Sabtu, 29 Agustus 2015
Ulasan Buku "The Swan" Karya Dewi Ria Utari
Secara jujur saya nyatakan bahwa saya membeli buku ini karena melihat nama penulisnya. Dewi Ria Utari adalah penulis yang cerpen-cerpennya beberapa kali masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas. Itu berarti saya mengenalnya sebagai seorang penulis karya sastra serius, sastra yang berat. Lalu, karena saya sedang ingin membaca sesuatu yang berat, dan di toko buku saya melihat nama Dewi Ria Utari, tanpa pikir panjang, saya ambil buku The Swan ini.
Dan ternyata ini adalah buku teenlit. Ada rasa kecewa (karena waktu itu saya benar-benar sedang ingin membaca yang agak berat, bukan cinta-cintaan anak sekolah), juga menyesal karena saya tidak lebih dulu melihat blurb yang ada di sampul bagian belakang buku ini. Tapi kemudian tetap saya baca buku ini sampai habis. Saya menganggap ini sebagai 'sisi lain' Dewi Ria Utari yang belum saya ketahui.
Saya tidak terlalu banyak membaca buku dengan tema romance anak sekolah, tapi sepertinya buku ini memberikan beberapa tawaran yang agak baru. Misalnya, tokoh cowok utama bukan anak basket, anak band, ataupun ketua osis. Tokoh utama di novel ini pun bukan cewek cantik dan pintar yang jadi rebutan seantero sekolah, justru seorang yang minder karena ia tak secantik mamanya.
Selain itu, novel ini tidak hanya menyajikan konflik cinta remaja saja. Ada juga side-story yang cukup menarik tentang keluarga , yaitu tentang konflik antara tokoh utama dengan ayahnya. Clarissa menuduh papanya telah berselingkuh sehingga ia pun melakukan 'detektif-detektifan' dan beraksi mencari bukti atas benar tidaknya tuduhannya itu.
Hanya saja, menurut saya, cuma itu yang menjadi kelebihan dari novel ini. Sebab sisanya sudah bisa ditebak, tipikal. Ending cerita sudah bisa ditebak sejak awal membaca halaman pertama. Tidak ada kejutan yang 'waw'. Juga tidak ada bagian yang mengaduk-aduk perasaan pembaca dan membuat pembaca benar-benar merasa terlibat dalam cerita yang disajikan penulisnya.
Jadi, saya tetap lebih menyukai tulisan Dewi Ria Utari yang berupa sastra serius. Saya yakin penilaian saya ini sangat subjektif. Sebab kemungkinan besar saya tidak bisa terlalu menikmati The Swan ini karena dunia para model (yang ada di novel ini) adalah dunia yang tidak terjangkau oleh saya, dunia yang jauh dan hanya di angan-angan saya belaka. Atau mungkin juga karena saya sudah terlalu tua untuk membaca cerita cinta remaja yang masih SMP dan SMA.
Ulasan "Animal Farm" Karya George Orwell
Buku ini tipis sebab ia memang tergolong novelet (sebagian orang menyebutnya novela), tapi kesan yang ditimbulkan setelah membacanya sangat dalam. Tentu ada beberapa, bahkan banyak sekali, interpretasi yang bisa muncul dari prosa George Orwell ini. Namun, yang saya tangkap terutama adalah mengenai kritiknya akan pemerintahan sebuah negara.
Mimpi babi putih, Major, yang menyuarakan kemerdekaan akhirnya tercapai tak lama setelah kematian sang babi tua. Tapi ternyata kemerdekaan itu patut dipertanyakan maknanya dan di sinilah kepandaian George Orwell menyampaikan kritik terlihat. Kemerdekaan yang diimpikan ternyata hanya sebuah euforia sementara. Setelah merdeka, ada perebutan kekuasaan, misalnya antara Snowball dan Napoleon. Rakyat (binatang-binatang lain di peternakan itu) tidak bisa ikut memberikan saran ataupun kritik pada keduanya karena tidak secerdas para babi. Mereka hanya mengangguk mengiyakan apa yang menurut mereka dapat mereka mengerti.
Di masa pemerintahan Snowball, sejak awal, terlihat korupsi dan kolusi yang terselubung. Atas nama bekerja keras dan mengelola pemerintahan (peternakan), para babi diberikan hak istimewa. Makanan yang lebih enak dan banyak, tempat yang lebih layak, dan beberapa hal lain. Kemudian Snowball dikudeta oleh Napoleon yang menggunakan anjing-anjing galak yang telah dilatihnya sedemikian rupa. Saya menangkap bahwa anjing-anjing ini adalah metafora yang digunakan Orwell untuk menyebut pihak militer. Dengan menggunakan anjing-anjing itu sebagai sebuah ancaman, tidak ada yang berani mengkritik ataupun menolak perintah Napoleon. Dengan serta merta, Napoleon menjadi seekor babi pemimpin yang harus ditaati semua kehendaknya. Siapa yang berani melawan, akan dibantai. Siapa yang berani bersuara, akan dianggap sebagai pemicu tindakan subversi.
Sementara itu, rakyat tetap sengsara. Baik sebelum ataupun sesudah kemerdekaan, mereka tetap harus mencari makan sendiri. Bedanya, setelah merdeka, terutama di bawah pemerintahan Napoleon, mereka juga harus bekerja untuk jalannya pemerintahan. Memberikan pajak untuk keistemewaan penyelenggara pemerintahan, sampai pada pembangunan proyek yang mereka sendiri tak mengerti apa manfaatnya untuk mereka.
Boxer, seekor kuda pekerja yang paling loyal, yang setia pada pemimpinnya karena percaya pemimpin hanya ingin memberikan yang terbaik pada rakyatnya, akhirnya justru ditumbalkan. Boxer, yang sudah memberikan seluruh yang ia punya untuk pemerintahan peternakan itu, dikirim ke rumah jagal tepat setelah tenaganya tidak bisa dipakai lagi. Nasib masyarakat hewan yang ada di peternakan itu pun tidak lebih baik. Mereka, di tengah kemerdekaannya, diperbudak oleh seekor babi pemimpin bernama Napoleon yang dijaga anjing-anjing galak. Di akhir, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Napoleon duduk semeja dan makan bersama dengan manusia yang mereka anggap sebagai penjajah. Bahkan para hewan pun kemudian tidak bisa membedakan lagi, mana babi pemimpin mereka dan mana manusia yang menjajah mereka, karena mereka semua jadi serupa.
Mungkin, di antara semua binatang di peternakan tersebut, yang paling bahagia adalah Mollie. Sebab Mollie tidak pernah merasakan penderitaan sebagaimana binatang-binatang lain. Ia memilih pergi keluar dari peternakan itu dan dipelihara oleh manusia yang memperlakukannya dengan baik. Ia tidak ambil pusing dengan kemerdekaan peternakan, ataupun keterjajahannya. Yang ia pikirkan hanyalah kemauannya sendiri dan ia mendapatkannya. Karena itulah ia bahagia dengan caranya sendiri. Mungkin.
Ada banyak hal lain yang menjadi kelebihan George Orwell di buku ini. Tidak bisa saya jabarkan semua di blog ini karena keterbatasan saya. Yang jelas, saya mengungkapkan rasa salut terhadap penulis buku ini dan merasa bahwa wajar buku ini mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi. Juga, saya merasa perlu mengapresiasi Alm. Prof. Bakdi Soemanto sebagai penerjemah buku ini. Karena terjemahan beliau sangat nyaman untuk dibaca. Tidak ada satu bagian pun yang membuat saya tersendat karena alasan terjemahan selama saya membaca buku ini.
Sabtu, 11 Juli 2015
Sniper 2: Operasi Bawah Tanah
Buku ini merupakan lanjutan atau sekuel dari novel pertama yang berjudul "Sniper: Operasi Bunuh Diri". Saya menerima beberapa, kalau tidak bisa dibilang banyak, respons dari pembaca yang geregetan dengan ending di novel pertama. Mungkin juga tidak sedikit yang kecewa. Tapi di buku kedua ini, saya menerangkan dan mengungkapkan kenapa sampai buku pertama bisa berakhir sebagaimana telah tertulis.
Cerita di dalam buku kedua ini tetap dominan menggunakan sudut pandang orang pertama. Tokoh utama masih Darma sang penembak jitu. Ada juga beberapa tokoh lain dari buku pertama yang dimunculkan lagi di sekuelnya ini. Ada beberapa adegan yang sepertinya tidak terlalu penting pada buku pertama, saya munculkan sebagai sesuatu yang signifikan di buku kedua. Hal itu tidak terlepas dari fakta bahwa buku ini adalah lanjutan. Meskipun demikian, bagi yang belum membaca buku pertama, saya juga telah merancang agar buku ini tetap bisa dinikmati sebagai sebuah buku yang mandiri, buku yang tetap bisa dicerna walaupun belum membaca buku pertama.
Secara komposisi, adegan perang dan pertumpahan darah di buku ini saya usahakan jadi lebih menegangkan. Di sisi lain, pergulatan batin Darma juga lebih saya eksplorasi. Ilustrasi dari penerbit pun tidak sebanyak pada buku pertama, agar pembaca bisa lebih fokus menikmati cerita yang saya sajikan.
Untuk menyelesaikan penulisan buku ini, saya membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Enam bulan itu mencakup riset, pembuatan kerangka, penulisan, self editing, serta revisi, sebelum akhirnya masuk ke meja redaksi.
Buku ini juga mengalami masalah ketika akan masuk toko buku Gramedia. Sekadar informasi, buku pertama sempat bermasalah karena di bagian sampul terdapat tulisan "TNI". Namun permasalahan tersebut dapat diselesaikan setelah ada diskusi antara pihak penerbit dan toko buku Gramedia. Buku kedua ini, mengalami masalah yang serupa, yaitu ditolak untuk dipajang oleh pihak Gramedia. Alasannya adalah adegan-adegan yang dituliskan terlalu sadis dan kata-kata yang terlalu kasar. Akhirnya, saya terpaksa mengubah beberapa bagian yang ada dalam novel saya tersebut. Setelah ada sedikit perubahan di sana-sini, buku saya disetujui untuk dipajang. Jadi, kurang lebih, begini proses yang saya alami:
Juli 2014 - Januari 2015: Riset, penulisan, dan self editing.
Februari 2015: Pembuatan ilustrasi dan sampul oleh penerbit.
Maret 2015: Penolakan oleh toko buku Gramedia + revisi di beberapa bagian novel.
April 2015: Mendapat persetujuan dari toko buku Gramedia untuk dipajang.
Mei - Juni 2015: Proses cetak oleh penerbit dan distribusi ke toko-toko buku di Indonesia.
Juli 2015: Buku sudah terbit dan beredar di toko-toko buku.
Jadi, boleh dibilang proses yang dilewati oleh "Sniper 2: Operasi Bawah Tanah" tergolong panjang sebelum akhirnya bisa sampai ke tangan Anda para pembaca. Saya harap para pembaca terpuaskan dengan buku tersebut.
Selamat membaca. Selamat menikmati. Kritik, saran, dan komentar dari Anda, para pembaca, sangat saya harapkan agar buku-buku berikutnya bisa lebih baik lagi.
Salam.
Rizqi Turama.
11 Juli 2015.
Senin, 15 Juni 2015
Ulasan Buku "Ayah" Karya Andrea Hirata
Review Novel Ayah
Berikut ini ulasan saya mengenai buku Ayah karya Andrea Hirata. Ulasan ini
saya mulai dengan poin-poin yang dianggap sebagai kekurangan, dan saya akhiri
dengan poin-poin positif.
Pertama, tipikal. Orang-orang yang
mengikuti karya-karya Andrea Hirata sejak awal, Laskar Pelangi, sampai Ayah
pasti merasakan ada beberapa hal yang sama atau setidaknya mirip-mirip dari
satu karya ke karya yang lain sehingga ceritanya relatif bisa ditebak. Sebagai
contoh, hampir semua novel Andrea Hirata, termasuk Ayah, bercerita tentang orang udik yang melakukan perjalanan ke
kota. Orang udik itu akan merasa gumun,
kagum, terheran-heran dengan kondisi tempat yang ia datangi. Tidak jarang,
orang-orang di tempat baru tersebut juga akhirnya tak kalah gumun, kagum, dan terheran-heran dengan
orang udik itu. Dalam novel Ayah ini
yang melakukan perjalanan adalah Tamat dan Ukun. Hal berikutnya yang tipikal
adalah persoalan cinta gila. Cinta gila yang dialami Sabari pada Lena mengingatkan
pada cerita sejenis, misalnya Arai pada Zakiah Nurmala, dan tentu saja Ikal
pada A Ling. Semuanya adalah cinta yang ‘berdarah-darah’ untuk diperjuangkan,
tapi berakhir manis. Ini juga berpengaruh pada karakter tokoh yang dibangun.
Secara jujur, dalam percintaan, karakter Sabari dan Arai hampir sama. Sama-sama
pantang menyerah dan tak tahu diri walaupun sudah ditolak berkali-kali.
Poin kedua yang saya soroti adalah
persolan pembangunan logika cerita. Pertemuan Ukun dan Tamat dengan
Jonpijarelli dan Manikam adalah kebetulan yang terlalu kebetulan. Cenderung
sedikit sinetron. Membayangkan di sebuah kota yang begitu luas, bisa bertemu
dengan mantan suami Lena. Lalu ketika ke kota lain yang tak kalah luas, bertemu
dengan mantan suami Lena yang lain lagi, tepat ketika sedang ada festival
tahunan pula. Jadi terkesan kebetulan yang dipaksakan. Poin ketiga berhubungan
dengan logika cerita, yaitu adanya ‘bolong-bolong’ cerita. Setelah selesai
membaca Ayah, akan ada beberapa
pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya, “Jadi siapa itu Amirza?” atau
“Bagaimana Ukun dan Amat akhirnya bisa bertemu dengan Zorro?” dan “Kenapa Lena
akhirnya mengizinkan Zorro dibawa, padahal sebelumnya Lena membawa Zorro dengan
paksa?”
Poin keempat yang saya anggap kelemahan
dalam novel ini adalah alur yang mudah ditebak. Ini berkaitan dengan poin
pertama, karena ceritanya tipikal dengan cerita-cerita sebelumnya. Persoalan
surat cinta palsu dari Lena untuk Sabari di majalah dinding, kehamilan Lena,
pengambilan paksa Zorro, dan kembalinya Zorro ke Sabari adalah contoh
bagian-bagian yang mudah ditebak tersebut. Tidak ada kejutan.
Berikutnya, seperti yang sudah saya
nyatakan, saya akan membahas kelebihan-kelebihan yang ada dalam novel Ayah ini.
Kelebihan pertama adalah tetap adanya
humor-humor segar. Humor hiperbolik yang cerdas dari Andrea Hirata. Bahkan di
novel ini ada jenis humor baru yang dilontarkan oleh Andrea Hirata, yaitu block, ctrl, copy, paste. Kelebihan
kedua adalah tetap adanya mitos-mitos baru. Mitos-mitos yang entah benar
beredar atau tidak. Pada buku-buku sebelumnya, ada mitos tentang awal musim
hujan di tanggal tertentu di bulan tertentu akan membawa keberuntungan. Di buku
Ayah, ada mitos tentang senja
berwarna biru. Kelebihan ini di satu sisi mungkin terlihat seperti kelemahan
karena bersifat tipikal, tapi berbeda. Sebab mitos-mitos yang dibawa selalu
baru dan tidak jamak diketahui. Berikutnya adalah adanya eksplorasi-eksplorasi
estetis yang dilakukan Andrea Hirata di dalam novel ini. Misalnya adalah
tentang struktur alur waktu yang tidak linear seperti terdapat dalam
karya-karya sebelumnya. Di novel ini alurnya waktunya fragmentaris, ada flashback, tidak melulu alur maju. Dalam
karya teranyarnya ini juga terlihat bahwa ‘aku’ tidak lagi menjadi dominan.
Yang dominan adalah sudut pandang ‘dia’. ‘Aku’ hanya sedikit sekali berperan,
yaitu di bagian akhir novel. Terakhir, adalah tentang perkembangan kemampuan
naratif Andrea Hirata. Sejak Laskar
Pelangi sampai Ayah terasa
kemampuan bercerita Andrea Hirata terasa semakin matang. Cerita disampaikan
dengan semakin mengalir. Membuat orang semakin terlibat di dalam
cerita-ceritanya. Bisa tertawa di satu bab, namun menangis di bab yang lain.
Kemampuan naratifnya inilah yang menurut saya menjadi titik utama dan mampu
mengatasi semua kelemahan yang telah saya paparkan di awal. Sebab dengan
kemampuan bercerita yang baik, orang tidak lagi begitu mempedulikan adanya
ketipikalan tokoh dan karakter, logika yang kurang pas, ataupun alur yang
tertebak. Semua tidak menjadi masalah karena semua disampaikan dengan apik dan
rapi. Andrea Hirata juga semakin menegaskan bahwa sebagai penulis, kita harus
bisa menggali sebuah cerita sederhana menjadi luar biasa. Sebab mungkin fakta
yang terjadi biasa saja, tapi lewat kata-katanya penulis mampu membuatnya
menjadi keajaiban yang mempesona.
Salam.
Rizqi Turama.
Yogyakarta, 14 Juni 2015
Sabtu, 25 April 2015
Putu Wijaya dan Karya-karyanya
Foto Putu Wijaya
Sumber Foto: http://lcdc.law.ugm.ac.id/detail_alumni-2-putu-wijaya-sh-penulis-sutradara.html
Kali ini izinkan saya berbagi soal penulis yang saya kagumi. Beliau adalah Putu Wijaya. Sekadar sebagai sebuah pengantar, saya merasa perlu untuk menceritakan awal mula saya membaca karya-karya Putu Wijaya. Waktu saya masih duduk di bangku SD, ayah saya masih bekerja sebagai kepala sekolah di sebuah sekolah menengah pertama di Palembang. Karena posisi ayah saya yang kepala sekolah itu, maka beliau mempunyai keleluasaan untuk meminjam buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah tempat beliau bekerja. Ayah saya kadang-kadang membawa setumpuk buku dari perpustakaan. Salah satu dari buku yang ayah saya bawa itu berjudul Yel karya Putu Wijaya. Dari buku itulah pertama kali saya mengenal tulisan Putu Wijaya.
Waktu membaca buku Yel itu, saya benar-benar larut dalam cerita-cerita yang ditulis Putu Wijaya. Saya merasa ide-ide cerita itu luar biasa liar dan saya jatuh cinta pada cerpen-cerpen yang seperti itu. Maka saya pun meminta pada ayah saya untuk membawakan buku-buku Putu Wijaya yang lain yang ada di perpustakaan. Darah dan Perang adalah dua buku berikutnya yang dibawakan ayah saya. Saya pun makin jatuh cinta pada tulisan-tulisan Putu Wijaya.
Namun waktu itu saya masih SD. Setelah membaca beberapa buku itu, saya tidak pernah lagi membaca buku-buku Putu Wijaya. Saya juga tidak tahu-menahu soal sepak terjang Putu Wijaya di dunia sastra. Barulah ketika saya menempuh pendidikan S1, saya tahu bahwa penulis yang tulisan-tulisannya saya idolakan ketika kecil dulu adalah seorang yang begitu besar namanya di dunia sastra Indonesia.
Lalu sekarang, ketika saya sedang S2 dan mulai menulis fiksi, saya menyadari bahwa saya sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Putu Wijaya. Cerpen-cerpen saya (walaupun belum ada yang dimuat di koran), dinilai oleh beberapa teman sangat terasa terpengaruh oleh Putu Wijaya. Mungkin kesan-kesan semasa kecil sudah memasuki alam bawah sadar saya. :)
Untuk itulah, untuk menghormati penulis yang saya kagumi itu, saya akan memaparkan sedikit soal beliau.
Walaupun saya belum pernah bertemu langsung, dan saya berharap suatu hari bisa ada kesempatan untuk bertemu langsung dengan beliau, saya harap tulisan berikut ini bisa bermanfaat untuk siapapun yang membutuhkan.
Tulisan berikut ini saya kumpulkan dari berbagai sumber. Jika ada informasi yang salah atau kurang tepat, silakan komentar agar bisa saya perbaiki.
Informasi Umum Seputar Putu Wijaya
Putu
Wijaya memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Lahir di Puri Anom,
Tabanan, Bali, pada 11 April 1944 (sekarang umurnya hampir 70 tahun). Ayahnya
bernama I Gusti Ngurah Raka dan ibunya bernama Mekel Ermawati. Ia sudah mulai
menulis cerita pendek sejak duduk di bangku SMP. Cerpen pertamanya yang dimuat
berjudul Etsa di harian Suluh
Indonesia, Bali. Sejak duduk di SMA Singaraja, ia mulai terjun ke dalam
kegiatan sandiwara. Putu Wijaya kemudian melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selama di itu ia juga belajar melukis di
ASRI dan drama di ASDRAFI Yogyakarta. Di UGM ia berhasil menamatkan studinya
dan mendapatkan gelar sarjana hukum, namun di ASDRAFI ia gagal dalam penyusunan
skripsi. Selama di Yogya itu ia turut juga menyelenggarakan
pementasan-pementasan drama. Kemudian bergabung dengan Bengkel Teater pimpinan
Rendra. Lalu pada tahun 1970 ia pindah ke Jakarta, jadi pemain drama Teater
Kecil yang dipimpin oleh Arifin C. Noer. Pernah juga ia bermain bersama Teater
Populer pimpinan Teguh Karya.
Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah
Ekspres. Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo
(1971--1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater
Mandiri (1974). Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa
belajar drama di Jepang (1973) selama satu tahun. Namun, karena tidak kerasan
dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali
aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1975 ia mengikuti International Writing
Program di Iowa, Amerika Serikat. Setelah itu, ia juga pernah menjadi redaktur
majalah Zaman (1979-1985).
Ia juga mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri,
antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam
Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater
Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel. Putu Wijaya dikenal
sebagai seorang sastrawan serba bisa dan juga produktif. Hal tersebut terbukti
dengan jumlah tulisannya yang telah terbit. Putu Wijaya sudah menulis kurang
lebih 30 novel, 40
naskah drama, sekitar
seribu cerpen,
ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario
film dan sinetron.
Berbagai macam penghargaan telah ia kantongi. Mulai dari yang
tingkat nasional hingga internasional. Berikut ini penghargaan-penghargaan dan
prestasi-prestasi yang pernah ia dapatkan.
- Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogyakarta)
- Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali
- Pemenang penulisan novel IKAPI
- Pemenang penulisan drama BPTNI
- Pemenang penulisan drama Safari
- Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977)
- Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
- Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ
- Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ
- Pemenang penulisan esei DKJ
- Dua kali pemenang penulisan novel Femina
- Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina
- Pemenang penulisan cerpen Kartini
- Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
- Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
- SEA Write Award 1980 di Bangkok
- Pemenang penulisan esei Kompas
- Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)
- Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992)
- Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993)
- Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Presiden RI (2004)
- Penghargaan Achmad Bakrie (2007)
- Penghargaan Akademi Jakarta(2009)
Berikut ini
beberapa judul novel Putu Wijaya yang pernah diterbitkan.
- Bila Malam Bertambah Malam (1971)
- Telegram (1972)
- Stasiun (1977)
- Pabrik (1976)
- Keok (1978)
- Aduh
- Bali
- Dag-dig-dug
- GURU
- Gres
- Lho (1982)
- Merdeka
- Nyali
- Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995)
- Kroco (Pustaka Firdaus, 1995)
- Dar Der Dor (Grasindo, 1996)
- Aus (Grasindo, 1996)
- Sobat (1981)
- Tiba-Tiba Malam (1977)
- Pol (1987)
- Putri
- Terror (1991)
- Merdeka (1994)
- Perang (1992)
- Lima (1992)
- Nol (1992)
- Dang Dut (1992)
- Cas-Cis-Cus (1995)
Beberapa skenario film yang pernah
dibuatnya antara lain: Perawan
apa Bujangan ayo?? (memperoleh Piala Citra FFI 1980),
Kembang
Kembangan (memperoleh Piala Citra FFI 1985),
Ramadhan dan
Ramadhan, Dr. Karmidoctorus,
Bayang-Bayang
Bayangan, dan Anak-Anak Kecil
Bopung. Adapun skenario sinetron yang pernah ia tuliskan
beberapa di antaranya: Keluarga Luargha, Pasti Pas!, Jari-jari Bengkak, Duku
dan Leci Palsu, Balada Dangdut, dan Nostalgia Berak Berserakan. Beberapa naskah
drama karya Putu Wijaya yang dikenal adalah Dalam Cahaya Bulan, Lautan
Bernyanyi, Bila Malam Bertambah Malam, Invalid, Tak Sampai Tiga Bulan, Anu,
Aduh, Dag Dig Dug, dan Gerr. Karya-karyanya yang berupa cerpen juga dibukukan
dan diterbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen. Beberapa di antaranya adalah Yel,
Darah, Protes, Gres, Blok, Zig Zag, Tidak, Bor, dan Klop. Selain itu, Putu
Wijaya juga menulis beberapa novelet, yaitu: MS, Tak Cukup Sedih, Ratu, dan
Sah.
Hingga sekarang,
berdasarkan kabar yang ada, Putu Wijaya masih hidup namun harus menjalani
perawatan kesehatan karena stroke yang dideritanya. Meskipun demikian,
semangatnya untuk mengarang tetap berkobar karena masih ada beberapa cerpen
yang dihasilkannya selama ia dirawat di rumah sakit. Mungkin hal tersebut
sekaligus juga menunjukkan pada kita semua betapa Putu Wijaya mendalami dan
menghayati dua slogan yang menjadi acuan Teater Mandiri yang pernah diasuhnya:
‘Bertolak dari yang ada’ dan ‘Teror Mental’.
Berkut ini beberapa
informasi umum lainnya mengenai Putu Wijaya:
Ayah : I Gusti Ngurah Raka
Ibu : Mekel Erwati
Istri : Renny Retno Yooscarini (renny jayusman) , Dewi Pramunawati
Anak : Yuka Mandiri (sudah menikah pada tahun 2006 dengan derry oktami), I Gusti Ngurah Taksu Wijaya(20 tahun, sekarang menulis),
Ibu : Mekel Erwati
Istri : Renny Retno Yooscarini (renny jayusman) , Dewi Pramunawati
Anak : Yuka Mandiri (sudah menikah pada tahun 2006 dengan derry oktami), I Gusti Ngurah Taksu Wijaya(20 tahun, sekarang menulis),
Alamat Rumah:
Kompleks Astya Puri 2 No. A9, Jalan Kerta Mukti,
Cerendeu, Jakarta Selatan
Telepon/Faksimile (021) 7444678
Email:
wijayaputu@hotmail.com
Beberapa
Kisah Seputar Putu Wijaya
Pada 1977, ia menikah
dengan Renny Retno Yooscarini alias Renny Djajusman yang dikaruniai seorang
anak, Yuka Mandiri. ''Sebelum menikah saya menulis Sah, ee, saya mengalami
persis seperti yang saya tulis,'' ujarnya. ''Pernikahan saya bubar pada 1984.''
Tetapi ia tidak lama menduda. Pertengahan 1985, ia menikahi gadis Sunda, Dewi
Pramunawati, karyawati majalah Medika. Bersama Dewi, Putu Wijaya selanjutnya
hidup di Amerika Serikat selama setahun.
Penggemar musik
dangdut, rock, klasik karya Bach atau Vivaldi dan jazz ini total hanya menulis,
menyutradarai film dan sinetron, serta berteater. Putu mengaku belajar banyak
dari Tempo dan Goenawan Mohamad. "Yang melekat di kepala saya adalah bagaimana
menulis sesuatu yang sulit menjadi mudah. Menulis dengan gaya orang bodoh,
sehingga yang mengerti bukan hanya menteri, tapi juga tukang becak. Itulah gaya
Tempo," ungkap Putu.
Ia bungsu dari lima
bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks
perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya
dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka,
seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan
Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah,
bahasa, dan ilmu bumi.
Semasa di SD, ''Saya
doyan sekali membaca,'' tuturnya, ''Mulai dari karangan Karl May, buku sastra
Komedi Manusia-nya William Saroyan, sampai cerita picisan yang merangsang
berahi. Putu wijaya bisa menulis sampai tiga puluh halaman dalam sehari. Empat
artikel dalam sehari.
Putu
Wijaya di Mata Rekan-rekannya
Putu Wijaya dikenal
sebagai sosok yang benar-benar suka menulis. Seperti yang telah diungkapkan
sebelumnya bahwa Putu Wijaya bisa menulis sampai tiga puluh halaman dalam
sehari. Ini terbukti dengan jumlah tulisannya yang begitu banyak. Dari sumber
yang terjangkau oleh penulis, pada tahun 1996 Putu Wijaya ‘baru’ menulis sekitar
lima ratus cerpen. Jumlah itu bertambah hingga dua kali lipat, yaitu menjadi
lebih dari 1.000 cerpen pada tahun 2014. Jika dikalkulasi, berarti Putu Wijaya
telah menulis lebih dari 500 cerpen dalam 8 tahun.
Taufiq Ismail pernah
menulis bahwa Putu Wijaya adalah orang yang luar biasa produktif menulis dan
tidak mengenal waktu mubazir. Dalam beberapa kesempatan ketika bepergian
bersama, Putu Wijaya sering tidak ada ketika sudah saatnya penumpang memasuki
pesawat. Setelah dicari-cari ternyata ia berada di sebuah pojok di dekat stop
kontak listrik, duduk di depan laptop menulis cerpen yang harus selesai. Hal
tersebut terjadi berulang kali sehingga Taufiq Ismail dan teman-teman
seperjalanan Putu Wijaya ketika itu tidak bingung lagi harus mencari Putu Wijaya
ketika ia tiba-tiba menghilang.
Begitu pentingnya atau
mungkin tergila-gilanya Putu Wijaya dengan menulis sehingga ketika ia harus
dirawat di rumah sakit dan terbaring, ia masih tetap memaksakan diri untuk
menulis. Beberapa waktu lalu saat ia harus diopname, ia mengetik beberapa
cerpen dengan menggunakan handphone
blackberry. Lalu ketika kondisinya semakin memburuk dan tidak dapat menulis
lagi pada waktu itu, ia mendiktekan pada anaknya apa yang harus ditulis. Sampai
akhirnya ia diperbolehkan pulang oleh dokter dan bisa menulis sendiri lagi.
Dalam sebuah tulisannya, Joni Ariadinata menyatakan bahwa Putu Wijaya memang
tak pernah selesai. Selalu tak sabar memburu kalimat akhir, atau adegan akhir,
untuk kembali berburu kalimat awal atau adegan awal. Kata-katanya,
kalimat-kalimatnya, telah membangun sebuah dunia baru yang khas, yang mutlak
milik Putu Wijaya.
Dengan gaya tulisan
yang ia miliki, Putu Wijaya pernah memberikan pengaruh yang begitu besar pada
dunia sastra Indonesia. Gaya yang disebutnya sebagai teror mental itu banyak
ditiru dan diadaptasi oleh penulis-penulis lain. Dalam sebuah kesempatan
setidaknya ada tiga orang penulis senior yang dengan terus terang mengatakan
bahwa mereka mengagumi dan terpengaruh oleh tulisan-tulisan Putu Wijaya. Ketiga
orang tersebut adalah Seno Gumira Ajidarma, Putu Fajar Arcana, dan Agus Noor.
Hal tersebut mereka ungkapkan dalam workshop cerpen Kompas tahun 2014 yang
lalu. Pada momen itu juga Putu Wijaya diberikan penghargaan lifetime achievement atas keuletannya
menulis.
Beberapa
Tuduhan atas Karya-karya Putu Wijaya
Meskipun telah
mendapatkan begitu banyak penghargaan, Putu Wijaya juga sempat mendapatkan
beberapa tuduhan atas karya-karyanya. Pada masa-masa awal, Putu Wijaya sempat
dituduh hanya memplagiat karya orang lain. Dua penulis yang dituduhkan
diplagiat oleh Putu Wijaya adalah Samuel Becket (penulis Waiting for Godot) dan
Eugene Ionesco (penulis Rhinoceros, dalam versi bahasa Indonesia diterjemahkan
sebagai ‘Badak-badak’). Namun tuduhan ini dengan segera ditepis karena tulisan
Putu Wijaya memiliki corak tersendiri yang membedakan ia dengan kedua penulis
tersebut. Secara ringkas dituliskan bahwa Putu Wijaya terpengaruh, tapi tidak
memplagiat tulisan-tulisan Samuel Becket dan Eugene Ionesco.
Selain tuduhan plagiasi
tersebut, ada juga tuduhan bahwa karya yang dihasilkan oleh Putu Wijaya
‘begitu-begitu saja’. Tuduhan ini muncul dan menimbulkan kesan bahwa Putu
Wijaya hanya bisa menulis karya-karya yang nonrealis. Agus R. Sarjono dalam
sebuah tulisannya membantah hal tersebut dan mengingatkan bahwa sebelum menulis
novel Telegram dan drama Aduh yang boleh disebut sebagai karya
puncak Putu Wijaya, ia telah menulis drama Bila
Malam Bertambah Malam. Dalam drama ini ia membuktikan kemampuannya untuk
menulis drama konvensional serta penguasaannya yang baik atas dasar-dasar menulis
drama. Ibarat pelukis, ia telah membuktikan kemampuannya melukis figur secara
realis. Maka karya-karyanya kemudian yang nonrealis merupakan sebuah pilihan
dan bukan kompensasi dari ketakmampuan untuk menulis secara konvensional dan
biasa.
Beberapa
Sinopsis Novel Putu Wijaya
Seperti yang telah
dinyatakan, bahwa salah satu karya puncak Putu Wijaya adalah novelnya yang
berjudul Telegram, namun karena
keterbatasa penulis saat membuat tulisan ini, novel tersebut tidak bisa penulis
jangkau. Adapun dua novel yang penulis cantumkan sinopsisnya di sini adalah Stasiun dan Keok. Dua novel ini meskipun menurut A. Teeuw tidaklah memberikan
kebaruan apa-apa dibandingkan dengan novel Telegram,
tapi keduanya memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta.
Berikut ini sinopsis dari kedua novel tersebut.
Stasiun (1977)
Novel karya Putu Wijaya ini berkisah
tentang keterasingan manusia yang merasa disisihkan oleh masyrakat. Tokoh
utamanya adalah lelaki berumur, setelah menyaksikan pemandangan kota pagi hari
merasa harus berangkat. Ia naik bemo, ia berkhayal bahwa dirinya sedang antri
untuk membeli karcis, tangannya yang terkepal menyebabkan ini ia dituduh
mencopet, akhirnya ia ditembak hingga tembus oleh seorang tentara.
Kini lelaki tua itu sudah sampai di
stasiun yang sebenarnya. Kejadian antri karcis, dimana ia dituduh mencopet dan
ia ditembak polisi tadi hanyalah lamunan/khayalan saja. Di stasiun itu, ia
berjumpa dengan seorang wanita. Mereka berbncang-bincang dengan sangat akrab
seolah-olah orang sudah lama kenal.
Tengah malam, kereta memasuki sebuah
stasiun. Seorang perempuan gila masuk ke bawah kereta. Untuk mengeluarkannya,
seorang pegawai kereta menariknya keluar. Akhirnya si pegawai itu sendiri yang
harus dikeluarkan karena dianggap berubah ingatan.
Berbawai peristiwa unik dialami lelaki tua itu. Berbagai pikiran dan khayalan berkecamuk dalam dirinya. Orang tua itu pingsan akibat udara sesak di dalam kereta. Penumpang ribut, lalu mereka memecahkan kaca jendela. Tepat saat itulah lelaki tua yang pinsan itu siuman.
Berbawai peristiwa unik dialami lelaki tua itu. Berbagai pikiran dan khayalan berkecamuk dalam dirinya. Orang tua itu pingsan akibat udara sesak di dalam kereta. Penumpang ribut, lalu mereka memecahkan kaca jendela. Tepat saat itulah lelaki tua yang pinsan itu siuman.
Karena suasana kereta yang semrawut
dan gangguan pikiran, lelaki itu mual dan ingin muntah. Ia ingin buang hajat.
Maka ia berusaha menuju ke gerbong peterusan. Tetapi sebelum mencapai gerbong
itu, lelaki itu terberak di celana. Kemudian ia menyingkir ke gang pintu
kereta. Di gang itulah ia bertemu dengan lelaki muda bernama Joni. Dan di gang
itu pulalah Joni berhasil memperkosa lelaki tua itu.
Kereta api ahirnya sampai di
stasiun. Para penumpang turun. Pikiran lelaki tua itu mengembara ke mana-mana.
Akhirnya ia sering berada di warung kopi dekat kereta api. Kebiasaan ini
membuatnya lupa dengan anak dan istrinya. Orang tua itu asyik dengan pikirannya
sendiri, sementara keluarganya tidak pernah dihiraukan lagi. Suatu ketika ia
bertengkar hebat dengan istrinya, dan akhirnya ia nekad bunuh diri di kamarnya.
Dalam keadaan terluka, ia melihat
gelandangan mati di stasiun. Istri gelandangan tidak mau suaminya dibawa ke
fakultas kedokteran. Ia ingin menguburkan suaminya secara wajar. Ternyata ia
berubah pikiran. Mayat suaminya mau dijualnya. Namun akhirnya ia menyerahkan
mayat suaminya tanpa meminta imbalan.
Setelah menyaksikan peristiwa itu,
si orang tua pulang. Di rumah, ia justru menyaksikan mayatnya sendiri yang tak
mau diakuinya. Dia kembali ke stasiun. Di kantor stasiun, ia diinterogasi. Ia
dituduh mencori kopor, dan setelah bersumpah bahwa ia tidak mencuri, ia
dibebaskan. Ia kemudian membeli tiket dan siap menunggu kereta untuk melakukan
perjalanan.***
Keok (1978)
Diawali dengan sebuah kecelakaan
mobil sedan yang menyerempet seorang pemuda sampai terjerembab ke pinggir
jalan. Dengan keadaan cidera bagian lutut yang robek, meski tubuhnya tak
apa-apa pemuda berdiri dengan begitu marahnya. Kemudian menghampiri pintu mobil
dan membukanya dengan memaksa, seorang lelaki tua yang merasa dengan penuh
kesalahan itu dihajarnya. Ia menghajar mobil itu pula dan hampir saja mobil itu
terbakar kalau beberapa orang tidak memberangusnya. Polisi pun datang mengusutnya
menanyakan segala hal. Akhirnya tak ada yang salah dari kejadian itu.
Kemudian mobil sedan melanjutkan
perjalan bersama istri yang duduk di sampingnya sembari mencari bengkel dengan
kaca yang pecah dan mobil yang tak karuan. Di tengah perjalanan orang tua itu
menggerutu “mengapa pemuda itu memukul saya”. Selain itu berbagai soal lain
merubung kepala orang tua itu. Yang paling sedih adalah soal perkawinannya,
yang menuntut perceraian. Beberapa jam kemudian nafas oerang tua itu tak
terhembus lagi. Kematian menjumpai lelaki tua itu. Kesedihan melanda istrinya.
Janda, gelar wanita itu sekarang.
Janda yang hidup dengan banyak
rintangan dan halangan mengujinya. Banyak kisah yang dialami wanita tersebut.
Dengan penuh rasa sedih dan penyesalan. Janda beranak tujuh kelihatan sperti
orang yang tak waras lagi. Pada suatu malam di perempatan jalan yang sunyi, ia
menanggalkan pakaiannya. Telanjang bulat ia meneruskan langkahnya menuju daerah
kota. Menghadap walikota adalah tujuan wanita itu. Ingin protes hanya karena
kematian suaminya yang tak tertolong. Protes itu
tercapai.
Wanita itu menjadi bingung setelah
beberapa orang menasihatinya, menyindirnya, dan sebagainya. Kemudian wanita itu
ingin mencabut tuntutannya lagi. Pak Walikota pun bingung kenapa tuntutan itu
harus dicabut. Di akhir cerita wanita itu terserempet sebuah truk. Dan akhirnya
meninggal pula.
Rujukan
Ariadinata,
Joni. 2014. “Putu Wijaya yang Tak Pernah Mati”. Horison. Jakarta: Yayasan Indonesia.
Ismail,
Taufiq. 2014. “Mana Putu? Mana Putu?”. Horison.
Jakarta: Yayasan Indonesia.
Rahman,
D. Jamal. 2014. “Putu Wijaya di Area SBSB” dalam Horison. Jakarta: Yayasan Indonesia.
Sarjono,
Agus. R. “Tebasan Bunga Peony Sang Pecandu Tukang Obat” dalam Horison. Jakarta: Yayasan Indonesia.
Teeuw,
A. 1989. Sastra Indonesia Modern II.
Jakarta: Pustaka Jaya.
Wijaya,
Putu. 2005. Pabrik. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.
Wijaya,
Putu. 2003. Zigzag. Jakarta: Pustaka Firdaus.
(online)
https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-sastrwan-putu-wijaya. diakses pada
24 Maret 2014 pukul 21.30 WIB.
http://teatermandiri.wordpress.com/2009/12/08/biodata-putu-wijaya/
http://teatermandiri.wordpress.com/2009/12/08/tentang-putu-wijaya/
Langganan:
Postingan (Atom)




