Cerpen ini dimuat di portal litera.co.id pada 17 November 2019
Cerita bisa dibaca dengan membuka tautan berikut: http://www.litera.co.id/2019/11/17/sampah-kota-smece/
Kamis, 19 Desember 2019
Senin, 18 November 2019
Taman di Depan Rumah
Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos pada November 2019
Taman itu tidak lagi
terlihat rapi. Rumput-rumput tumbuh seenaknya. Mawar-mawar mengering.
Pohon-pohon bonsai terlihat seperti orang penuh dosa yang sakratul mautnya
begitu sulit. Kupu-kupu yang dulu sering hilir mudik di sana tak pernah muncul
lagi. Semuanya berubah begitu rupa sejak lima bulan lalu.
Dulu, setiap hari,
sejak jam sembilan sampai jam sepuluh pagi ada sepasang orang tua merawat taman
di depan rumahnya itu dengan telaten. Setiap daun mengembang hijau seolah dilap
dan dibersihkan satu demi satu. Atau mungkin memang begitu.
Setelah ‘berkebun’, keduanya
duduk di beranda. Memandangi taman mereka yang sebenarnya tidak begitu luas,
namun memang hijau dan menyejukkan. Ditemani oleh biskuit kelapa dan teh panas
tanpa gula. Saat itu, mereka akan berbincang tentang anak tunggal yang di
rantau, atau hal-hal remeh lainnya. Tiga atau empat kupu-kupu akan hinggap di tanaman
lidah mertua yang ada di pot kecil di tengah meja. Seperti ingin nimbrung dalam
perbincangan keduanya.
Semua itu jadi
pemandangan sehari-hari sampai akhirnya di suatu pagi sang suami tak lagi
merepons usapan tangan istrinya untuk membangunkannya sebagaimana biasa. Anak
tunggalnya yang merantau terpaksa pulang lebih cepat dari jadwal. Rumah beserta
tamannya dipenuhi oleh orang yang menunjukkan rasa berbela sungkawa.
***
Seminggu setelahnya,
taman kecil itu tetap tak tersentuh. Sang anak yang tahu bagaimana rutinitas
kedua orang tuanya, tidak berkomentar. Lagi pula tak mungkin membiarkan orang
tua bertaman di masa berkabung. Namun, ternyata hingga peringatan lewat seratus
hari, sang ibu tetap tak menghiraukan tamannya.
Rumpun hijau di depan
rumah sudah seperti semak belukar. Sang anak, yang sejak kematian ayahnya lebih
sering berkunjung, terpaksa merapikan taman. Namun tangannya tak setelaten sang
orang tua. Ia tak suka bertaman. Semua dilakukannya hanya agar taman itu tak
terlalu buruk dilihat tetangga. Ibunya, yang lebih banyak diam, tak bersuara
melihat anaknya seperti itu. Tidak melarang, tidak membantu. Tatapannya lurus
saja, menembus semua benda.
Mungkin karena tak
mampu menemukan cara lain, sang anak justru mempergiat aktivitas berkebunnya. Ia
bahkan rela mengajukan pindah tugas agar bisa tinggal di kota yang sama dengan
sang ibu. Frekuensi kunjungan ke rumah orang tuanya ditambah. Harapannya hanya
satu, agar sang ibu kembali bersemangat. Dengan melihatnya yang sering
berkebun, ibunya akan kembali punya daya hidup, pikirnya. Ia tahu harapan itu
bukanlah harapan kosong saat tiga bulan kemudian, ibunya tidak lagi menatap
kosong menembus semua benda. Meski demikian, ibunya masih belum bergerak. Hanya
memandang dari beranda.
Hanya pandangan, tapi itu
sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan harapan. Sang anak menambah lagi
jadwal berkunjung dan berkebun di rumah orang tuanya. Dari seminggu dua kali,
jadi seminggu tiga kali, lalu seminggu empat kali, hingga akhirnya ia
benar-benar berkebun di sana setiap hari. Sepulang kerja, ketika senja sedang
ranum-ranumnya, ia akan ada di taman itu, lengkap dengan mata ibunya yang
kembali bercahaya. Meskipun belum ada lagi kupu-kupu yang hinggap di bunga
manapun.
Pada senja yang
keseratus tujuh puluh tiga, saat ia hendak pamit pada ibunya setelah usai
berkebun, tanpa ia duga sang ibu tersenyum. Senyum pertama yang dikembangkan
oleh wanita itu sejak kematian suaminya. Anak tunggalnya bergetar. Terlebih
lagi, sang ibu memeluknya. Sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tak pernah
ia rasakan lagi.
***
Sejak itu, sang anak
semakin serius merawat kebun. Dibelinya beberapa peralatan berkekebun.
Gerakannya masih kaku, tentu saja. Tapi itu tak masalah. Beberapa petak kebun
terlihat kembali hidup dan berseri. Dan yang paling penting, ia disambut dan
dilepas oleh ibunya dengan senyuman. Sesuatu yang tak bisa ditukar dengan
apapun. Ia yakin, waktunya semakin dekat. Ibunya akan kembali bertaman dan
‘hidup’ lagi.
Kerja kerasnya terbayar
saat empat minggu kemudian, sang ibu tidak hanya menyambutnya dengan senyum,
tapi juga dengan peralatan taman di tangan. “Ibu akan membantumu bertaman hari
ini,” suara ibunya gemetar. Ia tersenyum. Menahan air yang hampir tumpah dari
mata. Beberapa menit berikutnya, kedua anak-beranak itu sudah sibuk dengan alat
di tangannya.
Saat itulah sang anak
mencuri-curi pandang ke arah ibunya. Ayunan tangan sang ibu tetap lincah seperti dulu. Si anak sempat
tersenyum senang melihat ibunya kembali bersemangat. Namun senyum itu berubah
kalut ketika sang ibu menitikkan air mata. Sang anak tahu pasti, ibunya
terkenang saat-saat bertaman dengan sang ayah.
Setengah jam kemudian,
keduanya rehat. Duduk di beranda. Menikmati biskuit kelapa dan teh panas tanpa
gula. Berbincang tentang hal-hal remeh. Sambil memandangi taman yang kembali
hijau permai, meskipun kupu-kupu tetap belum ada yang hadir. Di tengah
perbincangan, air mata ibu kembali meleleh.
Kenangan, deritanya
memang tiada akhir.
***
Sendirian ia duduk di
beranda rumah. Menatap ke arah taman. Orang-orang baru saja pulang dari
mengungkapkan bela sungkawa. Setelah sore yang begitu indah, ibunya harus
menyusul sang ayah. Ia masih terpukau dengan nasib yang bisa begitu mudah
menunjukkan kuasa.
Matanya menatap nanar.
Terlalu menderita untuk melihat taman itu jika tak terurus kembali, namun
kembali merawat tumbuhan-tumbuhan di sana sama saja dengan menimbun dirinya
dalam penderitaan. Ia tak pernah menyangka bisa begitu terikat dengan taman.
Dua tahun yang lalu, ia sendiri tak akan mau berkotor-kotor dengan tanah demi
sebuah taman. Tapi setelah semua ini, ia sendiri bingung menentukan perasaannya
terhadap taman itu. Hanya saja, di tengah kebingungan itu, ia telah memutuskan
untuk menjual rumah. Ia harus hidup di jalannya sendiri, membentuk nasibnya
sendiri yang mungkin masih panjang.
Apabila hari itu, pukul
sembilan pagi, ia duduk di teras sambil menikmati semua yang biasa dinikmati
kedua orang tuanya, maka itulah yang dianggapnya sebagai ‘pesta perpisahan’.
Ditariknya napas dalam-dalam dan dikatupkannya kedua mata. Ketika ia membuka
mata lagi, pandangannya tertumbuk pada lidah mertua di dalam pot di atas meja.
Ia baru sadar bahwa ia telah abai pada tumbuhan kecil itu. Dicobanya untuk
mengingat-ingat dan barulah ia mahfum, dulu sebelum ia memutuskan untuk
bertaman, tumbuhan itulah yang tetap terlihat terawat sementara yang lain
sekarat. Satu-satunya tumbuhan yang dalam keterpurukan taman, setiap daunnya
tetap mengembang hijau seolah-olah setiap helai telah dilap sedemikian rupa.
Ia mencoba menggali
ingatan yang berkaitan dengan tumbuhan itu. Samar-samar, ia teringat suatu
hari, kedua orang tua itu memberikan kado ulang tahun dan doa yang tak ia
harapkan: sebuah tanaman dalam pot kecil dan doa agar ia kelak mampu melihat
sisi indah setiap tanaman selayaknya kedua orang tuanya.
Sang anak seketika
merasa dadanya penuh sesak. Mencoba menahan laju buliran air di sudut matanya.
Namun, ia tak mampu. Dan entah datang dari mana, sepasang kupu-kupu hinggap di
ujung daun tanaman di hadapannya.
***
ART.
Palembang, 24 November
2017
Kamis, 10 Oktober 2019
Birokrasi Gigi
*Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos
Bala ingin menghajar
siapapun yang bilang bahwa sakit gigi lebih baik daripada sakit hati. Bahkan,
jika bertemu di akhirat, ia akan dengan senang hati menghajar pelantun lagu
dangdut yang membuat ungkapan itu terkenal.
Lagi-lagi malam ini Bala
tak bisa tidur akibat sakit gigi. Ia tak pernah semenderita itu ketika sakit
hati. Istrinya pun ikut nelangsa melihat penderitaan yang dialami Bala.
Tiga hari penuh derita itu dilalui Bala bukan
tanpa usaha agar sakit giginya berkurang. Di hari pertama, tepatnya setelah
pulang kerja, Bala tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di gigi geraham kiri
yang paling belakang. Sakit yang menghentak-hentak seirama dengan denyut
jantungnya. Bala ingat bahwa dulunya gigi itu berlubang dan sudah ditambal tiga
tahun lalu. Lalu kenapa sekarang sakit lagi?
Di hari itu juga Bala
mendatangi dokter gigi yang dulu menambal giginya. Setelah mengetuk-ngetuk gigi
Bala dengan alat khusus, dokter mengangguk-anggukkan kepala.
“Sepertinya tindakan
yang saya ambil tiga tahun lalu itu gagal, dan ini untuk pertama kalinya
sepanjang karier saya sebagai dokter gigi.”
“Jadi bagaimana,
Dokter?”
“Perlu tindakan dari
dokter spesialis bedah mulut.”
Dokter itu pun
memberikan sebuah surat rujukan yang berisi rekomendasi tindakan lanjutan yang
ditujukan pada dokter di rumah sakit khusus gigi. Bersama sedikit obat pereda
nyeri, dokter itu menyerahkan surat rujukan yang telah ditulisnya kepada Bala.
“Silakan tunjukkan
rujukan ini ke dokter di sana. Bapak punya asuransi kesehatan yang dari
pemerintah, kan?”
Bala mengangguk.
Sedikit senang karena merasa akhirnya kartu asuransi itu akan terpakai juga.
“Segera ya, Pak. Gigi
Bapak ini butuh penanganan segera dari ahli bedah mulut.”
Sekali lagi Bala
mengangguk. Di rumah, ia menceritakan yang terjadi pada istrinya.
***
Bala adalah pendaftar pertama di Puskesmas
pada hari itu. Ia sudah berdiri di depan pagar setengah jam sebelum jam
operasional puskesmas. Namun, di bagian administrasi, ia hanya mendapatkan
kekecewaan. Perawat di puskesmas menggelengkan kepala. “Maaf, Pak. Kartu
asuransi Bapak ini tidak bisa digunakan.”
“Lho? Kenapa?”
“Bapak menunggak
bayaran selama tiga bulan?”
“Menunggak bagaimana?
Asuransi itu kan dibayari oleh kantor saya. Gaji saya sudah dipotong setiap
bulan untuk itu.”
“Maaf, Pak. Tapi ini
belum bisa dipakai sampai Bapak melunasi tunggakan.”
Sambil menahan sakit
gigi yang semakin heboh karena obat pereda nyeri dari dokter tidak terlalu
ampuh, Bala juga terpaksa menahan marah. Lalu, di hari itu juga, ia mendatangi bendahara
kantornya. Dengan wajah yang merah padam. Membuat bendahara yang biasanya
tampak acuh tak acuh, mau tak mau jadi sangat peduli dengan Bala.
Setelah menceritakan
semua yang terjadi pada sang bendahara, Bala mendapatkan sebuah kertas berisi
salinan bukti pembayaran asuransi yang telah dipotong dari gajinya setiap
bulan.
“Kau ke kantor asuransi
itu secepatnya, tunjukkan bukti ini. Jadi blokir atas kartu asuransimu itu bisa
segera dibuka.”
Bala mengangguk. Hampir
lupa mengucapkan terima kasih dan berlalu. Ia melangkah menuju kantor asuransi
milik pemerintah itu. Giginya semakin sakit.
***
“Bapak sejak kapan
punya kartu ini?” ujar wanita manis di depannya.
“Bulan Juli.”
“Itu Bapak buat secara
mandiri atau langsung dari kantor?”
“Buat sendiri.”
“Sejak kapan
pembayarannya dialihkan ke kantor?”
Bala mengambil napas
dalam-dalam. Mencoba untuk tetap bersabar menghadapi pertanyaan yang
bertubi-tubi. Menghujat wanita manis di depannya itu di dalam hati. Setelah
cukup tenang, ia menjawab, “Sejak bulan Oktober.”
“Jadi begini, Bapak.
Sekarang ini sedang dalam masa transisi. Selama masa transisi, Bapak masih
harus tetap membayar iuran bulanan asuransi ini.”
“Gajiku sudah dipotong
sejak bulan Oktober,” nada suara Bala mulai meninggi. Ia meletakkan bukti
pemotongan gaji dengan tidak sabar ke hadapan sang wanita.
“Iya, Bapak. Mohon
maaf. Ini bukan kebijakan saya. Memang dari pusat mengharuskan seperti itu.”
“Jadi kalian menyuruhku
membayar dua kali, hah?” kali ini suara Bala benar-benar keras. Beberapa orang
yang ada di dekatnya mulai menoleh. Tertarik ingin tahu apa yang terjadi.
“Sekali lagi mohon
maaf, Bapak. Ini sama sekali bukan kebijakan dari saya. Saya hanya pegawai
rendahan yang mengikuti instruksi dari pusat.”
Bala menggebrak meja.
Satpam mulai berjalan ke arahnya. Bala bersungut, “Tak usah disuruh, aku akan
keluar dari ruangan ini segera tanpa pengawalanmu.”
***
Setelah
dihitung-hitung, tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh Bala kecuali membayar
‘tunggakan’ yang dibebankan padanya. Bagaimanapun juga, biaya bedah mulut
seperti yang dikatakan dokter bisa sampai tiga kali lipat dibandingkan
‘tunggakan’ asuransinya.
Maka hal yang
selanjutnya dilakukan oleh Bala adalah pergi ke ATM, memasukkan kartu ATM-nya,
menekan nomor identitas pribadi, memencet tombol pilihan ‘pembayaran asuransi’
yang tertera di layar, dan keluar dari bilik kecil itu. Ia meringis, tak tahu
karena sakit gigi atau karena sisa uang di ATM yang bahkan untuk beli pecel
lele di pinggir jalan pun tak cukup lagi.
Satpam segera mengenali
wajah Bala ketika ia kembali ke kantor asuransi. Tampak ia bersikap waspada,
namun Bala segera berkata, “Aku datang dengan damai.” Satpam pun mempersilakan
ia masuk.
Ia berhadapan lagi
dengan wanita manis yang sama setelah menunggu antrean selama setengah jam.
Wanita itu kikuk, kentara sekali bahwa ia takut, tapi juga harus bersabar
karena yang begitu itulah pekerjaannya. Hanya saja, wanita itu jadi tidak
secerewet tadi.
Bala sedikit bersyukur
karenanya. Ia langsung menunjukkan bukti pembayaran yang telah ia lakukan di
ATM terdekat. Wanita manis itu meminta Bala untuk menunjukkan kartu
asuransinya. Setelah mengetikkan beberapa huruf di keyboard komputer, ia pun berusaha tersenyum untuk kemudian berkata
pada Bala, “Pemblokiran pada kartu Bapak telah dilepas dan kartu ini sudah bisa
dipakai kembali untuk berobat.”
Waktu sudah menunjukkan
pukul empat sore. Artinya Puskesmas pun sudah tutup. Jadi, meskipun kartu
asuransinya sudah bisa dipakai, ia tetap harus menunggu sampai besok. Bala
meninggalkan kantor asuransi yang dikelola pemerintah itu. Pipinya yang sebelah
kiri mulai bengkak. Obat dari dokter itu memang tidak berpengaruh banyak.
Istri Bala semakin tak
tega melihat kondisi suaminya, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
***
Seperti hari
sebelumnya, Bala menjadi pasien pertama yang mendaftar di Puskesmas. Perawat
yang sama telah duduk di belakang meja. Bala memberikan kartu asuransinya. Sang
perawat mengecek di komputer, kartunya sudah aktif. Ia pun menanyakan keluhan
Bala dan mempersilakan Bala menuju ruang dokter gigi.
Ia sebenarnya sudah
tahu bahwa meskipun sudah ada rekomendasi dari dokter praktik yang menyatakan
ia harus ditangani segera oleh dokter spesialis bedah mulut, dia tidak bisa begitu
saja ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Harus mendapat surat rujukan dari
Puskesmas dulu. Dan dokter gigi di Puskesmas-lah yang nanti akan memberikan
rujukan yang dimaksud.
Sekali lagi, Bala sudah
tahu itu, tapi yang tidak dia tahu adalah, “Dokter di Puskesmas tidak boleh
langsung memberikan rujukan ke rumah sakit. Bapak harus menjalani perawatan
dulu di sini. Setidaknya dua kali berobat ke sini, baru nanti kalau masih tidak
membaik, dokter Puskesmas akan memberikan rujukan,” seperti yang dinyatakan
dokter Puskesmas.
Bala menunjukkan
rekomendasi dari dokter yang dulu menambal gigi gerahamnya yang kini sakit,
“Tapi berdasar surat ini, saya harus segera dapat tindakan dari spesialis bedah
mulut.”
“Ya, tapi ini aturan
dari pusat, Pak. Kami nggak boleh
langsung kasih rujukan untuk pasien yang baru pertama kali datang. Minimal
harus dua kali.”
Bala baru akan buka
mulut lagi ketika dokter itu berujar, “Tenang saja. Ini obat pereda nyeri.
Minggu depan Bapak ke sini lagi. Nanti saya kasih surat rujukannya.”
“Minggu depan?”
“Iya. Minggu depan.”
***
Selama satu minggu itu
Bala tak bisa tidur nyenyak. Begitu pula istrinya, ia sering menangis tanpa
suara melihat suaminya menahan sakit. Obat dari Puskesmas sama saja dengan obat
yang sebelumnya, tidak berpengaruh pada sakitnya. Bahkan pipi kiri Bala semakin
membengkak. Hanya saja ia benar-benar tak punya pilihan lain selain menunggu
dan menunggu itulah yang ia lakukan selama seminggu.
Begitu hari yang
ditunggu datang, dengan tak sabar Bala mengambil surat rujukan dari dokter. Ia
memacu sepeda motor ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Melewati semua proses
pendaftaran dan bertemu dengan dokter di sana.
“Ini ada infeksi yang
serius. Gigi Bapak harus dibedah segera oleh ahli bedah mulut,” ujar dokter
itu. Bala harus menahan emosi untuk kesekian kali mendengar itu sebab ia sudah
tahu sejak awal.
“Tapi ada satu masalah.
Asuransi yang Bapak gunakan ini tidak membolehkan kami mengambil tindakan pada
kunjungan pertama pasien. Ini saya kasih obat pereda nyeri untuk Bapak. Silakan
datang lagi ke sini minggu depan, dan akan langsung kami ambil tindakan.”
Bala mengambil napas
dalam-dalam, begitu dalam. Tangannya bergetar menahan emosi. Namun ia teringat
dengan saldo di ATM-nya. Ia, sekali lagi, tak punya pilihan selain tunduk pada
birokrasi ini.
Ia pulang ke rumah
dengan wajah digagah-gagahkan. Tak ingin melihat istrinya semakin sedih melihat
kondisinya.
***
Istri Bala sedang duduk
menghadap televisi. Orang ramai telah pulang dari rumahnya, para tetangga yang
datang untuk memperingati tujuh hari kematian Bala. Kini tinggal ia sendiri di
rumah itu.
Channel
televisi
berganti-ganti karena remote-nya tak
berhenti dipencet oleh istri Bala. Sampai akhirnya sang janda memilih sebuah
siaran. Konferensi pers dari pemerintah.
“Kartu asuransi
kesehatan yang merupakan program unggulan kami telah berjalan dan terus
dijalankan. Sampai akhir tahun ini, telah jutaan masyarakat Indonesia yang
menikmati fasilitas ini,” ujar seseorang berpeci hitam di layar televisi itu.
Istri Bala tertawa
mendengar suara dari kotak berwarna itu. Ia tertawa terbahak-bahak. Sampai air
matanya meleleh.
***
ART.
Banyuasin, 12 Januari
2017
Selasa, 26 Februari 2019
Mek Mencoba Menolak Memijit
Cerpen ini pernah dipublikasikan di Koran Kompas pada edisi 10 Februari 2019
Karena sudah tiga hari berturut-turut mendapatkan
mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada
sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek
akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat
sang suami sudah duduk di kursi reot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya
manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu
kembali menyeruput kopi.
“Bagaimana, Pak?” Mek mengejar.
“Apanya yang bagaimana?”
“Mimpiku itu lho.”
“Ya sudah. Namanya juga mimpi.”
“Tapi sudah tiga kali, Pak.”
Suami Mek kembali menyeruput kopi.
“Pak?”
Suami Mek menghela napas panjang.
“Pak?!”
“Apa sih, Bu? Itu kan mimpi. Kenyataannya aku sudah
tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak
bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.”
Mek diam. Menatap lantai rumah.
***
Hingga tiga bulan lalu, suami Mek masih bisa menggarap
lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang
setinggi orang dewasa. Setelah Mek dan suaminya datang sebagai keluarga jauh
yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya untuk memanfaatkan lahan itu
untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.
Dari lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas itu, Mek
dan suami mengerahkan semua kemampuan. Mereka berhasil menanam beberapa
tanaman. Hasilnya, sebagian dimakan sendiri, dan sebagian lain bisa dibawa ke
pasar untuk dijual. Tentu saja tidak banyak, tapi cukup. Cukup untuk makan mereka dan anak-anak yang
kemudian lahir tiga kali beruntun. Pendek kata, cukup untuk hidup tidak mewah.
Tentu saja, selama kurang lebih dua belas tahun di
sela-sela hidup hemat mereka, Mek dan suami masih menyisihkan uang untuk
menabung. Hanya saja sering kali tabungan itu harus terpakai untuk kehidupan
sehari-hari dan keperluan lain. Bahkan, tak jarang, mereka justru harus
berutang ke Pak Minto atau yang lain untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak,
seperti biaya melahirkan. Namun, sekuat apapun mereka menabung, tabungan itu
tak cukup untuk mempersiapkan jika suatu waktu lahan itu tak bisa lagi digarap.
Dan itulah yang terjadi.
Saat mereka sedang senang-senangnya karena tampaknya
panen akan cukup berlimpah tahun ini, Pak Minto datang mengetuk pintu rumah
kontrakan mereka yang berada sekitar tiga kilometer dari lahan garapan. Mek dan
suami sama sekali tak menyangka bahwa setelah senyum, salam, dan ramah-tamah
yang menyenangkan, Pak Minto menyampaikan, “Lahan itu sudah dijual. Ada orang
yang mau membangun mini market waralaba di sana. Kabarnya satu atau dua bulan
lagi pembangunan akan dimulai.”
Kalimatnya tidak persis seperti itu karena disampaikan
dengan berbelit-belit dan sangat hati-hati agar tidak melukai siapapun. Hanya
saja, sehalus apapun penyampaiannya, memang kenyataan itu pahit dan tidak ada
manis-manisnya.
Panen yang sudah dibayangkan oleh Mek dan suami
seketika harus menguap. Sebelum pulang, Pak Minto memberikan sebuah amplop yang
berisi uang. Pak Minto sudah menyampaikan soal tanaman yang akan segera panen,
dan pemilik tanah yang baru setuju untuk membayar ganti rugi. Setelah dihitung,
Mek dan suami memang benar-benar rugi.
Setelah Pak Minto pulang, ada tiga puluh menit yang
habis di dalam keheningan yang pekat. Baik Mek maupun suami tak bersuara.
Meskipun begitu, ada kericuhan dan kegaduhan dalam benak masing-masing.
Kericuhan yang begitu rumit dan sangat sulit untuk disalurkan sampai tak ada kata
yang keluar dari mulut keduanya.
“Bagaimana, Pak?” ucap Mek setelah tiga puluh menit
dalam kerapuhan yang memutusasakan.
“Ya mau bagaimana lagi. Kita cari penghasilan lain,
Bu.”
Tapi rupanya mencari sumber penghasilan lain bagi
kedua orang itu tidaklah mudah. Tangan mereka telah terbiasa mencangkul,
memupuk, dan menyiangi. Sementara lahan semakin sempit dan kebun orang lain
sudah punya penggarapnya sendiri.
Sebenarnya Mek dan suami takjub juga dengan
perkembangan minimarket waralaba. Bisa-bisanya ia menjangkau titik di kampung
yang letaknya ratusan kilometer dari kota provinsi. Apalagi, sebulan dari sana,
dijual pula tanah di samping lahan garapan mereka yang selama ini aktif
ditanami padi untuk kepentingan pembangunan minimarket waralaba pesaing.
Mek tahu persis bahwa petak kecil sawah itu digarap
oleh tetangganya. Karena merasa senasib, didatanginyalah tetangga itu dan
menanyakan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambung hidup setelah tanah
itu dijual. Jawaban mereka adalah, “Merantau ke kota. Cari kerja di sana. Di
sini sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.”
Langkah itu akhirnya dilakukan juga oleh Mek, suami,
dan anak-anak mereka. Berbekal uang ganti rugi dari pemilik baru lahan garapan
ditambahi dengan sedikit tabungan mereka, kelima anak-beranak itu nekat pergi
ke kota provinsi. Mencari kerja apa saja.
***
Di kota mereka mengontrak petak kecil di sudut gang
kumuh. Tak perlu deskripsi mendetail soal kondisi rumah kontrakan baru mereka.
Anda tentu pernah membaca di berbagai cerpen dan novel mengenai jenis-jenis
rumah di tempat seperti itu. Atau, paling tidak, pernah melihatnya di sinetron
dan acara televisi yang mengeksploitasi kemiskinan. Kurang lebih, seperti
itulah kondisi kontrakan mereka yang terbaru.
Kelanjutannya, seperti yang sudah diketahui, suami Mek
ditolak bekerja di tiga tempat yang berbeda. Mek sendiri mengalami mimpi yang
sama tiga kali berturut-turut. Di
hari-hari berikutnya, Mek juga memimpikan hal yang sama.
Ia selalu menolak. Tidak mau menjadi tukang urut. Ia
lebih memilih menjadi buruh cuci harian ketimbang menjadi tukang urut.
Sekarang, selagi menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, ia sudah menjadi
buruh cuci di tiga rumah berbeda. Baginya itu lebih berwibawa. Namun, semakin
ia menolak, ia justru merasa bahu kanannya – bagian yang disentuh oleh lelaki
dalam mimpi – terasa semakin sakit.
Berita baik muncul seminggu kemudian. Suaminya
diterima untuk jadi buruh bangunan dalam sebuah proyek pembangunan jembatan
layang. Dua sejoli itu bisa tersenyum sedikit lega. Menjadi buruh bangunan dan
buruh cuci di kota tentu lebih baik ketimbang tidak mengerjakan apapun di desa.
Kecuali mimpi yang terus sama setiap hari dan bahu kanan
yang semakin hari semakin sakit, tidak ada problem berarti di rumah tangga
mereka. Sampai akhirnya, seorang wanita muda dengan riasan yang sederhana namun
memancarkan pesona sesungguhnya, datang mengetuk pintu kontrakan mereka.
“Aku datang ke sini karena mimpi yang berkali-kali,”
ujarnya. Mek dan suami terpana. Belum selesai keterkejutan keduanya, wanita itu
melanjutkan, “Bahuku sakit sekali. Aku perlu tukang pijit.”
“Tidak ada yang bisa memijit di rumah ini. Anda
mungkin salah alamat,” tukas suami Mek.
Perempuan itu menggeleng. Keras dan penuh keyakinan.
“Mek namamu, bukan? Marsini nama asli? Kau yang disebut oleh lelaki di mimpiku
sebagai satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan sakit di bahuku. Tolonglah
aku.”
Demi mendengar nama aslinya disebut, Mek terperanjat.
Mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan nama asli yang tak pernah diucapkan
itu. Sementara itu sang suami teringat dengan mimpi yang pernah diceritakan
istrinya.
“Tolonglah. Aku akan bayar lebih mahal ketimbang rumah
spa langgananku. Sembuhkanlah bahuku, Mek,” wanita itu bertutur lancar.
“Masalahnya, aku tak bisa memijit dan benar-benar
tidak pernah.”
“Cobalah dulu, Mek. Kumohon.”
Mek diam. Menoleh pada suaminya yang kemudian
mengangkat kedua bahu dan berjalan keluar rumah. Di dalam, wanita muda itu
mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Memberikannya pada Mek.
“Ambil uang ini, Mek. Sebagai uang muka. Kalau benar bahuku sehat setelah kau
pijit, akan kutambahi lagi. Kalau tidak, ambil saja uang ini sebagai rasa
terima kasihku karena setidaknya kau telah mencoba. Aku sungguh tak tahan.
Sungguh. Bahu ini sudah sakit lebih dari sebulan.”
Mek menarik napas panjang. Dipersilakannya sang wanita
untuk rebah di satu-satunya kasur tipis yang ada di rumah. Wanita itu mengerti
dan membuka baju kemeja yang ia kenakan dengan kesulitan karena bahu kanannya
tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tangan Mek menyentuh bahu itu dan dengan cara yang
sulit dijelaskan, ia bisa merasa bahwa ada satu urat kecil yang tidak berada
pada tempatnya. Urat itulah yang membuat wanita di depannya merasa sakit. Saat
Mek mencoba ‘meluruskan’ urat itu, ia merasa sakit di bahunya sendiri juga ikut
terobati. Mek benar-benar terpana dengan perasaan yang baru ia alami ini.
Rupanya, wanita muda yang dipijit Mek juga merasakan
keajaiban itu. Ia berjanji akan mempromosikan kemampuan Mek pada semua orang
yang dikenalnya. Juga meyakinkan Mek bahwa Mek akan bisa hidup jauh lebih layak
dengan kemampuannya memijit. Mek tersenyum.
Dan mungkin karena memang sifatnya yang supel, ia
mulai menceritakan detail mimpinya pada Mek. Dua wanita berbeda usia itu
sepakat bahwa mereka telah didatangi oleh orang yang sama. Sama-sama tak jelas
siapa. Obrolan mereka jadi cair setelah menceritakan mimpi aneh tersebut.
Mek sudah merasa bahwa tak lama lagi urat yang tadi
salah tempat akan segera ada di posisinya semula, saat sang wanita muda bercerita
dengan lancar bahwa ia adalah istri seorang pebisnis muda yang sukses. Suaminya
baru saja membangun sebuah minimarket waralaba di salah satu pelosok kampung di
provinsi itu, sebuah ekspansi. “Suamiku mengalami negosiasi yang cukup panjang
dengan Pak Minto, pemilik tanah, karena ia memikirkan nasib penggarap lahannya.
Tapi berkat harga yang pas, Pak Minto pun rela melepas tanahnya. Tanah yang
benar-benar strategis.”
Tinggal satu usapan jempol lagi, Mek yakin, dan urat
yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun, demi
mendengar ucapan terkahir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak
untuk memijit.
Langganan:
Postingan (Atom)