Kamis, 13 Desember 2018

Muazin Waya-Waya


Cerpen ini pernah tersiar di Koran Pantura edisi 23 Februari 2018
 
Suaranya sumbang. Tidak enak didengar. Melengking. Fals. Tidak hanya itu, makhrojul huruf pun sepertinya tak selesai ia pelajari. Ketika digabungkan dengan sound system di masjid kampung yang sudah ada sejak zaman kakekku masih bujangan, maka sempurnalah paduan ketidaksempurnaan tersebut. Celakanya lagi, Pak Ridwan (sepertinya) tidak sadar bahwa suaranya begitu menyiksa orang-orang yang mendengarnya dan ia malah terlihat sangat suka mengumandangkan azan. Setiap hari, hampir genap lima waktu sholat, selalu ia yang jadi muazin.
Karena paduan antara suara fals, makhrojul huruf yang kacau, serta sound system yang centang perenang, azan yang dilantangkan Pak Ridwan jadinya tak hanya buruk, tapi juga aneh. Di bagian yang harokat-nya ia panjang-panjangkan akan terdengar suara ‘waya-waya’. Misalnya di bagian, “Hayya ‘alashsholah” akan menjadi “Hayya ‘alahsholaaaawaya-waya”. Begitu juga di bagian, “Hayya ‘alalfalah” akan jadi “Hayya ‘alalfalaaaawaya-waya” dan seterusnya untuk bagian-bagian lain. Karena itulah, ia kami panggil sebagai muazin waya-waya.
Tentu saja tidak ada yang memanggilnya ‘muazin waya-waya’ tepat di hadapan yang bersangkutan. Panggilan itu jadi semacam kode. Dan tentu saja, sebenarnya sudah ada upaya dari berbagai pihak untuk memperbaiki keadaan di masjid kampung kami itu.
Demi menjaga perasaan Pak Ridwan, sang muazin waya-waya, pengurus masjid pernah mengadakan pengajian rutin seminggu sekali. Materi yang diberikan penceramah utamanya tentang makhrojul huruf, cara-cara pengucapan huruf hijaiyah yang baik. Namun, seperti mengukir di atas air, semua yang diajarkan itu lewat-lewat saja bagi Pak Ridwan yang berumur sudah lebih dari lima puluh. Tak ada sedikit pun perubahan. Ia tetap mengucapkan huruf sebagaimana ia mau. Memanjang-manjangkan harokat yang harusnya pendek. Memendekkan harokat yang seharusnya panjang. Setelah lebih empat bulan, penceramah yang memang sudah dibebankan ‘misi rahasia’ itu pun akhirnya angkat tangan. Tak bisa lagi berbuat apa-apa. Pengajian itu pun bubar jalan.
Pernah juga tercetus rencana untuk memanggil guru ngaji privat bagi Pak Ridwan, tapi rencana itu dibatalkan karena timbul kekhawatiran Pak Ridwan akan tersinggung. Merasa dirinya dipojokkan atau sejenis itu. Pengurus masjid khawatir semangat Pak Ridwan yang tinggi itu justru akan melempem dan layu sebab merasa diremehkan. Bagaimanapun, seseorang yang selalu semangat menyemarakkan masjid haruslah dianggap sebagai sebuah aset, bukan? Karena itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh para pengurus masjid selain pasrah dan berdoa.
Hingga akhirnya datanglah Muammar ke kampung kami. Pemuda dua puluh tahunan itu baru selesai merantau. Menuntut ilmu di pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur. Orang tuanya menyambut dengan perasaan rindu setelah lama tak bertemu keturunannya. Pengurus masjid menyambut dengan perasaan seolah ia adalah jawaban dari semua pasrah dan doa.
Rapat kecil pengurus masjid telah bersepakat untuk meminta Muammar supaya aktif di masjid kampung. Permintaan yang mendapatkan anggukan pasti dari yang diminta. “Memang itu yang ditugaskan guru saya di pondok. Pulang, harus menyebarkan yang saya dapat di perantauan.” Begitu ujar anak muda itu. Dan dari ucapan itulah permasalahan di masjid kampung kami dimulai.
Keesokan harinya, saat Pak Ridwan datang ke masjid seperti biasa untuk mengumandangkan azan subuh, ia terkejut melihat Muammar sudah ada di posisi, memegang pelantang suara. Ketika Muammar mengeluarkan suaranya, rupa-rupanya suara itu begitu merdu. Ditambah dengan makhrojul huruf yang tidak usah lagi dipertanyakan. Untuk pertama kalinya sound system yang telah butut sedemikian rupa, bisa tidak mengganggu kualitas azan yang dikumandangkan.
Untuk pertama kali pula, seusai azan subuh itu, puluhan warga kampung datang ke masjid. Ikut salat berjamaah. Pengurus masjid pun terkejut melihat hal itu. Jamaah subuh, di luar bulan puasa, maksimal tujuh –selain Pak Ridwan-  orang yang semuanya sudah sepuh dan semuanya merupakan pengurus masjid itu sendiri. Seusai salat, jamaah bubar. Para pengurus masjid saling berpandangan. Seperti ada yang ingin disampaikan, tapi tak tahu apa.
Hingga akhirnya hal yang mereka khawatirkan terjadi. Salah seorang jamaah subuh dadakan itu, ketika mengambil sandal dan hendak pulang, berujar dengan santai tapi cukup nyaring untuk terdengar oleh semua yang masih ada di masjid, “Azannya tadi bagus. Bikin semangat ke masjid. Nggak kayak biasa.”
Muammar tampak bingung. Pak Ridwan tampak tersinggung. Pengurus masjid meneguk ludah.
***

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pengurus masjid memanggil Pak Ridwan. Dan seperti yang sudah diduga walaupun tidak diinginkan, Pak Ridwan benar-benar tersinggung dan tak suka dengan keberadaan Muammar.
“Jadi saya sudah tidak dibutuhkan lagi sebagai muazin di sini, kan?” ujarnya.
“Tentu saja bukan begitu. Bapak tetap akan jadi muazin sebagaimana biasa. Emmmm.. Hanya saja... Emmm.. Muammar akan bergantian azannya dengan Bapak.”
“Itu namanya tidak ‘sebagaimana biasa’.”
Pengurus masjid terdiam sesaat. Untungnya salah satu dari tujuh lelaki renta itu ada yang masih cukup lincah otaknya. “Tiga bulan lagi masuk bulan puasa, Pak Ridwan.”
“Terus kenapa?”
“Bapak suka nonton sepak bola, kan? Apa yang akan dilakukan para pelatih kalau jadwal tim mereka lagi padat-padatnya? Rotasi pemain. Apa karena pemain bintangnya tidak bermain bagus? Bukan. Tapi untuk jaga stamina dan menghindari cedera akibat bintang itu kelelahan bermain.”
Kali ini Pak Ridwan yang terdiam. Ia teringat peristiwa tahun lalu di bulan Ramadhan. Karena jadwal ibadah bertambah, dan hampir semua (mulai dari muazin, qori’, bilal, sampai ceramah dan imam) ia ambil bagian, suaranya jadi serak dan tak mau keluar. Akhirnya, pengurus masjid yang tujuh orang itu ambil alih sejak pertengah Ramadhan. Napas tua mereka yang sudah satu-satu membuat mereka juga tersiksa.
“Dan,” lanjut pengurus masjid, “Si anak baru itu, ia hanyalah pemain pelapis. Tak akan bisa menggantikan posisi pemain utama. Sekarang kami ingin tahu dulu pantas tidaknya dia jadi pemain pengganti.”
Pak Ridwan setuju. Ia akan bergantian jadi muazin di masjid kampung. Sore itu ia pulang ke rumah. Dengan senyuman yang aneh. Seperti senyum seorang anak kecil yang tahu bahwa rasa obat tidak enak, tapi tetap juga menelan obat itu karena terus-terusan dibujuk dan dibilang, “Obat ini tidak pahit kok.”
***

Sebagaimana aroma parfum, kebenaran tetap akan menyeruak dengan sendirinya. Pengurus masjid bisa saja bermanis mulut di depan Pak Ridwan, tapi kenyataan di lapangan tidak bisa membohongi mata. Terjadi ketimpangan yang sangat jelas, terkait jumlah jamaah salat, setiap kali keduanya jadi muazin.
“Aku merasa terpanggil ke masjid kalau Muammar yang azan.”
“Sama. Tidak seperti yang satu itu ya.”
“Yang mana maksudmu?”
“Kau tahulah. Muazin waya-waya. Dari semangat, jadi malas ke masjid kalau mendengarnya.” Lalu kedua orang itu tertawa.
Obrolan seperti itu tersebar dan merebak. Tanpa bisa dikendalikan. Meskipun diucapkan secara hati-hati mungkin agar yang bersangkutan tidak mendengar, namun di kampung kecil seperti kampung kami, obrolan itu tetap saja jadi topik populer.
Efeknya tidak pernah diharapkan oleh siapapun, termasuk mereka yang menyebarkan obrolan itu sendiri. Pak Ridwan jadi pemurung. Muammar jadi sungkan serta tak enak hati. Masa-masa ini menjadi masa yang paling berat bagi semua pihak. Baik Pak Ridwan maupun Muammar sering menelat-nelatkan diri datang ke masjid, sama-sama takut menjadi penghalang bagi yang lain untuk mengumandangkan azan. Pengurus yang semuanya tua itu keteteran sebab azan jadi sering terlambat.
“Ini harus dihentikan. Kita harus mengambil tindakan,” ujar salah seorang pengurus masjid.
Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hingga tiga minggu lebih lima hari suasana masih seperti itu. Sampai akhirnya Tuhanlah yang bertindak. Di suatu dzuhur yang mendung, ketika Pak Ridwan mengumandangkan azan, tiba-tiba ia seperti tersedak dan terdengar suara seperti orang mendengkur tepat di bagian ‘waya-waya’. Dua detik kemudian lelaki paruh baya itu ambruk. Tak sadarkan diri. Bunyi microphone berdenging.
Semua yang ada di dalam masjid segera mendekat. Dengan wajah panik mereka mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang mengambil air putih untuk dipercikkan ke wajah Pak Ridwan. Seorang lagi mengambil air untuk diminum jika Pak Ridwan nanti terbangung. Seorang lagi berlari ke rumah Pak Ridwan untuk memanggil keluarganya. Sisanya, mengerumuni lelaki itu. Menepuk-nepuk pipinya sembari memanggil-manggil. Namun tak ada respons. Tak ada jawaban. Butuh waktu sampai lima belas menit untuk meyakinkan mereka semua bahwa Pak Ridwan telah diajak pulang oleh-Nya.
Di antara isak tangis keluarga, akhirnya disepakati bahwa jenazah akan segera dimandikan seusai salat dzuhur. Sebab memang tidak ada keluarga yang harus ditunggu dan memandikan jenazah serta menguburkannya harus disegerakan. Saat mengucapkan ‘seusai salat dzuhur’, barulah orang-orang tersadar bahwa mereka belum ada yang melaksanakan kewajiban itu karena Pak Ridwan sendiri meninggal di saat mengumandangkan azan.
Maka dipanggillah Muammar untuk segera melantangkan panggilan salat. Wajah dan ekspresi Muammar memang tampak lebih suram dari biasanya. Ia seperti diselimuti awan kelabu. Tertunduk murung. Suara yang ia lantangkan juga terdengar sedikit lebih serak dari biasa, walau tetap saja terdengar merdu. Karena suaranya dan kefasihannya, seperti ada hening yang tercipta saat ia azan. Rasa-rasanya kepanikan yang tadi melanda menguap begitu saja. Sampai, entah kenapa, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku mendengar Muammar mengeluarkan suara, “Hayya ‘alahsholaaaawaya-waya.”
Semua yang ada di masjid, termasuk aku, hampir tersedak kala itu.


ART.
Palembang, 19 Januari 2018.
Selamat Ulang Tahun, Sanggar EKS.

Selasa, 10 April 2018

Orang yang Selalu Ingin Marah


Cerpen ini pernah dimuat di Magelang Ekspress edisi Maret 2018

Bosku itu sepertinya ketagihan untuk marah. Sehari saja ia tidak marah, mungkin akan muncul sariawan di mulutnya. Jadi jangan heran jika suatu hari kau bertandang atau tidak sengaja masuk ke ruang kantor kami dan menemukan bosku sedang marah-marah. Memang begitulah dia.
Aku dan Fajri, rekan satu divisi di kantor ini, sudah hafal dengan sifat bos kami. Setiap hari kami mencoba berbuat sebaik mungkin, tapi selalu saja ada kesalahan yang terlihat oleh bos dan membuatnya marah. Awalnya kami benar-benar mengira bahwa kami berdua adalah orang bodoh yang tidak pernah bekerja dengan becus. Namun, lama-lama kami tahu bahwa tidak demikian adanya. Masalahnya bukan pada kami, tapi dia.
Setelah marah, dia akan tampak sedikit lebih tenang. Kami bahkan juga sadar bahwa lebih baik jika dia marah pagi-pagi. Sebab dengan begitu, ia tidak akan marah lagi sampai jam pulang. Tapi, jika dia belum marah sampai menjelang pulang, maka berhati-hatilah. Ia akan mencaci-maki antara sepuluh sampai lima belas menit sebelum pulang. Tentu itu akan jadi penutup yang buruk untuk sebuah hari kerja.
***

Minggu lalu, bosku mendapatkan perintah dari bosnya. Ia disuruh untuk membuat laporan kemajuan program divisi kami. Dan bosku itu dengan santainya menunjuk aku dengan telunjuk yang mengarah tepat ke hidungku dan berkata, “Kau saja yang kerjakan. Aku sudah capek. Aku sudah terlalu tua. Kau yang masih muda yang mengerjakannya.”
Kalimat itu lagi. Selalu. Sebenarnya aku sudah teramat sungguh sangat benar-benar muak sekali dengan kalimat-kalimat andalannya itu.
Bayangkan! Laporan kemajuan program divisi dibuat olehku. Lalu apa tugas dia sebagai ketua divisi? Aku melirik pada Fajri. Menggelengkan kepala melihat kelakuan sang bos.
“Tolong ya,” imbuhnya kemudian. Tanpa mengubah ekspresi.
***

Selain pemarah, dia juga pelupa. Mungkin karena benar dia sudah tua. Dua tahun lagi pensiun. Masalahnya, sering kali ia jadi marah dan menyalahkan orang lain karena kelupaannya sendiri.
“Mana berkas yang aku minta?”
“Berkas apa, Pak?” aku bingung.
“Berkas yang tadi aku minta.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Yang tentang laporan keuangan bulan ini.”
“Sudah saya serahkan ke Bapak tadi.”
“Iya. Tapi sekarang aku tidak pegang berkasnya. Paling sudah kamu ambil lagi. Mana?”
Aku diam. Mencoba menahan emosi.
“Maaf, Pak. Tadi seingat saya yang terakhir pegang berkas itu memang Bapak,” Fajri menyela. Tampaknya ia ikut kesal.
“Tidak ada. Aku tidak ingat pernah memegangnya. Dengar tidak? Tidak ada. TIDAK ADA,” nada bos meninggi.
“Nanti di-print satu rangkap lagi saja, Pak,” Fajri menjawab.
“Jangan nanti. Sekarang. Kerja itu jangan ditunda-tunda. Kalau nanti terus, kapan mau buatnya? Sekarang.”
Setelah mengatakan itu, bos kami itu kembali ke kursi kekuasaannya. Membuka gawai dan membaca gosip-gosip terkini tentang artis nusantara. Meskipun dongkol, aku sedikit merasa lega karena hari ini bos sudah marah. Temperamennya akan jadi sedikit lebih baik di sisa jam kerja. Sepertinya Fajri berpikiran tak beda denganku.
Di hari yang sama, setelah jam kerja selesai dan bos pulang, aku membereskan ruangan seadanya. Tak sengaja kulihat di meja bos ada dua rangkap laporan keuangan bulan ini.
***

Dengan bantuan Fajri, keesokan harinya laporan kemajuan program divisi kami pun rampung. Aku berjalan menuju meja bos. Menyerahkan tumpukan kertas yang telah terjilid rapi itu. Bos kami meletakkan gawainya di meja dan mengalihkan pandangan ke arah barang yang kubawa.
“Serahkan pada –menyebut nama bosnya-. Laporan ini ditunggunya paling lambat hari ini juga. Jam 3. Begitu tadi katanya,” ujar bosku.
Kulihat jarum di jam tanganku, setengah jam lagi menuju jam 3. Aku benar-benar kesal melihat tingkah bosku ini. Tapi kulakukan juga apa yang ia perintahkan. Bagaimanapun, ia masih bosku. Menjelang keluar dari ruangan, Fajri memberi isyarat yang berarti, “Hari ini bos belum marah.”
Aku tahu. Artinya aku harus menyelesaikan tugas yang diberikan ini dengan baik, sebab jika tidak, bos akan mendapatkan alasan untuk marah.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan bosnya bosku, aku terus-menerus mengingat-ingat Tuhan dan memohon agar diberikan kesabaran menghadapi semua ini. Saat sampai, sekretaris bosnya bosku mengatakan bahwa yang aku cari sedang rapat mendadak dengan dewan direksi. Rapatnya mungkin akan berlangsung lama.
Aku sedikit tercenung, berpikir. Jika aku kembali ke ruanganku dan bos tahu bahwa ‘tanggung jawabku’ ini belum terlaksana, tentu ia akan mengamuk. Jadi, aku putuskan untuk menunggu saja bosnya bosku itu selesai rapat.
Jam 3 lewat lima belas menit, rapat itu selesai. Bosnya bosku keluar ruangan. Aku menghampiri, tapi dia, dengan sangat sopan, memintaku untuk menunggu sebentar lagi sebab ia harus ke toilet barang dua atau tiga menit. Tentu saja aku mengangguk.
Saat bosnya bosku itu di dalam toilet itulah, bosku datang.
“Sudah kau berikan belum laporan itu? Kenapa lama sekali, hah?”
Belum sempat aku menjawab, ia melihat bahwa aku masih memegang berkas yang dimaksud. Kontan saja wajahnya memerah. Berkas di tanganku itu diambilnya secara paksa. Dengan nada tinggi ia berujar lantang, “Yang begitu saja tidak becus. Apa guna kau kerja di sini, hah? Bekerja kok tidak tuntas!”
Ya. Ia mengucapkan itu di hadapan semua dewan direksi lain yang baru keluar dari ruang rapat, dan tentu saja di hadapan bosnya bosku yang baru keluar dari toilet. Setelah mendengar itu, semua orang menatapku.
***

“Apa bos sudah marah hari ini?” tanya Fajri.
Aku menggelengkan kepala. Belum. Sekarang jam kantor tinggal sebentar lagi. Bos sedang ke toilet. Seperti yang sudah kukatakan. Berdasarkan pengalaman, jika sampai jam segini bos kami belum marah, ia akan mencari-cari alasan sekecil apapun untuk dijadikan bahan amuk. Maka kami pun mengecek hal-hal apa saja yang mungkin akan jadi alasannya untuk marah. Tidak ketemu.
Kami pasrah. Jika tidak tahu apa yang mungkin membuatnya marah, maka tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mencegahnya, atau paling tidak mengurangi kadar marahnya itu.
Dalam kondisi pasrah itu, bos kami keluar dari toilet. Berjalan menuju kursi kekuasaannya. Matanya menyusuri ruangan, senti demi senti. Aku dan Fajri menahan napas.
“Laporan harian sudah?” ia memulai.
“Sudah,” jawab kami serentak.
“Sudah dicetak?”
“Sudah.”
“Dijilid?”
“Sudah.”
“Rekap harga pasaran?”
“Sudah.”
“Sudah dicek betul-betul? Tidak ada kesalahan rekap?”
“Sudah, Pak.”
“Grafik penjualan?”
“Sudah.”
“Mana buktinya?”
Kami pun menunjukkan hasil kerja kami masing-masing yang sudah terbaring indah di atas mejanya. Ia membukanya. Membaca sepintas. Tampak sekali mencari-cari celah kesalahan. Tapi sepertinya tidak ketemu. Ia mulai gelisah. Ingin segera menemukan alasan untuk marah.
Matanya ia edarkan sekali lagi ke seluruh sudut ruangan. Memperhatikan mili demi mili. Namun, sepertinya tetap tidak ketemu. Karena memang semua sudah kami kerjakan dengan sebaik mungkin. Kegelisahan bos kami semakin terlihat. Ia sudah benar-benar ingin marah, tapi belum menemukan alasan.
Lalu, tanpa kami sangka, ia menunjuk dua rangkap laporan keuangan bulanan yang ada di atas mejanya.
“Kenapa laporan keuangan bulanan ini bisa ada dua rangkap, hah?”
Hening sejenak.
“Kenapa? Kan cukup satu saja. Ini pemborosan. Buang-buang uang.”
“Karena Bapak yang minta,” jawabku akhirnya.
“Tidak mungkin,” nadanya meninggi.
“Betul, Pak,” Fajri menyela, “Waktu itu laporan sudah dibuat, tapi Bapak bilang tidak ada. Lalu Bapak minta dibuatkan satu rangkap lagi. Makanya sekarang ada dua rangkap laporan bulanan.”
Wajah bos kami mulai memerah, “Jangan mengada-ada kau, ya!”
“Saya tidak mengada-ada, Pak.”
“Kau pikir aku sudah pelupa? Apa buktinya, hah?” bos kami meledak.
Tanpa kuduga, Fajri mengeluarkan gawainya. Memutar rekaman suara dari kejadian beberapa hari lalu. Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa Fajri begitu nekat merekam adegan itu di telepon selulernya.
Demi mendengar rekaman itu, mulut bos kami mengatup. Wajahnya benar-benar merah kali ini. Gerahamnya bergemelutuk. Tangannya gemetar. Matanya menatap nyalang. Ia muntab, tapi tak bisa menyalahkan kami sebab sekarang ada bukti kuat bahwa kami tidak bersalah. Aku menahan napas untuk menutupi rasa takut.
“Dasar, tua bangka. Apalagi yang mau kau katakan, hah? Mau marah dengan siapa lagi kau kali ini? Kerjamu yang tak becus, dan kau mau menyalahkan orang lain?”
Aku dan Fajri menganga, tapi belum sempat berkata apa-apa, bos kami telah melanjutkan.
“Kau sendiri yang lupa,” tangannya menggampar meja. “Kau pikir orang lain tak tahu, hah? Kau tua dan tak tahu diri. Hanya mengandalkan jabatan yang tak seberapa.”
Berikutnya kata-kata kotor yang tidak pantas untuk dituliskan di sini berhamburan keluar dari mulutnya. Belum pernah kami saksikan dia semarah itu. Napasnya megap-megap.
Itu adalah marahnya yang paling lama yang pernah kami saksikan. Setengah jam ia mengumpati diri sendiri tanpa henti. Tapi, setelah setengah jam itu ia tampak puas. Benar-benar puas. Lalu tersenyum.
Aku dan Fajri mengernyitkan dahi. Pulang dalam bingung.
***

ART.
Banyuasin, 18 Januari 2017

Kamis, 22 Maret 2018

Durian Ayah


Cerpen ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 18 Maret 2018

 
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang diharapkan. Karena itulah, perihal durian yang tak kunjung berbuah ini menjadi sesuatu yang cukup mengganjal hati ayah.
“Pohon ini bisa kau anggap adikmu,” ujar ayah sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih SMA waktu itu. Ayah memang suka begitu, mengatakan pohon-pohon tertentu sebagai kakak atau adik dari kami, anak-anaknya. Tolok ukur yang digunakannya jelas adalah usia. Rambutan di sudut kanan halaman depan rumah dibilang sebagai kakakku karena dia ditanam dua tahun lebih dulu daripada kelahiranku. Begitu juga dengan kelengkeng yang ada sekitar tujuh meter dari rambutan, dia juga kakakku yang lebih tua empat tahun.
“Dia lebih muda darimu empat tahun,” ayah melanjutkan.
Aku menelengkan kepala ke arah pohon durian yang ditunjuk ayah, “Tapi anak ayah yang satu ini belum pernah berbuah sekalipun. ‘Kakak-kakak’ku yang lain tak perlu menunggu sampai sepuluh tahun, sudah berbuah. Cuma ini yang belum.”
Ayah hanya tersenyum, “Sabarlah. Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
***

Lima tahun kemudian, sepertinya ayah yang mulai diuji kesabarannya. Mungkin karena merasa ia sudah melakukan hampir semua yang bisa dilakukan untuk durian itu, tapi si durian tetap tak mau menunjukkan tanda-tanda akan berbuah.
“Sudah kusiram, kupupuk, kubersihkan dari gulma-gulma, masih saja tak mau berbuah. Apa kusuntik saja pohon durian ini?”
Tentu aku tak menjawab. Sebab ayah memang tidak sedang berbicara padaku. Ia lebih cenderung berbicara pada dirinya sendiri. Dan benar, seminggu kemudian ayah menyuntik pohon durian itu dengan obat yang mampu merangsangnya agar cepat berbuah.
“Paling lama enam bulan lagi durian ini akan berbunga, begitu kata penjual obat suntik ini tadi.”
Sekali lagi aku tidak menjawab omongan ayah. Hanya mengangguk-angguk saja. Tentu saja dalam hati aku meng-amin-kan. Toh kalau durian itu berbuah, aku juga akan menikmatinya. Tapi ternyata sampai satu tahun, durian itu tak kunjung berbunga, apalagi berbuah. Hanya daunnya saja yang jadi semakin lebat. Enam bulan kemudian, ayah kulihat sedang menyayat-nyayat batang durian itu.
“Ada yang mengajariku, pohon buah harus sedikit disakiti agar dia merasa terancam dan kemudian berbuah,” jelas ayah tanpa kuminta.
Sampai setahun setengah kemudian durian tetap berdiri angkuh dengan daunnya yang lebat dan batang yang semakin menjulang, tanpa buah.
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu. Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
“Yang tempo hari mungkin ia tidak terlalu merasa terancam,” desis ayah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku hanya berdiri di antara ayah dan pohon itu. Pohon durian di depannya tetap kukuh. Kulitnya memang terkelupas di sana-sini. Satu dua tetes getah merembes dari celah-celah kulit pohon itu. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, pohon itu tetap kukuh. Malah sepertinya angkuh. Seolah ia sedang mengejek tenaga ayahku yang sudah jadi pensiunan.
Sampai setahun lagi berlalu, durian itu tetap tak mau berbunga. Ayah merutuk.
Dasar mungkin mulutku memang lancang, aku justru berkata, “Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”
Mata ayah membeliak mendengar kata-kata itu.
***

“Aku menyerah,” ujar ayah suatu waktu seusai makan malam.
Dahiku mengernyit tanda tak mengerti.
“Dua puluh tiga tahun, dan durian itu tak kunjung berbunga. Seusai lebaran nanti akan kupanggil dua atau tiga orang tukang untuk menebangnya.”
“Ayah serius?”
Ia mengangguk. “Mungkin akan kuganti saja dengan pohon mangga. Aku tak pernah gagal menanam mangga. Buahnya selalu lebat dan manis jika aku yang menanam. Mungkin memang durian bukan jenis buah yang sesuai dengan tanganku.”
Sehabis lebaran, berarti sekitar empat bulan lagi. Aku bisa mengerti kenapa ayah harus menunggu selama itu untuk menebang pohon besar di pekarangan kami. Sederhana, ia beranggapan waktu terbaik untuk menanam pohon adalah setelah lebaran. “Seperti manusia yang puasanya berhasil, tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa dosa.”
Kadang ayah memang aneh.
***

Selama empat bulan itu, aku melihat ayah lebih telaten merawat durian yang akan ditebangnya. “Sebagai ucapan perpisahan,” kata ayah. Ia ingin memberi kenang-kenangan yang indah. Memohon maaf jika ada salah. Jangan sampai ada dendam antara dia dan pohon itu. Begitu paparnya panjang lebar.
Orang lain mungkin akan mengira ayah sudah tak sehat akal, tapi aku tahu memang begitulah ayah dari dulu. Setiap ada pohon yang akan ditebang, ia akan merawat pohon itu dengan lebih baik dan menyiapkan pengganti yang juga baik.
Sampai akhirnya lebaran telah tujuh hari berlalu. Ayah pun memanggil dua tukang untuk menebang.
“Apa benar Bapak mau menebang pohon ini?” tanya salah satu tukang tebang itu.
Ayahku mengangguk. Mantap.
“Sayang sekali. Kenapa tak ditunggu sampai berbuah dulu, Pak?”
“Sudah lebih dari cukup aku menunggunya. Jangankan berbuah, berbunga saja tidak.”
“Lah. Itu apa kalau bukan bunga durian?” tukang tebang itu berkata lagi sambil menunjuk ke atas.
Ayah dan aku menengadah. Kami baru sadar putik-putik kecil itu tumbuh di ujung ranting. Bergerumbul. Sedikit tertutupi oleh daun-daun yang lebat.
***

Penebangan pohon dibatalkan. Ayah semringah bukan main. Dua puluh tiga tahun, dia selalu menyebut angka itu sebagai sebuah tanda penantian yang begitu panjang. Kerentaan ayah seolah memudar. Ia jadi lebih telaten lagi mengurusi pohon yang sedang berbunga itu.
Tapi, kadang nasib tak ubahnya hati perawan yang sedang gundah, mudah berbalik arah. Musim hujan datang. Air dan angin datang silih berganti. Bunga-bunga yang sedang mekar itu runtuh satu per satu. Begitu juga semangat ayah.
Hampir setiap pagi, ia terpaksa menyapu reruntuhan bunga durian dengan wajah yang begitu murung. Hanya tinggal beberapa lagi yang masih bertahan di atas. Bisa dihitung dengan jari tangan. Dan mungkin karena berharap bisa jadi sangat menyakitkan, ia membunuh semua harapan yang tersisa. Merawat tanaman itu seadanya. Tak lagi sebagai sebuah tanaman istimewa yang bunganya telah ditunggu sekian lama.
Entah ajaib atau kebetulan, tujuh bunga yang tersisa itu terus bertahan meskipun hujan tak memberi belas kasihan. Akhirnya, waktu juga yang memperlihatkan bahwa harapan tak boleh dibunuh sebab kehidupan dimulai dari sana. Sebagaimana kehidupan tujuh bunga durian ayah. Tujuh-tujuhnya tampak semakin besar seiring waktu. Bahkan satu, yang paling besar, tampak sudah matang beberapa bulan kemudian.
Senyum ayah kembali tersungging tanpa cela. Menanti durian matang jatuh dari pohonnya. Hingga akhirnya di sebuah senja yang cerah, kemarau baru saja hendak bertamu, bunyi yang ditunggu tiba juga.
Bunyi berdebug menghantam tanah cukup keras terdengar dari arah pohon durian. Aku segera berlari, mencari. Benar saja. Durian ayah yang telah matang, jatuh. Aromanya menguar menggiurkan. Kutolehkan kepala, ayah belum keluar rumah. Mungkin tidak mendengar duriannya jatuh.
Dengan penuh semangat, kubawa durian itu ke rumah. Berteriak aku memanggil ayah. Tapi yang dipanggil tak kunjung menjawab. Aku jadi tak sabaran, ingin memberi kabar gembira ini. Namun kemudian, setelah mencari di sepenjuru rumah, kutemukan ayah di kamar. Telentang dan matanya terutup. Tersenyum. Tak pernah menjawab lagi. Dari seluruh tubuhnya, menguar aroma durian matang.
***

ART.
Indralaya, 5 September 2017