Senin, 29 Mei 2017

Janji dalam Cerita Rakyat



*Tulisan ini dimuat di Palembang Ekspres pada 29 Mei 2017
Delapan tahun lalu ada seorang mahasiswa asing yang berasal dari Cina bergabung di kelas kami. Ketika sedang membahas cerita rakyat Timun Mas, ada sebuah kejadian menarik.
Seusai cerita dibacakan, dia mengangkat tangan dan bertanya. “Kenapa raksasa dianggap jahat? Dia hanya menagih janji. Bukankah Ibu Timun Mas sendiri sudah menyanggupi akan menyerahkan anaknya ketika sudah gadis?”
Dosen memberi jawaban bahwa Raksasa itu jahat karena suka memakan manusia. Mahasiswa asing itu menjawab, “Di negara kami, janji adalah nomor satu. Apapun risikonya, janji harus ditepati.”
Dosen menjawab lagi dan diskusi terus berjalan sampai jam perkuliahan selesai. Mungkin sebagian besar orang telah melupakan kejadian itu, tapi saya tidak. Saya mencari dan menemukan setidaknya dua cerita rakyat lain yang begitu populer tapi menyajikan pengingkaran janji sebagai sesuatu yang seolah-olah benar.
Cerita yang saya maksud adalah Legenda Tangkuban Perahu (Dayang Sumbi), dan Legenda Candi Sewu (Roro Jonggrang). Dalam kedua cerita itu tokoh utama wanita meminta bantuan orang banyak agar suasana tampak seperti pagi meskipun sebenarnya masih malam. Ini adalah ironi karena pembaca tahu bahwa dua tokoh wanita tersebut sendiri yang menjanjikan batas waktu pengerjaan ‘proyek’ adalah dini hari. Keduanya telah mengingkari janji mereka sendiri. Penting pula untuk disoroti bahwa tokoh-tokoh dalam cerita- yang telah dipaparkan mengingkari janji demi keselamatan diri sendiri. Tak ada yang memilih mati terhormat.
Pengaruh pada Anak
Apa jadinya jika cerita-cerita tersebut disampaikan pada anak-anak? Terlebih lagi, para pengingkar janji itu justru dielu-elukan dan disanjung sebagai pahlawan. Sangat mungkin alam bawah sadar anak merekam bahwa ingkar janji tidak masalah asalkan tetap dianggap pahlawan dan didukung orang banyak.
Maka, jangan heran jika dari dulu hingga sekarang ada banyak orang tak merasa bersalah ketika ingkar janji (saat kampanye misalnya). Jangan-jangan mereka hanya mengaplikasikan nilai-nilai sesungguhnya dari cerita-cerita rakyat yang dikonsumsi sejak kecil.
ART
Indralaya, 26 Mei 2017

Sabtu, 14 Januari 2017

Satu Tahun Komunitas Kota Kata



Sebuah Restrospeksi Satu Tahun Komunitas Kota
Oleh Rizqi Turama

“Ada rencana busuk apa ini?”
Itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut saya pada kisaran Desember 2015. Pasalnya sepulang saya dari merantau, ada dua orang junior saya yang menghubungi minta bertemu. Dua-duanya saya tahu sebagai orang yang gila, gila sastra. Sebenarnya tanpa ditanyakan pun, saya tahu maksud mereka mengajak bertemu itu.
Ada kegelisahan tentang iklim sastra di sini. Mungkin karena mereka pikir saya punya sedikit hal yang bisa dibagikan setelah merantau ke kota yang kehidupan sastranya begitu semarak, mereka pun menanyakan pendapat saya. Di pertemuan itu, saya tangkap bahwa sebenarnya mereka (juga saya) butuh wadah untuk berbagi, bercerita, bertukar pikiran, dan sebagainya di bidang sastra. Maka saya pun menceritakan salah satu bentuk kegiatan yang rutin dilaksanakan di PKKH UGM. Dan kami bersepakat untuk meniru dan mengadaptasi bentuk diskusi itu.
Tanggal 9 Januari 2016, yang kemudian disepakati sebagai hari ulang tahun Kota Kata, diskusi pertama komunitas ini terselenggara. Diskusi pertama yang cukup meriah untuk kategori diskusi sastra di kota ini. Bahkan diskusi tersebut diliput oleh Kompas TV Palembang, juga didatangi oleh wartawan Sriwijaya Pos. Keberadaan Kota Kata pun tersiar di kedua media itu. Setelah itu, saya dan teman-teman beberapa kali diundang wawancara ke sejumlah media seperti Kompas TV Palembang pada bulan April, ke Sriwijaya TV pada bulan Oktober, dan ke radio Trijaya FM pada bulan Desember. Sebagai sebuah komunitas yang masih mencari bentuk, publikasi dari berbagai media seperti itu memberikan semangat tersendiri. Semangat untuk, dalam bahasa kekinian, eksis.
Namun, kami juga sadar bahwa sekadar eksis tidaklah cukup. Eksis juga harus diimbangi dengan isi yang berbobot. Maka di awal-awal terbentuknya, para pendiri Kota Kata bersepakat untuk membuat sebuah diskusi yang terstruktur, membedah cerpen berdasarkan unsur-unsurnya: tokoh, karakter, plot, setting, kalimat pertama, dan seterusnya. Di masa-masa itu, hanya ada satu cerpen karya penulis terkenal yang dibahas dalam pertemuan Kota Kata yang diadakan per dua pekan. Jika tema pertemuan adalah plot, maka cerpen itu kami kulik habis plotnya. Jika tema pertemuan adalah setting, jadilah setting yang kami kulik-kulik. Begitu seterusnya.
Sampai semua unsur pembentuk cerpen selesai, langkah berikutnya adalah membuat cerpen. Kami pun mulai membahas cerpen buatan anak Kota Kata sendiri. Berarti, sejak itu ada dua cerpen yang dibahas di diskusi Kota Kata: satu karya penulis terkenal, dan satu karya anak Kota Kata. Beberapa kali diskusi diselingi dengan menulis bersama-sama. Intinya, Kota Kata mengajak semua anggotanya untuk berkarya dan tak takut karyanya ‘dikuliti’ agar tulisan tersebut jadi lebih baik.
Hingga kini di usianya yang mencapai satu tahun, Kota Kata masihlah sebuah komunitas yang mencari bentuk. Sebagaimana semua selebrasi dan peringatan penambahan usia, ada banyak kata ‘semoga’ yang berhamburan. Di antaranya adalah semoga Kota Kata semakin solid, semakin menunjukkan wujud dan bentuknya. Semoga dalam bentuknya di masa-masa yang akan datang, akan ada semakin banyak orang yang merasa memiliki Kota Kata. Sehingga jika dipanggil lagi untuk eksis di berbagai media, sudah bukan lima pendirinya lagi yang terus-terusan tampil, tapi juga para suksesor. Semoga dari Kota Kata lahir penulis-penulis dan tulisan-tulisan berkualitas.
Semoga apa lagi? Mari kita lanjutkan, tidak dalam tulisan ini, tapi lewat tindakan. Tindakan-tindakan yang membuat ‘virus’ sastra semakin tersebar di kota kita. Tindakan yang mungkin akan memunculkan pertanyaan, “Ada rencana busuk apa lagi ini?”


ART.
Banyuasin, 9 Januari 2017.

Kamis, 03 November 2016

Profesor Bermulut Runcing

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Pantura pada 26 Agustus 2016, lalu dimuat ulang di Kompas pada 27 November 2016



Setiap hari ia memoles bibir, bukan dengan lipstik, tapi dengan darah yang mengucur dari jantung orang-orang di sekitarnya. Bibirnya yang runcing itu mampu merobek jantung dengan sangat lincah. Tak hanya runcing, bibir itu juga tajam selayaknya gunting yang dipakai dokter ketika akan menyunat sekelumit kulit hingga terlepas dari tempatnya. Membuat darah menetes dan ia tadahi untuk kemudian disapukan ke bibir.
Malam hari, sepulang dari mengajar di universitas, ia selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Memeriksa kondisi bibir. Jika bayangan memantulkan warna bibir yang lebih merah ketimbang sebelum ia berangkat, senyum profesor kita akan mekar. Ia melihat senyum di cermin itu menyerupai mawar yang merekah di pagi hari cerah dengan sedikit embun tersisa dan berlatarkan kuning emas matahari yang belum silau, sempurna. Namun, jika bibirnya malam itu sama merah dengan sebelum ia berangkat mengajar, ia akan merasa menjadi orang yang merugi. Lebih parah lagi jika kadar merah di bibir itu berkurang, sesungguhnya ia adalah orang yang celaka. Tak jarang mimpi buruk mengetuk tidurnya dan bertandang ketika bibir itu tak semerah hari kemarin.
“Seorang profesor sepertiku harus selalu tampak cantik, dan wanita cantik adalah wanita yang bibirnya selalu merah,” begitulah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh profesor kita. Maka jangan heran jika ia selalu membawa batu asah, itu untuk mengasah bibirnya agar semakin runcing dan tajam hingga mempermudahnya mendapatkan darah segar untuk dioleskan ke bibirnya.
***

Jauh hari sebelum profesor kita menjadi profesor dan baru saja lulus sebagai doktor, tujuh tahun lalu tepatnya, ia mendapati bahwa suaminya berselingkuh. Suaminya ingin berkelit, tapi ketika melihat doktor itu memegang telepon genggam yang isinya adalah percakapan mesrum (mesra dan mesum) dengan orang lain, sang suami membatalkan niat tersebut. Dengan geraham yang bergemelutuk, napas tersengal, dan air yang mengambang di pelupuk mata, doktor yang belum jadi profesor itu berkata, “Aku ingin bertemu dengan selingkuhanmu.”
Sang suami berusaha mencegah dan mengalihkan pembicaraan, tapi ia sadar bahwa istrinya adalah seorang yang cerdas. Apalagi telepon genggam tersebut sudah di tangan sang istri, hanya menunggu waktu kedua wanita yang ia nikmati tubuhnya tersebut akan bertatap muka.
Karena tak ada pilihan lain, sang suami pun mencari tempat yang aman untuk pertemuan keduanya. Ia juga telah menyingkirkan semua barang pecah belah atau benda-benda lain yang mungkin akan digunakan untuk saling melukai jika perkelahian terjadi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan sang suami.
Sama sekali tak terjadi perkelahian antarwanita. Tak ada saling jambak ataupun saling cakar. Mereka hanya saling tatap dalam waktu yang entah berapa lama. Sang suami tak sempat menghitung menit yang berlalu karena di tengkuknya ada sebuah beban yang membuatnya hanya bisa tertunduk.
Sang doktor, selama saling bertatapan dengan selingkuhan suaminya, sedikit kecewa karena tak ada yang istimewa dengan fisik saingannya itu. Hanya satu yang mencolok dari wanita yang ia laknat sepanjang sisa umurnya tersebut. Bibir. Belum pernah ia melihat bibir yang begitu merah mengilap dan mencolok.
Ia baru akan membuka mulut untuk bertanya kenapa bibir sang wanita selingkuhan bisa begitu merah saat si selingkuhan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah sudut yang teramat tajam. Dengan sedikit gerakan, bibir itu mengarah ke jantung sang doktor. Sedikit beruntung karena sang doktor sempat mengelak. Jantungnya selamat, tapi ketajaman bibir itu dirasakan oleh hatinya. Mengerti bahwa sang wanita selingkuhan bukanlah musuh yang bisa ia hadapi, sang doktor memutuskan untuk pergi dengan hati berdarah.
Ketika hendak melangkah pergi itulah ia sempat menoleh dan mendapatkan sang wanita selingkuhan sedang mengoles bibir dengan darah yang tercecer dari hatinya. Hari itu merupakan hari yang tak terlupakan oleh sang doktor. Ia menyimpulkan selingkuhan itu memiliki sesuatu yang tak ia miliki, bibir yang begitu merah, tajam, dan runcing. Mungkin itulah yang memikat suaminya, kecantikan yang tak ia mengerti. Sejak hari itu juga, doktor kita memutuskan akan menunjukkan bahwa dirinya tidak takluk.
“Aku akan memiliki bibir yang lebih merah dari pada wanita laknat itu. Saat itu suamiku akan mengemis untuk kembali, dan aku akan mencampakkannya dengan senang hati,” begitu tekadnya.
***

Dari waktu ke waktu, sang doktor terus mengasah bibir dan mulutnya agar runcing dan tajam. Namun kemudian ia sadar bahwa itu saja tak cukup. Ia butuh jadi orang yang punya pengaruh dan bisa tampil di depan umum agar ketajaman bibir itu bisa berguna. Jika kariernya hanya berhenti pada level doktor, ia tak akan bisa memperluas ‘wilayah kekuasaan’. Ia harus menjadi lebih dari sekadar doktor. Di dunia akademik, hanya level profesor yang sering diundang memberi kuliah di berbagai tempat. Tak hanya di pulau tempatnya berada saja, tapi juga ke seluruh penjuru nusantara. Maka ia pun mematok target baru: menjadi profesor.
Setelah berjuang mati-matian, jilat sana-sini, meludah, terus menjilat lagi, ditambah dengan sedikit penelitian yang ia lakukan di universitas, sedikit publikasi, jilat lagi, ludah lagi, jilat lagi, akhirnya profesor kita mendapatkan gelar profesor.
Ia senang bukan buatan. Dengan jadi profesor, ia bisa mendatangi berbagai tempat. Memberikan kuliah di sana-sini. Mendapatkan sambutan hangat di mana-mana – sebab ada banyak orang yang mau menjilati ia sampai ke getah-getah terakhir. Dan yang lebih penting adalah ia bisa bertemu orang banyak dan mempergunakan keruncingan mulutnya dengan objek yang berganti-ganti.
Banyak jantung dikoyak dan berdarah. Bibirnya semakin runcing dan merah. Ia bahagia.
***

Satu hal yang tidak disadari oleh sang profesor adalah seiring dengan semakin tajamnya mulutnya, mulut itu juga tumbuh semakin panjang, sedikit melengkung ke bawah. Tepatnya ke arah jantungnya sendiri. Ia tak sadar karena ia hanya fokus pada warna merah yang bertengger di sana. Merahnya sudah hampir sempurna. Mungkin tinggal mendapatkan satu korban dengan kadar merah pada darah yang tepat, ia sudah akan mencapai tingkat kesempurnaan pemilik bibir merah.
Dalam sebuah seminar tingkat nasional, ia sumringah karena ada salah satu dosennya dulu menjadi peserta. Darah seorang dosen senior yang telah punya banyak mahasiswa, tentu akan lebih dari cukup. Dia akan jadi pelengkap dan penyempurna bagi ketajaman mulutku. Setelah mendapatkan darahnya, aku akan mendatangi suamiku. Begitulah yang dipikirkan sang profesor.
Sambil mendongakkan kepala dan menunjuk orang yang pernah jadi dosennya itu, sang profesor berkata, “Beliau ini dulu dosen saya, tapi sekarang saya jadi promotornya di S-3. Dulu dia yang selalu jadi narasumber bagi saya, sekarang saya yang jadi pemateri dan dia hanya peserta.”
Kemudian ia mengerahkan teknik terbaik yang ia tahu untuk mengoyak jantung orang dengan menggunakan mulut. Sial bagi sang profesor, sebab dosennya itu dilindungi oleh sebuah kaca tak kasat mata. Kaca yang begitu keras dan tak bisa ditembus oleh mulutnya. Tak sedikit pun dosen itu terluka.
Kenyataan itu membuat sang profesor justru penasaran. Di sisa seminar, ia terus menggerakkan bibirnya. Menyerang dosennya dari berbagai penjuru. Bunyi ‘ting-ting-ting’ terdengar nyaring ketika mulutnya itu bertabrakan dengan kaca pelindung dosen. Ia mulai lelah, tapi marah.
Dengan sekuat tenaga ia melancarkan serangan penghabisan. Berharap kaca itu akan pecah dan mulutnya mampu mengoyak jantung sang dosen. Namun apa daya. Kaca itu bergeming. Justru mulut sang profesor yang runcing dan bengkok itu jadi semakin bengkok. Karena kekeraskepalaannya, mulut itu menikam jantungnya sendiri.
JLEB.
Sang profesor terkapar dengan darah mengucur dari jantungnya. Peserta seminar panik. Beberapa pengikut setianya menuding-nuding dosen yang terlindungi oleh kaca tak kasat mata, mengatkan bahwa dosen itu pasti telah merencanakan pembunuhan. Beberapa yang lain menyatakan bahwa sang profesor telah melakukan bunuh diri terencana. Sisanya, dan jumlahnya paling banyak, hanya diam dan tak mengerti apa yang terjadi.
Sementara itu, sang profesor megap-megap kehabisan pasokan oksigen dari jantung yang telah bolong. Mulutnya masih menancap di jantung sehingga ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya bola matanya yang selama ini kering, perlahan dihiasi embun pagi. Di detik-detik terakhir, bayangan mantan suami dan selingkuhannya melintas. Profesor itu lalu mengembus napas terakhir, lewat hidung.
Dosennya yang sejak tadi tak bereaksi, menitikkan air mata saat melihat anak didiknya mati. Kaca tak kasat mata itu menghilang. Ia mendekati mayat. Orang-orang seperti tersihir dan memberikan jalan. Perlahan dicabutnya mulut mantan mahasiswanya yang masih menancap di jantung. Lalu terpampanglah sebuah bibir yang begitu merah. Sempurna. Merah yang tak ada cacatnya.
Tapi bibir itu juga begitu tajam. Tangan sang dosen terluka. Tangisnya pecah. Orang-orang terperangah.
***

Palembang, 29 April 2016
ART.

Selasa, 22 Desember 2015

Ulasan Buku "Tempat Paling Sunyi" Karya Arafat Nur

Berikut ini ulasan subjektif saya mengenai "Tempat Paling Sunyi" karya Arafat Nur:

Membaca buku Arafat Nur mungkin tidak bisa dilepaskan dari pengalaman membaca Lampuki. Apalagi saya membaca buku ini tidak lama setelah membaca buku Lampuki. Jika dibandingkan, tempo yang ada dalam Tempat Paling Sunyi jauh lebih lambat ketimbang tempo yang ada di dalam Lampuki. Walaupun latarnya tetap berada di Aceh, tapi novel ini bisa dibilang 'bertolak belakang' dengan Lampuki.

Saat membaca bagian-bagian awal buku ini, saya sempat berpikir, "Jangan-jangan ini pengalaman pribadi Arafat Nur." Kemungkinan itu ada dan selalu ada, walaupun seandainya pun memang pengalaman pribadi, itu tak masalah. Mau pengalaman ataupun bukan, penulis yang baik tetap akan menyajikan cerita dengan baik. Seandainya pun itu bukan pengalaman pribadi, juga tak masalah, karena sejatinya tidak ada karya yang benar-benar lepas dari fakta dan juga tak ada karya yang sepenuhnya lepas dari fiksi.

Arafat Nur, menurut saya, mampu menyampaikan kritik terhadap orang-orang yang beragama hanya di permukaan lewat tokoh istri pertama dan ibu mertua tokoh utama. Agama yang hanya dilakukan melalui ritual-ritual, tapi nilai-nilai dan esensinya tidak dijalankan dan menjadi landasan bertindak. Orang-orang semacam ini, sejauh yang saya tangkap dalam novel ini, menjadi biang kerok kekacauan-kekacauan yang terjadi. Parahnya lagi, mereka tidak menyadari bahwa kekacauan itu disebabkan oleh mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak tahu bahwa ada kekacauan.

Selain kritik terhadap orang-orang tersebut, saya juga menangkap kegelisahan tentang nasib penulis sastra pada umumnya, dan khususnya novel. Di sini Arafat Nur memberikan gambaran ekstrem yang menyatakan bahwa penulis novel hanyalah orang-orang yang kurang kerjaan dan mengisi waktu secara tidak bermanfaat. Meskipun tentu saja tidak semua orang berpendapat demikian, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa memang menulis di negeri ini belum bisa menjanjikan kelayakan hidup jika dijadikan sumber penghidupan. Saya juga menangkap hal tersebut tidak terlepas dari masih rendahnya minat baca masyarakat. Akibatnya novel, dan karya sastra lainnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat.

Selain dua hal tersebut, tentu ada banyak kritik-kritik lain yang dimuat Arafat Nur di dalam novelnya ini. Hal yang menarik adalah hampir semuanya, kalau tidak bisa dibilang semua, disampaikan secara satir. Menertawakan kesedihan, dan inilah memang yang menjadi poin lebih dari tulisan-tulisan Arafat Nur. Mungkin juga menjadi ciri khas yang dipilih secara sadar olehnya.

Hanya saja, sebagaimana gading yang pasti retak, buku ini pun memiliki beberapa poin yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya. Kejadian-kejadian ataupun sifat dan sikap yang dimiliki oleh tokoh-tokoh di dalam novel ini tak jarang begitu ekstrem, sehingga menjadi hiperbolis. Boleh dibilang, ada bagian-bagian yang keluar dari logika real, mengingat ini adalah novel yang realistis, maka hal yang berlebihan tentu cukup mengganggu.

Satu contoh yang dapat saya ambil adalah tentang begitu dungunya istri pertama dan mertua tokoh utama. Di dalam buku ini dinyatakan bahwa kedua tokoh tersebut begitu dungu sampai-sampai mereka tak tahu bahwa bumi itu berbentuk bulat. Keduanya percaya bahwa bumi itu datar saja. Tentu ini mengganggu, sebab di bagian lain dinyatakan bahwa istri pertama tokoh utama adalah lulusan sekolah menengah. Fakta bahwa bumi berbentuk bulat seperti bola sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Maka penggambar tentang kedunguan kedua orang tersebut menjadi hiperbolis dan tidak lagi realistis.

Ini hanyalah satu contoh yang saya paparkan. Masih ada banyak contoh-contoh lain yang bisa Anda temukan sendiri ketika membaca Tempat Paling Sunyi. Secara keseluruhan pun saya pribadi lebih menyukai Lampuki ketimbang Tempat Paling Sunyi. Meskipun demikian, buku ini pada dasarnya tetap saja sebuah buku yang menarik dan enak dibaca.

Demikian pendapat subjektif saya mengenai buku ini. Mungkin banyak pendapat saya tersebut yang salah, walaupun mungkin juga ada yang benar.
Salam.

ART.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Ulasan Novel "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

 

Berikut ini ulasan subjektif saya tentang novel ini:

Beberapa teman saya yang mengaku penggemar berat Sapardi mengungkapkan kekecewaan mereka setelah membaca buku ini. Mereka menyatakan bahwa bentuk puisi "Hujan Bulan Juni" jauh lebih bermakna dan mendalam ketimbang bentuk novelnya ini.
Namun, saya tidak terlalu sepakat dengan pendapat teman-teman saya itu. Saya pikir, mungkin mereka terjebak dalam ekspektasi berlebihan dari novel ini, sehingga ketika mereka tidak mendapatkan yang diharapkan, mereka pun kecewa. Sementara, saya yang membaca novel ini tanpa ekspektasi tertentu, merasa buku ini cukup berkesan.

Tema yang diangkat dalam novel ini lebih cenderung ke arah romance. Mungkin itu disebabkan bentuk puisinya juga lebih kental nuansa romansanya. Meskipun begitu, perlu digarisbawahi bahwa novel ini tidak menyajikan cerita romansa picisan anak SMA yang penuh adegan-adegan layaknya sinetron masa kini. Saya justru menangkap bahwa romansa yang ditampilkan justru menjadi pintu masuk untuk menyampaikan masalah-masalah yang lebih kompleks, tentang pertentangan budaya dan agama misalnya.

Cara bercerita Sapardi di novel ini juga tergolong ringan dan mengalir, namun sekali lagi, berkelas. Saya merasa bahwa puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, sejauh yang saya tahu, jarang menggunakan kata-kata sulit atau arkais, tapi bisa memberikan kesan mendalam. Singkatnya, puisi-puisi Sapardi itu mewah dalam kesederhanaannya. Itu juga yang saya tangkap ketika membaca cara bercerita Sapardi dalam novel ini. Tidak neko-neko. Tidak aneh-aneh. Sederhana saja, tapi entah kenapa terasa asik, menyenangkan, dan berkesan. Tidak aneh yang saya maksud di sini, ketika dibandingkan dengan novelnya yang "Trilogi Soekram" misalnya.

 Untuk masalah data dan riset, terlihat jelas bahwa Sapardi tidak main-main untuk novel ini. Ia bisa menyampaikan gambaran beberapa budaya dengan cukup terinci. Poin plusnya lagi, detil-detil tersebut bisa dimasukkan ke dalam cerita tanpa mengganggu alur dan cara bertutur. Sepanjang pembacaan saya, tidak ada fakta-fakta yang seperti dipaksakan untuk masuk ke dalam buku ini. Detil-detil itu justru menjadi bahan yang bersatu membangun sebuah cerita yang menarik.

Jadi, saya pikir novel ini cukup berkesan dan menarik untuk dibaca. Tapi bagi yang pernah membaca bentuk puisinya, jangan membaca novel ini dengan ekspektasi yang terlalu tinggi sebab hal tersebut kemungkinan besar akan membuat anda kecewa. Perlu disadari bahwa memang puisi memberikan ruang yang lebih luas untuk penafsiran-penafsiran dan kesan individual, hal itu tentu akan berbeda ketika bentuknya diubah menjadi prosa. Ada ruang-ruang pemaknaan yang dipersempit, itu wajar dan sah-sah saja dan tidak menjadikan prosa tersebut kurang 'bernilai'.

Demikian ulasan subjektif saya mengenai novel ini. Mungkin banyak yang keliru, tapi mungkin juga ada beberapa yang benar.
Salam.
ART.
Jakarta, 31 Oktober 2015.

Selasa, 29 September 2015

Ulasan Buku "Gandamayu" Karya Putu Fajar Arcana

Berikut ini ulasan subjektif saya terhadap buku karya Bli Can ini:

Bahasa yang digunakan dalam novel ini tergolong ringan. Tidak terlalu banyak bunga-bunga kata. Apalagi saya membaca buku ini setelah lebih dulu membaca Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata, yang dari halaman pertama sampai halaman akhir konsisten menggunakan kalimat yang 'meliuk-liuk'. Jadi, saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam menikmati cerita yang disuguhkan oleh Bli Can dalam novel ini. Secara garis besar, sepertinya Bli Can ingin menggabungkan dua dunia dalam satu novel, yaitu dunia wayang dan dunia nyata, dan menurut saya, dalam beberapa poin penggabungan tersebut cukup berhasil. 

Ketika bercerita tentang dunia wayang, tampak bahwa Bli Can benar-benar menguasai atau telah melakukan riset yang mendalam mengenai hal yang ia ceritakan. Saya yang terlahir bukan dari keluarga pencinta wayang sebelumnya hanya tahu sedikit-sedikit tentang cerita peperangan di padang kurusetra serta peperangan Baratayudha. Ketika membaca atau mendengarkan cerita itu pun, umumnya yang menjadi fokus cerita adalah tentang kehebatan para pandawa. Makanya, ketika mendapatkan bahwa novel ini menceritakan tentang Dewi Durga, sesuatu yang sejauh pengetahuan saya masih jarang dikait-kaitkan dengan perang besar itu, saya menjadi tertarik. Menurut saya, mengambil tokoh-tokoh minor untuk kemudian dijadikan pokok persoalan dalam sebuah cerita tersendiri selalu menarik, dan belakangan ini hal tersebut menjadi populer di kalangan beberapa penulis. 

Bli Can pun tak kalah kuat saat menceritakan tentang bagian dunia nyata yang berlatar budaya Bali. Mungkin sebagian orang akan berkata hal tersebut wajar karena Bli Can adalah orang Bali. Tapi bagi saya, menjadi bagian dari masyarakat tertentu tidak menjadi jaminan bahwa kita bisa menulis budaya masyarakat tersebut dengan baik. Dengan kata lain, tetap harus ada upaya serius yang dilakukan agar bisa memahami dan menuliskan budaya tersebut menjadi cerita yang menarik. Sekali lagi, menurut saya Bli Can sukses dalam hal ini. 

Hanya saja, sebagaimana bunyi peribahasa lama, tidak ada gading yang tak retak. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu saya selama membaca Gandamayu. Pertama, sejak halaman-halaman awal, saya sudah merasakan ada bagian-bagian tertentu dari novel tersebut yang terlalu berceramah. Terutama ketika menyoroti dominasi laki-laki terhadap wanita. Mungkin karena terlalu bersemangat, atau entah karena apa, bagian tersebut seperti dipaksakan untuk hadir. Sehingga saya merasa untuk bagian-bagian yang 'berceramah' itu saya merasa kehilangan feel dari novelnya. 

Hal kedua yang cukup mengganggu saya adalah sering munculnya kosa kata yang terlalu modern dan akademis ketika penulisnya bercerita tentang dunia pewayangan. Tentu tidak menjadi masalah kalau kata-kata canggih tersebut digunakan saat penulis bercerita tentang dunia nyata yang terjadi saat ini. Tapi, munculnya kata 'dominasi, diplomasi, konflik masyarakat,' dan sejenisnya saya rasa kurang pas ketika itu digunakan saat menceritakan tentang pewayangan. 

Berikutnya, yang saya garis bawahi adalah persoalan dua alur cerita dalam satu novel. Memang Bli Can telah memberikan sebuah pengait antara cerita keduanya, namun saya pribadi merasa pengait yang diberi itu kurang kuat. Entah ini hanya perasaan saya saja atau memang benar adanya, namun dua cerita itu berdiri sendiri-sendiri. Saya mengharapkan ada peleburan yang lebih kuat antara keduanya dan menjadikannya sebuah cerita utuh yang benar-benar tidak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain. Mungkin peleburan antara dua dunia sebagaimana yang ditunjukkan SGA dalam Kitab Omong Kosong adalah bentuk peleburan yang saya harapkan. 

Demikian ulasan saya. Sangat mungkin salah, tapi mungkin juga ada benarnya. Semoga bermanfaat. 

ART. 
Yogyakarta, 
29 September 2015