Jumat, 16 Juni 2017

Hari Saat Ia Memutuskan untuk Bolos


Cerpen ini pernah dimuat di Pos Belitung pada 11 Juni 2017

Kuliah pertama itu sangat membosankan. Terutama karena pak dosen berkepala botak yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu menyampaikan materi dengan nada yang datar. Monoton sepanjang perkuliahan. Sama sekali tak ada naik turun intonasi. Hal itu diperparah dengan wajahnya yang sudah menampilkan keriput sama sekali tak menyunggingkan senyum. Malah sepertinya ia menggerutu, bukan menjelaskan materi. Mulutnya terbuka sedikit sekali, antara terbuka dan tidak, tapi kata-katanya keluar terus tak putus-putus.
Ketika memasuki menit ketiga puluh, beberapa orang mahasiswa sudah beranjak ke alam mimpi. Dengan dibuai oleh semilir angin dari pendingin ruangan, mimpi mereka semakin indah. Meninggalkan kenyataan soal kuliah yang sedang mereka jalani. Bahkan sampai ada yang meneteskan air liur ke meja. Beberapa yang lain sibuk main candy crush atau fruit ninja di tablet. Sisanya merenung dan menatap kosong pada layar yang menampilkan poin-poin materi yang digumamkan secara agak tak jelas oleh sang dosen.
Dua SKS itu terasa begitu lama bagi semua mahasiswa di ruangan. Bahkan ada yang sudah menjalani lima mimpi dalam tidurnya dan ketika terbangun ternyata kenyataan masih membawanya ke ruang kuliah itu juga. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk merajut mimpi yang keenam. Saat kuliah berakhir semua pun bernapas lega. Termasuk orang yang tadi bermimpi pun tidak protes saat dibangunkan karena ternyata mimpinya yang keenam adalah mimpi sedang kuliah di ruang kuliah tempat ia sedang bermimpi.
Orang-orang bubar dari ruangan kuliah itu. Menghirup udara kebebasan dari tekanan batin. Namun mereka lupa bahwa kuliah bukan hanya berlangsung selama satu pertemuan, tapi satu semester. Alias setengah tahun. Maka para mahasiswa pun harus menghadapi kenyataan tersebut.
***
Hari-hari terlewati begitu cepat saat mata kuliah lain, namun begitu lambat ketika mata kuliah yang diasuh pak dosen setengah baya berkepala botak itu. Tiap pertemuan jumlah mahasiswa yang hadir semakin berkurang. Semakin banyak yang sekadar titip absen dengan teman yang lain. Beberapa minggu berlalu, yang dititipi absen akhirnya juga ikut nitip dengan yang lainnya. Lalu yang dititipi itu juga ikut nitip, dan begitu seterusnya.
Peserta mata kuliah itu semakin sedikit saja, tapi sang dosen seakan tak peduli. Ia tetap berceramah dengan mulut yang antara terbuka dan tidak namun terus saja menggumamkan ide-ide Karl Marx, Gramsci, Derrida, Stuart Hall, dan lain-lain. Suaranya tetap datar tanpa fluktuasi intonasi. Sementara yang hadir dan jumlahnya sedikit itu tetap terbuai embusan pendingin ruangan dan bermimpi, atau bermain candy crush dan fruit ninja. Begitu terus sampai dua SKS itu terlewati.
Sang dosen terus saja memberikan kuliahnya. Sampai akhirnya pada suatu pertemuan, yang hadir di ruangan itu hanya satu mahasiswa saja. Melihat itu sang dosen diam, menatap sang mahasiswa yang tertegun tegang dan tidak jadi mengeluarkan tabletnya untuk bermain candy crush yang sudah sampai level 2.514.
“Mana yang lain,” tanya sang dosen.
Sang mahasiswa kebingungan. Tak tahu harus menjawab apa.
“Ini di daftar hadir ada tiga puluh tanda tangan. Kok cuma kamu yang ada?”
Sang mahasiswa meneguk ludah.
“Bolos?”
Mahasiswa itu mengangguk.
Sang dosen mengangguk-angguk. Tanpa ekspresi. Sama sekali tak ada tanda-tanda ia marah atau sejenisnya. Hanya mengangguk-angguk saja. Lalu kembali dengan mulut yang antara terbuka dan tidak, ia berkata, “Minggu depan kita ujian tengah semester.”
Yang terjadi seminggu kemudian adalah ruang kelas itu penuh lagi. Tanpa ada muka kantuk. Tanpa ada yang bermain game. Semuanya fokus mengerjakan soal yang diberikan oleh sang dosen. Entah mereka mendapatkan hidayah dari mana. Padahal selama ini mereka tidak pernah mendengarkan satu pun kata dari sang dosen, tapi mereka sepertinya lancar-lancar saja mengutip-ngutip Marx, Gramsci, Stuart Hall, Derrida, dan lain-lainnya.
Pak dosen takjub dengan yang terjadi. Sampai ke rumah, dia memeriksa jawaban mahasiswa-mahasiswanya. Semuanya rata-rata layak mendapatkan nilai A+. Sang dosen tercenung. Ia lebih tercenung lagi ketika di pertemuan berikutnya kelas kembali kosong. Tak ada yang masuk sama sekali. Kelas kosong. Semua mahasiswa bolos, tapi anehnya daftar hadir selalu penuh oleh tanda tangan. Bahkan para mahasiswa sudah membubuhkan tanda tangan untuk lima pertemuan ke depan. Luar biasa.
Pertemuan-pertemuan berikutnya hanya ada satu mahasiswa yang hadir. Sang dosen tidak lagi menjelaskan materi perkuliahan. Ia hanya menatap mahasiswanya itu lamat-lamat. Dalam. Penuh tanda tanya.
“Kenapa kau datang ke sini? Tidak seperti teman-temanmu yang lain.”
“Saya bosan di kamar kosan, Pak.”
“Kau tidak bosan di sini?”
“Ya bosan juga, sih. Tapi paling nggak kan kalo ke sini jadi seolah-olah ada kegiatan.”
Sang dosen mengangguk-angguk. Kepala botaknya semakin mengilap. Ia elus-elus kepalanya itu. Tapi sekali lagi tak ada ekspresi sama sekali dari wajah dosen itu. Tak ada gurat marah ataupun kecewa ataupun sedih. Datar saja.
“Ya sudah. Kalau begitu, minggu depan kita ujian akhir semester.”
Maka seminggu kemudian para mahasiswa kembali memenuhi ruangan itu. Mereka bahkan datang setengah jam sebelum ujian dimulai. Alat-alat tulis sudah sedia di meja masing-masing. Tampang mereka penuh percaya diri. Namun hingga setengah jam kemudian sang dosen yang biasanya tepat waktu tak kunjung tiba. Mereka menunggu sampai lima belas menit, masih belum datang juga. Lalu setengah jam lagi. Lalu setengah jam lagi. Lalu setengah jam lagi.
Para mahasiswa pun gusar. Awalnya mereka bertanya-tanya. Lama kelamaan tanya itu berubah menjadi protes. Protes kemudian berubah menjadi umpatan. Kemudian mereka beramai-ramai melakukan aksi unjuk rasa ke gedung dekanat. Mereka hendak menemui pihak-piahk berwenang di dekanat.
“Dosen tidak profesional,” seru salah satu mahasiswa.
“Ya. Tidak bertanggung jawab,” seru yang lain.
 “Ya. Makan gaji buta.”
“Mengingkari sumpah jabatan.”
“Tidak sesuai dengan norma pendidikan.”
Suara mereka riuh rendah meneriakkan protes. Pak dekan yang tadinya sedang duduk tenang di kantor terpaksa turun dan menemui para mahasiswa yang protes itu. Melihat Pak dekan yang sudi menemui mereka, suara pun perlahan mengecil. Lalu hening sama sekali.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Pak dekan.
“Kami butuh kejelasan.”
“Tentang apa?”
“Dosen kami. Di mana dia? Kami dijanjikan akan menjalani ujian akhir hari ini, tapi dia tidak datang.”
Pak Dekan berusaha tenang menghadapi massa. Ia mengusap-usap janggutnya yang putih dan panjang. Beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang lalu berkata, “Ya. Berarti dosen kalian bolos.”
“Bolos?”
“Ya. Bolos. B.O.L.O.S.”
“Wah. Tidak bisa begitu dong, Pak. Dosen kok bolos di saat ujian akhir.”
“Lho? Ada apa? Apa yang salah dengan bolos? Toh kalian juga sering bolos, kan?”
“Iya, Pak. Tapi kami tidak bolos di saat-saat genting seperti ini. Lagi pula ini kan menentukan hajat hidup orang banyak. Jangan semena-mena begini dong.”
Pak dekan mengangguk-angguk. “Ya sudah. Nanti akan saya sampaikan protes kalian ke dosen itu.”
“Jangan nanti. Sekarang dong, Pak.”
“Lah. Bagaimana caranya? Wong dosen kalian sekarang saja saya tidak tahu di mana.”
“Bapak harus tahu.”
“Lho. Kok harus?”
“Kan Bapak atasannya. Bapak harusnya punya fungsi kontrol. Bapak harusnya bisa mengendalikan bawahan Bapak. Kalau tidak, berarti Bapak telah gagal melakukan manajemen terhadap fakultas ini.”
“Lho. Kok begitu? Apa salah saya?”
“Ya Bapak pasti salah. Bapak pasti telah berkomplot dengan dosen kami itu dan membiarkan pembolosannya. Ini tidak bisa dibiarkan, Kawan-kawan,” suara mahasiswa itu menggelegar. Suara teman-temannya pun ikut bergelora. Meneriakkan kata-kata kasar dan cacian pada sang dekan.
Mahasiswa-mahasiswa lain yang lewat bertanya-tanya tentang kejadian apa yang sebenarnya sedang terjadi. Melalui bisik-bisik tetangga mereka mendapatkan kabar bahwa mereka berdemo karena sang dekan melindungi dosen yang bolos. Maka mahasiswa yang cuma lewat pun akhirnya mendukung gerakan demo itu. Semakin lama, semakin banyak mahasiswa lewat yang juga ikut bergabung berdemo. Gerakan demo itu dengan segera menjadi semakin besar. Sang dekan terdesak. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Omongannya semuanya jadi salah di depan mata para mahasiswa yang semakin lama semakin sangar.
***

Seorang lelaki paruh baya berkepala botak sedang menghirup teh hangat yang disajikan istrinya. Aroma teh itu mampu menenangkan pikirannya sejenak. Apalagi kemudian istrinya muncul dari dapur dengan pisang goreng kesukaannya. Ah. Sekali-kali bolos ternyata enak juga.
“Apa benar nggak masalah kalau Bapak bolos hari ini?” tanya istrinya. Seolah tahu saja apa yang melintas di pikiran suaminya itu.
“Ya nggak apa-apa toh, Bu. Toh baru sekali ini.”
Istri lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya lalu mengambil remote tivi. Layar itu menampilkan berita tentang terbunuhnya seorang dekan akibat diamuk mahasiswa yang sedang berdemo tadi siang.
“Ganti channel toh, Bu. Aku nggak tega lihat yang anarkis begini.”
Sang istri hanya mengangguk lalu memindah saluran ke sinetron kesukaannya. Sang suami tersenyum lalu mengambil pisang goreng berikutnya untuk dimasukkan ke mulut. Ia sempat berhenti mengunyah karena merasa mengenal salah satu mahasiswa yang tadi sempat tersorot, tapi cuma sebentar. Ah. Sudahlah. Mungkin hanya salah ingat.
***

ART.
Yogyakarta, 9 Juli 2014.
Jam 1.48 dini hari.

Senin, 29 Mei 2017

Janji dalam Cerita Rakyat



*Tulisan ini dimuat di Palembang Ekspres pada 29 Mei 2017
Delapan tahun lalu ada seorang mahasiswa asing yang berasal dari Cina bergabung di kelas kami. Ketika sedang membahas cerita rakyat Timun Mas, ada sebuah kejadian menarik.
Seusai cerita dibacakan, dia mengangkat tangan dan bertanya. “Kenapa raksasa dianggap jahat? Dia hanya menagih janji. Bukankah Ibu Timun Mas sendiri sudah menyanggupi akan menyerahkan anaknya ketika sudah gadis?”
Dosen memberi jawaban bahwa Raksasa itu jahat karena suka memakan manusia. Mahasiswa asing itu menjawab, “Di negara kami, janji adalah nomor satu. Apapun risikonya, janji harus ditepati.”
Dosen menjawab lagi dan diskusi terus berjalan sampai jam perkuliahan selesai. Mungkin sebagian besar orang telah melupakan kejadian itu, tapi saya tidak. Saya mencari dan menemukan setidaknya dua cerita rakyat lain yang begitu populer tapi menyajikan pengingkaran janji sebagai sesuatu yang seolah-olah benar.
Cerita yang saya maksud adalah Legenda Tangkuban Perahu (Dayang Sumbi), dan Legenda Candi Sewu (Roro Jonggrang). Dalam kedua cerita itu tokoh utama wanita meminta bantuan orang banyak agar suasana tampak seperti pagi meskipun sebenarnya masih malam. Ini adalah ironi karena pembaca tahu bahwa dua tokoh wanita tersebut sendiri yang menjanjikan batas waktu pengerjaan ‘proyek’ adalah dini hari. Keduanya telah mengingkari janji mereka sendiri. Penting pula untuk disoroti bahwa tokoh-tokoh dalam cerita- yang telah dipaparkan mengingkari janji demi keselamatan diri sendiri. Tak ada yang memilih mati terhormat.
Pengaruh pada Anak
Apa jadinya jika cerita-cerita tersebut disampaikan pada anak-anak? Terlebih lagi, para pengingkar janji itu justru dielu-elukan dan disanjung sebagai pahlawan. Sangat mungkin alam bawah sadar anak merekam bahwa ingkar janji tidak masalah asalkan tetap dianggap pahlawan dan didukung orang banyak.
Maka, jangan heran jika dari dulu hingga sekarang ada banyak orang tak merasa bersalah ketika ingkar janji (saat kampanye misalnya). Jangan-jangan mereka hanya mengaplikasikan nilai-nilai sesungguhnya dari cerita-cerita rakyat yang dikonsumsi sejak kecil.
ART
Indralaya, 26 Mei 2017

Sabtu, 14 Januari 2017

Satu Tahun Komunitas Kota Kata



Sebuah Restrospeksi Satu Tahun Komunitas Kota
Oleh Rizqi Turama

“Ada rencana busuk apa ini?”
Itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut saya pada kisaran Desember 2015. Pasalnya sepulang saya dari merantau, ada dua orang junior saya yang menghubungi minta bertemu. Dua-duanya saya tahu sebagai orang yang gila, gila sastra. Sebenarnya tanpa ditanyakan pun, saya tahu maksud mereka mengajak bertemu itu.
Ada kegelisahan tentang iklim sastra di sini. Mungkin karena mereka pikir saya punya sedikit hal yang bisa dibagikan setelah merantau ke kota yang kehidupan sastranya begitu semarak, mereka pun menanyakan pendapat saya. Di pertemuan itu, saya tangkap bahwa sebenarnya mereka (juga saya) butuh wadah untuk berbagi, bercerita, bertukar pikiran, dan sebagainya di bidang sastra. Maka saya pun menceritakan salah satu bentuk kegiatan yang rutin dilaksanakan di PKKH UGM. Dan kami bersepakat untuk meniru dan mengadaptasi bentuk diskusi itu.
Tanggal 9 Januari 2016, yang kemudian disepakati sebagai hari ulang tahun Kota Kata, diskusi pertama komunitas ini terselenggara. Diskusi pertama yang cukup meriah untuk kategori diskusi sastra di kota ini. Bahkan diskusi tersebut diliput oleh Kompas TV Palembang, juga didatangi oleh wartawan Sriwijaya Pos. Keberadaan Kota Kata pun tersiar di kedua media itu. Setelah itu, saya dan teman-teman beberapa kali diundang wawancara ke sejumlah media seperti Kompas TV Palembang pada bulan April, ke Sriwijaya TV pada bulan Oktober, dan ke radio Trijaya FM pada bulan Desember. Sebagai sebuah komunitas yang masih mencari bentuk, publikasi dari berbagai media seperti itu memberikan semangat tersendiri. Semangat untuk, dalam bahasa kekinian, eksis.
Namun, kami juga sadar bahwa sekadar eksis tidaklah cukup. Eksis juga harus diimbangi dengan isi yang berbobot. Maka di awal-awal terbentuknya, para pendiri Kota Kata bersepakat untuk membuat sebuah diskusi yang terstruktur, membedah cerpen berdasarkan unsur-unsurnya: tokoh, karakter, plot, setting, kalimat pertama, dan seterusnya. Di masa-masa itu, hanya ada satu cerpen karya penulis terkenal yang dibahas dalam pertemuan Kota Kata yang diadakan per dua pekan. Jika tema pertemuan adalah plot, maka cerpen itu kami kulik habis plotnya. Jika tema pertemuan adalah setting, jadilah setting yang kami kulik-kulik. Begitu seterusnya.
Sampai semua unsur pembentuk cerpen selesai, langkah berikutnya adalah membuat cerpen. Kami pun mulai membahas cerpen buatan anak Kota Kata sendiri. Berarti, sejak itu ada dua cerpen yang dibahas di diskusi Kota Kata: satu karya penulis terkenal, dan satu karya anak Kota Kata. Beberapa kali diskusi diselingi dengan menulis bersama-sama. Intinya, Kota Kata mengajak semua anggotanya untuk berkarya dan tak takut karyanya ‘dikuliti’ agar tulisan tersebut jadi lebih baik.
Hingga kini di usianya yang mencapai satu tahun, Kota Kata masihlah sebuah komunitas yang mencari bentuk. Sebagaimana semua selebrasi dan peringatan penambahan usia, ada banyak kata ‘semoga’ yang berhamburan. Di antaranya adalah semoga Kota Kata semakin solid, semakin menunjukkan wujud dan bentuknya. Semoga dalam bentuknya di masa-masa yang akan datang, akan ada semakin banyak orang yang merasa memiliki Kota Kata. Sehingga jika dipanggil lagi untuk eksis di berbagai media, sudah bukan lima pendirinya lagi yang terus-terusan tampil, tapi juga para suksesor. Semoga dari Kota Kata lahir penulis-penulis dan tulisan-tulisan berkualitas.
Semoga apa lagi? Mari kita lanjutkan, tidak dalam tulisan ini, tapi lewat tindakan. Tindakan-tindakan yang membuat ‘virus’ sastra semakin tersebar di kota kita. Tindakan yang mungkin akan memunculkan pertanyaan, “Ada rencana busuk apa lagi ini?”


ART.
Banyuasin, 9 Januari 2017.

Kamis, 03 November 2016

Profesor Bermulut Runcing

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Pantura pada 26 Agustus 2016, lalu dimuat ulang di Kompas pada 27 November 2016



Setiap hari ia memoles bibir, bukan dengan lipstik, tapi dengan darah yang mengucur dari jantung orang-orang di sekitarnya. Bibirnya yang runcing itu mampu merobek jantung dengan sangat lincah. Tak hanya runcing, bibir itu juga tajam selayaknya gunting yang dipakai dokter ketika akan menyunat sekelumit kulit hingga terlepas dari tempatnya. Membuat darah menetes dan ia tadahi untuk kemudian disapukan ke bibir.
Malam hari, sepulang dari mengajar di universitas, ia selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Memeriksa kondisi bibir. Jika bayangan memantulkan warna bibir yang lebih merah ketimbang sebelum ia berangkat, senyum profesor kita akan mekar. Ia melihat senyum di cermin itu menyerupai mawar yang merekah di pagi hari cerah dengan sedikit embun tersisa dan berlatarkan kuning emas matahari yang belum silau, sempurna. Namun, jika bibirnya malam itu sama merah dengan sebelum ia berangkat mengajar, ia akan merasa menjadi orang yang merugi. Lebih parah lagi jika kadar merah di bibir itu berkurang, sesungguhnya ia adalah orang yang celaka. Tak jarang mimpi buruk mengetuk tidurnya dan bertandang ketika bibir itu tak semerah hari kemarin.
“Seorang profesor sepertiku harus selalu tampak cantik, dan wanita cantik adalah wanita yang bibirnya selalu merah,” begitulah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh profesor kita. Maka jangan heran jika ia selalu membawa batu asah, itu untuk mengasah bibirnya agar semakin runcing dan tajam hingga mempermudahnya mendapatkan darah segar untuk dioleskan ke bibirnya.
***

Jauh hari sebelum profesor kita menjadi profesor dan baru saja lulus sebagai doktor, tujuh tahun lalu tepatnya, ia mendapati bahwa suaminya berselingkuh. Suaminya ingin berkelit, tapi ketika melihat doktor itu memegang telepon genggam yang isinya adalah percakapan mesrum (mesra dan mesum) dengan orang lain, sang suami membatalkan niat tersebut. Dengan geraham yang bergemelutuk, napas tersengal, dan air yang mengambang di pelupuk mata, doktor yang belum jadi profesor itu berkata, “Aku ingin bertemu dengan selingkuhanmu.”
Sang suami berusaha mencegah dan mengalihkan pembicaraan, tapi ia sadar bahwa istrinya adalah seorang yang cerdas. Apalagi telepon genggam tersebut sudah di tangan sang istri, hanya menunggu waktu kedua wanita yang ia nikmati tubuhnya tersebut akan bertatap muka.
Karena tak ada pilihan lain, sang suami pun mencari tempat yang aman untuk pertemuan keduanya. Ia juga telah menyingkirkan semua barang pecah belah atau benda-benda lain yang mungkin akan digunakan untuk saling melukai jika perkelahian terjadi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan sang suami.
Sama sekali tak terjadi perkelahian antarwanita. Tak ada saling jambak ataupun saling cakar. Mereka hanya saling tatap dalam waktu yang entah berapa lama. Sang suami tak sempat menghitung menit yang berlalu karena di tengkuknya ada sebuah beban yang membuatnya hanya bisa tertunduk.
Sang doktor, selama saling bertatapan dengan selingkuhan suaminya, sedikit kecewa karena tak ada yang istimewa dengan fisik saingannya itu. Hanya satu yang mencolok dari wanita yang ia laknat sepanjang sisa umurnya tersebut. Bibir. Belum pernah ia melihat bibir yang begitu merah mengilap dan mencolok.
Ia baru akan membuka mulut untuk bertanya kenapa bibir sang wanita selingkuhan bisa begitu merah saat si selingkuhan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah sudut yang teramat tajam. Dengan sedikit gerakan, bibir itu mengarah ke jantung sang doktor. Sedikit beruntung karena sang doktor sempat mengelak. Jantungnya selamat, tapi ketajaman bibir itu dirasakan oleh hatinya. Mengerti bahwa sang wanita selingkuhan bukanlah musuh yang bisa ia hadapi, sang doktor memutuskan untuk pergi dengan hati berdarah.
Ketika hendak melangkah pergi itulah ia sempat menoleh dan mendapatkan sang wanita selingkuhan sedang mengoles bibir dengan darah yang tercecer dari hatinya. Hari itu merupakan hari yang tak terlupakan oleh sang doktor. Ia menyimpulkan selingkuhan itu memiliki sesuatu yang tak ia miliki, bibir yang begitu merah, tajam, dan runcing. Mungkin itulah yang memikat suaminya, kecantikan yang tak ia mengerti. Sejak hari itu juga, doktor kita memutuskan akan menunjukkan bahwa dirinya tidak takluk.
“Aku akan memiliki bibir yang lebih merah dari pada wanita laknat itu. Saat itu suamiku akan mengemis untuk kembali, dan aku akan mencampakkannya dengan senang hati,” begitu tekadnya.
***

Dari waktu ke waktu, sang doktor terus mengasah bibir dan mulutnya agar runcing dan tajam. Namun kemudian ia sadar bahwa itu saja tak cukup. Ia butuh jadi orang yang punya pengaruh dan bisa tampil di depan umum agar ketajaman bibir itu bisa berguna. Jika kariernya hanya berhenti pada level doktor, ia tak akan bisa memperluas ‘wilayah kekuasaan’. Ia harus menjadi lebih dari sekadar doktor. Di dunia akademik, hanya level profesor yang sering diundang memberi kuliah di berbagai tempat. Tak hanya di pulau tempatnya berada saja, tapi juga ke seluruh penjuru nusantara. Maka ia pun mematok target baru: menjadi profesor.
Setelah berjuang mati-matian, jilat sana-sini, meludah, terus menjilat lagi, ditambah dengan sedikit penelitian yang ia lakukan di universitas, sedikit publikasi, jilat lagi, ludah lagi, jilat lagi, akhirnya profesor kita mendapatkan gelar profesor.
Ia senang bukan buatan. Dengan jadi profesor, ia bisa mendatangi berbagai tempat. Memberikan kuliah di sana-sini. Mendapatkan sambutan hangat di mana-mana – sebab ada banyak orang yang mau menjilati ia sampai ke getah-getah terakhir. Dan yang lebih penting adalah ia bisa bertemu orang banyak dan mempergunakan keruncingan mulutnya dengan objek yang berganti-ganti.
Banyak jantung dikoyak dan berdarah. Bibirnya semakin runcing dan merah. Ia bahagia.
***

Satu hal yang tidak disadari oleh sang profesor adalah seiring dengan semakin tajamnya mulutnya, mulut itu juga tumbuh semakin panjang, sedikit melengkung ke bawah. Tepatnya ke arah jantungnya sendiri. Ia tak sadar karena ia hanya fokus pada warna merah yang bertengger di sana. Merahnya sudah hampir sempurna. Mungkin tinggal mendapatkan satu korban dengan kadar merah pada darah yang tepat, ia sudah akan mencapai tingkat kesempurnaan pemilik bibir merah.
Dalam sebuah seminar tingkat nasional, ia sumringah karena ada salah satu dosennya dulu menjadi peserta. Darah seorang dosen senior yang telah punya banyak mahasiswa, tentu akan lebih dari cukup. Dia akan jadi pelengkap dan penyempurna bagi ketajaman mulutku. Setelah mendapatkan darahnya, aku akan mendatangi suamiku. Begitulah yang dipikirkan sang profesor.
Sambil mendongakkan kepala dan menunjuk orang yang pernah jadi dosennya itu, sang profesor berkata, “Beliau ini dulu dosen saya, tapi sekarang saya jadi promotornya di S-3. Dulu dia yang selalu jadi narasumber bagi saya, sekarang saya yang jadi pemateri dan dia hanya peserta.”
Kemudian ia mengerahkan teknik terbaik yang ia tahu untuk mengoyak jantung orang dengan menggunakan mulut. Sial bagi sang profesor, sebab dosennya itu dilindungi oleh sebuah kaca tak kasat mata. Kaca yang begitu keras dan tak bisa ditembus oleh mulutnya. Tak sedikit pun dosen itu terluka.
Kenyataan itu membuat sang profesor justru penasaran. Di sisa seminar, ia terus menggerakkan bibirnya. Menyerang dosennya dari berbagai penjuru. Bunyi ‘ting-ting-ting’ terdengar nyaring ketika mulutnya itu bertabrakan dengan kaca pelindung dosen. Ia mulai lelah, tapi marah.
Dengan sekuat tenaga ia melancarkan serangan penghabisan. Berharap kaca itu akan pecah dan mulutnya mampu mengoyak jantung sang dosen. Namun apa daya. Kaca itu bergeming. Justru mulut sang profesor yang runcing dan bengkok itu jadi semakin bengkok. Karena kekeraskepalaannya, mulut itu menikam jantungnya sendiri.
JLEB.
Sang profesor terkapar dengan darah mengucur dari jantungnya. Peserta seminar panik. Beberapa pengikut setianya menuding-nuding dosen yang terlindungi oleh kaca tak kasat mata, mengatkan bahwa dosen itu pasti telah merencanakan pembunuhan. Beberapa yang lain menyatakan bahwa sang profesor telah melakukan bunuh diri terencana. Sisanya, dan jumlahnya paling banyak, hanya diam dan tak mengerti apa yang terjadi.
Sementara itu, sang profesor megap-megap kehabisan pasokan oksigen dari jantung yang telah bolong. Mulutnya masih menancap di jantung sehingga ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya bola matanya yang selama ini kering, perlahan dihiasi embun pagi. Di detik-detik terakhir, bayangan mantan suami dan selingkuhannya melintas. Profesor itu lalu mengembus napas terakhir, lewat hidung.
Dosennya yang sejak tadi tak bereaksi, menitikkan air mata saat melihat anak didiknya mati. Kaca tak kasat mata itu menghilang. Ia mendekati mayat. Orang-orang seperti tersihir dan memberikan jalan. Perlahan dicabutnya mulut mantan mahasiswanya yang masih menancap di jantung. Lalu terpampanglah sebuah bibir yang begitu merah. Sempurna. Merah yang tak ada cacatnya.
Tapi bibir itu juga begitu tajam. Tangan sang dosen terluka. Tangisnya pecah. Orang-orang terperangah.
***

Palembang, 29 April 2016
ART.

Selasa, 22 Desember 2015

Ulasan Buku "Tempat Paling Sunyi" Karya Arafat Nur

Berikut ini ulasan subjektif saya mengenai "Tempat Paling Sunyi" karya Arafat Nur:

Membaca buku Arafat Nur mungkin tidak bisa dilepaskan dari pengalaman membaca Lampuki. Apalagi saya membaca buku ini tidak lama setelah membaca buku Lampuki. Jika dibandingkan, tempo yang ada dalam Tempat Paling Sunyi jauh lebih lambat ketimbang tempo yang ada di dalam Lampuki. Walaupun latarnya tetap berada di Aceh, tapi novel ini bisa dibilang 'bertolak belakang' dengan Lampuki.

Saat membaca bagian-bagian awal buku ini, saya sempat berpikir, "Jangan-jangan ini pengalaman pribadi Arafat Nur." Kemungkinan itu ada dan selalu ada, walaupun seandainya pun memang pengalaman pribadi, itu tak masalah. Mau pengalaman ataupun bukan, penulis yang baik tetap akan menyajikan cerita dengan baik. Seandainya pun itu bukan pengalaman pribadi, juga tak masalah, karena sejatinya tidak ada karya yang benar-benar lepas dari fakta dan juga tak ada karya yang sepenuhnya lepas dari fiksi.

Arafat Nur, menurut saya, mampu menyampaikan kritik terhadap orang-orang yang beragama hanya di permukaan lewat tokoh istri pertama dan ibu mertua tokoh utama. Agama yang hanya dilakukan melalui ritual-ritual, tapi nilai-nilai dan esensinya tidak dijalankan dan menjadi landasan bertindak. Orang-orang semacam ini, sejauh yang saya tangkap dalam novel ini, menjadi biang kerok kekacauan-kekacauan yang terjadi. Parahnya lagi, mereka tidak menyadari bahwa kekacauan itu disebabkan oleh mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak tahu bahwa ada kekacauan.

Selain kritik terhadap orang-orang tersebut, saya juga menangkap kegelisahan tentang nasib penulis sastra pada umumnya, dan khususnya novel. Di sini Arafat Nur memberikan gambaran ekstrem yang menyatakan bahwa penulis novel hanyalah orang-orang yang kurang kerjaan dan mengisi waktu secara tidak bermanfaat. Meskipun tentu saja tidak semua orang berpendapat demikian, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa memang menulis di negeri ini belum bisa menjanjikan kelayakan hidup jika dijadikan sumber penghidupan. Saya juga menangkap hal tersebut tidak terlepas dari masih rendahnya minat baca masyarakat. Akibatnya novel, dan karya sastra lainnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat.

Selain dua hal tersebut, tentu ada banyak kritik-kritik lain yang dimuat Arafat Nur di dalam novelnya ini. Hal yang menarik adalah hampir semuanya, kalau tidak bisa dibilang semua, disampaikan secara satir. Menertawakan kesedihan, dan inilah memang yang menjadi poin lebih dari tulisan-tulisan Arafat Nur. Mungkin juga menjadi ciri khas yang dipilih secara sadar olehnya.

Hanya saja, sebagaimana gading yang pasti retak, buku ini pun memiliki beberapa poin yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya. Kejadian-kejadian ataupun sifat dan sikap yang dimiliki oleh tokoh-tokoh di dalam novel ini tak jarang begitu ekstrem, sehingga menjadi hiperbolis. Boleh dibilang, ada bagian-bagian yang keluar dari logika real, mengingat ini adalah novel yang realistis, maka hal yang berlebihan tentu cukup mengganggu.

Satu contoh yang dapat saya ambil adalah tentang begitu dungunya istri pertama dan mertua tokoh utama. Di dalam buku ini dinyatakan bahwa kedua tokoh tersebut begitu dungu sampai-sampai mereka tak tahu bahwa bumi itu berbentuk bulat. Keduanya percaya bahwa bumi itu datar saja. Tentu ini mengganggu, sebab di bagian lain dinyatakan bahwa istri pertama tokoh utama adalah lulusan sekolah menengah. Fakta bahwa bumi berbentuk bulat seperti bola sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Maka penggambar tentang kedunguan kedua orang tersebut menjadi hiperbolis dan tidak lagi realistis.

Ini hanyalah satu contoh yang saya paparkan. Masih ada banyak contoh-contoh lain yang bisa Anda temukan sendiri ketika membaca Tempat Paling Sunyi. Secara keseluruhan pun saya pribadi lebih menyukai Lampuki ketimbang Tempat Paling Sunyi. Meskipun demikian, buku ini pada dasarnya tetap saja sebuah buku yang menarik dan enak dibaca.

Demikian pendapat subjektif saya mengenai buku ini. Mungkin banyak pendapat saya tersebut yang salah, walaupun mungkin juga ada yang benar.
Salam.

ART.