Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Agustus 2012
LEWAT SAJAK AKU TERIAK
Lewat sajak aku teriak
Menyuarakan tangis yang terisak
Mewakili hati yang retak
Membawa harga diri yang terinjak
Memikul beban yang dipikul telak
Oleh mereka yang tertawa terbahak
Oleh mereka yang duduk di kursi enak
Lewat sajak aku salurkan
Bukan meremehkan para demostran
Kini suara mereka jarang didengarkan
Jadi lewat sajak kutumpahkan
Mungkin masih ada yang memperhatikan
Wahai para penguasa tahta
Dengarkan suara para jelata
Yang hidupnya harus melata
Tak sepertimu bergelimang harta
Para jelata juga rakyatmu
Para jelata juga tanggung jawabmu
Di akhirat mereka masuk timbanganmu
Kenapa jelata bertambah di bawah pimpinanmu
Ada satu rindu yang kuat
Dimana nanti tak ada yang mau terima zakat
Karena tak ada yang merasa melarat
Seperti terjadi zaman sahabat
Tapi kenapa di zamanmu kini
Jumlah pengemis kian menjadi
Kemiskinan menbumbung tinggi
Yang lebih ironis lagi
Yang kaya terima subsidi
Yang kaya malah dibiayai
Yang kaya pajaknya dipotongi
Yang kaya hukumannya dikurangi
Yang kaya tak mempan diadili
Karena yang kaya berelasi pejabat tinggi
Jangan wajahmu kau palingkan
Jangan telingmu kau tulikan
Jangan matamu kau butakan
Jangan nurami kau matikan
Bacalah dan dengarkan sajak yang kulantangkan
Karena hanya lewat sajak aku teriak
Karena hanya lewat sajak teriak
Dan jangan kau bungkam sajakku karena topengmu ku koyak
ART
22 JULI 2012
Kapan Kita Sejahtera?
Aaarrrgggghhhh!!!!
Hebat! Aku benar-benar bangkit seperti kata si peramal.
Masihkah aku di Indonesia?
Apa kabar negara ini?
Masihkah kemiskinan menjamur?
Masihkah para penguasa berTuhankan uang dan kekayaan?
Ah, tidak mungkin..
Tidak mungkin negara ini tetap begitu-begitu saja!
Pasti sudah berubah..
Pasti rakyat sudah makmur dan sejahtera..
Pasti pembangunan berjalan lancar..
Pasti korupsi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya sudah ditumpas habis-habisan..
Pasti para pemimpinnya sudah tidak sakit jiwa lagi..
Pasti pemimpin sudah memberikan teladan pada rakyat..
Iya dong, “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya.”
Iya dong, “Bhinneka Tunggal Ika.”
Ini sudah bukan zaman itu lagi..
Ini bukan zaman saat aku hidup dulu..
Aku siapa?
Hah, wajar kau tak tahu.
Aku ini sastrawan, tapi itu dulu waktu masih hidup.
Aku dibunuh oleh para pemimpin di masaku..
Aku dibunuh karena karya-karyaku mengkritik mereka para elit berduit..
Mau apa aku datang?
Aku ini bangkit dari kubur untuk melihat dunia sekarang..
Ya, bangkit dari kubur, seperti yang dikatan si peramal itu..
Aku ingin melihat dunia yang sudah maju, sejahtera, dan dimakmurkan karena perilaku pemimpinnya..
Hei, kau! Tahun berapa ini?
Tahun 3012? Ya, tepat seribu tahun setelah kematianku..
Tepat seperti yang dikatakan si peramal itu..
Lihatlah! Benar sekali kata si peramal.
Lihat bajumu, bajunya, baju mereka!
Lihat rumah itu! Ah, apa itu benar-benar rumah?
Gila, di zamanku, yang sebesar itu bisa jadi mall.
Lihat! Semua rumah di sini seperti itu.
Rakyat benar-benar makmur.
Lihat, kandang anjingnya pun sebesar rumahku dulu.
Itu apa? Yang di sebelah kandang anjing itu.
Oh, pohon. Luar biasa! Alam pun sudah maju dengan ekosistemnya yang tertata.
Lihat kera-kera di pohon-pohon itu! Betapa mereka pun hidup rukun di sana.
Tapi kenapa kera-kera itu besar sekali ukurannya?
Apa?
Mereka bukan kera?
Jadi mereka itu apa?
Manusia?
Apa? Kenapa mereka di sana?
Gila!!!
Jadi mereka itu manusia, rakyat Indonesia?
Kenapa mereka tidak pakai baju?
Hah. Hanya pejabat dan keluarganya saja yang boleh pakai baju?
Jadi rumah yang besar-besar ini bukan rumah rakyat?
Ini semua rumah pejabat!
Beserta keturunan para pejabat yang bahkan belum dilahirkan dan belum direncanakan untuk dilahirkan?
Gila!!!
Ini bahkan jauh lebih gila dari pada di zamanku dulu..
Hei. Hoi, Peramal! Mana?
Katamu tahun ini Indonesia bisa jaya. Katamu Indonesia bisa sejahtera.
Mana buktinya?
Hei.. hei.. hei.. Kenapa bumi berguncang?
Hei.. hei.. hei.. Kenapa tiba-tiba banyak gunung yang meletus?
Apa ini?
Kenapa begini?
Ah! Aku mengerti.
Aku kira ini sudah sore, ternyata masih pagi.
Matahari sudah di barat.
Hoi, peramal. Aku mengerti.
Indonesia baru bisa sejahtera kalau sudah kiamat. Iya, kan?
Diselesaikan 16 Juni 2012
Banyuasin, ditulis ulang dan diedit 26 Juni 2012
NYANYIAN KAMPANYE
Ayo semuanya ambil nada tinggi, siapkan suara, dan kita bernyanyi!
Ayo ayo pilihlah kami
Kami akan memberantas kemiskinan,katakanlah itu dengan suara lantang
Lalu katakan di dalam hati bahwa kami benar-benar akan memberantas rakyat yang miskin dengan seberantas-berantasnya
Ayo-ayo pilihlah kami
Kami katakan dengan lantang, kami akan mengurus orang-orang yang kelaparan
Kemudian kami katakan dalam hati, kalian para orang yang kelaparan akan semakin lapar dan kurus
Jadi mudah saja bagi kami untuk semakin munguruskan kalian yang kelaparan.. caranya:biarkan dan tak usah diurus..
Ayo ayo pilihlah kami
Katakanlah pada mereka bahwa kita akan mengatasi banjir
Lalu katakan dengan suara yang tak terdengar
Banjir sekarang bisa mencapai satu meter,
dibawah kepemimpinan kami, Banjir itu akan jadi 2 meter
dengan demikian kami akan berhasil meng-atas-i banjir.
Ayo ayo semuanya ambil nada tinggi, siapkan suara, dan kita bernyanyi!
Ayo ayo siapa mau ikut ber nyanyi
Tak perlu suaru bagus, yang penting harus bisa membunuh hati nurani
Tak perlu berbakat menyanyi, yang penting urat malu harus dibuang jauh
Lalu ikutlah bernyanyi bersama kami
Do re mi dan do re mi lagi
Ayo ayo pilihlah kmai
Katakan dengan suara lantang, kalian tak akn menyesal memilih kami
Lalu katakan dalam hati,kalian menyesal karena bahkan kalian takkan punya cukup waktu menyesali pilihan kalian..
Setelah kami terpilih nanti
Kami akan berusaha agar modal kembali
Karena ternyata modalnya besar untuk bernyanyi
Peduli setan dengan kalian yang memilih
Salah sendiri kenapa pilih kami
Kawan duet bernyanyi pun bisa kami bantai
Kalau ia nanti sudah tak dibutuhkan lagi
Tapi sekali lagi, kalian takkan sangat menyesali..
ART
27 JULI 2012
Kamis, 22 Maret 2012
Para Pemakan Muntah
Alangkah nikmatnya sambal terasi basi dan ikan busuk ini..
Kumakan terus sangat lahap walau perut sudah penuh..
Kumakan dan kumakan lagi..
Suapan terakhir memenuhi lambung yang sudah membludak dan akhirnya aku muntah..
Keluar lagi sambal terasi basi itu.. ikan busuk itu..
Wujudnya sudah agak berubah.. bekas gigitanku waktu kukunyah tadi.. bercampur liur dan kangkung yang kemarin kumakan..
Tapi aku tetap tidak rela kenikmatan itu keluar dari tubuhku..
Kumakan lagi muntahku itu, nikmat sekali rasanya..
Tekstur yang empuk, aroma yang semerbak, semakin menggairahkan aku melahap habis muntahku..
Persetan orang menilaiku gila, mereka tidak tahu saja betapa nikmatnya muntahku ini..
Sekali saja mereka mencicipinya, pasti mereka akan ketagihan lebih dari aku..
Karena itu aku takkan pernah rela ada orang lain mencicipi muntahku..
Kupercepat lajuku memamah muntah itu..
Perutku penuh lagi dan aku muntah lagi..
Kumakan lagi muntah yang sudah kumakan dan kumuntahkan lagi itu..
Terus seperti itu.. Orang lewat memperhatikanku tiada henti, aku tak peduli..
Salah satu dari yang menonton tiba-tiba muntah di dekatku..
Mulanya malu-malu, tapi dia juga tak rela makanannya keluar dari perutnya.. Dia ikuti yang kulakukan dan memakan juga muntahnya tadi..
Aku tak peduli dan tetap lanjut menyantap muntahku terus..
Tak lama semakin banyak yang muntah karena jijik melihat kami, tapi mereka semua juga memakan muntah mereka itu.. Semuanya muntah dan memakan muntahnya sendiri..
Melihat itu hilang selera makanku..
Di antara gerombolan itu kulihat seorang hedonis yang menyeruput kembali bir yang sudah ia muntahkan.. Kutanya “kenapa kau minum lagi muntahmu?” Dia menoleh dan memandang seolah takut aku ikut menyeruput muntahan birnya itu dan berkata, “aku baru tahu minum bir yang sudah dimuntahkan itu lebih memabukkan dan lebih nikmat lagi rasanya.”
Ada lagi seorang mahasiswi pascasarjana yang kulihat sedang memakan keju dan roti yang juga sudah dimuntahkannya.. Sebenarnya aku tak yakin itu keju dan roti karena bentuknya sudah tak karuan akibat dimuntahkan dan dimakan lagi berulang-ulang.. Aku teriak padanya, “kau itu orang pandai, kau tahu makan muntah itu tidak sehat. Kenapa kau makan lagi muntahanmu?”.. Di sela-sela suapannya ia menjawab, “Kau lihat di sana itu! Dosenku yang sudah profesor saja makan muntahnya, lalu kenapa aku yang masih kuliah ini tidak mengikutinya?” Aku ternganga..
Kudekati si profesor dan aku bilang, “kenapa kau mengikuti aku memakan muntahan?”.. Tajam matanya memandangku dan berkata, “kau jangan sembarang bicara. Akulah yang lebih dulu menemukan teori bahwa memakan muntah itu rasanya nikmat sekali. Jadi sebenarnya kaulah yang mengikuti aku. Teori ini sudah kupatenkan dan kau jangan sekali-sekali mengaku sebagai pelopor!”
Semakin lama semakin banyak yang ikut muntah dan memakan lagi muntahannya.. Sampai Pak Alim pun ikut andil.. Kutanya padanya di sela-sela makan muntahnya itu, “kenapa kau makan muntah? Muntah itu menjijikkan. Yang menjijikkan itu haram dimakan.” Dia menjawab, “Kau tahu apa tentang agama? Kau tahu apa tentang jijik? Muntah ini tidak menjijikkan. Muntah ini nikmat. Maka makanlah sampai kau muntah lagi dan makanlah lagi.”
Lalu aku muntah penuh rasa jijik melihat gerombolan orang pemakan muntah yang semakin banyak itu.. Ada rasa tak rela, tapi aku tak mau memakan muntahan itu lagi..
Kutinggalkan gerombolan pemakan muntah itu.. Aku teriakkan pada mereka, “Kalian Menjijikkan!” tapi jumlah mereka semakin besar saja..
MENJIJIKKAN..
Banyuasin, 19 Maret 2012
Diedit 22 Maret 2012
Kumakan terus sangat lahap walau perut sudah penuh..
Kumakan dan kumakan lagi..
Suapan terakhir memenuhi lambung yang sudah membludak dan akhirnya aku muntah..
Keluar lagi sambal terasi basi itu.. ikan busuk itu..
Wujudnya sudah agak berubah.. bekas gigitanku waktu kukunyah tadi.. bercampur liur dan kangkung yang kemarin kumakan..
Tapi aku tetap tidak rela kenikmatan itu keluar dari tubuhku..
Kumakan lagi muntahku itu, nikmat sekali rasanya..
Tekstur yang empuk, aroma yang semerbak, semakin menggairahkan aku melahap habis muntahku..
Persetan orang menilaiku gila, mereka tidak tahu saja betapa nikmatnya muntahku ini..
Sekali saja mereka mencicipinya, pasti mereka akan ketagihan lebih dari aku..
Karena itu aku takkan pernah rela ada orang lain mencicipi muntahku..
Kupercepat lajuku memamah muntah itu..
Perutku penuh lagi dan aku muntah lagi..
Kumakan lagi muntah yang sudah kumakan dan kumuntahkan lagi itu..
Terus seperti itu.. Orang lewat memperhatikanku tiada henti, aku tak peduli..
Salah satu dari yang menonton tiba-tiba muntah di dekatku..
Mulanya malu-malu, tapi dia juga tak rela makanannya keluar dari perutnya.. Dia ikuti yang kulakukan dan memakan juga muntahnya tadi..
Aku tak peduli dan tetap lanjut menyantap muntahku terus..
Tak lama semakin banyak yang muntah karena jijik melihat kami, tapi mereka semua juga memakan muntah mereka itu.. Semuanya muntah dan memakan muntahnya sendiri..
Melihat itu hilang selera makanku..
Di antara gerombolan itu kulihat seorang hedonis yang menyeruput kembali bir yang sudah ia muntahkan.. Kutanya “kenapa kau minum lagi muntahmu?” Dia menoleh dan memandang seolah takut aku ikut menyeruput muntahan birnya itu dan berkata, “aku baru tahu minum bir yang sudah dimuntahkan itu lebih memabukkan dan lebih nikmat lagi rasanya.”
Ada lagi seorang mahasiswi pascasarjana yang kulihat sedang memakan keju dan roti yang juga sudah dimuntahkannya.. Sebenarnya aku tak yakin itu keju dan roti karena bentuknya sudah tak karuan akibat dimuntahkan dan dimakan lagi berulang-ulang.. Aku teriak padanya, “kau itu orang pandai, kau tahu makan muntah itu tidak sehat. Kenapa kau makan lagi muntahanmu?”.. Di sela-sela suapannya ia menjawab, “Kau lihat di sana itu! Dosenku yang sudah profesor saja makan muntahnya, lalu kenapa aku yang masih kuliah ini tidak mengikutinya?” Aku ternganga..
Kudekati si profesor dan aku bilang, “kenapa kau mengikuti aku memakan muntahan?”.. Tajam matanya memandangku dan berkata, “kau jangan sembarang bicara. Akulah yang lebih dulu menemukan teori bahwa memakan muntah itu rasanya nikmat sekali. Jadi sebenarnya kaulah yang mengikuti aku. Teori ini sudah kupatenkan dan kau jangan sekali-sekali mengaku sebagai pelopor!”
Semakin lama semakin banyak yang ikut muntah dan memakan lagi muntahannya.. Sampai Pak Alim pun ikut andil.. Kutanya padanya di sela-sela makan muntahnya itu, “kenapa kau makan muntah? Muntah itu menjijikkan. Yang menjijikkan itu haram dimakan.” Dia menjawab, “Kau tahu apa tentang agama? Kau tahu apa tentang jijik? Muntah ini tidak menjijikkan. Muntah ini nikmat. Maka makanlah sampai kau muntah lagi dan makanlah lagi.”
Lalu aku muntah penuh rasa jijik melihat gerombolan orang pemakan muntah yang semakin banyak itu.. Ada rasa tak rela, tapi aku tak mau memakan muntahan itu lagi..
Kutinggalkan gerombolan pemakan muntah itu.. Aku teriakkan pada mereka, “Kalian Menjijikkan!” tapi jumlah mereka semakin besar saja..
MENJIJIKKAN..
Banyuasin, 19 Maret 2012
Diedit 22 Maret 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Laki-laki dan Sandal Hijau
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Yang berkejaran dengan hujan dan menepisnya..
Gunung sudah didaki.. Pantai sudah dijajaki..
Lebih liar lagi kali ini..
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Badannya kecil dan kurus kusam menghitam..
Tapi kemarin ia menyentuh awan lalu mengukir pasir..
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Lihatlah sejarah dan buatlah sejarah sendiri..
Saksikan panorama, rasakan, nikmati, dan resapi dalam-dalam..
Jangan kalah walau lubang hitam menghadang dan mematahkan.. Walau panas membakar terus..
Laki-laki itu berjalan bersama kekasih..
Berbagi cerita dan hal-hal baru..
Yang melemaskan dan membuat terbayang tak terkendalikan..
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Tetap berpetualang dalam tualang dan merasuk ke tulang..
Dan tetap berjanji akan ada yang berikutnya, “tunggulah dengan sabar, sayang!”
Dalam nuansa dan suasana yang jauh berbeda..
Itu yang memberinya hidup..
Banyuasin, 19 Januari 2012
Yang berkejaran dengan hujan dan menepisnya..
Gunung sudah didaki.. Pantai sudah dijajaki..
Lebih liar lagi kali ini..
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Badannya kecil dan kurus kusam menghitam..
Tapi kemarin ia menyentuh awan lalu mengukir pasir..
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Lihatlah sejarah dan buatlah sejarah sendiri..
Saksikan panorama, rasakan, nikmati, dan resapi dalam-dalam..
Jangan kalah walau lubang hitam menghadang dan mematahkan.. Walau panas membakar terus..
Laki-laki itu berjalan bersama kekasih..
Berbagi cerita dan hal-hal baru..
Yang melemaskan dan membuat terbayang tak terkendalikan..
Jadilah laki-laki dengan sandal hijau kekecilan itu..
Tetap berpetualang dalam tualang dan merasuk ke tulang..
Dan tetap berjanji akan ada yang berikutnya, “tunggulah dengan sabar, sayang!”
Dalam nuansa dan suasana yang jauh berbeda..
Itu yang memberinya hidup..
Banyuasin, 19 Januari 2012
Sabtu, 20 Agustus 2011
Full stop
Have to pass a long way of continuing words to find you at the final, and relieved because you’ve given the real meaning after this tiring journey.
Hope you’ll be the last for me.
Would you like to be my full stop?
As a full stop that ends a sentence beautifully.
Banyuasin, August 20th 2011
Hope you’ll be the last for me.
Would you like to be my full stop?
As a full stop that ends a sentence beautifully.
Banyuasin, August 20th 2011
Jumat, 01 Juli 2011
Permainan Para Raja
Ini adalah permainan para raja
Sementara kita adalah para pion
Kita yang saling tikam dan bunuh di baris terdepan
Berdarah dan terbuang
Berteriak “perang” dan “hantam”
Lalu mereka tertawa di belakang
Para raja, tersenyum dan kembali berpikir
Pion mana lagi yang akan ditumbalkan
agar aku menang?
Raja hitam dan raja putih
Membawa semangat regenerasi
yang telah didoktrin memusuhi
Kulihat sudah ribuan korban perang ini
Tetap bermimpi para raja turun gunung
Dan mengakhiri permainan mereka
Cukuplah sudah!
Jangan libatkan kami lagi!
Indralaya, 28 Juni 2011
Sementara kita adalah para pion
Kita yang saling tikam dan bunuh di baris terdepan
Berdarah dan terbuang
Berteriak “perang” dan “hantam”
Lalu mereka tertawa di belakang
Para raja, tersenyum dan kembali berpikir
Pion mana lagi yang akan ditumbalkan
agar aku menang?
Raja hitam dan raja putih
Membawa semangat regenerasi
yang telah didoktrin memusuhi
Kulihat sudah ribuan korban perang ini
Tetap bermimpi para raja turun gunung
Dan mengakhiri permainan mereka
Cukuplah sudah!
Jangan libatkan kami lagi!
Indralaya, 28 Juni 2011
Memori Sandal Jepit Sebelah Kiri
Ah, gadis! Ke mana yang kanan? Mengapa kiri semua?
tajam karang yang terinjak kaki saat kita akan ke tengah lautan itu..
tidak terlalu kurasa karena tertutupi riang hati bersamamu, jilid dua..
lebih berat memang kali ini..
berapa kali terjatuh, jatuh, dan menjatuhkan diri..
lebih lelah memang kali ini..
melelapkan saat kita bermimpi..
perjalanan ini panjang dan berliku..
sempat kita tersesat dan tak tahu jalan pulang..
tapi semua terbayar saat deras angin menerpa tubuh yang letih..
saat suara debur ombak yang berbuih putih dan gemercik cipratannya di tepian..
saat itulah kita saksikan tenggelamnya sang raja.. dengan anggun menghilang perlahan..
adakah ini bulan madu?
......
batas tak berlaku bagiku dan kau, kita lewati batas-batas itu..
kita lewati untuk kemudian kembali ke kampung halaman..
dan beristirahat.. dan bersiap kembali..
bersiaplah! tempat berikutnya menanti, sayang..
diselesaikan di Indralaya, 28 Juni 2011
tajam karang yang terinjak kaki saat kita akan ke tengah lautan itu..
tidak terlalu kurasa karena tertutupi riang hati bersamamu, jilid dua..
lebih berat memang kali ini..
berapa kali terjatuh, jatuh, dan menjatuhkan diri..
lebih lelah memang kali ini..
melelapkan saat kita bermimpi..
perjalanan ini panjang dan berliku..
sempat kita tersesat dan tak tahu jalan pulang..
tapi semua terbayar saat deras angin menerpa tubuh yang letih..
saat suara debur ombak yang berbuih putih dan gemercik cipratannya di tepian..
saat itulah kita saksikan tenggelamnya sang raja.. dengan anggun menghilang perlahan..
adakah ini bulan madu?
......
batas tak berlaku bagiku dan kau, kita lewati batas-batas itu..
kita lewati untuk kemudian kembali ke kampung halaman..
dan beristirahat.. dan bersiap kembali..
bersiaplah! tempat berikutnya menanti, sayang..
diselesaikan di Indralaya, 28 Juni 2011
Sabtu, 04 Juni 2011
Kututup Saja
Kututup mata dan kau hadir..
Saat kubuka mata, ternyata kau tak ada..
Kututup lagi mataku, dan aku rindu..
Saat kubuka lagi, ternyata kau tak rindu..
Kututup lagi, dan kali ini lebih lama, aku mengharapmu..
Saat kubuka lagi mataku, aku sadar kau tak mengharapku..
Aku tertidur dan bermimpi tentangmu..
Saat terjaga aku tahu kau tak memimpiku..
Kututup lagi mataku, mungkin yang keseribu kali..
Saat kubuka lagi, aku sadar aku gila..
Tak jera, kututup lagi mataku, kulihat kau datang untukku..
Saat kubuka lagi, kau datang bersamanya..
Kututup lagi, tak mau percaya..
Saat kubuka, hatiku ngilu, nyata..
Kututup lagi, semua indah bersamamu..
Tak mau lagi kubuka kali ini..
26 Mei 2011
Indralaya
Saat kubuka mata, ternyata kau tak ada..
Kututup lagi mataku, dan aku rindu..
Saat kubuka lagi, ternyata kau tak rindu..
Kututup lagi, dan kali ini lebih lama, aku mengharapmu..
Saat kubuka lagi mataku, aku sadar kau tak mengharapku..
Aku tertidur dan bermimpi tentangmu..
Saat terjaga aku tahu kau tak memimpiku..
Kututup lagi mataku, mungkin yang keseribu kali..
Saat kubuka lagi, aku sadar aku gila..
Tak jera, kututup lagi mataku, kulihat kau datang untukku..
Saat kubuka lagi, kau datang bersamanya..
Kututup lagi, tak mau percaya..
Saat kubuka, hatiku ngilu, nyata..
Kututup lagi, semua indah bersamamu..
Tak mau lagi kubuka kali ini..
26 Mei 2011
Indralaya
Sajak Lucu
Lucu..
Lucunya negaraku, lucunya provinsiku, lucunya universitasku, lucunya organisasiku, lucunya kawan-kawan sekelasku..
Lucu..
Aku tersenyum terkadang terbahak sampai menangis..
Saat jutaan manusia mengais sampah untuk makan, para elit politik dengan wajah yang lebih memelas daripada pengemis, meminta gaji yang segunung untuk dinaikkan..
Sudah delapan tahun gajinya tidak naik, itu dalilnya..
Lalu datang orang berteriak atas nama rakyat, ingin ada kolam renang di kantor.. Sementara rakyat yang katanya diwakili, benar-benar berenang karena kolong jembatan tempat mereka tinggal sudah banjir, memang sudah jadwalnya..
Undang-undang ANTIpornografi disahkan. Moral bangsa harus dibenahi.. Eh, yang membuat undang-undang tertangkap basah sedang menikmati yang di-ANTI-kan..
Lucu..
Datang aku ke acara ta'lim, tokoh berjenggot sekilan itu mengatakan "sholatlah di awal waktu, jangan menunda sholat", lalu tokoh yang berjilbab sampai dengkul berceramah "jangan dekati zina!"..
Besoknya aku datang hendak sholat subuh, aku menunggu hampir sejam, katanya harus menunggu si jenggot sekilan untuk jadi imam..
Tiga bulan kemudian aku membaca koran, si jilbab sedengkul bunuh diri akibat hamil di luar nikah..
Aku berlari ke kampus, kulihat para mahasiswa sedang berorasi, demonstrasi, dan unjuk rasa, menyatakan kesedihan mereka tentang pemerintahan yang korup dan makan uang suap..
Selesai berdemo, kulihat mereka satu per satu mendapat uang "terima kasih" dari musuh politik yang tadi didemo, yang paling depan jatah amplop paling tebal..
Aku masuk kelas, kudapati teman-teman sedang sibuk berdiskusi.. Aku ikut.. Berdebat, kemudian berubah saling mencaci dan menghujat.. Selesai mata kuliah, aku baru sadar, yang barusan adalah mata kuliah praktik..
Lucu bukan?
Lucu sekali..
26 Mei 2011
di Indralaya
Lucunya negaraku, lucunya provinsiku, lucunya universitasku, lucunya organisasiku, lucunya kawan-kawan sekelasku..
Lucu..
Aku tersenyum terkadang terbahak sampai menangis..
Saat jutaan manusia mengais sampah untuk makan, para elit politik dengan wajah yang lebih memelas daripada pengemis, meminta gaji yang segunung untuk dinaikkan..
Sudah delapan tahun gajinya tidak naik, itu dalilnya..
Lalu datang orang berteriak atas nama rakyat, ingin ada kolam renang di kantor.. Sementara rakyat yang katanya diwakili, benar-benar berenang karena kolong jembatan tempat mereka tinggal sudah banjir, memang sudah jadwalnya..
Undang-undang ANTIpornografi disahkan. Moral bangsa harus dibenahi.. Eh, yang membuat undang-undang tertangkap basah sedang menikmati yang di-ANTI-kan..
Lucu..
Datang aku ke acara ta'lim, tokoh berjenggot sekilan itu mengatakan "sholatlah di awal waktu, jangan menunda sholat", lalu tokoh yang berjilbab sampai dengkul berceramah "jangan dekati zina!"..
Besoknya aku datang hendak sholat subuh, aku menunggu hampir sejam, katanya harus menunggu si jenggot sekilan untuk jadi imam..
Tiga bulan kemudian aku membaca koran, si jilbab sedengkul bunuh diri akibat hamil di luar nikah..
Aku berlari ke kampus, kulihat para mahasiswa sedang berorasi, demonstrasi, dan unjuk rasa, menyatakan kesedihan mereka tentang pemerintahan yang korup dan makan uang suap..
Selesai berdemo, kulihat mereka satu per satu mendapat uang "terima kasih" dari musuh politik yang tadi didemo, yang paling depan jatah amplop paling tebal..
Aku masuk kelas, kudapati teman-teman sedang sibuk berdiskusi.. Aku ikut.. Berdebat, kemudian berubah saling mencaci dan menghujat.. Selesai mata kuliah, aku baru sadar, yang barusan adalah mata kuliah praktik..
Lucu bukan?
Lucu sekali..
26 Mei 2011
di Indralaya
Sabtu, 14 Mei 2011
Andai Mereka Tahu
andai malam tahu setiaku padamu
ia pasti cemburu
karena bintang pun tak sesetia itu menyinarinya
andai hujan tahu setiaku padamu
ia pasti kan cemburu
karena mendung pun tak sesetia itu menemaninya
andai gurun tahu cintaku padamu
ia pasti cemburu
karena hujan pun tak kunjung datang hingga ia sendiri dalam gersang
andai Juliet tahu cintaku padamu
ia pasti kan cemburu
karena Romeo pun tak sedalam itu menatapnya
andai dunia tahu cintaku padamu
mereka pasti cemburu
tapi malam telah berganti pagi
tak sempat melihat setiaku padamu
tapi hujan pun telah reda
tak sempat melihat cintaku padamu
tapi gurun tlah ditemani sang kaktus
tak lagi kesepian di tengah gersang
tapi Juliet telah mati bunuh diri
tak sempat melihat tatapanku padamu
dunia terlalu sibuk berputar
tapi aku tak peduli
bagiku
cukuplah kau yang tahu
bagaimana cintaku padamu
ditulis ulang di kamarku tercinta
13 Mei 2010
Untuk Wakil-wakilku
Katanya orang-orang pilihan
Katanya orang-orang terhormat
Dipilih rakyat sebagai wakil
Penyalur aspirasi penyuara nurani
Begitu duduk di kursi empuk
Lupa dengan janji kampanye
Tak ingat akhirat, yang penting modal kembali
Modal sudah kembali waktunya cari untung
Bertahta di tempat yang tinggi bikin lupa diri
Dulu berkoar menggugat para koruptor
Minta hukum ditegakkan minta harga diturunkan
Sekarang jadi wakil, korupnya lebih hebat
Minta naik gaji nomor satu
Hidup mewah sebagai wakil rakyat
Yang diwakili hidup melarat
Mobil bagus melintas cepat
Sidang tentang rakyat bergegas minggat
Rumah besar bertingkat-tingkat
Yang datang rapat, tidur secepat kilat
Ditampar di muka masih tak sadar
Malah berkelit, yang menampar dibilang kurang ajar
Bisa-bisa kita yang dituntut, dengan segala undang-undang
Rakyat merana tambah tersiksa
5 Agustus 2010
Banyu Asin km 14
Puisi Realisku
Ingat sobat..
Hidup itu dinamis..
Selalu ada orang yang datang..
Selalu ada orang yang pergi..
Kini engkau yang datang menemani..
Kini aku yang menemani..
Masihkah besok seperti ini?
Simpan saja hari ini di benakmu..
Jadikan sebuah cerita indah saat semua hanya tinggal kenangan..
Saat kita berkumpul kembali..
Kita adalah orang yang sama dalam kondisi yang berbeda..
Puisi realisku jadi bukti dan saksi ketika waktu itu tiba..
Bahwa kita pernah merasakan apa arti bersama dan saling menopang..
Senyum kita akan mengembang membaca puisi realis ini..
Untukku, untukmu, untuk kita..
Sahabat..
Banyu Asin, 14 Maret 2011
Rabu, 11 Mei 2011
My World of Words
I love you..
In an uncountable count and illogical logic..
Makes me own my own world where heaven means you and I gather in love..
Makes me blind while I'm staring my lovely world..
The world where love isn't just stated in words..
Where heaven is created by the Creator for us, you and I..
In an uncountable count and illogical logic..
Makes me own my own world where heaven means you and I gather in love..
Makes me blind while I'm staring my lovely world..
The world where love isn't just stated in words..
Where heaven is created by the Creator for us, you and I..
Balada Putri Kembang Dadar
Amperaku menjauh..
Diselingi deru kapal dan gemercik air..
Tak ada bintang yang terlihat, sepi..
Aku sendiri..
Ibuku, Ayahku, Kakakku, Kasihku..
Aku merapuh..
Bentengku tlah roboh dimakan kesendirian..
Merindumu kembali..
Kosong aku di sini tiada di sisi..
Di tengah sungai Musi..
Merantai diksi wakil hati..
Benderang di antara yang kelam..
Kerlip yang berkedip..
Aku rindu..
Entah pada apa, siapa..
Diselingi deru kapal dan gemercik air..
Tak ada bintang yang terlihat, sepi..
Aku sendiri..
Ibuku, Ayahku, Kakakku, Kasihku..
Aku merapuh..
Bentengku tlah roboh dimakan kesendirian..
Merindumu kembali..
Kosong aku di sini tiada di sisi..
Di tengah sungai Musi..
Merantai diksi wakil hati..
Benderang di antara yang kelam..
Kerlip yang berkedip..
Aku rindu..
Entah pada apa, siapa..
Langganan:
Postingan (Atom)