Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Januari 2018

Antara Mimpi, Ambisi, dan Mitologi




(Ulasan terhadap Buku Equilibrium Karya Bramantio)

Judul                  : Equilibrium
Penulis               : Bramantio
Cetakan             : 1, Februari 2016
Penerbit             : Arruz Media
Tebal                  : 162 halaman
ISBN                 : 978-602-313-059-7

Mimpi bisa jadi sesuatu yang berbahaya. Terlebih lagi jika mimpi itu terus menghantui bahkan ketika sang pemimpi telah terjaga. Membuat orang tersebut jadi penuh ambisi untuk mewujudkan mimpi yang tak berhenti datang membayangi.
Secara garis besar, mimpi yang berbahaya itulah yang menjadi dasar cerita-cerita dalam buku karya Bramantio ini. Sebagaimana mimpi, cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini tidak mudah untuk dipahami. Sejak dari judul, pembaca akan menemukan sesuatu yang asing sekaligus akrab. Sesuatu yang membuat berujar,  “Sepertinya pernah dengar, tapi entah di mana.” Begitu pula kalimat-kalimat yang ada dalam cerpen, panjang, njlimet. Kalimat-kalimat semacam itu, tersebar seolah tak beraturan, membuat pembaca sering kali harus kehabisan napas ketika membaca, apalagi untuk memahaminya. Namun, bukankah seperti itulah mimpi?
Mimpi-mimpi yang diangkat oleh Bramantio dikombinasikan dengan kehadiran ambisi-ambisi tokoh dan dicampur dengan kehadiran makhluk-makhluk mitologi. Jika digabungkan, mimpi, ambisi, dan makhluk mitologi akan menjadi setumpuk benda abstrak yang sulit dipahami. Bagian-bagian tersebut adalah ruang yang sengaja dikosongkan oleh penulis. Membebaskan para pembaca untuk menerjemahkan dan menafsirkannya. Ia bisa jadi simbol dari tindakan tertentu, sifat tertentu, atau orang tertentu. Inilah yang unik. Dengan kata lain, kita, sebagai pembaca, disuguhkan hal-hal abstrak dan ‘disuruh’ oleh penulisnya untuk mengkonkretkan hal abstrak tersebut.
Bagaimanapun, buku ini menyajikan sejumlah cerpen dan karena itu harus mempunyai alur logika yang jelas. Sebagaimana sering diucapkan oleh Putu Fajar Arcana, “Bacalah puisi untuk menjaga imajinasi dan bacalah prosa untuk menjaga logika.” Artinya, meskipun cerita itu menyampaikan tentang mimpi, ia tetap harus jadi sebuah mimpi yang meyakinkan para pembaca. Dan hal itu sudah diberikan oleh Bramantio dalam buku kumpulan ceritanya ini. Pembaca akan menerima cerita-ceritanya sebagai sebuah karya dan tidak menanyakan kenapa cerita itu tidak masuk akal. Itu tidak terlepas dari kemampuan Bramantio membangun cerita.
Lebih jauh lagi, Bramantio tidak menyalahkan siapapun dalam setiap kemalangan ataupun depresi yang dialami tokoh-tokoh dalam ceritanya. Ia tidak menghakimi. Tidak juga menggurui. Apabila tokohnya menjalani hidup yang berat dan penuh aral, itu memang karena begitulah hidupnya. Kalau pun terpaksa ada yang harus disalahkan, maka yang salah adalah tokoh itu sendiri. Bukan yang lain.
Selain itu, cerpen-cerpen dalam Equilibrium juga memberikan kesegeran. Ketika sebagian cerpen Indonesia sekarang berlomba-lomba dan mengikuti kriteria cerpen koran, cerpen-cerpen dalam buku ini menentang itu semua. Mulai dari panjang cerpen, gaya penceritaan, hingga konflik yang diangkat pun merupakan hal-hal yang tidak lumrah ditemukan dalam sebagian besar cerpen Indonesia saat ini. Dan jika memang buku ini dimaksudkan sebagai sebuah alternatif bacaan, maka ini menjadi alternatif yang menyenangkan.
Permasalahannya, sebagaimana hampir semua seni yang bersifat alternatif, maka peminatnya mungkin tidak terlalu banyak. Sebagian besar orang tentu lebih memilih untuk membaca bacaan yang sederhana, mudah dipahami, dan menyentuh hati ketimbang bacaan yang rumit, membingungkan, dan membuat dahi berkerut serta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui di kepala.

Selasa, 22 Desember 2015

Ulasan Buku "Tempat Paling Sunyi" Karya Arafat Nur

Berikut ini ulasan subjektif saya mengenai "Tempat Paling Sunyi" karya Arafat Nur:

Membaca buku Arafat Nur mungkin tidak bisa dilepaskan dari pengalaman membaca Lampuki. Apalagi saya membaca buku ini tidak lama setelah membaca buku Lampuki. Jika dibandingkan, tempo yang ada dalam Tempat Paling Sunyi jauh lebih lambat ketimbang tempo yang ada di dalam Lampuki. Walaupun latarnya tetap berada di Aceh, tapi novel ini bisa dibilang 'bertolak belakang' dengan Lampuki.

Saat membaca bagian-bagian awal buku ini, saya sempat berpikir, "Jangan-jangan ini pengalaman pribadi Arafat Nur." Kemungkinan itu ada dan selalu ada, walaupun seandainya pun memang pengalaman pribadi, itu tak masalah. Mau pengalaman ataupun bukan, penulis yang baik tetap akan menyajikan cerita dengan baik. Seandainya pun itu bukan pengalaman pribadi, juga tak masalah, karena sejatinya tidak ada karya yang benar-benar lepas dari fakta dan juga tak ada karya yang sepenuhnya lepas dari fiksi.

Arafat Nur, menurut saya, mampu menyampaikan kritik terhadap orang-orang yang beragama hanya di permukaan lewat tokoh istri pertama dan ibu mertua tokoh utama. Agama yang hanya dilakukan melalui ritual-ritual, tapi nilai-nilai dan esensinya tidak dijalankan dan menjadi landasan bertindak. Orang-orang semacam ini, sejauh yang saya tangkap dalam novel ini, menjadi biang kerok kekacauan-kekacauan yang terjadi. Parahnya lagi, mereka tidak menyadari bahwa kekacauan itu disebabkan oleh mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak tahu bahwa ada kekacauan.

Selain kritik terhadap orang-orang tersebut, saya juga menangkap kegelisahan tentang nasib penulis sastra pada umumnya, dan khususnya novel. Di sini Arafat Nur memberikan gambaran ekstrem yang menyatakan bahwa penulis novel hanyalah orang-orang yang kurang kerjaan dan mengisi waktu secara tidak bermanfaat. Meskipun tentu saja tidak semua orang berpendapat demikian, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa memang menulis di negeri ini belum bisa menjanjikan kelayakan hidup jika dijadikan sumber penghidupan. Saya juga menangkap hal tersebut tidak terlepas dari masih rendahnya minat baca masyarakat. Akibatnya novel, dan karya sastra lainnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat.

Selain dua hal tersebut, tentu ada banyak kritik-kritik lain yang dimuat Arafat Nur di dalam novelnya ini. Hal yang menarik adalah hampir semuanya, kalau tidak bisa dibilang semua, disampaikan secara satir. Menertawakan kesedihan, dan inilah memang yang menjadi poin lebih dari tulisan-tulisan Arafat Nur. Mungkin juga menjadi ciri khas yang dipilih secara sadar olehnya.

Hanya saja, sebagaimana gading yang pasti retak, buku ini pun memiliki beberapa poin yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya. Kejadian-kejadian ataupun sifat dan sikap yang dimiliki oleh tokoh-tokoh di dalam novel ini tak jarang begitu ekstrem, sehingga menjadi hiperbolis. Boleh dibilang, ada bagian-bagian yang keluar dari logika real, mengingat ini adalah novel yang realistis, maka hal yang berlebihan tentu cukup mengganggu.

Satu contoh yang dapat saya ambil adalah tentang begitu dungunya istri pertama dan mertua tokoh utama. Di dalam buku ini dinyatakan bahwa kedua tokoh tersebut begitu dungu sampai-sampai mereka tak tahu bahwa bumi itu berbentuk bulat. Keduanya percaya bahwa bumi itu datar saja. Tentu ini mengganggu, sebab di bagian lain dinyatakan bahwa istri pertama tokoh utama adalah lulusan sekolah menengah. Fakta bahwa bumi berbentuk bulat seperti bola sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Maka penggambar tentang kedunguan kedua orang tersebut menjadi hiperbolis dan tidak lagi realistis.

Ini hanyalah satu contoh yang saya paparkan. Masih ada banyak contoh-contoh lain yang bisa Anda temukan sendiri ketika membaca Tempat Paling Sunyi. Secara keseluruhan pun saya pribadi lebih menyukai Lampuki ketimbang Tempat Paling Sunyi. Meskipun demikian, buku ini pada dasarnya tetap saja sebuah buku yang menarik dan enak dibaca.

Demikian pendapat subjektif saya mengenai buku ini. Mungkin banyak pendapat saya tersebut yang salah, walaupun mungkin juga ada yang benar.
Salam.

ART.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Ulasan Novel "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

 

Berikut ini ulasan subjektif saya tentang novel ini:

Beberapa teman saya yang mengaku penggemar berat Sapardi mengungkapkan kekecewaan mereka setelah membaca buku ini. Mereka menyatakan bahwa bentuk puisi "Hujan Bulan Juni" jauh lebih bermakna dan mendalam ketimbang bentuk novelnya ini.
Namun, saya tidak terlalu sepakat dengan pendapat teman-teman saya itu. Saya pikir, mungkin mereka terjebak dalam ekspektasi berlebihan dari novel ini, sehingga ketika mereka tidak mendapatkan yang diharapkan, mereka pun kecewa. Sementara, saya yang membaca novel ini tanpa ekspektasi tertentu, merasa buku ini cukup berkesan.

Tema yang diangkat dalam novel ini lebih cenderung ke arah romance. Mungkin itu disebabkan bentuk puisinya juga lebih kental nuansa romansanya. Meskipun begitu, perlu digarisbawahi bahwa novel ini tidak menyajikan cerita romansa picisan anak SMA yang penuh adegan-adegan layaknya sinetron masa kini. Saya justru menangkap bahwa romansa yang ditampilkan justru menjadi pintu masuk untuk menyampaikan masalah-masalah yang lebih kompleks, tentang pertentangan budaya dan agama misalnya.

Cara bercerita Sapardi di novel ini juga tergolong ringan dan mengalir, namun sekali lagi, berkelas. Saya merasa bahwa puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, sejauh yang saya tahu, jarang menggunakan kata-kata sulit atau arkais, tapi bisa memberikan kesan mendalam. Singkatnya, puisi-puisi Sapardi itu mewah dalam kesederhanaannya. Itu juga yang saya tangkap ketika membaca cara bercerita Sapardi dalam novel ini. Tidak neko-neko. Tidak aneh-aneh. Sederhana saja, tapi entah kenapa terasa asik, menyenangkan, dan berkesan. Tidak aneh yang saya maksud di sini, ketika dibandingkan dengan novelnya yang "Trilogi Soekram" misalnya.

 Untuk masalah data dan riset, terlihat jelas bahwa Sapardi tidak main-main untuk novel ini. Ia bisa menyampaikan gambaran beberapa budaya dengan cukup terinci. Poin plusnya lagi, detil-detil tersebut bisa dimasukkan ke dalam cerita tanpa mengganggu alur dan cara bertutur. Sepanjang pembacaan saya, tidak ada fakta-fakta yang seperti dipaksakan untuk masuk ke dalam buku ini. Detil-detil itu justru menjadi bahan yang bersatu membangun sebuah cerita yang menarik.

Jadi, saya pikir novel ini cukup berkesan dan menarik untuk dibaca. Tapi bagi yang pernah membaca bentuk puisinya, jangan membaca novel ini dengan ekspektasi yang terlalu tinggi sebab hal tersebut kemungkinan besar akan membuat anda kecewa. Perlu disadari bahwa memang puisi memberikan ruang yang lebih luas untuk penafsiran-penafsiran dan kesan individual, hal itu tentu akan berbeda ketika bentuknya diubah menjadi prosa. Ada ruang-ruang pemaknaan yang dipersempit, itu wajar dan sah-sah saja dan tidak menjadikan prosa tersebut kurang 'bernilai'.

Demikian ulasan subjektif saya mengenai novel ini. Mungkin banyak yang keliru, tapi mungkin juga ada beberapa yang benar.
Salam.
ART.
Jakarta, 31 Oktober 2015.

Selasa, 29 September 2015

Ulasan Buku "Gandamayu" Karya Putu Fajar Arcana

Berikut ini ulasan subjektif saya terhadap buku karya Bli Can ini:

Bahasa yang digunakan dalam novel ini tergolong ringan. Tidak terlalu banyak bunga-bunga kata. Apalagi saya membaca buku ini setelah lebih dulu membaca Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata, yang dari halaman pertama sampai halaman akhir konsisten menggunakan kalimat yang 'meliuk-liuk'. Jadi, saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam menikmati cerita yang disuguhkan oleh Bli Can dalam novel ini. Secara garis besar, sepertinya Bli Can ingin menggabungkan dua dunia dalam satu novel, yaitu dunia wayang dan dunia nyata, dan menurut saya, dalam beberapa poin penggabungan tersebut cukup berhasil. 

Ketika bercerita tentang dunia wayang, tampak bahwa Bli Can benar-benar menguasai atau telah melakukan riset yang mendalam mengenai hal yang ia ceritakan. Saya yang terlahir bukan dari keluarga pencinta wayang sebelumnya hanya tahu sedikit-sedikit tentang cerita peperangan di padang kurusetra serta peperangan Baratayudha. Ketika membaca atau mendengarkan cerita itu pun, umumnya yang menjadi fokus cerita adalah tentang kehebatan para pandawa. Makanya, ketika mendapatkan bahwa novel ini menceritakan tentang Dewi Durga, sesuatu yang sejauh pengetahuan saya masih jarang dikait-kaitkan dengan perang besar itu, saya menjadi tertarik. Menurut saya, mengambil tokoh-tokoh minor untuk kemudian dijadikan pokok persoalan dalam sebuah cerita tersendiri selalu menarik, dan belakangan ini hal tersebut menjadi populer di kalangan beberapa penulis. 

Bli Can pun tak kalah kuat saat menceritakan tentang bagian dunia nyata yang berlatar budaya Bali. Mungkin sebagian orang akan berkata hal tersebut wajar karena Bli Can adalah orang Bali. Tapi bagi saya, menjadi bagian dari masyarakat tertentu tidak menjadi jaminan bahwa kita bisa menulis budaya masyarakat tersebut dengan baik. Dengan kata lain, tetap harus ada upaya serius yang dilakukan agar bisa memahami dan menuliskan budaya tersebut menjadi cerita yang menarik. Sekali lagi, menurut saya Bli Can sukses dalam hal ini. 

Hanya saja, sebagaimana bunyi peribahasa lama, tidak ada gading yang tak retak. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu saya selama membaca Gandamayu. Pertama, sejak halaman-halaman awal, saya sudah merasakan ada bagian-bagian tertentu dari novel tersebut yang terlalu berceramah. Terutama ketika menyoroti dominasi laki-laki terhadap wanita. Mungkin karena terlalu bersemangat, atau entah karena apa, bagian tersebut seperti dipaksakan untuk hadir. Sehingga saya merasa untuk bagian-bagian yang 'berceramah' itu saya merasa kehilangan feel dari novelnya. 

Hal kedua yang cukup mengganggu saya adalah sering munculnya kosa kata yang terlalu modern dan akademis ketika penulisnya bercerita tentang dunia pewayangan. Tentu tidak menjadi masalah kalau kata-kata canggih tersebut digunakan saat penulis bercerita tentang dunia nyata yang terjadi saat ini. Tapi, munculnya kata 'dominasi, diplomasi, konflik masyarakat,' dan sejenisnya saya rasa kurang pas ketika itu digunakan saat menceritakan tentang pewayangan. 

Berikutnya, yang saya garis bawahi adalah persoalan dua alur cerita dalam satu novel. Memang Bli Can telah memberikan sebuah pengait antara cerita keduanya, namun saya pribadi merasa pengait yang diberi itu kurang kuat. Entah ini hanya perasaan saya saja atau memang benar adanya, namun dua cerita itu berdiri sendiri-sendiri. Saya mengharapkan ada peleburan yang lebih kuat antara keduanya dan menjadikannya sebuah cerita utuh yang benar-benar tidak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain. Mungkin peleburan antara dua dunia sebagaimana yang ditunjukkan SGA dalam Kitab Omong Kosong adalah bentuk peleburan yang saya harapkan. 

Demikian ulasan saya. Sangat mungkin salah, tapi mungkin juga ada benarnya. Semoga bermanfaat. 

ART. 
Yogyakarta, 
29 September 2015



Sabtu, 29 Agustus 2015

Ulasan Buku "The Swan" Karya Dewi Ria Utari





Secara jujur saya nyatakan bahwa saya membeli buku ini karena melihat nama penulisnya. Dewi Ria Utari adalah penulis yang cerpen-cerpennya beberapa kali masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas. Itu berarti saya mengenalnya sebagai seorang penulis karya sastra serius, sastra yang berat. Lalu, karena saya sedang ingin membaca sesuatu yang berat, dan di toko buku saya melihat nama Dewi Ria Utari, tanpa pikir panjang, saya ambil buku The Swan ini.

Dan ternyata ini adalah buku teenlit. Ada rasa kecewa (karena waktu itu saya benar-benar sedang ingin membaca yang agak berat, bukan cinta-cintaan anak sekolah), juga menyesal karena saya tidak lebih dulu melihat blurb yang ada di sampul bagian belakang buku ini. Tapi kemudian tetap saya baca buku ini sampai habis. Saya menganggap ini sebagai 'sisi lain' Dewi Ria Utari yang belum saya ketahui.

Saya tidak terlalu banyak membaca buku dengan tema romance anak sekolah, tapi sepertinya buku ini memberikan beberapa tawaran yang agak baru. Misalnya, tokoh cowok utama bukan anak basket, anak band, ataupun ketua osis. Tokoh utama di novel ini pun bukan cewek cantik dan pintar yang jadi rebutan seantero sekolah, justru seorang yang minder karena ia tak secantik mamanya.

Selain itu, novel ini tidak hanya menyajikan konflik cinta remaja saja. Ada juga side-story yang cukup menarik tentang keluarga , yaitu tentang konflik antara tokoh utama dengan ayahnya. Clarissa menuduh papanya telah berselingkuh sehingga ia pun melakukan 'detektif-detektifan' dan beraksi mencari bukti atas benar tidaknya tuduhannya itu.

Hanya saja, menurut saya, cuma itu yang menjadi kelebihan dari novel ini. Sebab sisanya sudah bisa ditebak, tipikal. Ending cerita sudah bisa ditebak sejak awal membaca halaman pertama. Tidak ada kejutan yang 'waw'. Juga tidak ada bagian yang mengaduk-aduk perasaan pembaca dan membuat pembaca benar-benar merasa terlibat dalam cerita yang disajikan penulisnya.

Jadi, saya tetap lebih menyukai tulisan Dewi Ria Utari yang berupa sastra serius. Saya yakin penilaian saya ini sangat subjektif. Sebab kemungkinan besar saya tidak bisa terlalu menikmati The Swan ini karena dunia para model (yang ada di novel ini) adalah dunia yang tidak terjangkau oleh saya, dunia yang jauh dan hanya di angan-angan saya belaka. Atau mungkin juga karena saya sudah terlalu tua untuk membaca cerita cinta remaja yang masih SMP dan SMA.

Ulasan "Animal Farm" Karya George Orwell


Buku ini tipis sebab ia memang tergolong novelet (sebagian orang menyebutnya novela), tapi kesan yang ditimbulkan setelah membacanya sangat dalam. Tentu ada beberapa, bahkan banyak sekali, interpretasi yang bisa muncul dari prosa George Orwell ini. Namun, yang saya tangkap terutama adalah mengenai kritiknya akan pemerintahan sebuah negara.

Mimpi babi putih, Major, yang menyuarakan kemerdekaan akhirnya tercapai tak lama setelah kematian sang babi tua. Tapi ternyata kemerdekaan itu patut dipertanyakan maknanya dan di sinilah kepandaian George Orwell menyampaikan kritik terlihat. Kemerdekaan yang diimpikan ternyata hanya sebuah euforia sementara. Setelah merdeka, ada perebutan kekuasaan, misalnya antara Snowball dan Napoleon. Rakyat (binatang-binatang lain di peternakan itu) tidak bisa ikut memberikan saran ataupun kritik pada keduanya karena tidak secerdas para babi. Mereka hanya mengangguk mengiyakan apa yang menurut mereka dapat mereka mengerti.

Di masa pemerintahan Snowball, sejak awal, terlihat korupsi dan kolusi yang terselubung. Atas nama bekerja keras dan mengelola pemerintahan (peternakan), para babi diberikan hak istimewa. Makanan yang lebih enak dan banyak, tempat yang lebih layak, dan beberapa hal lain. Kemudian Snowball dikudeta oleh Napoleon yang menggunakan anjing-anjing galak yang telah dilatihnya sedemikian rupa. Saya menangkap bahwa anjing-anjing ini adalah metafora yang digunakan Orwell untuk menyebut pihak militer. Dengan menggunakan anjing-anjing itu sebagai sebuah ancaman, tidak ada yang berani mengkritik ataupun menolak perintah Napoleon. Dengan serta merta, Napoleon menjadi seekor babi pemimpin yang harus ditaati semua kehendaknya. Siapa yang berani melawan, akan dibantai. Siapa yang berani bersuara, akan dianggap sebagai pemicu tindakan subversi.

Sementara itu, rakyat tetap sengsara. Baik sebelum ataupun sesudah kemerdekaan, mereka tetap harus mencari makan sendiri. Bedanya, setelah merdeka, terutama di bawah pemerintahan Napoleon, mereka juga harus bekerja untuk jalannya pemerintahan. Memberikan pajak untuk keistemewaan penyelenggara pemerintahan, sampai pada pembangunan proyek yang mereka sendiri tak mengerti apa manfaatnya untuk mereka.

Boxer, seekor kuda pekerja yang paling loyal, yang setia pada pemimpinnya karena percaya pemimpin hanya ingin memberikan yang terbaik pada rakyatnya, akhirnya justru ditumbalkan. Boxer, yang sudah memberikan seluruh yang ia punya untuk pemerintahan peternakan itu, dikirim ke rumah jagal tepat setelah tenaganya tidak bisa dipakai lagi. Nasib masyarakat hewan yang ada di peternakan itu pun tidak lebih baik. Mereka, di tengah kemerdekaannya, diperbudak oleh seekor babi pemimpin bernama Napoleon yang dijaga anjing-anjing galak. Di akhir, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Napoleon duduk semeja dan makan bersama dengan manusia yang mereka anggap sebagai penjajah. Bahkan para hewan pun kemudian tidak bisa membedakan lagi, mana babi pemimpin mereka dan mana manusia yang menjajah mereka, karena mereka semua jadi serupa.

Mungkin, di antara semua binatang di peternakan tersebut, yang paling bahagia adalah Mollie. Sebab Mollie tidak pernah merasakan penderitaan sebagaimana binatang-binatang lain. Ia memilih pergi keluar dari peternakan itu dan dipelihara oleh manusia yang memperlakukannya dengan baik. Ia tidak ambil pusing dengan kemerdekaan peternakan, ataupun keterjajahannya. Yang ia pikirkan hanyalah kemauannya sendiri dan ia mendapatkannya. Karena itulah ia bahagia dengan caranya sendiri. Mungkin.

Ada banyak hal lain yang menjadi kelebihan George Orwell di buku ini. Tidak bisa saya jabarkan semua di blog ini karena keterbatasan saya. Yang jelas, saya mengungkapkan rasa salut terhadap penulis buku ini dan merasa bahwa wajar buku ini mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi. Juga, saya merasa perlu mengapresiasi Alm. Prof. Bakdi Soemanto sebagai penerjemah buku ini. Karena terjemahan beliau sangat nyaman untuk dibaca. Tidak ada satu bagian pun yang membuat saya tersendat karena alasan terjemahan selama saya membaca buku ini.

Senin, 15 Juni 2015

Ulasan Buku "Ayah" Karya Andrea Hirata



Review Novel Ayah

Berikut ini ulasan saya mengenai buku Ayah karya Andrea Hirata. Ulasan ini saya mulai dengan poin-poin yang dianggap sebagai kekurangan, dan saya akhiri dengan poin-poin positif.
Pertama, tipikal. Orang-orang yang mengikuti karya-karya Andrea Hirata sejak awal, Laskar Pelangi, sampai Ayah pasti merasakan ada beberapa hal yang sama atau setidaknya mirip-mirip dari satu karya ke karya yang lain sehingga ceritanya relatif bisa ditebak. Sebagai contoh, hampir semua novel Andrea Hirata, termasuk Ayah, bercerita tentang orang udik yang melakukan perjalanan ke kota. Orang udik itu akan merasa gumun, kagum, terheran-heran dengan kondisi tempat yang ia datangi. Tidak jarang, orang-orang di tempat baru tersebut juga akhirnya tak kalah gumun, kagum, dan terheran-heran dengan orang udik itu. Dalam novel Ayah ini yang melakukan perjalanan adalah Tamat dan Ukun. Hal berikutnya yang tipikal adalah persoalan cinta gila. Cinta gila yang dialami Sabari pada Lena mengingatkan pada cerita sejenis, misalnya Arai pada Zakiah Nurmala, dan tentu saja Ikal pada A Ling. Semuanya adalah cinta yang ‘berdarah-darah’ untuk diperjuangkan, tapi berakhir manis. Ini juga berpengaruh pada karakter tokoh yang dibangun. Secara jujur, dalam percintaan, karakter Sabari dan Arai hampir sama. Sama-sama pantang menyerah dan tak tahu diri walaupun sudah ditolak berkali-kali.
Poin kedua yang saya soroti adalah persolan pembangunan logika cerita. Pertemuan Ukun dan Tamat dengan Jonpijarelli dan Manikam adalah kebetulan yang terlalu kebetulan. Cenderung sedikit sinetron. Membayangkan di sebuah kota yang begitu luas, bisa bertemu dengan mantan suami Lena. Lalu ketika ke kota lain yang tak kalah luas, bertemu dengan mantan suami Lena yang lain lagi, tepat ketika sedang ada festival tahunan pula. Jadi terkesan kebetulan yang dipaksakan. Poin ketiga berhubungan dengan logika cerita, yaitu adanya ‘bolong-bolong’ cerita. Setelah selesai membaca Ayah, akan ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya, “Jadi siapa itu Amirza?” atau “Bagaimana Ukun dan Amat akhirnya bisa bertemu dengan Zorro?” dan “Kenapa Lena akhirnya mengizinkan Zorro dibawa, padahal sebelumnya Lena membawa Zorro dengan paksa?”
Poin keempat yang saya anggap kelemahan dalam novel ini adalah alur yang mudah ditebak. Ini berkaitan dengan poin pertama, karena ceritanya tipikal dengan cerita-cerita sebelumnya. Persoalan surat cinta palsu dari Lena untuk Sabari di majalah dinding, kehamilan Lena, pengambilan paksa Zorro, dan kembalinya Zorro ke Sabari adalah contoh bagian-bagian yang mudah ditebak tersebut. Tidak ada kejutan.
Berikutnya, seperti yang sudah saya nyatakan, saya akan membahas kelebihan-kelebihan yang ada dalam novel Ayah ini.
Kelebihan pertama adalah tetap adanya humor-humor segar. Humor hiperbolik yang cerdas dari Andrea Hirata. Bahkan di novel ini ada jenis humor baru yang dilontarkan oleh Andrea Hirata, yaitu block, ctrl, copy, paste. Kelebihan kedua adalah tetap adanya mitos-mitos baru. Mitos-mitos yang entah benar beredar atau tidak. Pada buku-buku sebelumnya, ada mitos tentang awal musim hujan di tanggal tertentu di bulan tertentu akan membawa keberuntungan. Di buku Ayah, ada mitos tentang senja berwarna biru. Kelebihan ini di satu sisi mungkin terlihat seperti kelemahan karena bersifat tipikal, tapi berbeda. Sebab mitos-mitos yang dibawa selalu baru dan tidak jamak diketahui. Berikutnya adalah adanya eksplorasi-eksplorasi estetis yang dilakukan Andrea Hirata di dalam novel ini. Misalnya adalah tentang struktur alur waktu yang tidak linear seperti terdapat dalam karya-karya sebelumnya. Di novel ini alurnya waktunya fragmentaris, ada flashback, tidak melulu alur maju. Dalam karya teranyarnya ini juga terlihat bahwa ‘aku’ tidak lagi menjadi dominan. Yang dominan adalah sudut pandang ‘dia’. ‘Aku’ hanya sedikit sekali berperan, yaitu di bagian akhir novel. Terakhir, adalah tentang perkembangan kemampuan naratif Andrea Hirata. Sejak Laskar Pelangi sampai Ayah terasa kemampuan bercerita Andrea Hirata terasa semakin matang. Cerita disampaikan dengan semakin mengalir. Membuat orang semakin terlibat di dalam cerita-ceritanya. Bisa tertawa di satu bab, namun menangis di bab yang lain. Kemampuan naratifnya inilah yang menurut saya menjadi titik utama dan mampu mengatasi semua kelemahan yang telah saya paparkan di awal. Sebab dengan kemampuan bercerita yang baik, orang tidak lagi begitu mempedulikan adanya ketipikalan tokoh dan karakter, logika yang kurang pas, ataupun alur yang tertebak. Semua tidak menjadi masalah karena semua disampaikan dengan apik dan rapi. Andrea Hirata juga semakin menegaskan bahwa sebagai penulis, kita harus bisa menggali sebuah cerita sederhana menjadi luar biasa. Sebab mungkin fakta yang terjadi biasa saja, tapi lewat kata-katanya penulis mampu membuatnya menjadi keajaiban yang mempesona.


Salam.
Rizqi Turama.
Yogyakarta, 14 Juni 2015

Selasa, 07 April 2015

Ulasan Buku "Sepertin Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" Karya Eka Kurniawan





Berikut ini penilaian subjektif saya terhadap buku ini:

Hal pertama yang akan saya komentari adalah tentang logo 21+ di bagian belakang buku. Logo itu berarti pembaca yang boleh membaca buku ini hanyalah orang-orang berusia 21 tahun atau lebih, dengan kata lain orang dewasa. Dan saya yakinkan, jangan abaikan peringatan tersebut karena memang buku ini sangat mungkin akan ditafsirkan secara salah oleh remaja tanggung, apalagi oleh anak-anak. Kalimat pembuka novel ini saja sudah ada kata 'ngaceng' yang berarti ereksi, dan memang itulah yang dibahas sejak awal sampai akhir. Remaja, apalagi anak-anak, tidak akan menangkap metafora dan alegori 'burung' yang disampaikan penulis. Remaja, dalam prediksi saya, jika membaca buku ini hanya akan menikmati gambaran-gambaran erotis yang dituliskan Eka Kurniawan karena memang umur-umur mereka sedang menggebu-gebunya untuk tahu hal-hal yang demikian. Padahal buku ini melampaui itu. Jauh dari itu. Buku ini adalah penggambaran tentang nilai-nilai lewat cara yang lain.

Berikutnya yang ingin saya sampaikan tentang buku ini adalah luar biasa. Saya memang belum membaca semua buku Eka Kurniawan, bahkan Cantik Itu Luka yang merupakan karya paling fenomenalnya pun belum saya baca. Tapi saya bisa yakinkan bahwa buku ini adalah karya yang sangat bagus.

Dari segi cara berceritanya, dengan menggunakan fragmen-fragmen pendek, alur yang melompat-lompat, dan tempo cepat, membuat saya sebagai pembaca ketagihan dan ingin segera menyelesaikan buku ini. Nama-nama yang diambil oleh Eka Kurniawan juga memberikan kesan tersendiri. Seolah diambil seenaknya saja, Rona Merah, Si Tokek, Si Macan, dan sebagainya. Namun jelas sekali bahwa nama itu tidak sembarangan. Ada makna-makna tersendiri yang diwakilkan nama-nama itu. Karakter-karakter terbangun semakin kuat dengan penggunaan nama yang demikian.

Pembangunan cerita pun tersusun dengan apik. Tidak ada detail yang sia-sia di dalam buku ini. Alasan Ajo Kawir kehilangan kemampuan ereksi, kehadiran Rona Merah, munculnya tokoh Jelita, semua terjalin rapi. Secara psikologis pun saya lebih terpikat dengan novel ini dibandingkan dengan Lelaki Harimau. Chemistry antartokoh jauh lebih terasa. Saya bisa ikut larut dalam pergolakan batin Ajo Kawir saat tahu bahwa istrinya hamil. Emosinya berhasil tersampaikan dengan baik. Sangat baik malah.

Di dalam novel yang bernuansa relatif suram seperti ini, Eka Kurniawan menurut saya juga berhasil menyelipkan guyonan-guyonan berkelas yang mampu membuat tersenyum. Saat memunculkan sudut pandang seekor cicak di penjara misalnya. Selain itu, ketegangan yang muncul mampu terjaga dengan baik. Dari awal sampai akhir. Meskipun suspense yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Mono Ompong balapan dengan Si Kumbang. Juga ketika Mono Ompong beradu otot dengan Si Kumbang. Dua bagian tersebut paling terasa suspense nya bagi saya.

Ending cerita mungkin akan membuat sebagian orang kecewa karena memang bikin nyesek, tapi menurut saya justru dengan ending yang demikian penulis novel ini memberikan kesan akhir yang mendalam. Ending yang tidak mudah.
Hal terakhir yang ingin saya komentari adalah soal sampul dan judul buku. Keduanya, judul dan sampul, mewakili benar isi buku. Maaf jika saya lagi-lagi harus membandingkan dengan Lelaki Harimau (mungkin karena buku Eka Kurniawan yang terakhir saya baca adalah Lelaki Harimau) karena menurut saya secara sampul maupun judul buku ini jauh lebih sukses. Tidak seperti Lelaki Harimau yang, sekali lagi menurut saya, hampir tidak ada relevansi antara cerita dengan judul dan sampulnya. Saya terpuaskan dengan sampul dan judul buku ini.

Demikian ulasan subjektif saya tentang buku ini. Mungkin salah, tapi mungkin juga ada benarnya. Dan semoga ada manfaatnya untuk para pembaca. 

Ulasan Buku "Student Hidjo" Karya Mas Marco Kartodikromo


Saya harus merasa beruntung sekarang bisa membaca buku ini secara bebas. Sebab di tahun 1920-an buku ini termasuk buku yang dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda untuk beredar. Berikut ini ulasan subjektif saya mengenai buku ini.

Butuh waktu beberapa hari bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, padahal buku ini tergolong tipis. Hal itu tidak terlepas dari gaya bahasa yang digunakan. Jelas. Buku ini (kalau tidak salah) ditulis tahun sekitar tahun 1920-an dan otomatis ketika dibaca di masa ini, jadi agak tersendat-sendat untuk menikmatinya. Bahkan kalau yang membaca adalah anak muda yang tidak terlalu suka sastra, sangat mungkin akan menyerah dan berhenti membaca sejak halaman-halaman awal (kecuali kalau ada tugas merangkum atau meresensi buku ini dari guru di sekolah, itu pun kalau tidak sekadar co-pas dari sana-sini).

Sejak bab-bab awal, saya sudah bisa paham kenapa buku ini dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda di masanya. Buku ini keras sekali mengkritik bangsa Belanda. Lebih dari itu, bahkan ada bagian-bagian yang dengan gamblang memaparkan bahwa seharusnya Pribumi tidak perlu minder dari Belanda. Pribumi dan Belanda sama-sama manusia, lalu kenapa harus merasa rendah diri di depan mereka kaum kulit putih?

Bagi saya pribadi, ada tiga bagian yang paling berkesan dari buku ini terkait dengan kritiknya akan kepenjajahan Belanda dan gagasan akan persamaan hak.

Pertama, saat Hidjo (tokoh utama buku ini) sampai di negeri Belanda untuk belajar. Diceritakan bahwa langsung ada orang-orang Belanda yang dengan senang hati membawakan barang-barang Hidjo dan disuruh ini-itu. Ini adalah sebuah kritik yang pedas. Di tanah Hindia (waktu itu Indonesia masih disebut sebagai Hindia Belanda) orang Belanda berlagak menjadi penguasa, menyuruh-nyuruh segala hal pada pribumi, tapi kenyataannya di tanahnya sendiri orang Belanda malah disuruh-suruh oleh Hidjo yang merupakan pribumi Hindia.

Kedua, tentang perubahan sikap dan sifat orang-orang Belanda setelah menetap di tanah Hindia. Diceritakan di buku ini bahwa banyak, walaupun tidak semua, orang Belanda yang tinggal di Hindia menjadi pongah, sombong, dan bertindak semaunya sendiri. Orang-orang tersebut merasa berhak bertindak sewenang-wenang dan sesuka hati sendiri seolah mereka derajatnya begitu tinggi, padahal mereka di tanah sendiri (Belanda) sebelum dikirim ke Hindia, hanyalah pegawai rendahan. Hanya karena mereka berkulit putih dan bangsa Hindia berkulit warna, mereka merasa lebih tinggi.

Ketiga, soal percintaan yang terjadi di buku ini. Jika diperhatikan, di dalam buku ini semua orang Belanda ditolak cintanya oleh Pribumi Hindia. Polanya pun sama. Orang Belanda (baik itu pria maupun wanita) bertemu dengan Pribumi, lalu mereka tergila-gila dengan Pribumi itu, tapi pada akhirnya mereka harus patah hati karena Pribumi tidak mau menikah dengan mereka. Sekali lagi ini adalah kritik bahwa sebenarnya Pribumi tidak perlu merasa rendah diri  pada Belanda.

Selain ketiga hal itu, masih ada banyak lagi kritik Mas Marco tentang penjajahan Belanda di Hindia namun tidak bisa saya ungkapkan semua di sini.

Namun, secara keseluruhan, saya merasa buku ini memang wajib dibaca, terutama bagi anak-anak sekolah. Kenapa? Agar mereka tahu bahwa ada juga buku yang seperti ini dan tidak hanya tahu buku-buku Angkatan Balai Pustaka yang sudah disaring sedemikian rupa. Kurikulum memang perlu dipertanyakan karena dari tahun ke tahun selalu saja yang menjadi buku wajib adalah Sitti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, dan sejenisnya.
Saya pikir, pelajar perlu tahu bahwa buku-buku yang selama ini mereka tahu adalah buku-buku yang meninabobokkan mereka terhadap kepekaan politik di zaman penjajahan Belanda. Saya yakin bahwa sedikit saja siswa yang tahu bahwa tokoh Corrie di dalam buku Salah Asuhan telah mengalami perubahan sedemikian rupa. Sangat mungkin para pelajar tidak tahu bahwa awalnya Corrie adalah tokoh yang tidak terlalu baik, tapi karena itu dianggap menjelek-jelekkan Belanda, maka hal itu pun diubah.

Buku Student Hidjo ini adalah salah satu pilihan untuk mengimbangi bahan bacaan siswa, juga pembaca umum agar tidak melulu menganggap bahwa di tahun 1920-an novel yang ada hanyalah Sitti Nurbaya dan kawan-kawannya.

Demikian ulasan saya tentang buku ini, ulasan yang mungkin saja salah, tapi mungkin juga ada benarnya.

Sabtu, 07 Maret 2015

Ulasan Buku "Lelaki Harimau" Karya Eka Kurniawan






Berikut ini ulasan subjektif saya tentang buku "Lelaki Harimau" Karya Eka Kurniawan:

Salah satu hal yang berhasil digambarkan dengan baik di dalam novel ini adalah tentang sifat manusia. Eka Kurniawan menurut saya mampu menggambarkan bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya hitam, pun tidak ada manusia yang sepenuhnya putih. Tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar jahat. Tokoh-tokoh di dalam novel ini menyampaikannya dengan sangat baik.

Margio yang merupakan tokoh utama, di satu sisi ia sangat menyayangi ibunya, tapi di sisi lain ia membiarkan ibunya berselingkuh. Di satu sisi ia membenci ayahnya, tapi di sisi lain ia tidak ingin bertindak terlalu jauh apalagi sampai membunuh ayahnya itu. Di satu sisi ia disebut sebagai anak yang baik dan tidak banyak polah, tapi di sisi lain ia juga minum minuman keras. Ada dualitas di dalam dirinya.

Hal yang agak mengejutkan bagi saya adalah ketika tokoh ayah Margio pun bisa berbuat baik. Hampir di sepanjang cerita dijelaskan bahwa ia adalah sosok yang kejam dan sering menghajar istrinya. Namun menjelang akhir novel, Eka Kurniawan mampu menjelaskan bahwa ada motif tersendiri mengapa ia berlaku seperti itu. Dan penjelasan tersebut, sedikit banyak membuat saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ayah Margio itu. Apalagi menjelang ajalnya, ayah Margio juga melakukan hal-hal yang positif. Seolah ingin menebus semua kesalahannya. Walaupun akhirnya saat ia mati, bumi seolah menolak mayatnya (Bagian ini terasa seperti cerita di dalam majalah Hidayah).

Selain kedua tokoh itu, tokoh-tokoh lain, seperti yang telah saya tuliskan juga memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing.

Hanya saja untuk keseluruhan cerita, saya merasa agak kurang sreg dengan novel ini. Memang Eka Kurniawan masih tetap mampu bertutur dengan apik dan memberikan belokan-belokan mengejutkan di ceritanya, namun setidaknya ada dua hal yang mengganggu saya.

Pertama, judul buku ini adalah Lelaki Harimau dengan sampul yang menampilkan wajah harimau bermata ganas. Dengan judul dan sampul yang demikian, saya jadi memiliki ekspektasi yang tinggi tentang eksplorasi cerita soal harimaunya. Namun ternyata soal harimau ini hanya sedikit dibahas di dalam novel. Itu pun, dalam penilaian subjektif saya, tidak mencapai tataran filosofis tentang harimau itu sendiri. Saya tidak mendapatkan 'nilai-nilai' harimau yang menginternal ke dalam Margio. Yang tertangkap hanyalah harimau yang 'menempel' ke Margio saat ia tidak bisa mengendalikan amarah.

Kedua, di bagian awal ada cerita tentang Margio yang dipenjara dan dikunjungi oleh Mayor Sadrah. Munculnya adegan ini di bagian awal membuat saya berharap ada kelanjutan tentang bagaimana nasib Margio berikutnya. Namun ternyata sisa novel sama sekali tidak membahas kelanjutan nasib Margio itu dan justru berbalik menceritakan bagaimana sampai Margio bisa membunuh dan dipenjara. Saya merasa jadi bagian menjenguk di penjara ini agak sia-sia karena tidak dibahas lagi di bagian berikutnya.

Demikianlah ulasan subjektif saya tentang novel ini. Sangat mungkin salah walaupun mungkin ada bagian-bagian yang benar juga.

Ulasan Buku "Corat-coret di Toilet" Karya Eka Kurniawan






Berikut ini ulasan subjektif saya mengenai buku "Corat-coret di Toilet" Karya Eka Kurniawan:

Ketagihan. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan reaksi saya setelah membaca cerpen-cerpen Eka Kurniawan di dalam buku ini. Dua belas cerita yang semuanya menurut saya keren. Beberapa mungkin masih terasa agak belum terlalu matang, 'Kandang Babi' misalnya, tapi tetap saja menjadi sebuah cerita yang asik dibaca.

Kelebihan Eka Kurniawan dalam cerpen-cerpennya yang ada di dalam buku ini mungkin terutama pada cara bertuturnya. Dia tidak memberikan kata-kata yang muluk namun berhasil membuat pembaca terus mengikuti cerita sampai akhir. Lalu ketika sudah sampai akhir cerita, Eka Kurniawan tidak memberikan sesuatu yang klise. Ia memberikan tikungan yang apik. Sering kali tikungan itu membuat saya sebagai pembaca tersenyum sendiri karena tidak menyangka cerita akan berakhir seperti itu.

Pun sepertinya Eka Kurniawan tidak melepaskan kritik-kritik sosial dalam cerpen-cerpennya ini. Contoh paling konkret tentu saja ada di cerpen 'Corat-coret di Toilet'. Kritik pedas dalam kemasan yang menurut saya sangat nyentrik. Siapa akan mengira bahwa hanya lewat vandalisme di dinding toilet kritik sepedas itu bisa muncul?

Dalam buku ini juga saya menemukan bahwa Eka Kurniawan adalah seseorang dengan imajinasi-imajinasi yang liar. Sesuatu yang sederhana dalam keseharian mampu ia angkat menjadi cerita yang luar biasa. Menjadi topik yang patut untuk diperhatikan.