Kamis, 10 Oktober 2019

Birokrasi Gigi

*Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos


Bala ingin menghajar siapapun yang bilang bahwa sakit gigi lebih baik daripada sakit hati. Bahkan, jika bertemu di akhirat, ia akan dengan senang hati menghajar pelantun lagu dangdut yang membuat ungkapan itu terkenal.
Lagi-lagi malam ini Bala tak bisa tidur akibat sakit gigi. Ia tak pernah semenderita itu ketika sakit hati. Istrinya pun ikut nelangsa melihat penderitaan yang dialami Bala.
 Tiga hari penuh derita itu dilalui Bala bukan tanpa usaha agar sakit giginya berkurang. Di hari pertama, tepatnya setelah pulang kerja, Bala tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di gigi geraham kiri yang paling belakang. Sakit yang menghentak-hentak seirama dengan denyut jantungnya. Bala ingat bahwa dulunya gigi itu berlubang dan sudah ditambal tiga tahun lalu. Lalu kenapa sekarang sakit lagi?
Di hari itu juga Bala mendatangi dokter gigi yang dulu menambal giginya. Setelah mengetuk-ngetuk gigi Bala dengan alat khusus, dokter mengangguk-anggukkan kepala.
“Sepertinya tindakan yang saya ambil tiga tahun lalu itu gagal, dan ini untuk pertama kalinya sepanjang karier saya sebagai dokter gigi.”
“Jadi bagaimana, Dokter?”
“Perlu tindakan dari dokter spesialis bedah mulut.”
Dokter itu pun memberikan sebuah surat rujukan yang berisi rekomendasi tindakan lanjutan yang ditujukan pada dokter di rumah sakit khusus gigi. Bersama sedikit obat pereda nyeri, dokter itu menyerahkan surat rujukan yang telah ditulisnya kepada Bala.
“Silakan tunjukkan rujukan ini ke dokter di sana. Bapak punya asuransi kesehatan yang dari pemerintah, kan?”
Bala mengangguk. Sedikit senang karena merasa akhirnya kartu asuransi itu akan terpakai juga.
“Segera ya, Pak. Gigi Bapak ini butuh penanganan segera dari ahli bedah mulut.”
Sekali lagi Bala mengangguk. Di rumah, ia menceritakan yang terjadi pada istrinya.
***

 Bala adalah pendaftar pertama di Puskesmas pada hari itu. Ia sudah berdiri di depan pagar setengah jam sebelum jam operasional puskesmas. Namun, di bagian administrasi, ia hanya mendapatkan kekecewaan. Perawat di puskesmas menggelengkan kepala. “Maaf, Pak. Kartu asuransi Bapak ini tidak bisa digunakan.”
“Lho? Kenapa?”
“Bapak menunggak bayaran selama tiga bulan?”
“Menunggak bagaimana? Asuransi itu kan dibayari oleh kantor saya. Gaji saya sudah dipotong setiap bulan untuk itu.”
“Maaf, Pak. Tapi ini belum bisa dipakai sampai Bapak melunasi tunggakan.”
Sambil menahan sakit gigi yang semakin heboh karena obat pereda nyeri dari dokter tidak terlalu ampuh, Bala juga terpaksa menahan marah. Lalu, di hari itu juga, ia mendatangi bendahara kantornya. Dengan wajah yang merah padam. Membuat bendahara yang biasanya tampak acuh tak acuh, mau tak mau jadi sangat peduli dengan Bala.
Setelah menceritakan semua yang terjadi pada sang bendahara, Bala mendapatkan sebuah kertas berisi salinan bukti pembayaran asuransi yang telah dipotong dari gajinya setiap bulan.
“Kau ke kantor asuransi itu secepatnya, tunjukkan bukti ini. Jadi blokir atas kartu asuransimu itu bisa segera dibuka.”
Bala mengangguk. Hampir lupa mengucapkan terima kasih dan berlalu. Ia melangkah menuju kantor asuransi milik pemerintah itu. Giginya semakin sakit.
***

“Bapak sejak kapan punya kartu ini?” ujar wanita manis di depannya.
“Bulan Juli.”
“Itu Bapak buat secara mandiri atau langsung dari kantor?”
“Buat sendiri.”
“Sejak kapan pembayarannya dialihkan ke kantor?”
Bala mengambil napas dalam-dalam. Mencoba untuk tetap bersabar menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi. Menghujat wanita manis di depannya itu di dalam hati. Setelah cukup tenang, ia menjawab, “Sejak bulan Oktober.”
“Jadi begini, Bapak. Sekarang ini sedang dalam masa transisi. Selama masa transisi, Bapak masih harus tetap membayar iuran bulanan asuransi ini.”
“Gajiku sudah dipotong sejak bulan Oktober,” nada suara Bala mulai meninggi. Ia meletakkan bukti pemotongan gaji dengan tidak sabar ke hadapan sang wanita.
“Iya, Bapak. Mohon maaf. Ini bukan kebijakan saya. Memang dari pusat mengharuskan seperti itu.”
“Jadi kalian menyuruhku membayar dua kali, hah?” kali ini suara Bala benar-benar keras. Beberapa orang yang ada di dekatnya mulai menoleh. Tertarik ingin tahu apa yang terjadi.
“Sekali lagi mohon maaf, Bapak. Ini sama sekali bukan kebijakan dari saya. Saya hanya pegawai rendahan yang mengikuti instruksi dari pusat.”
Bala menggebrak meja. Satpam mulai berjalan ke arahnya. Bala bersungut, “Tak usah disuruh, aku akan keluar dari ruangan ini segera tanpa pengawalanmu.”
***

Setelah dihitung-hitung, tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh Bala kecuali membayar ‘tunggakan’ yang dibebankan padanya. Bagaimanapun juga, biaya bedah mulut seperti yang dikatakan dokter bisa sampai tiga kali lipat dibandingkan ‘tunggakan’ asuransinya.
Maka hal yang selanjutnya dilakukan oleh Bala adalah pergi ke ATM, memasukkan kartu ATM-nya, menekan nomor identitas pribadi, memencet tombol pilihan ‘pembayaran asuransi’ yang tertera di layar, dan keluar dari bilik kecil itu. Ia meringis, tak tahu karena sakit gigi atau karena sisa uang di ATM yang bahkan untuk beli pecel lele di pinggir jalan pun tak cukup lagi.
Satpam segera mengenali wajah Bala ketika ia kembali ke kantor asuransi. Tampak ia bersikap waspada, namun Bala segera berkata, “Aku datang dengan damai.” Satpam pun mempersilakan ia masuk.
Ia berhadapan lagi dengan wanita manis yang sama setelah menunggu antrean selama setengah jam. Wanita itu kikuk, kentara sekali bahwa ia takut, tapi juga harus bersabar karena yang begitu itulah pekerjaannya. Hanya saja, wanita itu jadi tidak secerewet tadi.
Bala sedikit bersyukur karenanya. Ia langsung menunjukkan bukti pembayaran yang telah ia lakukan di ATM terdekat. Wanita manis itu meminta Bala untuk menunjukkan kartu asuransinya. Setelah mengetikkan beberapa huruf di keyboard komputer, ia pun berusaha tersenyum untuk kemudian berkata pada Bala, “Pemblokiran pada kartu Bapak telah dilepas dan kartu ini sudah bisa dipakai kembali untuk berobat.”
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Artinya Puskesmas pun sudah tutup. Jadi, meskipun kartu asuransinya sudah bisa dipakai, ia tetap harus menunggu sampai besok. Bala meninggalkan kantor asuransi yang dikelola pemerintah itu. Pipinya yang sebelah kiri mulai bengkak. Obat dari dokter itu memang tidak berpengaruh banyak.
Istri Bala semakin tak tega melihat kondisi suaminya, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
***

Seperti hari sebelumnya, Bala menjadi pasien pertama yang mendaftar di Puskesmas. Perawat yang sama telah duduk di belakang meja. Bala memberikan kartu asuransinya. Sang perawat mengecek di komputer, kartunya sudah aktif. Ia pun menanyakan keluhan Bala dan mempersilakan Bala menuju ruang dokter gigi.
Ia sebenarnya sudah tahu bahwa meskipun sudah ada rekomendasi dari dokter praktik yang menyatakan ia harus ditangani segera oleh dokter spesialis bedah mulut, dia tidak bisa begitu saja ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Harus mendapat surat rujukan dari Puskesmas dulu. Dan dokter gigi di Puskesmas-lah yang nanti akan memberikan rujukan yang dimaksud.
Sekali lagi, Bala sudah tahu itu, tapi yang tidak dia tahu adalah, “Dokter di Puskesmas tidak boleh langsung memberikan rujukan ke rumah sakit. Bapak harus menjalani perawatan dulu di sini. Setidaknya dua kali berobat ke sini, baru nanti kalau masih tidak membaik, dokter Puskesmas akan memberikan rujukan,” seperti yang dinyatakan dokter Puskesmas.
Bala menunjukkan rekomendasi dari dokter yang dulu menambal gigi gerahamnya yang kini sakit, “Tapi berdasar surat ini, saya harus segera dapat tindakan dari spesialis bedah mulut.”
“Ya, tapi ini aturan dari pusat, Pak. Kami nggak boleh langsung kasih rujukan untuk pasien yang baru pertama kali datang. Minimal harus dua kali.”
Bala baru akan buka mulut lagi ketika dokter itu berujar, “Tenang saja. Ini obat pereda nyeri. Minggu depan Bapak ke sini lagi. Nanti saya kasih surat rujukannya.”
“Minggu depan?”
“Iya. Minggu depan.”
***

Selama satu minggu itu Bala tak bisa tidur nyenyak. Begitu pula istrinya, ia sering menangis tanpa suara melihat suaminya menahan sakit. Obat dari Puskesmas sama saja dengan obat yang sebelumnya, tidak berpengaruh pada sakitnya. Bahkan pipi kiri Bala semakin membengkak. Hanya saja ia benar-benar tak punya pilihan lain selain menunggu dan menunggu itulah yang ia lakukan selama seminggu.
Begitu hari yang ditunggu datang, dengan tak sabar Bala mengambil surat rujukan dari dokter. Ia memacu sepeda motor ke rumah sakit khusus gigi dan mulut. Melewati semua proses pendaftaran dan bertemu dengan dokter di sana.
“Ini ada infeksi yang serius. Gigi Bapak harus dibedah segera oleh ahli bedah mulut,” ujar dokter itu. Bala harus menahan emosi untuk kesekian kali mendengar itu sebab ia sudah tahu sejak awal.
“Tapi ada satu masalah. Asuransi yang Bapak gunakan ini tidak membolehkan kami mengambil tindakan pada kunjungan pertama pasien. Ini saya kasih obat pereda nyeri untuk Bapak. Silakan datang lagi ke sini minggu depan, dan akan langsung kami ambil tindakan.”
Bala mengambil napas dalam-dalam, begitu dalam. Tangannya bergetar menahan emosi. Namun ia teringat dengan saldo di ATM-nya. Ia, sekali lagi, tak punya pilihan selain tunduk pada birokrasi ini.
Ia pulang ke rumah dengan wajah digagah-gagahkan. Tak ingin melihat istrinya semakin sedih melihat kondisinya.  
***

Istri Bala sedang duduk menghadap televisi. Orang ramai telah pulang dari rumahnya, para tetangga yang datang untuk memperingati tujuh hari kematian Bala. Kini tinggal ia sendiri di rumah itu.
Channel televisi berganti-ganti karena remote­-nya tak berhenti dipencet oleh istri Bala. Sampai akhirnya sang janda memilih sebuah siaran. Konferensi pers dari pemerintah.
“Kartu asuransi kesehatan yang merupakan program unggulan kami telah berjalan dan terus dijalankan. Sampai akhir tahun ini, telah jutaan masyarakat Indonesia yang menikmati fasilitas ini,” ujar seseorang berpeci hitam di layar televisi itu.
Istri Bala tertawa mendengar suara dari kotak berwarna itu. Ia tertawa terbahak-bahak. Sampai air matanya meleleh.
***

ART.
Banyuasin, 12 Januari 2017

Selasa, 26 Februari 2019

Mek Mencoba Menolak Memijit


Cerpen ini pernah dipublikasikan di Koran Kompas pada edisi 10 Februari 2019

Karena sudah tiga hari berturut-turut mendapatkan mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat sang suami sudah duduk di kursi reot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menyeruput kopi.
“Bagaimana, Pak?” Mek mengejar.
“Apanya yang bagaimana?”
“Mimpiku itu lho.”
“Ya sudah. Namanya juga mimpi.”
“Tapi sudah tiga kali, Pak.”
Suami Mek kembali menyeruput kopi.
“Pak?”
Suami Mek menghela napas panjang.
“Pak?!”
“Apa sih, Bu? Itu kan mimpi. Kenyataannya aku sudah tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.”
Mek diam. Menatap lantai rumah.
***
Hingga tiga bulan lalu, suami Mek masih bisa menggarap lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang setinggi orang dewasa. Setelah Mek dan suaminya datang sebagai keluarga jauh yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya untuk memanfaatkan lahan itu untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.
Dari lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas itu, Mek dan suami mengerahkan semua kemampuan. Mereka berhasil menanam beberapa tanaman. Hasilnya, sebagian dimakan sendiri, dan sebagian lain bisa dibawa ke pasar untuk dijual. Tentu saja tidak banyak, tapi cukup.  Cukup untuk makan mereka dan anak-anak yang kemudian lahir tiga kali beruntun. Pendek kata, cukup untuk hidup tidak mewah.
Tentu saja, selama kurang lebih dua belas tahun di sela-sela hidup hemat mereka, Mek dan suami masih menyisihkan uang untuk menabung. Hanya saja sering kali tabungan itu harus terpakai untuk kehidupan sehari-hari dan keperluan lain. Bahkan, tak jarang, mereka justru harus berutang ke Pak Minto atau yang lain untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak, seperti biaya melahirkan. Namun, sekuat apapun mereka menabung, tabungan itu tak cukup untuk mempersiapkan jika suatu waktu lahan itu tak bisa lagi digarap. Dan itulah yang terjadi.
Saat mereka sedang senang-senangnya karena tampaknya panen akan cukup berlimpah tahun ini, Pak Minto datang mengetuk pintu rumah kontrakan mereka yang berada sekitar tiga kilometer dari lahan garapan. Mek dan suami sama sekali tak menyangka bahwa setelah senyum, salam, dan ramah-tamah yang menyenangkan, Pak Minto menyampaikan, “Lahan itu sudah dijual. Ada orang yang mau membangun mini market waralaba di sana. Kabarnya satu atau dua bulan lagi pembangunan akan dimulai.”
Kalimatnya tidak persis seperti itu karena disampaikan dengan berbelit-belit dan sangat hati-hati agar tidak melukai siapapun. Hanya saja, sehalus apapun penyampaiannya, memang kenyataan itu pahit dan tidak ada manis-manisnya.
Panen yang sudah dibayangkan oleh Mek dan suami seketika harus menguap. Sebelum pulang, Pak Minto memberikan sebuah amplop yang berisi uang. Pak Minto sudah menyampaikan soal tanaman yang akan segera panen, dan pemilik tanah yang baru setuju untuk membayar ganti rugi. Setelah dihitung, Mek dan suami memang benar-benar rugi.
Setelah Pak Minto pulang, ada tiga puluh menit yang habis di dalam keheningan yang pekat. Baik Mek maupun suami tak bersuara. Meskipun begitu, ada kericuhan dan kegaduhan dalam benak masing-masing. Kericuhan yang begitu rumit dan sangat sulit untuk disalurkan sampai tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.
“Bagaimana, Pak?” ucap Mek setelah tiga puluh menit dalam kerapuhan yang memutusasakan.
“Ya mau bagaimana lagi. Kita cari penghasilan lain, Bu.”
Tapi rupanya mencari sumber penghasilan lain bagi kedua orang itu tidaklah mudah. Tangan mereka telah terbiasa mencangkul, memupuk, dan menyiangi. Sementara lahan semakin sempit dan kebun orang lain sudah punya penggarapnya sendiri.
Sebenarnya Mek dan suami takjub juga dengan perkembangan minimarket waralaba. Bisa-bisanya ia menjangkau titik di kampung yang letaknya ratusan kilometer dari kota provinsi. Apalagi, sebulan dari sana, dijual pula tanah di samping lahan garapan mereka yang selama ini aktif ditanami padi untuk kepentingan pembangunan minimarket waralaba pesaing.
Mek tahu persis bahwa petak kecil sawah itu digarap oleh tetangganya. Karena merasa senasib, didatanginyalah tetangga itu dan menanyakan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambung hidup setelah tanah itu dijual. Jawaban mereka adalah, “Merantau ke kota. Cari kerja di sana. Di sini sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.”
Langkah itu akhirnya dilakukan juga oleh Mek, suami, dan anak-anak mereka. Berbekal uang ganti rugi dari pemilik baru lahan garapan ditambahi dengan sedikit tabungan mereka, kelima anak-beranak itu nekat pergi ke kota provinsi. Mencari kerja apa saja.
***

Di kota mereka mengontrak petak kecil di sudut gang kumuh. Tak perlu deskripsi mendetail soal kondisi rumah kontrakan baru mereka. Anda tentu pernah membaca di berbagai cerpen dan novel mengenai jenis-jenis rumah di tempat seperti itu. Atau, paling tidak, pernah melihatnya di sinetron dan acara televisi yang mengeksploitasi kemiskinan. Kurang lebih, seperti itulah kondisi kontrakan mereka yang terbaru.
Kelanjutannya, seperti yang sudah diketahui, suami Mek ditolak bekerja di tiga tempat yang berbeda. Mek sendiri mengalami mimpi yang sama tiga kali berturut-turut.  Di hari-hari berikutnya, Mek juga memimpikan hal yang sama.
Ia selalu menolak. Tidak mau menjadi tukang urut. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci harian ketimbang menjadi tukang urut. Sekarang, selagi menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, ia sudah menjadi buruh cuci di tiga rumah berbeda. Baginya itu lebih berwibawa. Namun, semakin ia menolak, ia justru merasa bahu kanannya – bagian yang disentuh oleh lelaki dalam mimpi – terasa semakin sakit.
Berita baik muncul seminggu kemudian. Suaminya diterima untuk jadi buruh bangunan dalam sebuah proyek pembangunan jembatan layang. Dua sejoli itu bisa tersenyum sedikit lega. Menjadi buruh bangunan dan buruh cuci di kota tentu lebih baik ketimbang tidak mengerjakan apapun di desa.
Kecuali mimpi yang terus sama setiap hari dan bahu kanan yang semakin hari semakin sakit, tidak ada problem berarti di rumah tangga mereka. Sampai akhirnya, seorang wanita muda dengan riasan yang sederhana namun memancarkan pesona sesungguhnya, datang mengetuk pintu kontrakan mereka.
“Aku datang ke sini karena mimpi yang berkali-kali,” ujarnya. Mek dan suami terpana. Belum selesai keterkejutan keduanya, wanita itu melanjutkan, “Bahuku sakit sekali. Aku perlu tukang pijit.”
“Tidak ada yang bisa memijit di rumah ini. Anda mungkin salah alamat,” tukas suami Mek.
Perempuan itu menggeleng. Keras dan penuh keyakinan. “Mek namamu, bukan? Marsini nama asli? Kau yang disebut oleh lelaki di mimpiku sebagai satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan sakit di bahuku. Tolonglah aku.”
Demi mendengar nama aslinya disebut, Mek terperanjat. Mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan nama asli yang tak pernah diucapkan itu. Sementara itu sang suami teringat dengan mimpi yang pernah diceritakan istrinya.
“Tolonglah. Aku akan bayar lebih mahal ketimbang rumah spa langgananku. Sembuhkanlah bahuku, Mek,” wanita itu bertutur lancar.
“Masalahnya, aku tak bisa memijit dan benar-benar tidak pernah.”
“Cobalah dulu, Mek. Kumohon.”
Mek diam. Menoleh pada suaminya yang kemudian mengangkat kedua bahu dan berjalan keluar rumah. Di dalam, wanita muda itu mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Memberikannya pada Mek. “Ambil uang ini, Mek. Sebagai uang muka. Kalau benar bahuku sehat setelah kau pijit, akan kutambahi lagi. Kalau tidak, ambil saja uang ini sebagai rasa terima kasihku karena setidaknya kau telah mencoba. Aku sungguh tak tahan. Sungguh. Bahu ini sudah sakit lebih dari sebulan.”
Mek menarik napas panjang. Dipersilakannya sang wanita untuk rebah di satu-satunya kasur tipis yang ada di rumah. Wanita itu mengerti dan membuka baju kemeja yang ia kenakan dengan kesulitan karena bahu kanannya tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tangan Mek menyentuh bahu itu dan dengan cara yang sulit dijelaskan, ia bisa merasa bahwa ada satu urat kecil yang tidak berada pada tempatnya. Urat itulah yang membuat wanita di depannya merasa sakit. Saat Mek mencoba ‘meluruskan’ urat itu, ia merasa sakit di bahunya sendiri juga ikut terobati. Mek benar-benar terpana dengan perasaan yang baru ia alami ini.
Rupanya, wanita muda yang dipijit Mek juga merasakan keajaiban itu. Ia berjanji akan mempromosikan kemampuan Mek pada semua orang yang dikenalnya. Juga meyakinkan Mek bahwa Mek akan bisa hidup jauh lebih layak dengan kemampuannya memijit. Mek tersenyum.
Dan mungkin karena memang sifatnya yang supel, ia mulai menceritakan detail mimpinya pada Mek. Dua wanita berbeda usia itu sepakat bahwa mereka telah didatangi oleh orang yang sama. Sama-sama tak jelas siapa. Obrolan mereka jadi cair setelah menceritakan mimpi aneh tersebut.
Mek sudah merasa bahwa tak lama lagi urat yang tadi salah tempat akan segera ada di posisinya semula, saat sang wanita muda bercerita dengan lancar bahwa ia adalah istri seorang pebisnis muda yang sukses. Suaminya baru saja membangun sebuah minimarket waralaba di salah satu pelosok kampung di provinsi itu, sebuah ekspansi. “Suamiku mengalami negosiasi yang cukup panjang dengan Pak Minto, pemilik tanah, karena ia memikirkan nasib penggarap lahannya. Tapi berkat harga yang pas, Pak Minto pun rela melepas tanahnya. Tanah yang benar-benar strategis.”
Tinggal satu usapan jempol lagi, Mek yakin, dan urat yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun, demi mendengar ucapan terkahir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak untuk memijit.

Kamis, 13 Desember 2018

Muazin Waya-Waya


Cerpen ini pernah tersiar di Koran Pantura edisi 23 Februari 2018
 
Suaranya sumbang. Tidak enak didengar. Melengking. Fals. Tidak hanya itu, makhrojul huruf pun sepertinya tak selesai ia pelajari. Ketika digabungkan dengan sound system di masjid kampung yang sudah ada sejak zaman kakekku masih bujangan, maka sempurnalah paduan ketidaksempurnaan tersebut. Celakanya lagi, Pak Ridwan (sepertinya) tidak sadar bahwa suaranya begitu menyiksa orang-orang yang mendengarnya dan ia malah terlihat sangat suka mengumandangkan azan. Setiap hari, hampir genap lima waktu sholat, selalu ia yang jadi muazin.
Karena paduan antara suara fals, makhrojul huruf yang kacau, serta sound system yang centang perenang, azan yang dilantangkan Pak Ridwan jadinya tak hanya buruk, tapi juga aneh. Di bagian yang harokat-nya ia panjang-panjangkan akan terdengar suara ‘waya-waya’. Misalnya di bagian, “Hayya ‘alashsholah” akan menjadi “Hayya ‘alahsholaaaawaya-waya”. Begitu juga di bagian, “Hayya ‘alalfalah” akan jadi “Hayya ‘alalfalaaaawaya-waya” dan seterusnya untuk bagian-bagian lain. Karena itulah, ia kami panggil sebagai muazin waya-waya.
Tentu saja tidak ada yang memanggilnya ‘muazin waya-waya’ tepat di hadapan yang bersangkutan. Panggilan itu jadi semacam kode. Dan tentu saja, sebenarnya sudah ada upaya dari berbagai pihak untuk memperbaiki keadaan di masjid kampung kami itu.
Demi menjaga perasaan Pak Ridwan, sang muazin waya-waya, pengurus masjid pernah mengadakan pengajian rutin seminggu sekali. Materi yang diberikan penceramah utamanya tentang makhrojul huruf, cara-cara pengucapan huruf hijaiyah yang baik. Namun, seperti mengukir di atas air, semua yang diajarkan itu lewat-lewat saja bagi Pak Ridwan yang berumur sudah lebih dari lima puluh. Tak ada sedikit pun perubahan. Ia tetap mengucapkan huruf sebagaimana ia mau. Memanjang-manjangkan harokat yang harusnya pendek. Memendekkan harokat yang seharusnya panjang. Setelah lebih empat bulan, penceramah yang memang sudah dibebankan ‘misi rahasia’ itu pun akhirnya angkat tangan. Tak bisa lagi berbuat apa-apa. Pengajian itu pun bubar jalan.
Pernah juga tercetus rencana untuk memanggil guru ngaji privat bagi Pak Ridwan, tapi rencana itu dibatalkan karena timbul kekhawatiran Pak Ridwan akan tersinggung. Merasa dirinya dipojokkan atau sejenis itu. Pengurus masjid khawatir semangat Pak Ridwan yang tinggi itu justru akan melempem dan layu sebab merasa diremehkan. Bagaimanapun, seseorang yang selalu semangat menyemarakkan masjid haruslah dianggap sebagai sebuah aset, bukan? Karena itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh para pengurus masjid selain pasrah dan berdoa.
Hingga akhirnya datanglah Muammar ke kampung kami. Pemuda dua puluh tahunan itu baru selesai merantau. Menuntut ilmu di pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur. Orang tuanya menyambut dengan perasaan rindu setelah lama tak bertemu keturunannya. Pengurus masjid menyambut dengan perasaan seolah ia adalah jawaban dari semua pasrah dan doa.
Rapat kecil pengurus masjid telah bersepakat untuk meminta Muammar supaya aktif di masjid kampung. Permintaan yang mendapatkan anggukan pasti dari yang diminta. “Memang itu yang ditugaskan guru saya di pondok. Pulang, harus menyebarkan yang saya dapat di perantauan.” Begitu ujar anak muda itu. Dan dari ucapan itulah permasalahan di masjid kampung kami dimulai.
Keesokan harinya, saat Pak Ridwan datang ke masjid seperti biasa untuk mengumandangkan azan subuh, ia terkejut melihat Muammar sudah ada di posisi, memegang pelantang suara. Ketika Muammar mengeluarkan suaranya, rupa-rupanya suara itu begitu merdu. Ditambah dengan makhrojul huruf yang tidak usah lagi dipertanyakan. Untuk pertama kalinya sound system yang telah butut sedemikian rupa, bisa tidak mengganggu kualitas azan yang dikumandangkan.
Untuk pertama kali pula, seusai azan subuh itu, puluhan warga kampung datang ke masjid. Ikut salat berjamaah. Pengurus masjid pun terkejut melihat hal itu. Jamaah subuh, di luar bulan puasa, maksimal tujuh –selain Pak Ridwan-  orang yang semuanya sudah sepuh dan semuanya merupakan pengurus masjid itu sendiri. Seusai salat, jamaah bubar. Para pengurus masjid saling berpandangan. Seperti ada yang ingin disampaikan, tapi tak tahu apa.
Hingga akhirnya hal yang mereka khawatirkan terjadi. Salah seorang jamaah subuh dadakan itu, ketika mengambil sandal dan hendak pulang, berujar dengan santai tapi cukup nyaring untuk terdengar oleh semua yang masih ada di masjid, “Azannya tadi bagus. Bikin semangat ke masjid. Nggak kayak biasa.”
Muammar tampak bingung. Pak Ridwan tampak tersinggung. Pengurus masjid meneguk ludah.
***

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pengurus masjid memanggil Pak Ridwan. Dan seperti yang sudah diduga walaupun tidak diinginkan, Pak Ridwan benar-benar tersinggung dan tak suka dengan keberadaan Muammar.
“Jadi saya sudah tidak dibutuhkan lagi sebagai muazin di sini, kan?” ujarnya.
“Tentu saja bukan begitu. Bapak tetap akan jadi muazin sebagaimana biasa. Emmmm.. Hanya saja... Emmm.. Muammar akan bergantian azannya dengan Bapak.”
“Itu namanya tidak ‘sebagaimana biasa’.”
Pengurus masjid terdiam sesaat. Untungnya salah satu dari tujuh lelaki renta itu ada yang masih cukup lincah otaknya. “Tiga bulan lagi masuk bulan puasa, Pak Ridwan.”
“Terus kenapa?”
“Bapak suka nonton sepak bola, kan? Apa yang akan dilakukan para pelatih kalau jadwal tim mereka lagi padat-padatnya? Rotasi pemain. Apa karena pemain bintangnya tidak bermain bagus? Bukan. Tapi untuk jaga stamina dan menghindari cedera akibat bintang itu kelelahan bermain.”
Kali ini Pak Ridwan yang terdiam. Ia teringat peristiwa tahun lalu di bulan Ramadhan. Karena jadwal ibadah bertambah, dan hampir semua (mulai dari muazin, qori’, bilal, sampai ceramah dan imam) ia ambil bagian, suaranya jadi serak dan tak mau keluar. Akhirnya, pengurus masjid yang tujuh orang itu ambil alih sejak pertengah Ramadhan. Napas tua mereka yang sudah satu-satu membuat mereka juga tersiksa.
“Dan,” lanjut pengurus masjid, “Si anak baru itu, ia hanyalah pemain pelapis. Tak akan bisa menggantikan posisi pemain utama. Sekarang kami ingin tahu dulu pantas tidaknya dia jadi pemain pengganti.”
Pak Ridwan setuju. Ia akan bergantian jadi muazin di masjid kampung. Sore itu ia pulang ke rumah. Dengan senyuman yang aneh. Seperti senyum seorang anak kecil yang tahu bahwa rasa obat tidak enak, tapi tetap juga menelan obat itu karena terus-terusan dibujuk dan dibilang, “Obat ini tidak pahit kok.”
***

Sebagaimana aroma parfum, kebenaran tetap akan menyeruak dengan sendirinya. Pengurus masjid bisa saja bermanis mulut di depan Pak Ridwan, tapi kenyataan di lapangan tidak bisa membohongi mata. Terjadi ketimpangan yang sangat jelas, terkait jumlah jamaah salat, setiap kali keduanya jadi muazin.
“Aku merasa terpanggil ke masjid kalau Muammar yang azan.”
“Sama. Tidak seperti yang satu itu ya.”
“Yang mana maksudmu?”
“Kau tahulah. Muazin waya-waya. Dari semangat, jadi malas ke masjid kalau mendengarnya.” Lalu kedua orang itu tertawa.
Obrolan seperti itu tersebar dan merebak. Tanpa bisa dikendalikan. Meskipun diucapkan secara hati-hati mungkin agar yang bersangkutan tidak mendengar, namun di kampung kecil seperti kampung kami, obrolan itu tetap saja jadi topik populer.
Efeknya tidak pernah diharapkan oleh siapapun, termasuk mereka yang menyebarkan obrolan itu sendiri. Pak Ridwan jadi pemurung. Muammar jadi sungkan serta tak enak hati. Masa-masa ini menjadi masa yang paling berat bagi semua pihak. Baik Pak Ridwan maupun Muammar sering menelat-nelatkan diri datang ke masjid, sama-sama takut menjadi penghalang bagi yang lain untuk mengumandangkan azan. Pengurus yang semuanya tua itu keteteran sebab azan jadi sering terlambat.
“Ini harus dihentikan. Kita harus mengambil tindakan,” ujar salah seorang pengurus masjid.
Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hingga tiga minggu lebih lima hari suasana masih seperti itu. Sampai akhirnya Tuhanlah yang bertindak. Di suatu dzuhur yang mendung, ketika Pak Ridwan mengumandangkan azan, tiba-tiba ia seperti tersedak dan terdengar suara seperti orang mendengkur tepat di bagian ‘waya-waya’. Dua detik kemudian lelaki paruh baya itu ambruk. Tak sadarkan diri. Bunyi microphone berdenging.
Semua yang ada di dalam masjid segera mendekat. Dengan wajah panik mereka mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang mengambil air putih untuk dipercikkan ke wajah Pak Ridwan. Seorang lagi mengambil air untuk diminum jika Pak Ridwan nanti terbangung. Seorang lagi berlari ke rumah Pak Ridwan untuk memanggil keluarganya. Sisanya, mengerumuni lelaki itu. Menepuk-nepuk pipinya sembari memanggil-manggil. Namun tak ada respons. Tak ada jawaban. Butuh waktu sampai lima belas menit untuk meyakinkan mereka semua bahwa Pak Ridwan telah diajak pulang oleh-Nya.
Di antara isak tangis keluarga, akhirnya disepakati bahwa jenazah akan segera dimandikan seusai salat dzuhur. Sebab memang tidak ada keluarga yang harus ditunggu dan memandikan jenazah serta menguburkannya harus disegerakan. Saat mengucapkan ‘seusai salat dzuhur’, barulah orang-orang tersadar bahwa mereka belum ada yang melaksanakan kewajiban itu karena Pak Ridwan sendiri meninggal di saat mengumandangkan azan.
Maka dipanggillah Muammar untuk segera melantangkan panggilan salat. Wajah dan ekspresi Muammar memang tampak lebih suram dari biasanya. Ia seperti diselimuti awan kelabu. Tertunduk murung. Suara yang ia lantangkan juga terdengar sedikit lebih serak dari biasa, walau tetap saja terdengar merdu. Karena suaranya dan kefasihannya, seperti ada hening yang tercipta saat ia azan. Rasa-rasanya kepanikan yang tadi melanda menguap begitu saja. Sampai, entah kenapa, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku mendengar Muammar mengeluarkan suara, “Hayya ‘alahsholaaaawaya-waya.”
Semua yang ada di masjid, termasuk aku, hampir tersedak kala itu.


ART.
Palembang, 19 Januari 2018.
Selamat Ulang Tahun, Sanggar EKS.