Senin, 18 November 2019

Taman di Depan Rumah

Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos pada November 2019


Taman itu tidak lagi terlihat rapi. Rumput-rumput tumbuh seenaknya. Mawar-mawar mengering. Pohon-pohon bonsai terlihat seperti orang penuh dosa yang sakratul mautnya begitu sulit. Kupu-kupu yang dulu sering hilir mudik di sana tak pernah muncul lagi. Semuanya berubah begitu rupa sejak lima bulan lalu.
Dulu, setiap hari, sejak jam sembilan sampai jam sepuluh pagi ada sepasang orang tua merawat taman di depan rumahnya itu dengan telaten. Setiap daun mengembang hijau seolah dilap dan dibersihkan satu demi satu. Atau mungkin memang begitu.
Setelah ‘berkebun’, keduanya duduk di beranda. Memandangi taman mereka yang sebenarnya tidak begitu luas, namun memang hijau dan menyejukkan. Ditemani oleh biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Saat itu, mereka akan berbincang tentang anak tunggal yang di rantau, atau hal-hal remeh lainnya. Tiga atau empat kupu-kupu akan hinggap di tanaman lidah mertua yang ada di pot kecil di tengah meja. Seperti ingin nimbrung dalam perbincangan keduanya.
Semua itu jadi pemandangan sehari-hari sampai akhirnya di suatu pagi sang suami tak lagi merepons usapan tangan istrinya untuk membangunkannya sebagaimana biasa. Anak tunggalnya yang merantau terpaksa pulang lebih cepat dari jadwal. Rumah beserta tamannya dipenuhi oleh orang yang menunjukkan rasa berbela sungkawa.
***

Seminggu setelahnya, taman kecil itu tetap tak tersentuh. Sang anak yang tahu bagaimana rutinitas kedua orang tuanya, tidak berkomentar. Lagi pula tak mungkin membiarkan orang tua bertaman di masa berkabung. Namun, ternyata hingga peringatan lewat seratus hari, sang ibu tetap tak menghiraukan tamannya.
Rumpun hijau di depan rumah sudah seperti semak belukar. Sang anak, yang sejak kematian ayahnya lebih sering berkunjung, terpaksa merapikan taman. Namun tangannya tak setelaten sang orang tua. Ia tak suka bertaman. Semua dilakukannya hanya agar taman itu tak terlalu buruk dilihat tetangga. Ibunya, yang lebih banyak diam, tak bersuara melihat anaknya seperti itu. Tidak melarang, tidak membantu. Tatapannya lurus saja, menembus semua benda.
Mungkin karena tak mampu menemukan cara lain, sang anak justru mempergiat aktivitas berkebunnya. Ia bahkan rela mengajukan pindah tugas agar bisa tinggal di kota yang sama dengan sang ibu. Frekuensi kunjungan ke rumah orang tuanya ditambah. Harapannya hanya satu, agar sang ibu kembali bersemangat. Dengan melihatnya yang sering berkebun, ibunya akan kembali punya daya hidup, pikirnya. Ia tahu harapan itu bukanlah harapan kosong saat tiga bulan kemudian, ibunya tidak lagi menatap kosong menembus semua benda. Meski demikian, ibunya masih belum bergerak. Hanya memandang dari beranda.
Hanya pandangan, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan harapan. Sang anak menambah lagi jadwal berkunjung dan berkebun di rumah orang tuanya. Dari seminggu dua kali, jadi seminggu tiga kali, lalu seminggu empat kali, hingga akhirnya ia benar-benar berkebun di sana setiap hari. Sepulang kerja, ketika senja sedang ranum-ranumnya, ia akan ada di taman itu, lengkap dengan mata ibunya yang kembali bercahaya. Meskipun belum ada lagi kupu-kupu yang hinggap di bunga manapun.
Pada senja yang keseratus tujuh puluh tiga, saat ia hendak pamit pada ibunya setelah usai berkebun, tanpa ia duga sang ibu tersenyum. Senyum pertama yang dikembangkan oleh wanita itu sejak kematian suaminya. Anak tunggalnya bergetar. Terlebih lagi, sang ibu memeluknya. Sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan lagi.
***

Sejak itu, sang anak semakin serius merawat kebun. Dibelinya beberapa peralatan berkekebun. Gerakannya masih kaku, tentu saja. Tapi itu tak masalah. Beberapa petak kebun terlihat kembali hidup dan berseri. Dan yang paling penting, ia disambut dan dilepas oleh ibunya dengan senyuman. Sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apapun. Ia yakin, waktunya semakin dekat. Ibunya akan kembali bertaman dan ‘hidup’ lagi.
Kerja kerasnya terbayar saat empat minggu kemudian, sang ibu tidak hanya menyambutnya dengan senyum, tapi juga dengan peralatan taman di tangan. “Ibu akan membantumu bertaman hari ini,” suara ibunya gemetar. Ia tersenyum. Menahan air yang hampir tumpah dari mata. Beberapa menit berikutnya, kedua anak-beranak itu sudah sibuk dengan alat di tangannya.
Saat itulah sang anak mencuri-curi pandang ke arah ibunya. Ayunan tangan sang ibu  tetap lincah seperti dulu. Si anak sempat tersenyum senang melihat ibunya kembali bersemangat. Namun senyum itu berubah kalut ketika sang ibu menitikkan air mata. Sang anak tahu pasti, ibunya terkenang saat-saat bertaman dengan sang ayah.
Setengah jam kemudian, keduanya rehat. Duduk di beranda. Menikmati biskuit kelapa dan teh panas tanpa gula. Berbincang tentang hal-hal remeh. Sambil memandangi taman yang kembali hijau permai, meskipun kupu-kupu tetap belum ada yang hadir. Di tengah perbincangan, air mata ibu kembali meleleh.
Kenangan, deritanya memang tiada akhir.
***

Sendirian ia duduk di beranda rumah. Menatap ke arah taman. Orang-orang baru saja pulang dari mengungkapkan bela sungkawa. Setelah sore yang begitu indah, ibunya harus menyusul sang ayah. Ia masih terpukau dengan nasib yang bisa begitu mudah menunjukkan kuasa.
Matanya menatap nanar. Terlalu menderita untuk melihat taman itu jika tak terurus kembali, namun kembali merawat tumbuhan-tumbuhan di sana sama saja dengan menimbun dirinya dalam penderitaan. Ia tak pernah menyangka bisa begitu terikat dengan taman. Dua tahun yang lalu, ia sendiri tak akan mau berkotor-kotor dengan tanah demi sebuah taman. Tapi setelah semua ini, ia sendiri bingung menentukan perasaannya terhadap taman itu. Hanya saja, di tengah kebingungan itu, ia telah memutuskan untuk menjual rumah. Ia harus hidup di jalannya sendiri, membentuk nasibnya sendiri yang mungkin masih panjang.
Apabila hari itu, pukul sembilan pagi, ia duduk di teras sambil menikmati semua yang biasa dinikmati kedua orang tuanya, maka itulah yang dianggapnya sebagai ‘pesta perpisahan’. Ditariknya napas dalam-dalam dan dikatupkannya kedua mata. Ketika ia membuka mata lagi, pandangannya tertumbuk pada lidah mertua di dalam pot di atas meja. Ia baru sadar bahwa ia telah abai pada tumbuhan kecil itu. Dicobanya untuk mengingat-ingat dan barulah ia mahfum, dulu sebelum ia memutuskan untuk bertaman, tumbuhan itulah yang tetap terlihat terawat sementara yang lain sekarat. Satu-satunya tumbuhan yang dalam keterpurukan taman, setiap daunnya tetap mengembang hijau seolah-olah setiap helai telah dilap sedemikian rupa.
Ia mencoba menggali ingatan yang berkaitan dengan tumbuhan itu. Samar-samar, ia teringat suatu hari, kedua orang tua itu memberikan kado ulang tahun dan doa yang tak ia harapkan: sebuah tanaman dalam pot kecil dan doa agar ia kelak mampu melihat sisi indah setiap tanaman selayaknya kedua orang tuanya.
Sang anak seketika merasa dadanya penuh sesak. Mencoba menahan laju buliran air di sudut matanya. Namun, ia tak mampu. Dan entah datang dari mana, sepasang kupu-kupu hinggap di ujung daun tanaman di hadapannya.
***

ART.
Palembang, 24 November 2017

Kamis, 10 Oktober 2019

Birokrasi Gigi

*Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos


Bala ingin menghajar siapapun yang bilang bahwa sakit gigi lebih baik daripada sakit hati. Bahkan, jika bertemu di akhirat, ia akan dengan senang hati menghajar pelantun lagu dangdut yang membuat ungkapan itu terkenal.
Lagi-lagi malam ini Bala tak bisa tidur akibat sakit gigi. Ia tak pernah semenderita itu ketika sakit hati. Istrinya pun ikut nelangsa melihat penderitaan yang dialami Bala.
 Tiga hari penuh derita itu dilalui Bala bukan tanpa usaha agar sakit giginya berkurang. Di hari pertama, tepatnya setelah pulang kerja, Bala tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di gigi geraham kiri yang paling belakang. Sakit yang menghentak-hentak seirama dengan denyut jantungnya. Bala ingat bahwa dulunya gigi itu berlubang dan sudah ditambal tiga tahun lalu. Lalu kenapa sekarang sakit lagi?
Di hari itu juga Bala mendatangi dokter gigi yang dulu menambal giginya. Setelah mengetuk-ngetuk gigi Bala dengan alat khusus, dokter mengangguk-anggukkan kepala.
“Sepertinya tindakan yang saya ambil tiga tahun lalu itu gagal, dan ini untuk pertama kalinya sepanjang karier saya sebagai dokter gigi.”
“Jadi bagaimana, Dokter?”
“Perlu tindakan dari dokter spesialis bedah mulut.”
Dokter itu pun memberikan sebuah surat rujukan yang berisi rekomendasi tindakan lanjutan yang ditujukan pada dokter di rumah sakit khusus gigi. Bersama sedikit obat pereda nyeri, dokter itu menyerahkan surat rujukan yang telah ditulisnya kepada Bala.
“Silakan tunjukkan rujukan ini ke dokter di sana. Bapak punya asuransi kesehatan yang dari pemerintah, kan?”
Bala mengangguk. Sedikit senang karena merasa akhirnya kartu asuransi itu akan terpakai juga.
“Segera ya, Pak. Gigi Bapak ini butuh penanganan segera dari ahli bedah mulut.”
Sekali lagi Bala mengangguk. Di rumah, ia menceritakan yang terjadi pada istrinya.
***

 Bala adalah pendaftar pertama di Puskesmas pada hari itu. Ia sudah berdiri di depan pagar setengah jam sebelum jam operasional puskesmas. Namun, di bagian administrasi, ia hanya mendapatkan kekecewaan. Perawat di puskesmas menggelengkan kepala. “Maaf, Pak. Kartu asuransi Bapak ini tidak bisa digunakan.”
“Lho? Kenapa?”
“Bapak menunggak bayaran selama tiga bulan?”
“Menunggak bagaimana? Asuransi itu kan dibayari oleh kantor saya. Gaji saya sudah dipotong setiap bulan untuk itu.”
“Maaf, Pak. Tapi ini belum bisa dipakai sampai Bapak melunasi tunggakan.”
Sambil menahan sakit gigi yang semakin heboh karena obat pereda nyeri dari dokter tidak terlalu ampuh, Bala juga terpaksa menahan marah. Lalu, di hari itu juga, ia mendatangi bendahara kantornya. Dengan wajah yang merah padam. Membuat bendahara yang biasanya tampak acuh tak acuh, mau tak mau jadi sangat peduli dengan Bala.
Setelah menceritakan semua yang terjadi pada sang bendahara, Bala mendapatkan sebuah kertas berisi salinan bukti pembayaran asuransi yang telah dipotong dari gajinya setiap bulan.
“Kau ke kantor asuransi itu secepatnya, tunjukkan bukti ini. Jadi blokir atas kartu asuransimu itu bisa segera dibuka.”
Bala mengangguk. Hampir lupa mengucapkan terima kasih dan berlalu. Ia melangkah menuju kantor asuransi milik pemerintah itu. Giginya semakin sakit.
***

“Bapak sejak kapan punya kartu ini?” ujar wanita manis di depannya.
“Bulan Juli.”
“Itu Bapak buat secara mandiri atau langsung dari kantor?”
“Buat sendiri.”
“Sejak kapan pembayarannya dialihkan ke kantor?”
Bala mengambil napas dalam-dalam. Mencoba untuk tetap bersabar menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi. Menghujat wanita manis di depannya itu di dalam hati. Setelah cukup tenang, ia menjawab, “Sejak bulan Oktober.”
“Jadi begini, Bapak. Sekarang ini sedang dalam masa transisi. Selama masa transisi, Bapak masih harus tetap membayar iuran bulanan asuransi ini.”
“Gajiku sudah dipotong sejak bulan Oktober,” nada suara Bala mulai meninggi. Ia meletakkan bukti pemotongan gaji dengan tidak sabar ke hadapan sang wanita.
“Iya, Bapak. Mohon maaf. Ini bukan kebijakan saya. Memang dari pusat mengharuskan seperti itu.”
“Jadi kalian menyuruhku membayar dua kali, hah?” kali ini suara Bala benar-benar keras. Beberapa orang yang ada di dekatnya mulai menoleh. Tertarik ingin tahu apa yang terjadi.
“Sekali lagi mohon maaf, Bapak. Ini sama sekali bukan kebijakan dari saya. Saya hanya pegawai rendahan yang mengikuti instruksi dari pusat.”
Bala menggebrak meja. Satpam mulai berjalan ke arahnya. Bala bersungut, “Tak usah disuruh, aku akan keluar dari ruangan ini segera tanpa pengawalanmu.”
***

Setelah dihitung-hitung, tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh Bala kecuali membayar ‘tunggakan’ yang dibebankan padanya. Bagaimanapun juga, biaya bedah mulut seperti yang dikatakan dokter bisa sampai tiga kali lipat dibandingkan ‘tunggakan’ asuransinya.
Maka hal yang selanjutnya dilakukan oleh Bala adalah pergi ke ATM, memasukkan kartu ATM-nya, menekan nomor identitas pribadi, memencet tombol pilihan ‘pembayaran asuransi’ yang tertera di layar, dan keluar dari bilik kecil itu. Ia meringis, tak tahu karena sakit gigi atau karena sisa uang di ATM yang bahkan untuk beli pecel lele di pinggir jalan pun tak cukup lagi.
Satpam segera mengenali wajah Bala ketika ia kembali ke kantor asuransi. Tampak ia bersikap waspada, namun Bala segera berkata, “Aku datang dengan damai.” Satpam pun mempersilakan ia masuk.
Ia berhadapan lagi dengan wanita manis yang sama setelah menunggu antrean selama setengah jam. Wanita itu kikuk, kentara sekali bahwa ia takut, tapi juga harus bersabar karena yang begitu itulah pekerjaannya. Hanya saja, wanita itu jadi tidak secerewet tadi.
Bala sedikit bersyukur karenanya. Ia langsung menunjukkan bukti pembayaran yang telah ia lakukan di ATM terdekat. Wanita manis itu meminta Bala untuk menunjukkan kartu asuransinya. Setelah mengetikkan beberapa huruf di keyboard komputer, ia pun berusaha tersenyum untuk kemudian berkata pada Bala, “Pemblokiran pada kartu Bapak telah dilepas dan kartu ini sudah bisa dipakai kembali untuk berobat.”
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Artinya Puskesmas pun sudah tutup. Jadi, meskipun kartu asuransinya sudah bisa dipakai, ia tetap harus menunggu sampai besok. Bala meninggalkan kantor asuransi yang dikelola pemerintah itu. Pipinya yang sebelah kiri mulai bengkak. Obat dari dokter itu memang tidak berpengaruh banyak.
Istri Bala semakin tak tega melihat kondisi suaminya, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
***

Seperti hari sebelumnya, Bala menjadi pasien pertama yang mendaftar di Puskesmas. Perawat yang sama telah duduk di belakang meja. Bala memberikan kartu asuransinya. Sang perawat mengecek di komputer, kartunya sudah aktif. Ia pun menanyakan keluhan Bala dan mempersilakan Bala menuju ruang dokter gigi.
Ia sebenarnya sudah tahu bahwa meskipun sudah ada rekomendasi dari dokter praktik yang menyatakan ia harus ditangani segera oleh dokter spesialis bedah mulut, dia tidak bisa begitu saja ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Harus mendapat surat rujukan dari Puskesmas dulu. Dan dokter gigi di Puskesmas-lah yang nanti akan memberikan rujukan yang dimaksud.
Sekali lagi, Bala sudah tahu itu, tapi yang tidak dia tahu adalah, “Dokter di Puskesmas tidak boleh langsung memberikan rujukan ke rumah sakit. Bapak harus menjalani perawatan dulu di sini. Setidaknya dua kali berobat ke sini, baru nanti kalau masih tidak membaik, dokter Puskesmas akan memberikan rujukan,” seperti yang dinyatakan dokter Puskesmas.
Bala menunjukkan rekomendasi dari dokter yang dulu menambal gigi gerahamnya yang kini sakit, “Tapi berdasar surat ini, saya harus segera dapat tindakan dari spesialis bedah mulut.”
“Ya, tapi ini aturan dari pusat, Pak. Kami nggak boleh langsung kasih rujukan untuk pasien yang baru pertama kali datang. Minimal harus dua kali.”
Bala baru akan buka mulut lagi ketika dokter itu berujar, “Tenang saja. Ini obat pereda nyeri. Minggu depan Bapak ke sini lagi. Nanti saya kasih surat rujukannya.”
“Minggu depan?”
“Iya. Minggu depan.”
***

Selama satu minggu itu Bala tak bisa tidur nyenyak. Begitu pula istrinya, ia sering menangis tanpa suara melihat suaminya menahan sakit. Obat dari Puskesmas sama saja dengan obat yang sebelumnya, tidak berpengaruh pada sakitnya. Bahkan pipi kiri Bala semakin membengkak. Hanya saja ia benar-benar tak punya pilihan lain selain menunggu dan menunggu itulah yang ia lakukan selama seminggu.
Begitu hari yang ditunggu datang, dengan tak sabar Bala mengambil surat rujukan dari dokter. Ia memacu sepeda motor ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Melewati semua proses pendaftaran dan bertemu dengan dokter di sana.
“Ini ada infeksi yang serius. Gigi Bapak harus dibedah segera oleh ahli bedah mulut,” ujar dokter itu. Bala harus menahan emosi untuk kesekian kali mendengar itu sebab ia sudah tahu sejak awal.
“Tapi ada satu masalah. Asuransi yang Bapak gunakan ini tidak membolehkan kami mengambil tindakan pada kunjungan pertama pasien. Ini saya kasih obat pereda nyeri untuk Bapak. Silakan datang lagi ke sini minggu depan, dan akan langsung kami ambil tindakan.”
Bala mengambil napas dalam-dalam, begitu dalam. Tangannya bergetar menahan emosi. Namun ia teringat dengan saldo di ATM-nya. Ia, sekali lagi, tak punya pilihan selain tunduk pada birokrasi ini.
Ia pulang ke rumah dengan wajah digagah-gagahkan. Tak ingin melihat istrinya semakin sedih melihat kondisinya.  
***

Istri Bala sedang duduk menghadap televisi. Orang ramai telah pulang dari rumahnya, para tetangga yang datang untuk memperingati tujuh hari kematian Bala. Kini tinggal ia sendiri di rumah itu.
Channel televisi berganti-ganti karena remote­-nya tak berhenti dipencet oleh istri Bala. Sampai akhirnya sang janda memilih sebuah siaran. Konferensi pers dari pemerintah.
“Kartu asuransi kesehatan yang merupakan program unggulan kami telah berjalan dan terus dijalankan. Sampai akhir tahun ini, telah jutaan masyarakat Indonesia yang menikmati fasilitas ini,” ujar seseorang berpeci hitam di layar televisi itu.
Istri Bala tertawa mendengar suara dari kotak berwarna itu. Ia tertawa terbahak-bahak. Sampai air matanya meleleh.
***

ART.
Banyuasin, 12 Januari 2017

Selasa, 26 Februari 2019

Mek Mencoba Menolak Memijit


Cerpen ini pernah dipublikasikan di Koran Kompas pada edisi 10 Februari 2019

Karena sudah tiga hari berturut-turut mendapatkan mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat sang suami sudah duduk di kursi reot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menyeruput kopi.
“Bagaimana, Pak?” Mek mengejar.
“Apanya yang bagaimana?”
“Mimpiku itu lho.”
“Ya sudah. Namanya juga mimpi.”
“Tapi sudah tiga kali, Pak.”
Suami Mek kembali menyeruput kopi.
“Pak?”
Suami Mek menghela napas panjang.
“Pak?!”
“Apa sih, Bu? Itu kan mimpi. Kenyataannya aku sudah tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.”
Mek diam. Menatap lantai rumah.
***
Hingga tiga bulan lalu, suami Mek masih bisa menggarap lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang setinggi orang dewasa. Setelah Mek dan suaminya datang sebagai keluarga jauh yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya untuk memanfaatkan lahan itu untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.
Dari lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas itu, Mek dan suami mengerahkan semua kemampuan. Mereka berhasil menanam beberapa tanaman. Hasilnya, sebagian dimakan sendiri, dan sebagian lain bisa dibawa ke pasar untuk dijual. Tentu saja tidak banyak, tapi cukup.  Cukup untuk makan mereka dan anak-anak yang kemudian lahir tiga kali beruntun. Pendek kata, cukup untuk hidup tidak mewah.
Tentu saja, selama kurang lebih dua belas tahun di sela-sela hidup hemat mereka, Mek dan suami masih menyisihkan uang untuk menabung. Hanya saja sering kali tabungan itu harus terpakai untuk kehidupan sehari-hari dan keperluan lain. Bahkan, tak jarang, mereka justru harus berutang ke Pak Minto atau yang lain untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak, seperti biaya melahirkan. Namun, sekuat apapun mereka menabung, tabungan itu tak cukup untuk mempersiapkan jika suatu waktu lahan itu tak bisa lagi digarap. Dan itulah yang terjadi.
Saat mereka sedang senang-senangnya karena tampaknya panen akan cukup berlimpah tahun ini, Pak Minto datang mengetuk pintu rumah kontrakan mereka yang berada sekitar tiga kilometer dari lahan garapan. Mek dan suami sama sekali tak menyangka bahwa setelah senyum, salam, dan ramah-tamah yang menyenangkan, Pak Minto menyampaikan, “Lahan itu sudah dijual. Ada orang yang mau membangun mini market waralaba di sana. Kabarnya satu atau dua bulan lagi pembangunan akan dimulai.”
Kalimatnya tidak persis seperti itu karena disampaikan dengan berbelit-belit dan sangat hati-hati agar tidak melukai siapapun. Hanya saja, sehalus apapun penyampaiannya, memang kenyataan itu pahit dan tidak ada manis-manisnya.
Panen yang sudah dibayangkan oleh Mek dan suami seketika harus menguap. Sebelum pulang, Pak Minto memberikan sebuah amplop yang berisi uang. Pak Minto sudah menyampaikan soal tanaman yang akan segera panen, dan pemilik tanah yang baru setuju untuk membayar ganti rugi. Setelah dihitung, Mek dan suami memang benar-benar rugi.
Setelah Pak Minto pulang, ada tiga puluh menit yang habis di dalam keheningan yang pekat. Baik Mek maupun suami tak bersuara. Meskipun begitu, ada kericuhan dan kegaduhan dalam benak masing-masing. Kericuhan yang begitu rumit dan sangat sulit untuk disalurkan sampai tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.
“Bagaimana, Pak?” ucap Mek setelah tiga puluh menit dalam kerapuhan yang memutusasakan.
“Ya mau bagaimana lagi. Kita cari penghasilan lain, Bu.”
Tapi rupanya mencari sumber penghasilan lain bagi kedua orang itu tidaklah mudah. Tangan mereka telah terbiasa mencangkul, memupuk, dan menyiangi. Sementara lahan semakin sempit dan kebun orang lain sudah punya penggarapnya sendiri.
Sebenarnya Mek dan suami takjub juga dengan perkembangan minimarket waralaba. Bisa-bisanya ia menjangkau titik di kampung yang letaknya ratusan kilometer dari kota provinsi. Apalagi, sebulan dari sana, dijual pula tanah di samping lahan garapan mereka yang selama ini aktif ditanami padi untuk kepentingan pembangunan minimarket waralaba pesaing.
Mek tahu persis bahwa petak kecil sawah itu digarap oleh tetangganya. Karena merasa senasib, didatanginyalah tetangga itu dan menanyakan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambung hidup setelah tanah itu dijual. Jawaban mereka adalah, “Merantau ke kota. Cari kerja di sana. Di sini sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.”
Langkah itu akhirnya dilakukan juga oleh Mek, suami, dan anak-anak mereka. Berbekal uang ganti rugi dari pemilik baru lahan garapan ditambahi dengan sedikit tabungan mereka, kelima anak-beranak itu nekat pergi ke kota provinsi. Mencari kerja apa saja.
***

Di kota mereka mengontrak petak kecil di sudut gang kumuh. Tak perlu deskripsi mendetail soal kondisi rumah kontrakan baru mereka. Anda tentu pernah membaca di berbagai cerpen dan novel mengenai jenis-jenis rumah di tempat seperti itu. Atau, paling tidak, pernah melihatnya di sinetron dan acara televisi yang mengeksploitasi kemiskinan. Kurang lebih, seperti itulah kondisi kontrakan mereka yang terbaru.
Kelanjutannya, seperti yang sudah diketahui, suami Mek ditolak bekerja di tiga tempat yang berbeda. Mek sendiri mengalami mimpi yang sama tiga kali berturut-turut.  Di hari-hari berikutnya, Mek juga memimpikan hal yang sama.
Ia selalu menolak. Tidak mau menjadi tukang urut. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci harian ketimbang menjadi tukang urut. Sekarang, selagi menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, ia sudah menjadi buruh cuci di tiga rumah berbeda. Baginya itu lebih berwibawa. Namun, semakin ia menolak, ia justru merasa bahu kanannya – bagian yang disentuh oleh lelaki dalam mimpi – terasa semakin sakit.
Berita baik muncul seminggu kemudian. Suaminya diterima untuk jadi buruh bangunan dalam sebuah proyek pembangunan jembatan layang. Dua sejoli itu bisa tersenyum sedikit lega. Menjadi buruh bangunan dan buruh cuci di kota tentu lebih baik ketimbang tidak mengerjakan apapun di desa.
Kecuali mimpi yang terus sama setiap hari dan bahu kanan yang semakin hari semakin sakit, tidak ada problem berarti di rumah tangga mereka. Sampai akhirnya, seorang wanita muda dengan riasan yang sederhana namun memancarkan pesona sesungguhnya, datang mengetuk pintu kontrakan mereka.
“Aku datang ke sini karena mimpi yang berkali-kali,” ujarnya. Mek dan suami terpana. Belum selesai keterkejutan keduanya, wanita itu melanjutkan, “Bahuku sakit sekali. Aku perlu tukang pijit.”
“Tidak ada yang bisa memijit di rumah ini. Anda mungkin salah alamat,” tukas suami Mek.
Perempuan itu menggeleng. Keras dan penuh keyakinan. “Mek namamu, bukan? Marsini nama asli? Kau yang disebut oleh lelaki di mimpiku sebagai satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan sakit di bahuku. Tolonglah aku.”
Demi mendengar nama aslinya disebut, Mek terperanjat. Mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan nama asli yang tak pernah diucapkan itu. Sementara itu sang suami teringat dengan mimpi yang pernah diceritakan istrinya.
“Tolonglah. Aku akan bayar lebih mahal ketimbang rumah spa langgananku. Sembuhkanlah bahuku, Mek,” wanita itu bertutur lancar.
“Masalahnya, aku tak bisa memijit dan benar-benar tidak pernah.”
“Cobalah dulu, Mek. Kumohon.”
Mek diam. Menoleh pada suaminya yang kemudian mengangkat kedua bahu dan berjalan keluar rumah. Di dalam, wanita muda itu mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Memberikannya pada Mek. “Ambil uang ini, Mek. Sebagai uang muka. Kalau benar bahuku sehat setelah kau pijit, akan kutambahi lagi. Kalau tidak, ambil saja uang ini sebagai rasa terima kasihku karena setidaknya kau telah mencoba. Aku sungguh tak tahan. Sungguh. Bahu ini sudah sakit lebih dari sebulan.”
Mek menarik napas panjang. Dipersilakannya sang wanita untuk rebah di satu-satunya kasur tipis yang ada di rumah. Wanita itu mengerti dan membuka baju kemeja yang ia kenakan dengan kesulitan karena bahu kanannya tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tangan Mek menyentuh bahu itu dan dengan cara yang sulit dijelaskan, ia bisa merasa bahwa ada satu urat kecil yang tidak berada pada tempatnya. Urat itulah yang membuat wanita di depannya merasa sakit. Saat Mek mencoba ‘meluruskan’ urat itu, ia merasa sakit di bahunya sendiri juga ikut terobati. Mek benar-benar terpana dengan perasaan yang baru ia alami ini.
Rupanya, wanita muda yang dipijit Mek juga merasakan keajaiban itu. Ia berjanji akan mempromosikan kemampuan Mek pada semua orang yang dikenalnya. Juga meyakinkan Mek bahwa Mek akan bisa hidup jauh lebih layak dengan kemampuannya memijit. Mek tersenyum.
Dan mungkin karena memang sifatnya yang supel, ia mulai menceritakan detail mimpinya pada Mek. Dua wanita berbeda usia itu sepakat bahwa mereka telah didatangi oleh orang yang sama. Sama-sama tak jelas siapa. Obrolan mereka jadi cair setelah menceritakan mimpi aneh tersebut.
Mek sudah merasa bahwa tak lama lagi urat yang tadi salah tempat akan segera ada di posisinya semula, saat sang wanita muda bercerita dengan lancar bahwa ia adalah istri seorang pebisnis muda yang sukses. Suaminya baru saja membangun sebuah minimarket waralaba di salah satu pelosok kampung di provinsi itu, sebuah ekspansi. “Suamiku mengalami negosiasi yang cukup panjang dengan Pak Minto, pemilik tanah, karena ia memikirkan nasib penggarap lahannya. Tapi berkat harga yang pas, Pak Minto pun rela melepas tanahnya. Tanah yang benar-benar strategis.”
Tinggal satu usapan jempol lagi, Mek yakin, dan urat yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun, demi mendengar ucapan terkahir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak untuk memijit.