Senin, 24 Februari 2020

Asap-Asap Itu Telah Menghilang

Cerpen ini pernah dimuat di Kompas, 23 Februari 2020


Lebih dari dua puluh tahun lalu, di tengah sesak napas karena gas air mata, Basau jeri melihat kepala temannya bocor dihantam pentungan oleh petugas. Sang teman sempat bingung karena ada sesuatu yang menetes. Lalu mengerang dalam takut sekaligus sakit setelah sadar bahwa yang menetes berwarna merah dan berasal dari kepalanya sendiri. Wajah kesakitan serta teriak meminta ampun itu masih terekam dengan jelas di kepala Basau. Tersemai dengan sendirinya bersama setiap tetesan darah yang jatuh.
Saat itu semua keberanian yang dipupuk sejak berminggu-minggu sebelumnya perlahan melemah. Lalu runtuh seutuhnya saat sang teman terus digebuk dan ditendang meskipun ia tak melawan sama sekali. Atau justru karena ia tak melawan?
Massa mulai berpencar. Tercerai berai tak karuan arah. Sebagian merangksek maju. Melemparkan segala batu dan benda-benda lain ke arah petugas. Sebagian sisanya berlari mencari tempat sembunyi. Sempat ada rasa bingung di hati Basau: menolong teman yang digebuki atau ikut yang lain untuk berlari. Basau tak tahu. Satu hal yang ia tahu ketika itu: bahaya mengancam. Petugas-petugas yang lain menunjuk-nunjuk ke arahnya.
Sebisa mungkin Basau berlari. Sekencang-kencangnya. Beberapa kali ia terpeleset dan terjerembab. Beruntung para aparat tertahan oleh banyaknya orang yang lintang pukang. Pelipis kiri Basau berdarah, kakinya luka, dan rusuknya mungkin patah karena bertabrakan dan terinjak-injak, tapi nasibnya lebih baik. Ia bisa selamat dan menjauh dari pusat kerusuhan.
Sebulan setelah kejadian tersebut, Basau mendapat kabar bahwa temannya di barisan depan menghilang, mungkin diculik. Sementara, petugas masih mencari teman-teman terdekatnya serta orang lain yang dicurigai. Tahu bahwa dirinya masuk dalam radar, Basau meninggalkan ibu kota. Pindah ke pulau seberang.
Bertahun-tahun setelahnya, Basau masih tinggal di tempat persembunyian. Di sebuah desa yang benar-benar jauh dari mana-mana. Berbaur dan menjadi bagian warga transmigran. Dalam masa-masa sulit, sering kali Basau menyesali diri. Menganggap bahwa kata-kata ayahnya dulu benar belaka. Tapi darah muda mengguyurnya dengan amarah. Membalas dengan berkata bahwa ayah terlalu naif serta pengecut dan tak mau peduli pada nasib bangsa.
Memang pada akhirnya Basau mulai kerasan. Di tempatnya sembunyi ada banyak pohon. Udara sejuk. Waktu bisa dinikmati dengan hanya bernapas. Betul. Ia tidak berlebihan. Karena bernapas di sana, terutama saat matahari baru akan terbit, memberikan rasa lega yang luar biasa. Tak pernah bisa ia dapatkan saat dulu masih tinggal di ibu kota. Bukan hanya itu, ia kemudian menikahi seorang gadis dan mendapatkan seorang anak. Sebuah penghiburan yang tak terbayangkan menyenangkan.
Hanya saja, di momen-momen tertentu, misalnya ketika ia menganggap kunang-kunang di tepi hutan sawah serupa dengan lampu-lampu di jalan raya yang dulu akrab dengannya, Basau tak bisa tidak ingat dengan kehidupan lama. Tentu, selama bertahun-tahun itu, ada keinginan Basau untuk kembali ke kota asalnya, tapi semua harus ditekan. Ia tak yakin teman-temannya masih di tempat yang sama. Jika pun ia bertemu dengan satu saja teman semasa masih muda dulu, ia tak bisa membayangkan dirinya harus mengaku sebagai seorang yang begitu saja meninggalkan sesuatu yang pernah mereka sebut sebagai perjuangan para pemuda. Tidak. Ia tak akan sanggup menceritakan kekalahannya.
***

Kekalahannya di masa lalu membuat Basau menutup rapat-rapat segala cerita yang terkait, bahkan dengan anak dan istri sendiri. Istrinya bisa mengerti. Tak banyak menuntut dan bertanya. Sebab mungkin ada luka yang masih menganga. Tapi tidak dengan sang anak. Ia tak pernah puas dengan hanya mendapatkan jawaban berupa sebuah nama kota tempat ayahnya berasal. Ia ingin tahu lebih dari itu. Keingintahuan yang tumbuh bersama dirinya. Dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun. Hingga akhirnya menerbitkan sesuatu yang mendekati obsesi.
Basau sendiri menandai tumbuhnya obsesi sang anak muncul di saat yang sama dengan terbangunnya sebuah pabrik yang berjarak delapan kilometer dari rumahnya. Ia juga mendapati ada beberapa persamaan antara anaknya dengan pabrik itu. Misalnya dalam hal keras kepala. Warga desa pernah melakukan protes ke berbagai pihak terkait, tapi rupanya bangunan itu tetap berdiri juga. Anak Basau sendiri rupanya tak mau kalah. Selama proses pembangunan pabrik, ia berdiri di depan pagar proyek. Tak hendak beranjak. Sesuatu yang kemudian diikuti oleh warga lain dan mendapatkan sorotan. Pembangunan pabrik sempat terhenti, tapi hanya sebentar sebab mereka telah mengantongi izin resmi.
Sejak kejadian itu, anak Basau menemukan bahwa ada hal yang tidak disukai dari ayahnya. Sebabnya jelas, Basau tak pernah mau ikut melakukan unjuk rasa dan hal yang sejenis. Bagi anak Basau, itu memalukan, naif, dan pengecut.  
Saat sang anak beranjak remaja, Basau menemukan bahwa pemuda itu mulai gemar mengebulkan asap dari mulutnya: kesamaan kedua dengan pabrik tersebut. Bahkan, saat pihak pabrik kemudian melakukan pembakaran lahan untuk memperluas daerah perkebunan yang ada di bawah nama mereka – asap pembakaran begitu pekat – anak Basau tetap merasa perlu membeli batangan tembakau untuk menambah variasi aroma asap.
Basau sendiri tidak melarang anaknya mengisap asap. Sebab ia dulu juga begitu. Ia berhenti sebab aroma tembakau mengingatkannya pada seorang teman yang menghilang diculik aparat. Dulu, temannya itulah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi Basau dalam hal mengisap dan mengebulkan asap. Hanya saja, asap yang dikebulkan oleh pabrik serta pembakaran lahan itu sudah berlebihan.
“Tak perlu kau tambahi lagi. Asap dari pabrik sudah cukup,” ucap Basau pada anaknya di suatu pagi.
“Kita selalu merasa cukup, Pak. Tapi pabrik itu tidak pernah. Aku cuma membiasakan diri dengan asap. Lagi pula, asapku ini adalah asap perlawanan terhadap asap mereka.
Basau tersenyum. Anaknya kurang ajar. Sama seperti dia di masa muda.
Di hari anaknya pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Basau mendapati kenyataan baru. Ia kehilangan udara pagi yang begitu menyejukkan dan menyenangkan sejak kedatangan pabrik. Ia juga kehilangan anaknya yang pergi ke kota tempat ia dulu berasal. Anak itu, mungkin sama seperti pabrik, begitu obsesif. Anaknya obsesif membuka masa lalu sang ayah. Pabrik di desa obsesif membuka lahan baru.
Saat musim pembakaran lahan dan napas semakin sesak, Basau mendapatkan telepon dari anaknya di kota.
“Aku sudah tahu ayah dulu tukang demo.” Kalimat itu dilontarkan sebagai pembuka yang kemudian dilanjutkan dengan, “Tenang, Yah. Nama ayah tidak busuk sebagai seorang pelarian seperti yang ayah khawatirkan.”
Basau hanya menjawabnya dengan terbatuk. Batuknya lebih keras saat sang anak melanjutkan, “Teman ayah, ia juga lari sebagai buronan dan tidak diculik oleh aparat seperti kabar yang beredar. Anaknya sekarang jadi temanku. Kami sama-sama sering maju aksi. Seperti kalian di masa muda.”
Di saat itu, ketimbang penasaran dengan nasib temannya, Basau lebih ingin menceramahi anaknya. Mengatakan bahwa ia harus menghindari kesalahan-kesalahannya di masa muda. Tapi ia tahu, hal itu hanya akan disangkal oleh si anak. Seperti ia dulu menyangkal ayahnya.
“Besok kami akan aksi lagi. Menuntut adanya aturan tentang pembakaran lahan oleh pabrik. Aku tahu asap di sana sudah semakin parah. Batuk ayah juga makin payah.”
Anak Basau mematikan sambungan telepon.
***

Telepon berdering, tapi tak kunjung diangkat. Anak Basau terlalu sibuk. Matanya perih karena gas air mata. Tak hanya itu, ia merasa takut sekaligus sakit ketika sadar bahwa ada sesuatu yang menetes dari kepalanya.
Sementara itu, di tempat lain, air menetes dari langit. Jatuh menghantam bumi. Satu per satu dalam ritme yang begitu cepat. Basau memegang telepon genggam. Nada tunggu tak kunjung sampai pada ujung penantian.
Basau begitu ingin memberikan kabar pada anaknya. Bahwa hujan telah turun dengan begitu lebat. Setidaknya dalam dua jam terakhir. Meluruhkan asap-asap yang beberapa minggu terakhir tampak begitu berkuasa, menjadi seperti tanpa daya. Membuat udara sore jauh lebih bersahabat.
Di antara nada tunggu yang semakin membuat jemu, Basau tahu telah terjadi sesuatu. Televisi di rumah mengabarkan kerusuhan yang terjadi saat mahasiswa berunjuk rasa di ibu kota.
Asap telah semakin tipis. Bahkan nyaris menghilang, tapi dadanya justru terasa bertambah sesak. Matanya perih. Perih sekali. Ingatannya melayang pada kejadian dua puluh tahun lalu.
***
ART
Palembang, 3 Oktober 2019

Kamis, 19 Desember 2019

Sampah Kota Smece

Cerpen ini dimuat di portal litera.co.id pada 17 November 2019

Cerita bisa dibaca dengan membuka tautan berikut: http://www.litera.co.id/2019/11/17/sampah-kota-smece/

Senin, 18 November 2019

Taman di Depan Rumah

Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos pada November 2019


Taman itu tidak lagi terlihat rapi. Rumput-rumput tumbuh seenaknya. Mawar-mawar mengering. Pohon-pohon bonsai terlihat seperti orang penuh dosa yang sakratul mautnya begitu sulit. Kupu-kupu yang dulu sering hilir mudik di sana tak pernah muncul lagi. Semuanya berubah begitu rupa sejak lima bulan lalu.
Dulu, setiap hari, sejak jam sembilan sampai jam sepuluh pagi ada sepasang orang tua merawat taman di depan rumahnya itu dengan telaten. Setiap daun mengembang hijau seolah dilap dan dibersihkan satu demi satu. Atau mungkin memang begitu.
Setelah ‘berkebun’, keduanya duduk di beranda. Memandangi taman mereka yang sebenarnya tidak begitu luas, namun memang hijau dan menyejukkan. Ditemani oleh biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Saat itu, mereka akan berbincang tentang anak tunggal yang di rantau, atau hal-hal remeh lainnya. Tiga atau empat kupu-kupu akan hinggap di tanaman lidah mertua yang ada di pot kecil di tengah meja. Seperti ingin nimbrung dalam perbincangan keduanya.
Semua itu jadi pemandangan sehari-hari sampai akhirnya di suatu pagi sang suami tak lagi merepons usapan tangan istrinya untuk membangunkannya sebagaimana biasa. Anak tunggalnya yang merantau terpaksa pulang lebih cepat dari jadwal. Rumah beserta tamannya dipenuhi oleh orang yang menunjukkan rasa berbela sungkawa.
***

Seminggu setelahnya, taman kecil itu tetap tak tersentuh. Sang anak yang tahu bagaimana rutinitas kedua orang tuanya, tidak berkomentar. Lagi pula tak mungkin membiarkan orang tua bertaman di masa berkabung. Namun, ternyata hingga peringatan lewat seratus hari, sang ibu tetap tak menghiraukan tamannya.
Rumpun hijau di depan rumah sudah seperti semak belukar. Sang anak, yang sejak kematian ayahnya lebih sering berkunjung, terpaksa merapikan taman. Namun tangannya tak setelaten sang orang tua. Ia tak suka bertaman. Semua dilakukannya hanya agar taman itu tak terlalu buruk dilihat tetangga. Ibunya, yang lebih banyak diam, tak bersuara melihat anaknya seperti itu. Tidak melarang, tidak membantu. Tatapannya lurus saja, menembus semua benda.
Mungkin karena tak mampu menemukan cara lain, sang anak justru mempergiat aktivitas berkebunnya. Ia bahkan rela mengajukan pindah tugas agar bisa tinggal di kota yang sama dengan sang ibu. Frekuensi kunjungan ke rumah orang tuanya ditambah. Harapannya hanya satu, agar sang ibu kembali bersemangat. Dengan melihatnya yang sering berkebun, ibunya akan kembali punya daya hidup, pikirnya. Ia tahu harapan itu bukanlah harapan kosong saat tiga bulan kemudian, ibunya tidak lagi menatap kosong menembus semua benda. Meski demikian, ibunya masih belum bergerak. Hanya memandang dari beranda.
Hanya pandangan, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan harapan. Sang anak menambah lagi jadwal berkunjung dan berkebun di rumah orang tuanya. Dari seminggu dua kali, jadi seminggu tiga kali, lalu seminggu empat kali, hingga akhirnya ia benar-benar berkebun di sana setiap hari. Sepulang kerja, ketika senja sedang ranum-ranumnya, ia akan ada di taman itu, lengkap dengan mata ibunya yang kembali bercahaya. Meskipun belum ada lagi kupu-kupu yang hinggap di bunga manapun.
Pada senja yang keseratus tujuh puluh tiga, saat ia hendak pamit pada ibunya setelah usai berkebun, tanpa ia duga sang ibu tersenyum. Senyum pertama yang dikembangkan oleh wanita itu sejak kematian suaminya. Anak tunggalnya bergetar. Terlebih lagi, sang ibu memeluknya. Sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan lagi.
***

Sejak itu, sang anak semakin serius merawat kebun. Dibelinya beberapa peralatan berkekebun. Gerakannya masih kaku, tentu saja. Tapi itu tak masalah. Beberapa petak kebun terlihat kembali hidup dan berseri. Dan yang paling penting, ia disambut dan dilepas oleh ibunya dengan senyuman. Sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apapun. Ia yakin, waktunya semakin dekat. Ibunya akan kembali bertaman dan ‘hidup’ lagi.
Kerja kerasnya terbayar saat empat minggu kemudian, sang ibu tidak hanya menyambutnya dengan senyum, tapi juga dengan peralatan taman di tangan. “Ibu akan membantumu bertaman hari ini,” suara ibunya gemetar. Ia tersenyum. Menahan air yang hampir tumpah dari mata. Beberapa menit berikutnya, kedua anak-beranak itu sudah sibuk dengan alat di tangannya.
Saat itulah sang anak mencuri-curi pandang ke arah ibunya. Ayunan tangan sang ibu  tetap lincah seperti dulu. Si anak sempat tersenyum senang melihat ibunya kembali bersemangat. Namun senyum itu berubah kalut ketika sang ibu menitikkan air mata. Sang anak tahu pasti, ibunya terkenang saat-saat bertaman dengan sang ayah.
Setengah jam kemudian, keduanya rehat. Duduk di beranda. Menikmati biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Berbincang tentang hal-hal remeh. Sambil memandangi taman yang kembali hijau permai, meskipun kupu-kupu tetap belum ada yang hadir. Di tengah perbincangan, air mata ibu kembali meleleh.
Kenangan, deritanya memang tiada akhir.
***

Sendirian ia duduk di beranda rumah. Menatap ke arah taman. Orang-orang baru saja pulang dari mengungkapkan bela sungkawa. Setelah sore yang begitu indah, ibunya harus menyusul sang ayah. Ia masih terpukau dengan nasib yang bisa begitu mudah menunjukkan kuasa.
Matanya menatap nanar. Terlalu menderita untuk melihat taman itu jika tak terurus kembali, namun kembali merawat tumbuhan-tumbuhan di sana sama saja dengan menimbun dirinya dalam penderitaan. Ia tak pernah menyangka bisa begitu terikat dengan taman. Dua tahun yang lalu, ia sendiri tak akan mau berkotor-kotor dengan tanah demi sebuah taman. Tapi setelah semua ini, ia sendiri bingung menentukan perasaannya terhadap taman itu. Hanya saja, di tengah kebingungan itu, ia telah memutuskan untuk menjual rumah. Ia harus hidup di jalannya sendiri, membentuk nasibnya sendiri yang mungkin masih panjang.
Apabila hari itu, pukul sembilan pagi, ia duduk di teras sambil menikmati semua yang biasa dinikmati kedua orang tuanya, maka itulah yang dianggapnya sebagai ‘pesta perpisahan’. Ditariknya napas dalam-dalam dan dikatupkannya kedua mata. Ketika ia membuka mata lagi, pandangannya tertumbuk pada lidah mertua di dalam pot di atas meja. Ia baru sadar bahwa ia telah abai pada tumbuhan kecil itu. Dicobanya untuk mengingat-ingat dan barulah ia mahfum, dulu sebelum ia memutuskan untuk bertaman, tumbuhan itulah yang tetap terlihat terawat sementara yang lain sekarat. Satu-satunya tumbuhan yang dalam keterpurukan taman, setiap daunnya tetap mengembang hijau seolah-olah setiap helai telah dilap sedemikian rupa.
Ia mencoba menggali ingatan yang berkaitan dengan tumbuhan itu. Samar-samar, ia teringat suatu hari, kedua orang tua itu memberikan kado ulang tahun dan doa yang tak ia harapkan: sebuah tanaman dalam pot kecil dan doa agar ia kelak mampu melihat sisi indah setiap tanaman selayaknya kedua orang tuanya.
Sang anak seketika merasa dadanya penuh sesak. Mencoba menahan laju buliran air di sudut matanya. Namun, ia tak mampu. Dan entah datang dari mana, sepasang kupu-kupu hinggap di ujung daun tanaman di hadapannya.
***

ART.
Palembang, 24 November 2017

Kamis, 10 Oktober 2019

Birokrasi Gigi

*Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos


Bala ingin menghajar siapapun yang bilang bahwa sakit gigi lebih baik daripada sakit hati. Bahkan, jika bertemu di akhirat, ia akan dengan senang hati menghajar pelantun lagu dangdut yang membuat ungkapan itu terkenal.
Lagi-lagi malam ini Bala tak bisa tidur akibat sakit gigi. Ia tak pernah semenderita itu ketika sakit hati. Istrinya pun ikut nelangsa melihat penderitaan yang dialami Bala.
 Tiga hari penuh derita itu dilalui Bala bukan tanpa usaha agar sakit giginya berkurang. Di hari pertama, tepatnya setelah pulang kerja, Bala tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di gigi geraham kiri yang paling belakang. Sakit yang menghentak-hentak seirama dengan denyut jantungnya. Bala ingat bahwa dulunya gigi itu berlubang dan sudah ditambal tiga tahun lalu. Lalu kenapa sekarang sakit lagi?
Di hari itu juga Bala mendatangi dokter gigi yang dulu menambal giginya. Setelah mengetuk-ngetuk gigi Bala dengan alat khusus, dokter mengangguk-anggukkan kepala.
“Sepertinya tindakan yang saya ambil tiga tahun lalu itu gagal, dan ini untuk pertama kalinya sepanjang karier saya sebagai dokter gigi.”
“Jadi bagaimana, Dokter?”
“Perlu tindakan dari dokter spesialis bedah mulut.”
Dokter itu pun memberikan sebuah surat rujukan yang berisi rekomendasi tindakan lanjutan yang ditujukan pada dokter di rumah sakit khusus gigi. Bersama sedikit obat pereda nyeri, dokter itu menyerahkan surat rujukan yang telah ditulisnya kepada Bala.
“Silakan tunjukkan rujukan ini ke dokter di sana. Bapak punya asuransi kesehatan yang dari pemerintah, kan?”
Bala mengangguk. Sedikit senang karena merasa akhirnya kartu asuransi itu akan terpakai juga.
“Segera ya, Pak. Gigi Bapak ini butuh penanganan segera dari ahli bedah mulut.”
Sekali lagi Bala mengangguk. Di rumah, ia menceritakan yang terjadi pada istrinya.
***

 Bala adalah pendaftar pertama di Puskesmas pada hari itu. Ia sudah berdiri di depan pagar setengah jam sebelum jam operasional puskesmas. Namun, di bagian administrasi, ia hanya mendapatkan kekecewaan. Perawat di puskesmas menggelengkan kepala. “Maaf, Pak. Kartu asuransi Bapak ini tidak bisa digunakan.”
“Lho? Kenapa?”
“Bapak menunggak bayaran selama tiga bulan?”
“Menunggak bagaimana? Asuransi itu kan dibayari oleh kantor saya. Gaji saya sudah dipotong setiap bulan untuk itu.”
“Maaf, Pak. Tapi ini belum bisa dipakai sampai Bapak melunasi tunggakan.”
Sambil menahan sakit gigi yang semakin heboh karena obat pereda nyeri dari dokter tidak terlalu ampuh, Bala juga terpaksa menahan marah. Lalu, di hari itu juga, ia mendatangi bendahara kantornya. Dengan wajah yang merah padam. Membuat bendahara yang biasanya tampak acuh tak acuh, mau tak mau jadi sangat peduli dengan Bala.
Setelah menceritakan semua yang terjadi pada sang bendahara, Bala mendapatkan sebuah kertas berisi salinan bukti pembayaran asuransi yang telah dipotong dari gajinya setiap bulan.
“Kau ke kantor asuransi itu secepatnya, tunjukkan bukti ini. Jadi blokir atas kartu asuransimu itu bisa segera dibuka.”
Bala mengangguk. Hampir lupa mengucapkan terima kasih dan berlalu. Ia melangkah menuju kantor asuransi milik pemerintah itu. Giginya semakin sakit.
***

“Bapak sejak kapan punya kartu ini?” ujar wanita manis di depannya.
“Bulan Juli.”
“Itu Bapak buat secara mandiri atau langsung dari kantor?”
“Buat sendiri.”
“Sejak kapan pembayarannya dialihkan ke kantor?”
Bala mengambil napas dalam-dalam. Mencoba untuk tetap bersabar menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi. Menghujat wanita manis di depannya itu di dalam hati. Setelah cukup tenang, ia menjawab, “Sejak bulan Oktober.”
“Jadi begini, Bapak. Sekarang ini sedang dalam masa transisi. Selama masa transisi, Bapak masih harus tetap membayar iuran bulanan asuransi ini.”
“Gajiku sudah dipotong sejak bulan Oktober,” nada suara Bala mulai meninggi. Ia meletakkan bukti pemotongan gaji dengan tidak sabar ke hadapan sang wanita.
“Iya, Bapak. Mohon maaf. Ini bukan kebijakan saya. Memang dari pusat mengharuskan seperti itu.”
“Jadi kalian menyuruhku membayar dua kali, hah?” kali ini suara Bala benar-benar keras. Beberapa orang yang ada di dekatnya mulai menoleh. Tertarik ingin tahu apa yang terjadi.
“Sekali lagi mohon maaf, Bapak. Ini sama sekali bukan kebijakan dari saya. Saya hanya pegawai rendahan yang mengikuti instruksi dari pusat.”
Bala menggebrak meja. Satpam mulai berjalan ke arahnya. Bala bersungut, “Tak usah disuruh, aku akan keluar dari ruangan ini segera tanpa pengawalanmu.”
***

Setelah dihitung-hitung, tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh Bala kecuali membayar ‘tunggakan’ yang dibebankan padanya. Bagaimanapun juga, biaya bedah mulut seperti yang dikatakan dokter bisa sampai tiga kali lipat dibandingkan ‘tunggakan’ asuransinya.
Maka hal yang selanjutnya dilakukan oleh Bala adalah pergi ke ATM, memasukkan kartu ATM-nya, menekan nomor identitas pribadi, memencet tombol pilihan ‘pembayaran asuransi’ yang tertera di layar, dan keluar dari bilik kecil itu. Ia meringis, tak tahu karena sakit gigi atau karena sisa uang di ATM yang bahkan untuk beli pecel lele di pinggir jalan pun tak cukup lagi.
Satpam segera mengenali wajah Bala ketika ia kembali ke kantor asuransi. Tampak ia bersikap waspada, namun Bala segera berkata, “Aku datang dengan damai.” Satpam pun mempersilakan ia masuk.
Ia berhadapan lagi dengan wanita manis yang sama setelah menunggu antrean selama setengah jam. Wanita itu kikuk, kentara sekali bahwa ia takut, tapi juga harus bersabar karena yang begitu itulah pekerjaannya. Hanya saja, wanita itu jadi tidak secerewet tadi.
Bala sedikit bersyukur karenanya. Ia langsung menunjukkan bukti pembayaran yang telah ia lakukan di ATM terdekat. Wanita manis itu meminta Bala untuk menunjukkan kartu asuransinya. Setelah mengetikkan beberapa huruf di keyboard komputer, ia pun berusaha tersenyum untuk kemudian berkata pada Bala, “Pemblokiran pada kartu Bapak telah dilepas dan kartu ini sudah bisa dipakai kembali untuk berobat.”
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Artinya Puskesmas pun sudah tutup. Jadi, meskipun kartu asuransinya sudah bisa dipakai, ia tetap harus menunggu sampai besok. Bala meninggalkan kantor asuransi yang dikelola pemerintah itu. Pipinya yang sebelah kiri mulai bengkak. Obat dari dokter itu memang tidak berpengaruh banyak.
Istri Bala semakin tak tega melihat kondisi suaminya, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
***

Seperti hari sebelumnya, Bala menjadi pasien pertama yang mendaftar di Puskesmas. Perawat yang sama telah duduk di belakang meja. Bala memberikan kartu asuransinya. Sang perawat mengecek di komputer, kartunya sudah aktif. Ia pun menanyakan keluhan Bala dan mempersilakan Bala menuju ruang dokter gigi.
Ia sebenarnya sudah tahu bahwa meskipun sudah ada rekomendasi dari dokter praktik yang menyatakan ia harus ditangani segera oleh dokter spesialis bedah mulut, dia tidak bisa begitu saja ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Harus mendapat surat rujukan dari Puskesmas dulu. Dan dokter gigi di Puskesmas-lah yang nanti akan memberikan rujukan yang dimaksud.
Sekali lagi, Bala sudah tahu itu, tapi yang tidak dia tahu adalah, “Dokter di Puskesmas tidak boleh langsung memberikan rujukan ke rumah sakit. Bapak harus menjalani perawatan dulu di sini. Setidaknya dua kali berobat ke sini, baru nanti kalau masih tidak membaik, dokter Puskesmas akan memberikan rujukan,” seperti yang dinyatakan dokter Puskesmas.
Bala menunjukkan rekomendasi dari dokter yang dulu menambal gigi gerahamnya yang kini sakit, “Tapi berdasar surat ini, saya harus segera dapat tindakan dari spesialis bedah mulut.”
“Ya, tapi ini aturan dari pusat, Pak. Kami nggak boleh langsung kasih rujukan untuk pasien yang baru pertama kali datang. Minimal harus dua kali.”
Bala baru akan buka mulut lagi ketika dokter itu berujar, “Tenang saja. Ini obat pereda nyeri. Minggu depan Bapak ke sini lagi. Nanti saya kasih surat rujukannya.”
“Minggu depan?”
“Iya. Minggu depan.”
***

Selama satu minggu itu Bala tak bisa tidur nyenyak. Begitu pula istrinya, ia sering menangis tanpa suara melihat suaminya menahan sakit. Obat dari Puskesmas sama saja dengan obat yang sebelumnya, tidak berpengaruh pada sakitnya. Bahkan pipi kiri Bala semakin membengkak. Hanya saja ia benar-benar tak punya pilihan lain selain menunggu dan menunggu itulah yang ia lakukan selama seminggu.
Begitu hari yang ditunggu datang, dengan tak sabar Bala mengambil surat rujukan dari dokter. Ia memacu sepeda motor ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Melewati semua proses pendaftaran dan bertemu dengan dokter di sana.
“Ini ada infeksi yang serius. Gigi Bapak harus dibedah segera oleh ahli bedah mulut,” ujar dokter itu. Bala harus menahan emosi untuk kesekian kali mendengar itu sebab ia sudah tahu sejak awal.
“Tapi ada satu masalah. Asuransi yang Bapak gunakan ini tidak membolehkan kami mengambil tindakan pada kunjungan pertama pasien. Ini saya kasih obat pereda nyeri untuk Bapak. Silakan datang lagi ke sini minggu depan, dan akan langsung kami ambil tindakan.”
Bala mengambil napas dalam-dalam, begitu dalam. Tangannya bergetar menahan emosi. Namun ia teringat dengan saldo di ATM-nya. Ia, sekali lagi, tak punya pilihan selain tunduk pada birokrasi ini.
Ia pulang ke rumah dengan wajah digagah-gagahkan. Tak ingin melihat istrinya semakin sedih melihat kondisinya.  
***

Istri Bala sedang duduk menghadap televisi. Orang ramai telah pulang dari rumahnya, para tetangga yang datang untuk memperingati tujuh hari kematian Bala. Kini tinggal ia sendiri di rumah itu.
Channel televisi berganti-ganti karena remote­-nya tak berhenti dipencet oleh istri Bala. Sampai akhirnya sang janda memilih sebuah siaran. Konferensi pers dari pemerintah.
“Kartu asuransi kesehatan yang merupakan program unggulan kami telah berjalan dan terus dijalankan. Sampai akhir tahun ini, telah jutaan masyarakat Indonesia yang menikmati fasilitas ini,” ujar seseorang berpeci hitam di layar televisi itu.
Istri Bala tertawa mendengar suara dari kotak berwarna itu. Ia tertawa terbahak-bahak. Sampai air matanya meleleh.
***

ART.
Banyuasin, 12 Januari 2017