Berikut ini ulasan subjektif saya mengenai "Tempat Paling Sunyi" karya Arafat Nur:
Membaca buku Arafat Nur mungkin tidak bisa dilepaskan dari pengalaman membaca Lampuki. Apalagi saya membaca buku ini tidak lama setelah membaca buku Lampuki. Jika dibandingkan, tempo yang ada dalam Tempat Paling Sunyi jauh lebih lambat ketimbang tempo yang ada di dalam Lampuki. Walaupun latarnya tetap berada di Aceh, tapi novel ini bisa dibilang 'bertolak belakang' dengan Lampuki.
Saat membaca bagian-bagian awal buku ini, saya sempat berpikir, "Jangan-jangan ini pengalaman pribadi Arafat Nur." Kemungkinan itu ada dan selalu ada, walaupun seandainya pun memang pengalaman pribadi, itu tak masalah. Mau pengalaman ataupun bukan, penulis yang baik tetap akan menyajikan cerita dengan baik. Seandainya pun itu bukan pengalaman pribadi, juga tak masalah, karena sejatinya tidak ada karya yang benar-benar lepas dari fakta dan juga tak ada karya yang sepenuhnya lepas dari fiksi.
Arafat Nur, menurut saya, mampu menyampaikan kritik terhadap orang-orang yang beragama hanya di permukaan lewat tokoh istri pertama dan ibu mertua tokoh utama. Agama yang hanya dilakukan melalui ritual-ritual, tapi nilai-nilai dan esensinya tidak dijalankan dan menjadi landasan bertindak. Orang-orang semacam ini, sejauh yang saya tangkap dalam novel ini, menjadi biang kerok kekacauan-kekacauan yang terjadi. Parahnya lagi, mereka tidak menyadari bahwa kekacauan itu disebabkan oleh mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak tahu bahwa ada kekacauan.
Selain kritik terhadap orang-orang tersebut, saya juga menangkap kegelisahan tentang nasib penulis sastra pada umumnya, dan khususnya novel. Di sini Arafat Nur memberikan gambaran ekstrem yang menyatakan bahwa penulis novel hanyalah orang-orang yang kurang kerjaan dan mengisi waktu secara tidak bermanfaat. Meskipun tentu saja tidak semua orang berpendapat demikian, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa memang menulis di negeri ini belum bisa menjanjikan kelayakan hidup jika dijadikan sumber penghidupan. Saya juga menangkap hal tersebut tidak terlepas dari masih rendahnya minat baca masyarakat. Akibatnya novel, dan karya sastra lainnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat.
Selain dua hal tersebut, tentu ada banyak kritik-kritik lain yang dimuat Arafat Nur di dalam novelnya ini. Hal yang menarik adalah hampir semuanya, kalau tidak bisa dibilang semua, disampaikan secara satir. Menertawakan kesedihan, dan inilah memang yang menjadi poin lebih dari tulisan-tulisan Arafat Nur. Mungkin juga menjadi ciri khas yang dipilih secara sadar olehnya.
Hanya saja, sebagaimana gading yang pasti retak, buku ini pun memiliki beberapa poin yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya. Kejadian-kejadian ataupun sifat dan sikap yang dimiliki oleh tokoh-tokoh di dalam novel ini tak jarang begitu ekstrem, sehingga menjadi hiperbolis. Boleh dibilang, ada bagian-bagian yang keluar dari logika real, mengingat ini adalah novel yang realistis, maka hal yang berlebihan tentu cukup mengganggu.
Satu contoh yang dapat saya ambil adalah tentang begitu dungunya istri pertama dan mertua tokoh utama. Di dalam buku ini dinyatakan bahwa kedua tokoh tersebut begitu dungu sampai-sampai mereka tak tahu bahwa bumi itu berbentuk bulat. Keduanya percaya bahwa bumi itu datar saja. Tentu ini mengganggu, sebab di bagian lain dinyatakan bahwa istri pertama tokoh utama adalah lulusan sekolah menengah. Fakta bahwa bumi berbentuk bulat seperti bola sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Maka penggambar tentang kedunguan kedua orang tersebut menjadi hiperbolis dan tidak lagi realistis.
Ini hanyalah satu contoh yang saya paparkan. Masih ada banyak contoh-contoh lain yang bisa Anda temukan sendiri ketika membaca Tempat Paling Sunyi. Secara keseluruhan pun saya pribadi lebih menyukai Lampuki ketimbang Tempat Paling Sunyi. Meskipun demikian, buku ini pada dasarnya tetap saja sebuah buku yang menarik dan enak dibaca.
Demikian pendapat subjektif saya mengenai buku ini. Mungkin banyak pendapat saya tersebut yang salah, walaupun mungkin juga ada yang benar.
Salam.
ART.
Selasa, 22 Desember 2015
Sabtu, 31 Oktober 2015
Ulasan Novel "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono
Berikut ini ulasan subjektif saya tentang novel ini:
Beberapa teman saya yang mengaku penggemar berat Sapardi mengungkapkan kekecewaan mereka setelah membaca buku ini. Mereka menyatakan bahwa bentuk puisi "Hujan Bulan Juni" jauh lebih bermakna dan mendalam ketimbang bentuk novelnya ini.
Namun, saya tidak terlalu sepakat dengan pendapat teman-teman saya itu. Saya pikir, mungkin mereka terjebak dalam ekspektasi berlebihan dari novel ini, sehingga ketika mereka tidak mendapatkan yang diharapkan, mereka pun kecewa. Sementara, saya yang membaca novel ini tanpa ekspektasi tertentu, merasa buku ini cukup berkesan.
Tema yang diangkat dalam novel ini lebih cenderung ke arah romance. Mungkin itu disebabkan bentuk puisinya juga lebih kental nuansa romansanya. Meskipun begitu, perlu digarisbawahi bahwa novel ini tidak menyajikan cerita romansa picisan anak SMA yang penuh adegan-adegan layaknya sinetron masa kini. Saya justru menangkap bahwa romansa yang ditampilkan justru menjadi pintu masuk untuk menyampaikan masalah-masalah yang lebih kompleks, tentang pertentangan budaya dan agama misalnya.
Cara bercerita Sapardi di novel ini juga tergolong ringan dan mengalir, namun sekali lagi, berkelas. Saya merasa bahwa puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, sejauh yang saya tahu, jarang menggunakan kata-kata sulit atau arkais, tapi bisa memberikan kesan mendalam. Singkatnya, puisi-puisi Sapardi itu mewah dalam kesederhanaannya. Itu juga yang saya tangkap ketika membaca cara bercerita Sapardi dalam novel ini. Tidak neko-neko. Tidak aneh-aneh. Sederhana saja, tapi entah kenapa terasa asik, menyenangkan, dan berkesan. Tidak aneh yang saya maksud di sini, ketika dibandingkan dengan novelnya yang "Trilogi Soekram" misalnya.
Untuk masalah data dan riset, terlihat jelas bahwa Sapardi tidak main-main untuk novel ini. Ia bisa menyampaikan gambaran beberapa budaya dengan cukup terinci. Poin plusnya lagi, detil-detil tersebut bisa dimasukkan ke dalam cerita tanpa mengganggu alur dan cara bertutur. Sepanjang pembacaan saya, tidak ada fakta-fakta yang seperti dipaksakan untuk masuk ke dalam buku ini. Detil-detil itu justru menjadi bahan yang bersatu membangun sebuah cerita yang menarik.
Jadi, saya pikir novel ini cukup berkesan dan menarik untuk dibaca. Tapi bagi yang pernah membaca bentuk puisinya, jangan membaca novel ini dengan ekspektasi yang terlalu tinggi sebab hal tersebut kemungkinan besar akan membuat anda kecewa. Perlu disadari bahwa memang puisi memberikan ruang yang lebih luas untuk penafsiran-penafsiran dan kesan individual, hal itu tentu akan berbeda ketika bentuknya diubah menjadi prosa. Ada ruang-ruang pemaknaan yang dipersempit, itu wajar dan sah-sah saja dan tidak menjadikan prosa tersebut kurang 'bernilai'.
Demikian ulasan subjektif saya mengenai novel ini. Mungkin banyak yang keliru, tapi mungkin juga ada beberapa yang benar.
Salam.
ART.
Jakarta, 31 Oktober 2015.
Selasa, 29 September 2015
Ulasan Buku "Gandamayu" Karya Putu Fajar Arcana
Berikut ini ulasan subjektif saya terhadap buku karya Bli Can ini:
Bahasa yang digunakan dalam novel ini tergolong ringan. Tidak terlalu banyak bunga-bunga kata. Apalagi saya membaca buku ini setelah lebih dulu membaca Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata, yang dari halaman pertama sampai halaman akhir konsisten menggunakan kalimat yang 'meliuk-liuk'. Jadi, saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam menikmati cerita yang disuguhkan oleh Bli Can dalam novel ini. Secara garis besar, sepertinya Bli Can ingin menggabungkan dua dunia dalam satu novel, yaitu dunia wayang dan dunia nyata, dan menurut saya, dalam beberapa poin penggabungan tersebut cukup berhasil.
Ketika bercerita tentang dunia wayang, tampak bahwa Bli Can benar-benar menguasai atau telah melakukan riset yang mendalam mengenai hal yang ia ceritakan. Saya yang terlahir bukan dari keluarga pencinta wayang sebelumnya hanya tahu sedikit-sedikit tentang cerita peperangan di padang kurusetra serta peperangan Baratayudha. Ketika membaca atau mendengarkan cerita itu pun, umumnya yang menjadi fokus cerita adalah tentang kehebatan para pandawa. Makanya, ketika mendapatkan bahwa novel ini menceritakan tentang Dewi Durga, sesuatu yang sejauh pengetahuan saya masih jarang dikait-kaitkan dengan perang besar itu, saya menjadi tertarik. Menurut saya, mengambil tokoh-tokoh minor untuk kemudian dijadikan pokok persoalan dalam sebuah cerita tersendiri selalu menarik, dan belakangan ini hal tersebut menjadi populer di kalangan beberapa penulis.
Bli Can pun tak kalah kuat saat menceritakan tentang bagian dunia nyata yang berlatar budaya Bali. Mungkin sebagian orang akan berkata hal tersebut wajar karena Bli Can adalah orang Bali. Tapi bagi saya, menjadi bagian dari masyarakat tertentu tidak menjadi jaminan bahwa kita bisa menulis budaya masyarakat tersebut dengan baik. Dengan kata lain, tetap harus ada upaya serius yang dilakukan agar bisa memahami dan menuliskan budaya tersebut menjadi cerita yang menarik. Sekali lagi, menurut saya Bli Can sukses dalam hal ini.
Hanya saja, sebagaimana bunyi peribahasa lama, tidak ada gading yang tak retak. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu saya selama membaca Gandamayu. Pertama, sejak halaman-halaman awal, saya sudah merasakan ada bagian-bagian tertentu dari novel tersebut yang terlalu berceramah. Terutama ketika menyoroti dominasi laki-laki terhadap wanita. Mungkin karena terlalu bersemangat, atau entah karena apa, bagian tersebut seperti dipaksakan untuk hadir. Sehingga saya merasa untuk bagian-bagian yang 'berceramah' itu saya merasa kehilangan feel dari novelnya.
Hal kedua yang cukup mengganggu saya adalah sering munculnya kosa kata yang terlalu modern dan akademis ketika penulisnya bercerita tentang dunia pewayangan. Tentu tidak menjadi masalah kalau kata-kata canggih tersebut digunakan saat penulis bercerita tentang dunia nyata yang terjadi saat ini. Tapi, munculnya kata 'dominasi, diplomasi, konflik masyarakat,' dan sejenisnya saya rasa kurang pas ketika itu digunakan saat menceritakan tentang pewayangan.
Berikutnya, yang saya garis bawahi adalah persoalan dua alur cerita dalam satu novel. Memang Bli Can telah memberikan sebuah pengait antara cerita keduanya, namun saya pribadi merasa pengait yang diberi itu kurang kuat. Entah ini hanya perasaan saya saja atau memang benar adanya, namun dua cerita itu berdiri sendiri-sendiri. Saya mengharapkan ada peleburan yang lebih kuat antara keduanya dan menjadikannya sebuah cerita utuh yang benar-benar tidak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain. Mungkin peleburan antara dua dunia sebagaimana yang ditunjukkan SGA dalam Kitab Omong Kosong adalah bentuk peleburan yang saya harapkan.
Demikian ulasan saya. Sangat mungkin salah, tapi mungkin juga ada benarnya. Semoga bermanfaat.
ART.
Yogyakarta,
29 September 2015
Sabtu, 29 Agustus 2015
Ulasan Buku "The Swan" Karya Dewi Ria Utari
Secara jujur saya nyatakan bahwa saya membeli buku ini karena melihat nama penulisnya. Dewi Ria Utari adalah penulis yang cerpen-cerpennya beberapa kali masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas. Itu berarti saya mengenalnya sebagai seorang penulis karya sastra serius, sastra yang berat. Lalu, karena saya sedang ingin membaca sesuatu yang berat, dan di toko buku saya melihat nama Dewi Ria Utari, tanpa pikir panjang, saya ambil buku The Swan ini.
Dan ternyata ini adalah buku teenlit. Ada rasa kecewa (karena waktu itu saya benar-benar sedang ingin membaca yang agak berat, bukan cinta-cintaan anak sekolah), juga menyesal karena saya tidak lebih dulu melihat blurb yang ada di sampul bagian belakang buku ini. Tapi kemudian tetap saya baca buku ini sampai habis. Saya menganggap ini sebagai 'sisi lain' Dewi Ria Utari yang belum saya ketahui.
Saya tidak terlalu banyak membaca buku dengan tema romance anak sekolah, tapi sepertinya buku ini memberikan beberapa tawaran yang agak baru. Misalnya, tokoh cowok utama bukan anak basket, anak band, ataupun ketua osis. Tokoh utama di novel ini pun bukan cewek cantik dan pintar yang jadi rebutan seantero sekolah, justru seorang yang minder karena ia tak secantik mamanya.
Selain itu, novel ini tidak hanya menyajikan konflik cinta remaja saja. Ada juga side-story yang cukup menarik tentang keluarga , yaitu tentang konflik antara tokoh utama dengan ayahnya. Clarissa menuduh papanya telah berselingkuh sehingga ia pun melakukan 'detektif-detektifan' dan beraksi mencari bukti atas benar tidaknya tuduhannya itu.
Hanya saja, menurut saya, cuma itu yang menjadi kelebihan dari novel ini. Sebab sisanya sudah bisa ditebak, tipikal. Ending cerita sudah bisa ditebak sejak awal membaca halaman pertama. Tidak ada kejutan yang 'waw'. Juga tidak ada bagian yang mengaduk-aduk perasaan pembaca dan membuat pembaca benar-benar merasa terlibat dalam cerita yang disajikan penulisnya.
Jadi, saya tetap lebih menyukai tulisan Dewi Ria Utari yang berupa sastra serius. Saya yakin penilaian saya ini sangat subjektif. Sebab kemungkinan besar saya tidak bisa terlalu menikmati The Swan ini karena dunia para model (yang ada di novel ini) adalah dunia yang tidak terjangkau oleh saya, dunia yang jauh dan hanya di angan-angan saya belaka. Atau mungkin juga karena saya sudah terlalu tua untuk membaca cerita cinta remaja yang masih SMP dan SMA.
Ulasan "Animal Farm" Karya George Orwell
Buku ini tipis sebab ia memang tergolong novelet (sebagian orang menyebutnya novela), tapi kesan yang ditimbulkan setelah membacanya sangat dalam. Tentu ada beberapa, bahkan banyak sekali, interpretasi yang bisa muncul dari prosa George Orwell ini. Namun, yang saya tangkap terutama adalah mengenai kritiknya akan pemerintahan sebuah negara.
Mimpi babi putih, Major, yang menyuarakan kemerdekaan akhirnya tercapai tak lama setelah kematian sang babi tua. Tapi ternyata kemerdekaan itu patut dipertanyakan maknanya dan di sinilah kepandaian George Orwell menyampaikan kritik terlihat. Kemerdekaan yang diimpikan ternyata hanya sebuah euforia sementara. Setelah merdeka, ada perebutan kekuasaan, misalnya antara Snowball dan Napoleon. Rakyat (binatang-binatang lain di peternakan itu) tidak bisa ikut memberikan saran ataupun kritik pada keduanya karena tidak secerdas para babi. Mereka hanya mengangguk mengiyakan apa yang menurut mereka dapat mereka mengerti.
Di masa pemerintahan Snowball, sejak awal, terlihat korupsi dan kolusi yang terselubung. Atas nama bekerja keras dan mengelola pemerintahan (peternakan), para babi diberikan hak istimewa. Makanan yang lebih enak dan banyak, tempat yang lebih layak, dan beberapa hal lain. Kemudian Snowball dikudeta oleh Napoleon yang menggunakan anjing-anjing galak yang telah dilatihnya sedemikian rupa. Saya menangkap bahwa anjing-anjing ini adalah metafora yang digunakan Orwell untuk menyebut pihak militer. Dengan menggunakan anjing-anjing itu sebagai sebuah ancaman, tidak ada yang berani mengkritik ataupun menolak perintah Napoleon. Dengan serta merta, Napoleon menjadi seekor babi pemimpin yang harus ditaati semua kehendaknya. Siapa yang berani melawan, akan dibantai. Siapa yang berani bersuara, akan dianggap sebagai pemicu tindakan subversi.
Sementara itu, rakyat tetap sengsara. Baik sebelum ataupun sesudah kemerdekaan, mereka tetap harus mencari makan sendiri. Bedanya, setelah merdeka, terutama di bawah pemerintahan Napoleon, mereka juga harus bekerja untuk jalannya pemerintahan. Memberikan pajak untuk keistemewaan penyelenggara pemerintahan, sampai pada pembangunan proyek yang mereka sendiri tak mengerti apa manfaatnya untuk mereka.
Boxer, seekor kuda pekerja yang paling loyal, yang setia pada pemimpinnya karena percaya pemimpin hanya ingin memberikan yang terbaik pada rakyatnya, akhirnya justru ditumbalkan. Boxer, yang sudah memberikan seluruh yang ia punya untuk pemerintahan peternakan itu, dikirim ke rumah jagal tepat setelah tenaganya tidak bisa dipakai lagi. Nasib masyarakat hewan yang ada di peternakan itu pun tidak lebih baik. Mereka, di tengah kemerdekaannya, diperbudak oleh seekor babi pemimpin bernama Napoleon yang dijaga anjing-anjing galak. Di akhir, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Napoleon duduk semeja dan makan bersama dengan manusia yang mereka anggap sebagai penjajah. Bahkan para hewan pun kemudian tidak bisa membedakan lagi, mana babi pemimpin mereka dan mana manusia yang menjajah mereka, karena mereka semua jadi serupa.
Mungkin, di antara semua binatang di peternakan tersebut, yang paling bahagia adalah Mollie. Sebab Mollie tidak pernah merasakan penderitaan sebagaimana binatang-binatang lain. Ia memilih pergi keluar dari peternakan itu dan dipelihara oleh manusia yang memperlakukannya dengan baik. Ia tidak ambil pusing dengan kemerdekaan peternakan, ataupun keterjajahannya. Yang ia pikirkan hanyalah kemauannya sendiri dan ia mendapatkannya. Karena itulah ia bahagia dengan caranya sendiri. Mungkin.
Ada banyak hal lain yang menjadi kelebihan George Orwell di buku ini. Tidak bisa saya jabarkan semua di blog ini karena keterbatasan saya. Yang jelas, saya mengungkapkan rasa salut terhadap penulis buku ini dan merasa bahwa wajar buku ini mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi. Juga, saya merasa perlu mengapresiasi Alm. Prof. Bakdi Soemanto sebagai penerjemah buku ini. Karena terjemahan beliau sangat nyaman untuk dibaca. Tidak ada satu bagian pun yang membuat saya tersendat karena alasan terjemahan selama saya membaca buku ini.
Sabtu, 11 Juli 2015
Sniper 2: Operasi Bawah Tanah
Buku ini merupakan lanjutan atau sekuel dari novel pertama yang berjudul "Sniper: Operasi Bunuh Diri". Saya menerima beberapa, kalau tidak bisa dibilang banyak, respons dari pembaca yang geregetan dengan ending di novel pertama. Mungkin juga tidak sedikit yang kecewa. Tapi di buku kedua ini, saya menerangkan dan mengungkapkan kenapa sampai buku pertama bisa berakhir sebagaimana telah tertulis.
Cerita di dalam buku kedua ini tetap dominan menggunakan sudut pandang orang pertama. Tokoh utama masih Darma sang penembak jitu. Ada juga beberapa tokoh lain dari buku pertama yang dimunculkan lagi di sekuelnya ini. Ada beberapa adegan yang sepertinya tidak terlalu penting pada buku pertama, saya munculkan sebagai sesuatu yang signifikan di buku kedua. Hal itu tidak terlepas dari fakta bahwa buku ini adalah lanjutan. Meskipun demikian, bagi yang belum membaca buku pertama, saya juga telah merancang agar buku ini tetap bisa dinikmati sebagai sebuah buku yang mandiri, buku yang tetap bisa dicerna walaupun belum membaca buku pertama.
Secara komposisi, adegan perang dan pertumpahan darah di buku ini saya usahakan jadi lebih menegangkan. Di sisi lain, pergulatan batin Darma juga lebih saya eksplorasi. Ilustrasi dari penerbit pun tidak sebanyak pada buku pertama, agar pembaca bisa lebih fokus menikmati cerita yang saya sajikan.
Untuk menyelesaikan penulisan buku ini, saya membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Enam bulan itu mencakup riset, pembuatan kerangka, penulisan, self editing, serta revisi, sebelum akhirnya masuk ke meja redaksi.
Buku ini juga mengalami masalah ketika akan masuk toko buku Gramedia. Sekadar informasi, buku pertama sempat bermasalah karena di bagian sampul terdapat tulisan "TNI". Namun permasalahan tersebut dapat diselesaikan setelah ada diskusi antara pihak penerbit dan toko buku Gramedia. Buku kedua ini, mengalami masalah yang serupa, yaitu ditolak untuk dipajang oleh pihak Gramedia. Alasannya adalah adegan-adegan yang dituliskan terlalu sadis dan kata-kata yang terlalu kasar. Akhirnya, saya terpaksa mengubah beberapa bagian yang ada dalam novel saya tersebut. Setelah ada sedikit perubahan di sana-sini, buku saya disetujui untuk dipajang. Jadi, kurang lebih, begini proses yang saya alami:
Juli 2014 - Januari 2015: Riset, penulisan, dan self editing.
Februari 2015: Pembuatan ilustrasi dan sampul oleh penerbit.
Maret 2015: Penolakan oleh toko buku Gramedia + revisi di beberapa bagian novel.
April 2015: Mendapat persetujuan dari toko buku Gramedia untuk dipajang.
Mei - Juni 2015: Proses cetak oleh penerbit dan distribusi ke toko-toko buku di Indonesia.
Juli 2015: Buku sudah terbit dan beredar di toko-toko buku.
Jadi, boleh dibilang proses yang dilewati oleh "Sniper 2: Operasi Bawah Tanah" tergolong panjang sebelum akhirnya bisa sampai ke tangan Anda para pembaca. Saya harap para pembaca terpuaskan dengan buku tersebut.
Selamat membaca. Selamat menikmati. Kritik, saran, dan komentar dari Anda, para pembaca, sangat saya harapkan agar buku-buku berikutnya bisa lebih baik lagi.
Salam.
Rizqi Turama.
11 Juli 2015.
Senin, 15 Juni 2015
Ulasan Buku "Ayah" Karya Andrea Hirata
Review Novel Ayah
Berikut ini ulasan saya mengenai buku Ayah karya Andrea Hirata. Ulasan ini
saya mulai dengan poin-poin yang dianggap sebagai kekurangan, dan saya akhiri
dengan poin-poin positif.
Pertama, tipikal. Orang-orang yang
mengikuti karya-karya Andrea Hirata sejak awal, Laskar Pelangi, sampai Ayah
pasti merasakan ada beberapa hal yang sama atau setidaknya mirip-mirip dari
satu karya ke karya yang lain sehingga ceritanya relatif bisa ditebak. Sebagai
contoh, hampir semua novel Andrea Hirata, termasuk Ayah, bercerita tentang orang udik yang melakukan perjalanan ke
kota. Orang udik itu akan merasa gumun,
kagum, terheran-heran dengan kondisi tempat yang ia datangi. Tidak jarang,
orang-orang di tempat baru tersebut juga akhirnya tak kalah gumun, kagum, dan terheran-heran dengan
orang udik itu. Dalam novel Ayah ini
yang melakukan perjalanan adalah Tamat dan Ukun. Hal berikutnya yang tipikal
adalah persoalan cinta gila. Cinta gila yang dialami Sabari pada Lena mengingatkan
pada cerita sejenis, misalnya Arai pada Zakiah Nurmala, dan tentu saja Ikal
pada A Ling. Semuanya adalah cinta yang ‘berdarah-darah’ untuk diperjuangkan,
tapi berakhir manis. Ini juga berpengaruh pada karakter tokoh yang dibangun.
Secara jujur, dalam percintaan, karakter Sabari dan Arai hampir sama. Sama-sama
pantang menyerah dan tak tahu diri walaupun sudah ditolak berkali-kali.
Poin kedua yang saya soroti adalah
persolan pembangunan logika cerita. Pertemuan Ukun dan Tamat dengan
Jonpijarelli dan Manikam adalah kebetulan yang terlalu kebetulan. Cenderung
sedikit sinetron. Membayangkan di sebuah kota yang begitu luas, bisa bertemu
dengan mantan suami Lena. Lalu ketika ke kota lain yang tak kalah luas, bertemu
dengan mantan suami Lena yang lain lagi, tepat ketika sedang ada festival
tahunan pula. Jadi terkesan kebetulan yang dipaksakan. Poin ketiga berhubungan
dengan logika cerita, yaitu adanya ‘bolong-bolong’ cerita. Setelah selesai
membaca Ayah, akan ada beberapa
pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya, “Jadi siapa itu Amirza?” atau
“Bagaimana Ukun dan Amat akhirnya bisa bertemu dengan Zorro?” dan “Kenapa Lena
akhirnya mengizinkan Zorro dibawa, padahal sebelumnya Lena membawa Zorro dengan
paksa?”
Poin keempat yang saya anggap kelemahan
dalam novel ini adalah alur yang mudah ditebak. Ini berkaitan dengan poin
pertama, karena ceritanya tipikal dengan cerita-cerita sebelumnya. Persoalan
surat cinta palsu dari Lena untuk Sabari di majalah dinding, kehamilan Lena,
pengambilan paksa Zorro, dan kembalinya Zorro ke Sabari adalah contoh
bagian-bagian yang mudah ditebak tersebut. Tidak ada kejutan.
Berikutnya, seperti yang sudah saya
nyatakan, saya akan membahas kelebihan-kelebihan yang ada dalam novel Ayah ini.
Kelebihan pertama adalah tetap adanya
humor-humor segar. Humor hiperbolik yang cerdas dari Andrea Hirata. Bahkan di
novel ini ada jenis humor baru yang dilontarkan oleh Andrea Hirata, yaitu block, ctrl, copy, paste. Kelebihan
kedua adalah tetap adanya mitos-mitos baru. Mitos-mitos yang entah benar
beredar atau tidak. Pada buku-buku sebelumnya, ada mitos tentang awal musim
hujan di tanggal tertentu di bulan tertentu akan membawa keberuntungan. Di buku
Ayah, ada mitos tentang senja
berwarna biru. Kelebihan ini di satu sisi mungkin terlihat seperti kelemahan
karena bersifat tipikal, tapi berbeda. Sebab mitos-mitos yang dibawa selalu
baru dan tidak jamak diketahui. Berikutnya adalah adanya eksplorasi-eksplorasi
estetis yang dilakukan Andrea Hirata di dalam novel ini. Misalnya adalah
tentang struktur alur waktu yang tidak linear seperti terdapat dalam
karya-karya sebelumnya. Di novel ini alurnya waktunya fragmentaris, ada flashback, tidak melulu alur maju. Dalam
karya teranyarnya ini juga terlihat bahwa ‘aku’ tidak lagi menjadi dominan.
Yang dominan adalah sudut pandang ‘dia’. ‘Aku’ hanya sedikit sekali berperan,
yaitu di bagian akhir novel. Terakhir, adalah tentang perkembangan kemampuan
naratif Andrea Hirata. Sejak Laskar
Pelangi sampai Ayah terasa
kemampuan bercerita Andrea Hirata terasa semakin matang. Cerita disampaikan
dengan semakin mengalir. Membuat orang semakin terlibat di dalam
cerita-ceritanya. Bisa tertawa di satu bab, namun menangis di bab yang lain.
Kemampuan naratifnya inilah yang menurut saya menjadi titik utama dan mampu
mengatasi semua kelemahan yang telah saya paparkan di awal. Sebab dengan
kemampuan bercerita yang baik, orang tidak lagi begitu mempedulikan adanya
ketipikalan tokoh dan karakter, logika yang kurang pas, ataupun alur yang
tertebak. Semua tidak menjadi masalah karena semua disampaikan dengan apik dan
rapi. Andrea Hirata juga semakin menegaskan bahwa sebagai penulis, kita harus
bisa menggali sebuah cerita sederhana menjadi luar biasa. Sebab mungkin fakta
yang terjadi biasa saja, tapi lewat kata-katanya penulis mampu membuatnya
menjadi keajaiban yang mempesona.
Salam.
Rizqi Turama.
Yogyakarta, 14 Juni 2015
Langganan:
Postingan (Atom)





