhkan yang selalu kau berikan.
Tiga hari lalu, ketika akhirnya aku pulang sebagaimana aku duga kau terbaring di sana tanpa memberikan aku kesempatan untuk menceritakan semua kisahku di tanah rantau dan hal-hal hebat yang telah kulakukan tentang pencapaian-pencapaian yang semua berdasarkan rasa inginku untuk membanggakanmu, kau menyambutku dengan sisa aliran air yang tak sempat kau seka dari sudut matamu, ditambah sebuah senyuman, yang seolah ingin mengatakan bahwa kau baik-baik saja dan tak perlu bagiku untuk mencemaskanmu, dan benar kali ini aku tak mencemaskanmu sebab aku selalu bisa mendoakanmu dan membiarkan sisa aliran air mataku tak kuseka, tapi aku merindukan suara bisikanmu di telingaku yang kau perdengarkan secara langsung untuk setidaknya membuatku merasakan bahwa aku benar-benar telah pulang.
***

ART.
Yogyakarta, 16 Oktober 2015

Selasa, 17 Mei 2016

Dongeng Orang Gila

Cerpen ini dimuat di Harian Joglo Semar pada hari Minggu, 15 Mei 2016



“Hahaha,” tawaku begitu keras sampai bahuku terguncang-guncang. Lalu saat tawa itu menjadi begitu nyaring, dengan sangat tiba-tiba, kuhentikan tawaku.
Aku selalu berpikir bahwa sebenarnya aku gila. Seratus persen, aku sangat yakin bahwa aku benar-benar gila. Aku gila maka aku ada. Ketika aku tidak gila, maka aku tidak ada. Karena faktanya adalah aku ada di sini sekarang, berarti aku ada. Sebab aku ada, maka aku gila. Masalahnya adalah seharusnya orang gila tidak menyadari bahwa dia itu gila. Dan itu menimbulkan sebuah masalah besar bagiku. Ketika aku menyadari dengan sepenuh hati bahwa aku gila, apakah aku masih gila? Atau jangan-jangan aku sudah melampaui kegilaan itu sendiri? Gila!
Dengan sangat jujur aku katakan padamu bahwa sebenarnya aku sendiri lupa kenapa sampai bisa menjadi gila seperti ini. Yah. Namanya juga orang gila. Ingatannya tidak begitu bagus. Kalaupun ada yang diingat, kemungkinan sih hal-hal tertentu saja yang sangat berkesan. Hingga kegilaan pun tak sanggup menghapus memori itu. Begitu pula aku. Begini-begini, aku juga punya memori tertentu yang kadang-kadang suka muncul sendiri.
Misalnya, aku ingat siapa istriku. Mau tahu? Namanya Mimi. Wajahnya adalah hasil karya tangan Tuhan yang paling indah. Sejak pertama kali melihatnya aku tak pernah ingin berpaling lagi. Tak perlu kuceritakan detil keindahan itu di sini karena kemungkinan besar hanya akan membuatku birahi. Tapi aku suka sekali kalau birahi karena dia. Uhh. Tak tahan aku. Apa lagi kalau membayangkan dia berada di posisi atas. Biasanya kami bercinta tidak di ranjang, tapi di sofa yang ada di kamar. Bisa lebih liar bereksplorasi kalau di sana.
Oke. Sudah! Hentikan pembicaraan soal istriku! Ganti topik saja. Mmm.. Apa ya? Ah. Ya. Soal duit saja. Itu persoalan yang paling kusuka. Bahkan sebelum aku menyadari aku ini gila, dari dulu teman-temanku bilang kalau aku ini gila harta. Hahaha. Hebat kan. Aku ini sudah gila duluan sebelum benar-benar gila. Ya tapi kan gila harta itu tidak salah. Asal jangan tergila-gila. Cukuplah seperti aku. Gilanya itu di kadar yang pas saja. Jangan berlebihan. Aku juga tidak berlebihan kok dulu itu gila hartanya. Pas-pasan saja. Pas mau beli mobil, duitnya cukup. Pas mau beli mobil lagi, duitnya masih cukup. Pas mau beli mobil lagi, duitnya masih sisa banyak. Hehehe. Benar itu. Tidak perlu harta berlebih-lebih sampe tumpeh-tumpeh. Kalau tumpeh-tumpeh nanti banyak yang nadahin tumpahan itu, kan kita sendiri yang rugi. Dan yang gila harta pastilah pantang berdekat-dekatan dengan kata ‘rugi’.
Ya begitulah. Jadi intinya aku ini sederhana dalam kegilaanku akan harta. Rumah cuma tiga, salah satunya di bilangan segitiga emas Jakarta. Villa juga hanya ada dua. Mobil pun aku cuma punya lima. Itu pun hanya dua merek: Lamborghini dan Ferrari. Bukan limosin. Sederhana kan? Hahahahahaha.
***

“Hahahaha,” aku tertawa lepas. Orang itu menyalami tanganku dengan begitu erat. Senyumnya mengembang mengimbangi tawaku.
“Seberapa yakin kau dengan rencanamu itu?” tanyaku.
“Tak kurang dari seratus persen, Pak.”
“Kau melebih-lebihkan. Terlalu yakin. Itu tak bagus. Orang yang terlalu percaya diri sering gagal oleh kesalahan sendiri.”
“Tidak, Pak. Angka seratus persen itu bukan angka yang berlebihan. Itu pas saja. Tapi jelas untuk mencapainya bukan tanpa usaha. Kalau usaha kita tidak dijalankan dengan maksimal, ya rencana itu tinggal rencana.”
Aku mengerti maksud lelaki yang ada di hadapanku ini. Apalagi setelah ia menambahkan senyum di ujung kalimatnya. Maka kukeluarkan selembar cek yang dari tadi sudah kusiapkan. Tangan orang itu langsung terjulur menerimanya. Sempat matanya sedikit terbelalak dengan nominal yang sudah kutuliskan.
“Kenapa?” kataku, “Kurang?”
Orang itu menggeleng, “Ini cukup, Pak.”
“Asal kau yakin benar-benar seratus persen.”
“Seratus persen, Pak. Tak meleset lagi.”
Kembali tawaku membahana. Lalu kuperintahkan dia untuk segera pergi dan mengusahakan rencananya itu. Ia segera saja pamit, “Sampai jumpa lagi, Pak Walikota.” Dengan sengaja ia memberi tekanan pada dua kata terakhir di kalimatnya itu.
Sekali lagi, aku tertawa lepas.
***

“Hahahaha,” kudengar suara tawaku sendiri. Tawa yang lepas dan penuh bahagia seperti biasa.
Bagaimana aku bisa tidak bahagia? Rencana yang dikatakan oleh ketua tim suksesku itu memang berjalan seratus persen tanpa meleset seinci pun. Tak sia-sia aku mengeluarkan biaya begitu banyak. Sumbangan ke masjid dan panti asuhan terus-menerus kulakukan selama setahun penuh. Agar citraku sebagai orang yang dermawan terbangun. Spanduk-spanduk, kalender, poster, sticker, bahkan iklan di televisi. Biaya makan rapat tim sukses. Transportasi dan banyak lagi tetek bengek lainnya yang semua itu memakan uang bermilyar-milyar, terbayar sudah sekarang. Eh. Ralat. Akan terbayar mulai sekarang.
Ya. Apalagi kalau bukan karena memang aku terpilih sebagai walikota. Hahahaha. Aku menang telak. Kandidat lainnya masing-masing hanya dapat dua persen dan tujuh persen suara. Sisanya untukku. Bayangkan. Sembilan puluh satu persen suara orang di kota ini tertuju padaku. Hahahahaha.
Ah. Sudah. Sudah. Jangan terlalu senang. Senang yang berlebihan tidak baik buat kejiwaan. Maka cepat-cepat kukendalikan diri. Duduk di kursi: kursi walikota. Dan aku pun mulai berpikir tentang apa yang akan kulakukan selanjutnya sekarang. Harus ada langkah nyata. Eh. Tapi tunggu dulu. Sepertinya ada berita menarik yang tertulis di koran. Kuambil koran yang terletak di atas meja kerjaku itu.

Seorang calon walikota diduga menjadi gila setelah kalah telak dalam pemilihan. WTH, sang calon walikota, hanya mendapatkan dua persen dari total suara yang masuk. Seorang pakar menduga kekalahan tersebutlah yang menjadi pemicu kegilaannya. Sementara pakar yang lain berbeda pendapat karena seminggu setelah pengumuman kekalahannya, ia diumumkan menjadi tersangka KPK. Tiga rumah, dua villa, serta lima mobil mewah miliknya disita. Pakar tersebut yakin bahwa peristiwa penyitaan itulah yang menjadi sebab. Berbeda dengan kedua pakar sebelumnya, pakar ketiga yakin bahwa peristiwa lain yang menjadi penyebab kegilaan WTH. Diketahui  beberapa hari setelah penyitaan, WTH memergoki istrinya sedang berselingkuh dengan ketua tim suksesnya sendiri. Beberapa saksi mengatakan sang ketua tim sukses sedang bercinta di atas sofa saat dipergoki oleh WTH. Meskipun banyak orang menuduhnya hanya berpura-pura gila, tetap saja hal ini membuat proses persidangan di KPK menjadi terhambat.

Tatapanku kosong setelah membaca berita di koran lusuh itu. Tanggal di koran itu menunjukkan angka tiga tahun lalu. Sebuah foto di bagian bawah melengkapi berita tersebut. Jelas itu foto si calon walikota gagal.
“Hahahaha,” suara tawaku menggema memenuhi ruangan. Lama-lama suara itu menjadi semakin nyaring dan semakin keras. Melebihi batas normal tertawa orang paling gila sekalipun. Sampai aku merasa bahwa telingaku bisa terganggu fungsinya gara-gara suara tertawaku sendiri.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu diketuk. Diikuti dengan bunyi pintu yang terbuka. Seseorang masuk membawa sebuah piring berisi makanan. “Makan dulu, Yah,” kata orang itu.
Aku tidak menggubrisnya. Terus saja tertawa. Malah tawaku jadi lebih keras lagi.
Orang itu mendekatiku. Ia memandangku dengan tatapan prihatin. Aku tidak suka tatapan seperti itu.
“Ayah butuh tenaga untuk menjalankan tugas. Jadi makanlah dulu.”
Tawaku terhenti. Benar juga katanya. Maka tanpa banyak basa-basi lagi, kuambil piring yang ada di tangannya dan kulahap isinya. Perempuan yang memanggilku ayah itu terus saja memandangi aku selama aku makan. Aku tahu tapi pura-pura tidak tahu.
“Ada apa?” kataku kemudian. Gerah juga aku dilihati terus saat sedang makan.
Perempuan itu terdiam sebentar. “Tidak ada apa-apa. Makanlah lagi yang banyak, Yah. Setelah ini kan ada banyak rapat yang harus Ayah datangi.”
“Ya. Ya. Hari ini aku harus dengan anggota dewan. Mereka selalu menyebalkan.”
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum. Namun kulihat matanya mulai berkaca-kaca seperti menahan tangis. Ia selalu seperti itu ketika mengantarkan makanan untukku. Aku tidak tahu kenapa. Kenapa dia begitu?
Aku selalu berpikir bahwa sebenarnya aku gila. Seratus persen, aku sangat yakin bahwa aku benar-benar gila. Dan seperti kataku di awal tadi, hal itu menimbulkan sebuah masalah besar bagiku. Ketika aku menyadari dengan sepenuh hati bahwa aku gila, apakah aku masih gila? Atau jangan-jangan aku sudah melampaui kegilaan itu sendiri?
Jangan-jangan aku tidak mengerti alasan mata perempuan ini berkaca-kaca juga adalah karena kegilaanku itu? Ah. Sudahlah. Terlalu banyak berpikir itu tidak baik bagi kegilaanku. Cepat-cepat kuselesaikan makanku. Lalu kembali tertawa terbahak-bahak. Sampai kemudian aku teringat sesuatu.
“Hei. Aku harus menyampaikan pidato sambutan. Kau mau mendengarkan?” tanyaku padanya.
Perempuan itu mengangguk, “Iya, Pak Walikota.”
Dengan sigap aku mengambil sikap sempurna dan memulai pidatoku.
Perempuan di hadapanku itu semakin basah saja matanya.
***

Yogyakarta, Januari 2015
ART.