Selasa, 16 Januari 2018

Antara Mimpi, Ambisi, dan Mitologi




(Ulasan terhadap Buku Equilibrium Karya Bramantio)

Judul                  : Equilibrium
Penulis               : Bramantio
Cetakan             : 1, Februari 2016
Penerbit             : Arruz Media
Tebal                  : 162 halaman
ISBN                 : 978-602-313-059-7

Mimpi bisa jadi sesuatu yang berbahaya. Terlebih lagi jika mimpi itu terus menghantui bahkan ketika sang pemimpi telah terjaga. Membuat orang tersebut jadi penuh ambisi untuk mewujudkan mimpi yang tak berhenti datang membayangi.
Secara garis besar, mimpi yang berbahaya itulah yang menjadi dasar cerita-cerita dalam buku karya Bramantio ini. Sebagaimana mimpi, cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini tidak mudah untuk dipahami. Sejak dari judul, pembaca akan menemukan sesuatu yang asing sekaligus akrab. Sesuatu yang membuat berujar,  “Sepertinya pernah dengar, tapi entah di mana.” Begitu pula kalimat-kalimat yang ada dalam cerpen, panjang, njlimet. Kalimat-kalimat semacam itu, tersebar seolah tak beraturan, membuat pembaca sering kali harus kehabisan napas ketika membaca, apalagi untuk memahaminya. Namun, bukankah seperti itulah mimpi?
Mimpi-mimpi yang diangkat oleh Bramantio dikombinasikan dengan kehadiran ambisi-ambisi tokoh dan dicampur dengan kehadiran makhluk-makhluk mitologi. Jika digabungkan, mimpi, ambisi, dan makhluk mitologi akan menjadi setumpuk benda abstrak yang sulit dipahami. Bagian-bagian tersebut adalah ruang yang sengaja dikosongkan oleh penulis. Membebaskan para pembaca untuk menerjemahkan dan menafsirkannya. Ia bisa jadi simbol dari tindakan tertentu, sifat tertentu, atau orang tertentu. Inilah yang unik. Dengan kata lain, kita, sebagai pembaca, disuguhkan hal-hal abstrak dan ‘disuruh’ oleh penulisnya untuk mengkonkretkan hal abstrak tersebut.
Bagaimanapun, buku ini menyajikan sejumlah cerpen dan karena itu harus mempunyai alur logika yang jelas. Sebagaimana sering diucapkan oleh Putu Fajar Arcana, “Bacalah puisi untuk menjaga imajinasi dan bacalah prosa untuk menjaga logika.” Artinya, meskipun cerita itu menyampaikan tentang mimpi, ia tetap harus jadi sebuah mimpi yang meyakinkan para pembaca. Dan hal itu sudah diberikan oleh Bramantio dalam buku kumpulan ceritanya ini. Pembaca akan menerima cerita-ceritanya sebagai sebuah karya dan tidak menanyakan kenapa cerita itu tidak masuk akal. Itu tidak terlepas dari kemampuan Bramantio membangun cerita.
Lebih jauh lagi, Bramantio tidak menyalahkan siapapun dalam setiap kemalangan ataupun depresi yang dialami tokoh-tokoh dalam ceritanya. Ia tidak menghakimi. Tidak juga menggurui. Apabila tokohnya menjalani hidup yang berat dan penuh aral, itu memang karena begitulah hidupnya. Kalau pun terpaksa ada yang harus disalahkan, maka yang salah adalah tokoh itu sendiri. Bukan yang lain.
Selain itu, cerpen-cerpen dalam Equilibrium juga memberikan kesegeran. Ketika sebagian cerpen Indonesia sekarang berlomba-lomba dan mengikuti kriteria cerpen koran, cerpen-cerpen dalam buku ini menentang itu semua. Mulai dari panjang cerpen, gaya penceritaan, hingga konflik yang diangkat pun merupakan hal-hal yang tidak lumrah ditemukan dalam sebagian besar cerpen Indonesia saat ini. Dan jika memang buku ini dimaksudkan sebagai sebuah alternatif bacaan, maka ini menjadi alternatif yang menyenangkan.
Permasalahannya, sebagaimana hampir semua seni yang bersifat alternatif, maka peminatnya mungkin tidak terlalu banyak. Sebagian besar orang tentu lebih memilih untuk membaca bacaan yang sederhana, mudah dipahami, dan menyentuh hati ketimbang bacaan yang rumit, membingungkan, dan membuat dahi berkerut serta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui di kepala.

Rabu, 03 Januari 2018

Kue yang Semenggoda Surga


Cerpen ini pernah dimuat di Magelang Ekspres pada tahun 2017

Sebagai office boy yang sering disuruh ini-itu, sebenarnya pekerjaannya cukup rapi dan cekatan. Namun, dia tidak pernah bisa dipercaya untuk membagikan kue di kantor kami. Sebab bisa dipastikan distribusinya akan bermasalah. Dia, sebagai orang yang mendistribusikan, akan mengutip bagian orang lain sehingga kue yang terdistribusi akan sedikit sekali. Semua orang juga tahu akan hal itu. Tapi untuk kali ini, justru dialah yang bertugas membagi-bagikan kue ke seisi kantor. Padahal kue yang dibagikan kali ini adalah kue yang konon paling enak ketimbang kue-kue sebelumnya.
Penyebabnya hanya ada satu, kue itu terbuat dari dan dihiasi dengan pisang. Dan dia alergi dengan pisang. Suatu hari ia pernah tak sengaja memakan sepotong pisang yang terselip di antara hiasan-hiasan kue. Hasilnya luar biasa. Hanya dalam waktu 30 menit badannya bentol-bentol, terutama di bagian wajah. Ia pun jadi tampak menyeramkan.
Aku yakin pemberian tugas padanya untuk membagikan kue pisang kali ini adalah  keisengan teman-teman kantorku. Bisa juga itu jadi hukuman untuknya yang sering mengutip kue. Bisa dibayangkan, seseorang yang selalu tak bisa menahan diri untuk mencuri dan makan kue yang bukan haknya diberi tugas untuk memberi kue yang terbuat dari bahan yang tidak bisa ia makan. Tentu dia akan sangat menderita.
Hanya saja, aku tergolong orang yang tidak setuju dengan perbuatan itu. Bukan karena aku bertoleransi padanya. Bukan juga karena aku tak tega dia ‘dipermainkan’ dengan cara itu. Bukan. Aku tak setuju justru karena aku sama sekali tidak percaya dia. Dia bisa saja melakukan hal-hal di luar dugaan karena ketamakannya pada kue. Dan aku tak akan pernah rela jika jatah kueku harus sampai berkurang hanya gara-gara dia.
***

Kehebohan terjadi di kantor. Separuh dari jumlah kue yang harusnya dibagi-bagikan telah menghilang. Semua itu terjadi hanya dalam waktu lima belas menit. Tepatnya ketika aku mengalami sakit perut yang tiba-tiba dan mau tak mau harus ke kamar kecil. Rupanya selama aku di kamar kecil itu kurir pengantar kue tiba, si OB yang tamak akan kue itu menerima paket.
Begitu aku keluar dari kamar kecil, kudapati si OB sendirian dengan kotak paket yang telah terbuka. Aku lihat isinya sudah hilang setengah. Wajahnya menjadi cemas. Segera saja kugeret ia keluar dari ruangan.
“Aku hanya mengecek. Tidak kumakan kue itu. Sungguh. Si kurir memang mengirimkan kotak yang setengahnya kosong,” ujarnya.
Kuhentikan langkah. Lalu kulayangkan sebuah pukulan tepat ke wajahnya. Aku paling benci dengan maling yang mencoba ngeles dengan alasan tak masuk akal seperti itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu terdiam. Kucekal kerah baju si OB dan kuseret dia menuju ruang pimpinan.
Begitu sampai di depan ruang manajer, kubuka pintu dan kudorong OB itu hingga tersungkur.
“Setengah dari jumlah kue yang datang telah dia makan,” ujarku mencoba untuk menjawab pandangan manajer yang penuh dengan tanda tanya.
Manajer kami bangkit dari duduknya. Ia tahu aku memang tidak suka dengan OB yang satu ini.
“Benar itu?” ujar manajerku.
Tentu saja maling tak ada yang mengaku. Si OB mengulangi lagi kalimat yang tadi ia katakan padaku. Bedanya kali ini tidak ada kepalan tangan yang mendarat di wajahnya. Aku menahan diri.
Manajer tampak menarik napas. Kelihatan sekali ia mencoba untuk bersikap bijak dan netral dalam menghadapi masalah ini. Mungkin dalam pikirannya aku terlalu membesar-besarkan masalah. Toh ini semua hanya soal kue. Tetapi, di sisi lain, ada kemungkinan dia juga menyadari bahwa hal sepele yang dipendam dan ditumpuk tak ubahnya seperti berak yang ditahan-tahan, suatu saat akan meledak dan berceceran ke mana-mana: menjadi hal yang memalukan.
“Kenapa kau yakin OB kita ini telah mencuri dan memakan kue yang dipesan?”
Aku diam sejenak sebelum menganggukkan kepala. Si OB diam saja.
“Dia sendirian di ruang OB. Kotak-kota kue itu terbuka. Tanpa isi. Maka penjelasan macam apa lagi yang diperlukan? Kita tahu tak mungkin pihak pengirim kue memberikan kotak kosong. Apalagi kosongnya sampai setengah. Pihak pengirim kue tentu tahu risiko bermain-main dengan komoditas yang mereka perjualbelikan.”
Manajer mengangguk-anggukkan kepala, “Tapi apa buktinya kalau OB ini yang memakannya?”
“Sesaat sebelum masuk ke ruang OB, aku melihat dia membersihkan remah-remah kue yang tersisa di sekitar mulutnya,” jawabku mantap.
Si OB mengarahkan pandangannya kepadaku. Kutentang pandangan itu dengan tatapan marah.
“Apa ada orang lain yang melihatnya?” tanya manajerku.
Tentu tidak ada. Sekali lagi OB mengarahkan pandangannya padaku. Ia tahu bahwa aku tak pernah melihatnya membersihkan remah-remah kue sebagaimana tadi kukatakan. Aku hanya berusaha meyakinkan manajerku. Aku yakin OB inilah pelakunya.
***

Atas usulku, kami bertiga menunggu. Yang ditunggu adalah reaksi pisang terhadap tubuh si OB. Sebagaimana pernah terjadi, jika benar dia, OB sialan itu, telah memakan kue yang hilang maka tubuh dan wajahnya akan bentol-bentol dalam kurun setengah jam.
“Apa kau benar-benar yakin dia yang memakannya? Seperti katamu, lima belas menit. Hanya lima belas menit. Apa mungkin satu orang bisa menghabiskan begitu banyak kue hanya dalam lima belas menit?”
“Kalau Bapak tahu bagaimana sikap orang ini terhadap kue, Bapak tidak akan lagi bertanya seperti itu,” jawabku tegas.
“Tapi, lima belas menit. Bisa-bisa orang tersedak dan muntah jika makan kue dalam jumlah sebanyak itu dengan begitu cepat.”
Manajer diam. OB diam. Aku juga diam. Kami bertiga duduk di depan sebuah meja besar. Di atas meja itu terdapat sebuah kotak besar yang berisi kue yang tersisa. Seperti diberi komando, mata kami bertiga tertuju pada kotak kue tersebut. Lalu manajer kami pun dengan perlahan membuka kotak, memperlihatkan isinya yang tersisa.
Aku dan manajer serentak menahan napas melihat kue-kue itu. Bentuknya kecil-kecil berwarna cokelat dengan tekstur yang terlihat sangat empuk. Rongga-rongga kecil di bagian atasnya masih ada yang terlihat meskipun sudah ditutupi dengan cokelat putih. Tak hanya itu, potongan-potongan kecil buah, sepertinya cherry, strawberry, nanas, dan tentu pisang diletakkan sedemikian rupa di atas cokelat putih itu. Belum lagi aromanya, entah kue itu dicampur dengan apa sehingga aromanya begitu kuat, membuat aku harus berjuang menahan air liur agak tidak menetes.
Ada sebuah lirikan dari manajerku yang sulit diterjemahkan dengan kata. Namun, sedetik setelah lirikan itu, sebuah kue pisang kecil telah memenuhi mulut kami masing-masing. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami setelah satu kue itu habis. Hening kembali menguasai ruangan.
Si OB tampak meneguk ludah ketika kami makan kue.
“Kamu tidak boleh makan,” ujar manajer. Ucapan yang sebenarnya cukup mengejutkanku juga jika seandainya tidak segera dilanjutkan dengan, “Kamu kan sedang menunggu bakal ada reaksi alergi atau tidak. Kalau sekarang kamu ikut makan bersama kami, hampir pasti alergimu kumat.”
Aku tersenyum penuh kemenangan. Setelah kalimat yang diucapkan sang manajer itu, tak ada lagi kata-kata yang keluar di dalam ruangan itu untuk beberapa saat. Hanya bunyi dari kue-kue yang dimamah oleh aku dan manajer. Setiap kali mengunyah, aku sengaja menunjukkan ekspresi yang menyiratkan bahwa kue itu teramat lezat kepada si OB.
“Kue ini semenggoda surga,” kataku. Dia hanya bisa melihat. Dan aku yakin tak lama lagi bentol-betol akan bermunculan di wajahnya.
***

Setengah jam berlalu dan kue telah habis. Aku dan manajer terduduk kesulitan bergerak karena perut penuh. Anehnya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada si OB. Tidak ada bentol-bentol yang muncul dari tubuhnya. Aku mulai gelisah juga merasa bersalah. Jangan-jangan dia memang tidak memakan setengah dari jumlah seluruh kue yang ada.
Sambil memegang bekas luka di wajahnya akibat kena pukulanku, ia berkata, “Sudah setengah jam. Apa lagi yang harus aku buktikan?”
Aku sebal. Tapi juga tak bisa berbuat apa-apa. Manajer memandangku dengan sebuah tatapan yang menyuruhku untuk meminta maaf. Maka aku pun meminta maaf pada si OB. Ia menyambut uluran tanganku dan kami bersalaman. Wajahnya tampak benar-benar tulus dan memaafkanku. Aku jadi luluh.
Kupikir-pikir lagi, aku memang tidak pernah melihatnya memakan kue. Malah sekarang faktanya akulah yang telah memakan seperempat bagian kue yang seharusnya dibagi-bagikan ke kantor. Aku telah memukulnya tanpa bukti. Aku telah mencemarkan nama baiknya. Tindakanku hanya didasarkan atas kecurigaanku semata. Kini terbukti bahwa kecurigaanku sama sekali tidak berdasar.
Untuk menutupi rasa bersalah, kuantar dia ke dokter. Ia awalnya menolak, tapi aku memaksa. Dengan menggunakan mobilku yang AC-nya sudah rusak, kami melaju menuju praktik dokter terdekat. Tapi ternyata jalanan macet. Sialnya lagi, kami berada tepat di belakang truk sampah.
Aroma busuk dan memuakkan dari truk sampah itu menguar. Sebab AC mobilku rusak, tak ada yang bisa kami lakukan selain menikmati aroma tersebut. Aku menyumpah serapah dalam hati. Menahan mual yang muncul akibat bau yang berseliweran. Beruntung aku masih bisa menahan agar tidak muntah.
Sialnya, si OB ternyata tak bisa tahan. Tanpa ba-bi-bu, ia mengeluarkan suara “Hueeekkk” dan muntah di dalam mobilku. Saat itulah aku melihat gumpalan-gumpalan yang tertumpah di lantai mobil. Mungkin karena belum tercerna dengan begitu baik, aku masih bisa mengenali makanan apa yang dimuntahkannya.
Gumpalan itu berwarna cokelat, dihiasi dengan beberapa potong buah yang mungkin adalah cherry, strawberry, dan tentu saja pisang. Mataku membeliak demi melihat itu. Si OB, tersenyum penuh kemenangan. Ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah pil.
“Obat anti-alergi,” ujarnya tenang, tetap dengan senyum sombong sebelum melanjutkan, “Kue itu memang semenggoda surga.”
***

ART.
Palembang, 29 Desember 2016

Kamis, 20 Juli 2017

Tragedi Kentut

Cerpen ini pernah dimuat di Pos Belitung edisi 16 Juli 2017




Sesuatu yang terjadi telah menghebohkan seisi kampung itu. seorang lelaki mendadak tak bisa mengendalikan perutnya untuk mengeluarkan kentut. Ia mencoba untuk menahannya, tapi selalu gagal.
            Brooottttt... Broooottttt... Brrroooottttt...
            Bunyinya yang panjang dan aromanya yang busuk segera menyebar dengan liar. Mata semua orang yang ada di sekitarnya membeliak. Lalu dengan cepat orang-orang menjauh dari lelaki itu.
            “Tunggu.. Jangan pergi! Aku tidak apa-apa. Aku hanya....”
            Brooottttt... Brrrooottt.. Brooootttt...
            Begitulah. Hanya dalam beberapa jam, tak ada lagi yang mau dan bisa mendekati lelaki itu. Kentut lelaki itu jauh di atas batas normal, baik intensitas, bunyi, maupun baunya. Tak ada yang bisa bertahan untuk berada di dekatnya lebih dari sepuluh detik.
            Pak RW yang mendengar berita itu langsung memanggil dokter dari puskesmas terdekat. Dokter datang dan bersiap-siap memeriksa lelaki itu. Namun apalah artinya sebuah masker tipis yang digunakan oleh dokter itu jika berhadapan dengan kualitas kentut yang dihadapinya. Baru saja dokter membuka mulut untuk menanyakan keluhannya, lelaki itu sudah menjawab dengan kentut. Meski sempat memaksakan diri dan beberapa kali mencoba, dokter itu pun menyerah dan tak bisa mendiagnosa apa sebab lelaki itu tak berhenti kentut. Tak hanya itu, dokter itu pun kemudian pingsan akibat terlalu banyak menghirup kentut.
            Tak berhenti di situ, seorang dukun pun didatangkan. Berdasarkan kesaksian, dukun itu adalah dukun yang paling sakti seantero jagad kampung itu. Teluhnya bisa menyeberangi lautan. Santetnya tak pernah gagal dalam membunuh orang. Dukun yang datang itu segera menyiapkan peralatan-peralatannya. Ia menaburkan bunga tujuh rupa dan warna kepada lelaki itu. Asap dupa mengepul-ngepul di sekitar. Di tangan kirinya sudah siap segelas air yang akan dijampi-jampi. Ketika mulut dukun itu membuka hendak membaca mantra...
            Broootttt... Brooootttt.... Brrroooottttt....
            Dukun itu tersedak oleh udara kentut yang menyebar. Membuat mantra yang dibacanya jadi salah. Jin-jin yang dipanggilnya pun marah dan menambahi ‘kesaktian’ yang ada dalam kentut yang dikeluarkan lelaki itu. Si dukun yang saat itu posisinya paling dekat dengan lelaki tukang kentut itu mendadak kejang-kejang akibat tak tahan menerima serangan kentut.
            Masyarakat histeris menyaksikan semua itu. Walaupun sebenarnya mereka hanya melihat dari jauh karena tak ada yang berani mendekat. Bisik-bisik terjadi. Bisikan itu berubah menjadi gosip yang beradar. Gosip-gosip pun menyebar dengan cepat. Semuanya menyalahkan lelaki itu. menuduh lelaki itu akan membawa bencana ke dalam kampung mereka. Pandangan benci pun tak bisa ditutupi dari mata mereka.
            Lelaki yang selalu kentut itu pun merasakan tatapan benci yang ditimpakan padanya. Ingin ia berteriak mengatakan bahwa ini bukanlah kehendaknya. Ia adalah korban dalam kondisi ini. Namun apa daya, masyarakat tak ada yang mau ataupun bisa mendengarkan omongan lelaki itu. Sebab yang terdengar hanyalah kentut lelaki itu saja.
            Si tukang kentut menatap ke segala arah. Mencari seseorang yang mau mengerti kondisinya. Tapi tak satu pun yang ia temukan. Semuanya telah menghakiminya sebagai si tukang pembuat rusuh. Maka lelaki itu pun bersedih. Ia menangis. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Kepalanya mendongak ke langit. Sementara ia menangis, kentutnya tak kunjung reda dan bahkan semakin menjadi. Orang-orang merasa jijik padanya. Mulai melempari ia dengan segala apapun yang bisa diraih.
            Demi harga dirinya, berlarilah laki-laki itu ke ujung desa. Di sana ia masuk ke sebuah gudang tua yang tak terpakai lagi. Lalu ia mengurung diri di sebuah ruang penyimpanan yang tertutup rapat. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan mati hari ini. Ya. Dia akan bunuh diri. Dengan cara menghisap sendiri kentutnya sampai habis.
            Hanya dalam hitungan menit ruangan itu sudah penuh sesak oleh angin yang ia keluarkan. Ia hisap dalam-dalam setiap kentut yang ia keluarkan. Perutnya pun seolah tahu keinginannya untuk mati, lalu mengeluarkan kentut yang panjang-panjang dan besar-besar bunyinya. Seolah-olah tiada hari esok untuk kentut.
Broooootttt.. brrroooottt.. .brrrooottt..
Lelaki itu pun tercekat tenggorokannya. Napasnya sesak. Pandangannya berkunang-kunang. Gelap.
***
            Matanya terbuka perlahan-lahan. Ia kerjap-kerjapkan. Sudah matikah ia? Ia bertanya-tanya dalam hati. Di surga atau di nerakah dia? Ah. Mana ada surga yang menampung orang yang mati bunuh diri. Apalagi dengan cara menghisap kentut sendiri sampai habis. Cara bunuh diri paling hina yang pernah terpikirkan umat manusia. Tapi juga ia tak merasakan panas yang menyiksa, dan itu berarti ia bukan di neraka. Laki-laki itu kembali mengerjapkan matanya. Pandangannya lebih jelas kali ini. Dia masih ada di ruangan tertutup yang ada di dalam gudang tak terpakai itu.
            Ia masih hidup. Sesuatu yang sangat berat tiba-tiba terasa memenuhi dan menyesakkan dadanya. Air matanya kembali menetes tanpa bisa ia bendung. Bahkan untuk mati pun ia tak diperbolehkan oleh alam. Apakah ia harus menanggung derita kentut ini sepanjang sisa hidupnya? Kentut oh kentut.
            Lelaki itu merenung. Ia tahu ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Sadarlah ia bahwa sekarang ia harus menerima takdirnya ini. Takdir sebagai lelaki yang selalu kentut. Saat ia berpikir seperti itu, barulah ia menyadari sesuatu. Sejak ia bangun tadi, ia tidak kentut-kentut lagi. Lelaki itu menunggu beberapa saat. Menunggu kentutnya. Benar saja, kentut-kentutnya sudah berhenti. Tidak ada lagi bunyi dan bau kentut itu keluar dari perutnya.
            Maka segeralah lelaki itu meloncat bangkit. Keluar dari ruangan sempit itu. Berlari meninggalkan gudang yang tak terpakai di belakangnya. Dengan wajah berseri-seri sedemikian rupa, ia melangkahkan kakinya ke pasar. Tempat yang paling ramai di tengah kampung tempatnya tinggal.
            Orang-orang di pasar terkejut melihat orang itu datang. Mereka bersiap-siap untuk menutup hidung. Para pedagang segera menutupi barang dagangannya karena takut terkontaminasi oleh kentutnya. Satpam pasar sudah siap menghalangi gerakan lelaki itu. Namun laju lelaki itu tak bisa dihentikan. Ia terus saja berlari hingga akhirnya sampai ke tengah-tengah pasar.
            Semua mata menuju padanya, meskipun tetap dengan menutupi hidung masing-masing. Mereka tahu sepertinya ada yang hendak disampaikan lelaki itu, maka mereka pun menunggu. Pasar jadi hening. Menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Namun lelaki itu diam. Tersenyum. Begitu terus sampai berapa lama, barulah ada yang menyadari.
            “Hei. Dia tidak kentut-kentut lagi,” ujar seseorang. Setelah mendengarkan itu, orang-orang seperti terbangun dari tidurnya. Mereka sadar bahwa yang dikatakan itu benar. Lelaki itu tidak kentut-kentut secara liar lagi.
            Masyarakat pun bertepuk tangan. Menyambut kembalinya si tukang kentut yang tak lagi kentut. Mereka menyalaminya satu per satu. Bahkan ada yang memeluknya begitu erat seperti seorang sahabat lama yang terpisah berpuluh-puluh tahun. Setelah itu ia diarak-arak, dielu-elukan untuk kembali ke tempatnya tinggal.
            Berita itu dengan sangat cepat menyebar. Pak RW tempat ia tinggal pun langsung mengerahkan warga untuk menyambut kedatangannya. Saat ia tiba, sebuah panggung telah tersedia. Pak RW memberikan sedikit pidato penyambutan. Setelah itu tibalah gilirannya untuk berpidato.
            Ia sebenarnya tak siap untuk sebuah pidato, namun semua orang menatapnya penuh antusias. Di atas panggung itu, sebelum ia berpidato, matanya menitikkan air mata haru melihat sambutan yang begitu meriah seperti ini. Orang-orang pun banyak yang ikut menangis. Namun ia segera mengendalikan diri. Meraih microphone dan mendehem sedikit. Saat ia membuka mulutnya untuk bicara...
            Brooootttttttttttttt.....
            Mata lelaki itu membelalak. Yang keluar dari mulutnya adalah kentut yang bunyinya besar dan panjang sekali, baunya pun jauh lebih menyengat dari pada kentut-kentutnya yang dahulu. Ia hampir pingsan kalau tidak melihat reaksi para penonton. Masyarakat yang menyaksikan itu terkejut, tapi tidak dengan benci melainkan dengan takjub. Rasa takjub yang ternyata begitu besar hingga begitu ia selesai mengeluarkan kentut lewat mulut, mereka bertepuk tangan dengan dahsyat.
            Lelaki itu buka mulut lagi ingin bicara.
            Broooottttttt..... Broooottttt.... Brrrroooottttt....
            Yang keluar dari mulutnya hanyalah kentut. Udara di kampung itu segera mengental karena aroma kentut yang ia keluarkan dari mulut. Namun tepuk tangan dan suka cita dari masyarakat semakin membahana. Lelaki itu pun bingung.

Yogyakarta, 20 Maret 2014.